Cuci dan Setrika di “Laundry” Kiloan

Sempitnya waktu, tidak mau repot, dan tuntutan hidup serbapraktis membuat sebagian orang memilih menggunakan jasa laundry kiloan untuk “membereskan” pakaian kotor mereka. Peluang usaha pun merebak. Di mana-mana bermunculan jasa binatu khas kota besar itu.

Seorang laki-laki muda berkendaraan sepeda motor, membawa sekeresek pakaian kotor, datang ke laundry kiloan Citra Klin di bilangan Rawamangun, Jakarta Timur, pekan silam.

Di ruang berukuran enam meter persegi, yang disulap layaknya outlet jasa binatu, pemuda tersebut menyerahkan keresek yang dibawa kepada pemilik laundry, Evi Narulita, 37 tahun. ”Besok kalau ambil jangan kelamaan ya,” kata Evi kepada pelanggannya itu. Pemuda itu, Fredikson, 23 tahun, pegawai Departemen Perikanan dan Kelautan, hanya tersenyum mengiyakan. Oleh karyawan Evi, keresek pakaian itu ditimbang dengan timbangan duduk yang biasa digunakan pedagang buah. 

Oleh Evi, keresek dibuka, dan satu per satu pakaian diperiksa, dibantu karyawannya yang lain, untuk melihat kondisi pakaian dan isi saku. Tidak lupa Evi menghitung jumlah pakaian, dan dengan cekatan ia membuat nota untuk menulis jumlah pakaian yang disesuaikan dengan jenisnya, sebagai bukti bagi konsumen. Setelah itu, nomor nota dilabelkan pada pakaian yang akan dicuci supaya tidak tertukar dengan pakaian konsumen lain. 

Laundry kiloan yang dibuka Evi merupakan satu dari ratusan jasa binatu yang dalam beberapa tahun terakhir merebak di seantero Jakarta dan empat wilayah penyangganya. Juga di sejumlah kota besar lain di Indonesia.

Peluang usaha ini ternyata cukup menjanjikan, mengingat aktivitas masyarakat yang semakin tinggi, makin terbatasnya lahan sehingga sulit mencari tempat untuk menjemur, dan tentu saja rasa malas dan tidak mau repot mencuci pakaian. Apalagi harga yang dipatok jasa ini terbilang cukup terjangkau, sekitar 4.000 hingga 7.000 per kilogram pakaian kotor. 

Usaha ini juga banyak terdapat di negara maju. Bedanya, di sana pelanggan memasukkan koin dan mencuci sendiri, di sini pelanggan terima beres bahkan terima licin setelah disetrika. Menurut Aditya J Trituranta, 43 tahun, pendiri Asosiasi Laundry Kiloan Jogja (Alkijo), di Indonesia belum dapat diterapkan sistem pencucian dengan menggunakan koin.

“Sistem laundry kiloan lebih tepat diterapkan untuk masyarakat Indonesia. Karena, orang Indonesia masih suka dilayani, tenaga kerja murah, dan tingkat vandalisme yang masih tinggi sehingga mesin cepat rusak. Contohnya, banyak fasilitas umum cepat rusak seperti telepon umum,” Jelas pemilik House of Laundry Easy Clean di kawasan Serpong, Tangerang dan House of Laundry Benresik Jogjakarta yang berlokasi di Yogyakarta itu. 

Pasar Potensial
Soal peluang usaha ini diakui oleh Yuliana, 42 tahun, yang telah menggeluti jasa ini sejak empat tahun lalu. Seperti Evi, Yulina yang juga warga Rawamangun ini melihat lingkungan tempat tinggalnya banyak dihuni anak kos yang menjadi pasar potensial jasa laundry kiloan. ”Anak muda kan biasanya males untuk mencuci baju, makanya saya membuka usaha laundry kiloan,” kata Yulina yang senang berwiraswasta ini.

Untuk membuka usaha ini, Yulina hanya mengandalkan peralatan rumah tangga yang ia miliki, seperti mesin cuci dan setrika. Sampai saat ini, ia hanya menggunakan satu mesin cuci yang berfungsi untuk mencuci sekaligus mengeringkan pakaian dalam kondisi setengah kering. Barang yang dibeli untuk melengkapi usaha hanya timbangan yang digunakan untuk mengukur berat pakaian pelanggan. 

Hal itu juga disadari oleh Igna Fedri, 25 tahun, mahasiswa ascasarjana Universitas Indonesia, yang bersama sejumlah temannya baru enam pekan membuka jasa laundry kiloan di Jalan Margonda Raya, Depok. Mahasiswa dan pekerja kantoran merupakan pasar yang dibidik oleh Igna. Lalu, untuk melayani pelanggan, tersedia tiga mesin cuci dan tiga mesin pengering sehingga Igna tidak lagi mengandalkan matahari untuk mengeringkan pakaian.

Bedanya, untuk menjalankan usahanya, Igna lebih memilih memanfaatkan franchise atau dalam arti sederhana membeli merek dan sistem kerja usaha. Dengan begitu, Igna berpikir dirinya tidak perlu membangun usaha dari nol. Sebab ia mengaku melas mengurusi tetek bengek permulaan usaha. Dengan ikut franchise, urusan mengenai training karyawan, sistem pembukuan, mesin cuci, rak baju bersih, brosur, papan harga, dan sebagainya telah ditangani pemilik franchise. Ia tinggal menjalankan dan mengontrol usahanya. 

Kekeluargaan
Untuk menarik pelanggan, Yuliana tidak menerapkan sistem khusus. Dirinya hanya menerapkan sistem kekeluargaan pada konsumennya. ”Kadang konsumen melongok saat saya sedang memasak, ‘sedang masak apa tante’,” jelasnya. 

Usaha jasa laundry kiloan memang dijalankan sembari menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Begitu pula ketika menerima pakaian kotor dari pelanggan, Yuliana tidak menggunakan bon sebagai tanda bukti, cukup dengan buku tulis dia mencatat konsumen yang menggunakan jasanya.

Walaupun sistem yang digunakan terbilang sederhana, Yuliana tidak khawatir pakaian pelanggan akan tertukar, sebab ia cukup mengenal konsumen yang menggunakan jasanya. 

Untuk menjangkau pasar, ibu empat anak ini menerapkan layanan cuci setrika dengan biaya 4.000 rupiah per kilo, sedangkan untuk cuci atau setrika saja berbiaya 3.500 per kilo. Bila ada pakaian konsumen yang hilang, dia memberikan kompensasi senilai setengah dari harga beli pakaian yang hilang. 

Berbeda dengan Yuliana, Igna menerapkan tata kelola modern dengan sistem data base terkomputerisasi. Untuk menjaring konsumen, usahanya menawarkan sistem member card sehingga pelanggan cukup membawa kartu tersebut jika datang. Dengan cara tersebut, konsumen cukup memberikan deposit senilai senilai 120 ribu rupiah. Perhitungan ini lebih murah ketimbang konsumen menggunakan layanan cuci setrika bukan paket. 

Sebab, dengan member card, biaya cuci setrika yang dikenakan senilai enam ribu rupiah per kilo, sementara biaya yang dikenakan kepada pelanggan biasa senilai 7.000 rupiah per kilo. Jika nilai uang yang terdapat dalam kartu deposit habis, konsumen tinggal menambah deposit lagi. Lebih lengkap lagi, bila pakaian telah selesai di-laundry, Igna atau karyawannya akan memberi tahu konsumen melalui pesan pendek (SMS).

2 Comments

  1. Boleh minta nomor telepon dan alamat Citra Klin ini? Di rawamangunnya di mana? Saya berminat cuci disana. Thx.

  2. Boleh minta no telp cucu kilo daerah rawamangun tidak, saya tertarik untuk mencobanya dikarenakan kesibukan saya sehari-hari… Please JAPRI. Thanks so much..


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Liga Eropa - Hasil dan klasemen Grup B, Apoel juara grup
      Apoel FC, berhasil menjuarai Grup B Liga Europa setelah mengalahkan wakil Yunani, Olympiakos, dengan skor 2-0 dalam laga pamungkas penyisihan di Stadion GSP, Siprus, Jumat dini hari WIB.Kemenangan yang diraih berkat gol dari ...
    • Liga Europa - Hasil dan klasemen Grup A, Fenerbahce-MU lolos
      Fenerbahce dan Manchester United lolos ke babak 32 besar Liga Europa selepas rangkaian pertandingan pamungkas penyisihan Grup A, Jumat dini hari WIB.Fenerbahce memastikan satu tiket ke babak 32 besar setelah tim asal Turki itu ...
    • Ngobrol dengan BJ Habibie di Belanda
      Nonton film berlanjut dengan ngobrol-ngobrol santai tapi serius terjadi di Belanda, antara anggota Perhimpunan Pelajar Indonesia Belanda dan masyarakat Indonesia di Belanda, dengan Presiden Baharuddin Jusuf ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: