Bondan Winarno: “saya memang bercita-cita jadi ketua RT”

‘Penerjun yang grounded’ ini bercerita tentang kegeramannya pada kasus Busang, hidup di ‘jalur lambat’ dan ambisinya menjadi ketua RT.

Bondan Winarno adalah manusia multitalenta. Pernah bekerja sebagai wartawan, manajer, pengusaha, penulis masalah manajemen, penulis wisata dan makanan, dan pembawa acara televisi yang tersohor; Wisata Kuliner. Dalam setiap profesi yang dia jalani, Bondan tak pernah setengah-setengah, selalu ada capaian penting yang dia catatkan. Sebagai wartawan, namanya harum karena investigasinya mengenai cadangan emas Busang yang dibukukan dalam Bre-X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi. Karya itu dianggap sebagai laporan investigasi terbaik yang pernah terjadi di Indonesia, meski akibatnya Bondan harus menghadapi pengadilan karena tuduhan pencemaran nama baik.

Julukan ‘penerjun yang grounded’ berasal dari Bondan sendiri, tercantum dalam sampul belakang buku 100 Kiat Jurus Sukses Kaum Bisnis -kumpulan kolomnya di majalah Tempo. Bondan memang gemar terjun payung, yang membuat dia sempat bercita-cita menjadi wartawan perang, dan tidak pernah kesampaian.

Bondan adalah pelopor dalam banyak hal, misalnya menulis masalah manajemen padahal tak pernah dia mengecap ilmu manajemen secara formal. Ketika sudah banyak pakar manajemen ‘sebenarnya’ yang muncul di media massa, Bondan berhenti. Dia juga yang memelopori pelaporan kuliner menjadi daya tarik di media massa. Ketika acara serupa bermunculan, Bondan menarik diri dari acara Wisata Kuliner. Saat ini Bondan kembali menikmati komitmennya untuk pensiun yang sempat ‘tertangguhkan’ selama 8 tahun. Berikut petikan wawancara Bondan Winarno dengan Alfred Ginting:

Anda sempat pemimpin redaksi Suara Pembaruan, kenapa tidak lama?

Sebetulnya saya pensiun umur 50. Memensiunkan diri. Saya pikir cukup lah, saya terlalu sibuk bekerja. Dan pada saat saya memutuskan untuk berhenti itu saya diminta untuk membantu SP. Saya punya ikatan emosional dengan SP.

Kenapa Anda memensiunkan diri umur 50?

Sebelum saya pensiun itu saya diminta Asia Wall Street Journal untuk menulis tentang sikap hidup. Sikap hidup saya pada umur 50 ingin switch ke jalur lambat. Sebelumnya saya selalu sibuk bekerja. Ketika memasuki jalur lambat itu kita harus siap menerima semuanya, penghasilan jadi berkurang. Tidak apa-apa, itu adalah suatu pilihan. Jadi saya switch mental saya. Kalau sebelumnya saya menulis hal-hal yang serius, seperti soal manajemen, saya pindah mencoba menulis hal lain yang ringan. Kebetulan Ninok Leksono dari Kompas minta ke saya: “Mas nulis yang ringan-ringan, tentang pariwisata.”

Saya mau. Saya menulis setiap minggu di Kompas Cyber. Beberapa bulan sesudah Jalansutra muncul di Kompas saya masuk ke SP. Saya bilang ke Mas Ninok: “Gimana saya terpaksa berhenti nih?” Dia bilang tidak apa, dimuat di dua tempat saja. Jadi Jalansutra dimuat paralel, di Kompas Cyber dan SP Minggu.

Kenapa muncul pikiran untuk masuk jalur lambat?

Terpikir sejak abang saya, Harso Widodo, kena stroke pertama, itu tahun 1996. Saya 46 tahun ketika itu. Saya shock, abang saya baru umur 50 udah stroke. Ayah saya meninggal karena serangan jantung pada umur 55. Jadi saya pikir jangan-jangan saya mengikuti pola ini, mati muda. Sehingga pada umur itu saya merasa cukup lah bekerja, dan sudah puas juga. Jadi saya sudah menyiapkan mental saya untuk pensiun pada umur 50. Jadi sebetulnya sudah tercapai sampai kemudian SP meminta saya untuk bekerja. Sesudah itu masih ada penawaran lain tapi saya sudah memutuskan untuk pensiun.

Pensiun saya itu pengertiannya, saya sudah tidak bekerja secara normal, tidak membawahkan orang lain. Karena itu melelahkan. Tentu ada hasilnya. Tapi makin lama kita makin tahu, menjalani pekerjaan seperti itu tidak ada yang berterima kasih. Semua orang kan melihat pemimpin itu tidak fair. Mereka nggak tahu apa yang kita lakukan, tidak ada terima kasihnya. Dan saya udah lelah. Kalau sesudah memecat orang, saya semalaman nggak tidur. Tapi itu terpaksa dilakukan untuk membangun organisasi. Dan saya tidak sembarangan memecat karena nurani juga bekerja. Hal-hal seperti itu saya sudah tidak lagi bisa. Terlalu keras kehidupan yang seperti itu untuk saya. Jadi waktu itu saya berpikir untuk kemudian pensiun, tinggal di rumah, menulis buku.

Bila melihat riwayat pekerjaan, Anda melompat-lompat dari berbagai bidang?

Iya. Tapi ada satu benang merahnya yaitu komunikasi, informasi. Pendidikan saya arsitektur, tapi tidak lulus. Itupun dulu karena saya kuliah double di, dulu namanya Publisistik, sekarang Jurnalistik. Pekerjaan pertama saya jadi juru kamera di Departemen Pertahanan. Karena ada masalah yang menyangkut proyek Taman Miniatur Indonesia dan saya dianggap pembangkang lalu saya keluar. Kemudian dari situ saya geluti periklanan, cukup lama. Itu kan masih di bidang komunikasi. Dari situ saya menjadi manajer di sebuah perusaahaan periklanan multinasional.

Ketika di perusahaan itu saya mendapat suntikan ilmu manajemen. Tidak lama saya di situ, lima tahun kemudian saya balik lagi ke pers, ke Suara Pembaruan. Saya memang tidak masuk redaksi karena membangun divisi baru, penerbitan buku, Penerbit Sinar Harapan. Lalu di tengah jalan itu ada keperluan untuk melakukan remodelling Majalah Mutiara, saya diminta jadi redaktur pelaksana. Lalu saya keluar.

Anda sempat bekerja sebagai juru kamera?

Ya saya kameraman untuk Dephankam. Media saya TVRI waktu itu. Saya masuk Hankam karena saya sudah punya kualifikasi Para, penerjun payung. Ketika itu saya ingin sekali dikirim ke Vietnam, jadi wartawan perang. Waktu masuk Hankam saya dibelikan kamera yang paling bagus. Bahkan paling bagus di antara semua kamera di Jakarta waktu itu. Sehingga semua orang waktu itu sebal. Waktu itu saya masih 20 tahun. Kameraman yang sudah senior seperti Hendro Subroto dari TVRI masih pegang Bellhowell yang tiga lensa. Sementara saya sudah pakai kamera Bolex dengan satu lensa zoom. Semuanya sirik lihat saya. Waktu itu di Hankam banyak acara, banyak pesta juga. Hampir setiap malam ada berita Hankam di televisi, ibu-ibu jenderal senang sama saya. Mereka mau setiap malam saya ke sana kemari. Akhirnya saya tidak jadi dikirim ke Vietnam. Akhirnya Hendro Subroto yang dikirim ke Vietnam, dari Hankam tidak ada. Akhirnya cita-cita saya tidak tercapai.

Kenapa Anda begitu ingin jadi wartawan perang?

Nah itu yang sekarang saya sadari ada hikmah karena nggak jadi. Di masa lalu mahkotanya wartawan adalah menjadi wartawan perang. Sekarang terbalik justru wartawan damai. Di situ saya sadari memang ada tangan yang tidak membiarkan saya ke Vietnam sehingga saya tidak pernah mendapat cap wartawan perang. Tapi pada waktu itu saya rajin berlatih kemiliteran dengan cita-cita untuk menjadi wartawan perang.

Saya jadi wartawan sejak umur 10 tahun. Ketika masih di Sekolah Rakyat saya memenangi sayembara nasional di majalah Kuncung. Wah saya bisa nulis. Jadi berita apa saja yang terjadi di sekitar saya ketika itu saya kirim ke Suara Merdeka. Dan selalu dimuat. Ada kecelakaan di dekat rumah saya tulis. Ada peringatan hari Kartini di sekolah saya tulis. Teman-teman di sekolah saya sudah tahu, Bondan itu wartawan. Waktu SMA saya jadi reporter untuk RRI. Kalau ada suatu acara saya melaporkan sendiri sebagai freelancer. Jadi ada kesombongan sendiri buat saya.

Anda memang suka bekerja sejak belia?

Saya sudah punya feeling ayah saya tidak akan bisa membiayai saya sekolah. Meski waktu SMA ayah saya mendorong saya masuk ITB. Waktu itu ayah saya, kalau sekarang mungkin kepala kanwil. Tapi waktu itu orang kan nggak korupsi. Dan saya sudah tahu bahwa ayah tidak akan mampu membiayai saya sekolah. Tiba-tiba suatu waktu, saya baca di koran, beritanya sederhana sekali, Dephan meresmikan Press Room baru. Membaca itu saya berpikir, press room itu pasti suatu lembaga yang hebat, apalagi ini pada Dephan. Saya pikir alangkah bangganya kalau saya menjadi wartawan di situ. Lalu saya menulis surat kepada kapuspen Hankam mengatakan saya hobi membuat film 8 mm dan saya katakan untuk membuat film dokumenter 16 mm hanya masalah alat saja. Pengetahuannya sudah saya punya.

Beberapa minggu kemudian saya dapat jawaban saya diterima. Saya ke Jakarta, waktu itu Dephan belum punya kamera, adanya di TNI AD, AU dan AL. Dispen-dispen mereka sudah ada kameraman. Waktu itu mereka kaget juga ada yang melamar untuk sesuatu yang mereka butuhkan. Waktu itu Kapuspen Hankam Sugandi, suami ibu Mien Sugandi. Saya masuk dia diganti oleh Brigjend Raden Ng Sunaryo. Wakil dia seorang kolonel AU, Harsono. Waktu saya datang, dia bilang: ‘kita belum punya kamera jadi kamu beli saja.’ Saya dikasih uang beli kamera sendiri. Karena uangnya cukup untuk yang paling bagus ya saya beli yang paling bagus.

Gaji saya kecil, Rp 2.500. Itu tahun 1970. Saya kos di Melawai Raya Rp 2.500 sebulan, tanpa makan. Saya sudah tanya ayah saya apa saya bisa dibantu, dan dia mau. Tapi nyatanya uang saya kelebihan, saya ikut jenderal ini jenderal itu, ikut nyonya jenderal, mereka muncul di TV, saya dikasih uang. Setiap hari saya lewat kantor Herman Sarens Sudiro, waktu itu dia masih kolonel. Dia panggil saya, dikasih Rp 10.000. Waktu itu tidak bisa bilang sogokan, karena saya orang dalam, kantornya juga nggak jauh dari kantor saya. Rumah dia nggak jauh dari kos saya. Kadang-kadang kalau ketemu di jalan dia ajak saya naik mobilnya. Tapi sampai terjadi peristiwa Taman Mini saya sadar secara prinsip saya tidak cocok di lembaga itu.

Anda disebut pelopor dalam pelaporan kuliner. Memang Anda desain sejak awal?

Awalnya saya menulis tentang jalan-jalan. Setahun kemudian saya semakin banyak menulis tentang makan-makan. Saya kaget sendiri, karena waktu jalan-jalan saja sudah banyak yang comment lewat email, dan waktu tentang makanan perhatian orang semakin besar. Di situ saya baru sadar, belum ada orang yang menulis tentang makan-makan. Di luar negeri itu biasa. Saya masuk ke sesuatu yang belum biasa dikerjakan orang. Seperti saya menulis Kiat, belum ada orang menulis manajemen dan review bisnis. Ketika kemudian saya lihat banyak orang menulis, saya mundur sendiri. Saya menulis Kiat 10 tahun sampai Tempo dibredel.

Kemarin saya ketemu Presdir Jamu Sido Muncul Irwan Hidayat, dia bilang: “Saya ini jadi besar karena terinspirasi salah satu tulisan sampeyan. Saya tanya tulisan yang mana. Saya pernah menulis tentang radio Carolina di Belanda yang dilarang siaran. Pemilik radio itu menyewa kapal, keluar dari perairan Belanda sedikit, lalu mengudara dari situ. Dia ditangkap syahbandar, dia bilang dia tidak melanggar karena siaran di luar negeri Belanda. Tangkap aja orang yang mendengar, kata dia. Akhirnya dia sukses. Banyak orang-orang yang tersentuh dengan tulisan itu. Mengajak orang untuk berpikir di luar tapal batas.

Kemudian banyak bermunculan penulis manajemen lain. Saya kan merasa tidak punya credential, saya bukan doktor atau MBA. Sementara ada Hermawan Kertajaya, Rhenald Kahasali, ya saya turun gunung saja lah. Waktu saya mulai kuliner juga begitu. Saya mulai saja, kalau sudah banyak yang lebih pintar dari saya, ya saya turun. Jadi semua tidak sengaja. Karena ternyata masyarakat menikmati itu ya saya ladeni.

Anda sangat apresiatif terhadap makanan, tidak pernah menyebut makanan tidak enak?

Di televisi saya tidak pernah bilang makanan tidak enak. Tidak pernah. Saya boleh bilang ini dagingnya masih alot, atau bumbunya kurang meresap. Kritik saya sampai di situ aja, saya tidak pernah mengatakan tidak enak karena saya tahu bagaimana sulitnya bekerja di dapur. Tidak ada orang di dapur yang bercita-cita membuat makanan yang tidak enak. Nggak ada. Kalau makanan tidak enak itu kecelakaan. Jadi jangan menuduh saya mengatakan enak karena saya dibayar.

Orang juga selalu apriori seolah-olah saya selalu ngomong maknyuss. Itu salah besar, perhatikan dong ada episode yang sama sekali tidak ada maknyusnya. Saya juga komentar, misalnya: “Ini bukan kari kambing Aceh, tapi kari kambing biasa. Dari warnanya sudah kelihatan.” Daging alot saya bilang alot. Sayurnya terlalu lama dimasak saya bilang terus terang.

Saya tidak mengatakan yang bagus orang lain juga harus merasa bagus. Saya mengatakan ini durian enak, sementara di sana orang lain tidak doyan duren. Kita boleh berbeda pendapat. Kalau kita bilang ini sayur daun ubi tumbuk enak banget, di sana ada orang tidak doyan sayur, tentu dia bilang pasti sayur itu tidak enak. Ini selera pribadi.

Tapi sebenarnya arti maknyus itu bukan berarti enak kan?

Defenisi maknyus itu sangat longgar. Saya bisa mengatakan maknyus untuk sayur yang sangat sederhana. Tapi waktu saya makan itu ada suatu sensasi yang luar biasa di lidah saya. Tidak harus makanan yang mahal atau steak yang empuk. Di satu rumah makan di Bandung, unggulan dia sebetulnya gulai kepala ikan. Tapi menurut saya gulainya standar. Tapi ada satu sayur, daun ubi tumbuk, daun singkong pakai rimbang, bunga kincong dan santan, yang enak banget. Itu makanan orang Sumatera Utara. Saya bilang sayur itu yang maknyus. Itu adalah surprise yang saya terima.

Maknyus dari Umar Kayam. Mas Kayam itu suka makan, dan dia makannya seperti saya urakan, makan di pinggir jalan sampai di restoran yang paling mahal. Sehingga teman-teman menyebtu Mas Kayam itu lidahnya yang cerdas. Sekarang Butet Kertaredjasa yang menyebut saya lidahnya yang cerdas. Umar Kayam punya kolom di Kedaulatan Rakyat yang judulnya Mangan Ora Mangan Asal Kumpul. Dia kalau menggambarkan makanan yang enak itu, bistik yang enak maknyus, sate yang enak maknyus. Saya juga nggak sengaja menyebutkan itu,ketika suatu ketika saya bilang maknyus dan produser bilang wah itu bagus. Lalu pemirsa dimana-mana panggil saya maknyus.

Apa yang mendorong Anda pertama kali menginvestigasi kasus Busang?

Saya skeptis pada berita Michael de Guzman, geologis dari Bre-X bunuh diri melompat dari helikopter. Dia orang yang memegang kunci mengenai cadangan Busang dan dia pasti memiliki kekayaan yang luar biasa. Dan kalau bisa memalsukan data emas dan membodohi orang sedunia, apa susahnya menghilangkan dirinya. Saya skeptis, nggak mungkin dia mati. Paling dia sogok operator helikopternya supaya bilang dia ikut naik dan melompat.

Tiga hari kemudian muncul berita dan foto mayat Guzman ditemukan. Saya semakin tidak percaya. Diceritakan pesawatnya terbang 800 kaki dan dia meloncat. Saya pernah lihat dengan kepala mata sendiri orang jatuh dari 1.500 feet sudah bukan orang ketika jatuh di bumi, tinggal daging dan tulang menumpuk. Jadi kalau 800 feet, mestinya juga bukan orang lagi. Tapi ini orangnya utuh. Lalu polisi mengatakan jatuhnya di dalam rawa. Saya challenge waktu itu coba jatuhkan mayat ke rawa, pasti nyungsep ke dalam dan tidak muncul lagi. Tapi tidak ada yang percaya teori saya.

Ketika itu Anda kan bukan sedang bekerja untuk media?

Ya, waktu itu saya bukan wartawan, tapi berbisnis dan bisnis saya sedang slow. Jadi saya bilang ke teman saya: sorry ya saya mau ke Kalimantan saya mau investigasi ini. Dan ini yang saya anggap tuntunan Tuhan tiba-tiba ada orang yang kasih informasi ke saya Guzman itu pakai gigi atas palsu. Dia bilang: “Saya sering sekamar sama dia, kalau malam dicopot giginya dia taruh di gelas lalu dia tidur.”

Lalu saya cari dokter yang mengotopsi mayat itu. Dia tidak mau mengaku. Saya tongkrongi penjaga kamar mayatnya, saya belikan rokok, saya duduk sama dia, ngobrol-ngobrol sampai tengah malam, akhirnya dia bilang mayat itu tidak ada gigi palsunya. Itu yang saya beritahu ke NBI, National Beareau of Invesigation di Manila untuk diselidiki. Itu yang sampai sekarang tidak ditemukan. Polisi tidak ada yang dengar. Saya bilang ke Polisi ada tiga orang yang kabur dan sampai sekarang itu hilang. Padahal saya yakin ketiganya beserta Guzman mengarang cerita itu. Tapi yang lebih parah lagi dan sampai sekarang tidak pernah dilakukan, pilot helikopternya ini tidak pernah diinterogasi, bebas saja mentang-mentang dia kolonel AD.

Saya membantah penemuan Wall Street Journal yang mengatakan Guzman melakukan salting di Loa Duri (gudang Bre-X di Samarinda). Itu nggak ada wartawan yang bisa masuk ke Loa Duri tapi saya bisa masuk. Penjaganya bangga bilang: “Itu Pak wartawan Kompas masih di sana, saya usir. Wartawan bule itu sewa perahu muter-muter motret dari jauh, karena nggak saya kasih masuk.” Saya tanya, kenapa mereka diusir, kok saya boleh masuk? “Bapak lain. Bapak datang ketok pintu, bilang selamat sore, salaman sama saya, memperkenalkan diri, ya saya terima dong.” Saya tanya yang lain bagaimana? “Saya wartawan, mau masuk. Ya nggak saya kasih.” Jadi masalahnya manusianya. Kita membawakan diri dengan baik, dia penjaga di sana. Lalu dia cerita, bohong itu Wall Street Journal, kalau salting dilakukan di sana, karena di sana semua sampah, core sample hasil drill dibawa ke laboratorium Balikpapan, dan sisanya dibawa ke Loa Duri. Jadi di sana semua sisa, jadi kalau terjadi salting sebelum masuk di sini, di Balikpapan. Itu saya tulis.

Anda masih kesal pada IB Sudjana?

Ya, kesalnya masih terasa sampai sekarang. Dia menuntut saya mencemarkan nama baik, tapi di depan pengadilan dia mengatakan saya menulis buku karena dibayar Kuntoro. Saya lawan, kenapa bukan itu yang dia tuntutkan atas saya. Kenapa muter-muter. Tuntut saja begitu, supaya saya membuktikan, lebih mudah saya membuktikan kalau tuduhannya jelas. Daripada menggunakan pasal sampah, pencemaran nama baik. Waktu itu saya sampai membuktikan ke pengadilan saya menunjukkan semua faktur pajak saya, saya bilang saya orang kaya. Sorry, saya bukan orang yang cari duit dari disogok-sogok orang untuk menulis.

Saya keluar uang sendiri untuk itu semua. Investigasinya sekitar satu bulan, termasuk ke Manila, Toronto dan lain-lain. Saya masuk ke Busang dua kali dan mahal biayanya karena masuk speedboat. Sewanya Rp 1 juta pulang pergi. Kali kedua saya ke sana, tidak bisa pulang pada hari yang sama karena air surut jadi speedboat harus berhenti di tengah jalan dan kita menginap.
Di situ saya betul-betul terhina karena saya menulis karena dorongan hati.
Kita dibohongi sama yang namanya Michael de Guzman, tapi apakah Indonesia merasa dibohongi? Tidak. Yang merasa dibohongi itu orang Kanada, sampai sekarang mereka masih dendam karena begitu banyak orang pensiunan yang dananya hilang membeli saham Bre-X.

Saking kesalnya Anda disebut membakar sisa buku?

Bukan saya bakar, tidak saya jual saja. Saya melakukan itu semua karena murni dari hati saya, dan saya membiayai semuanya. Tapi saya dituduh seperti itu. Dan waktu itu komunitas media tidak ada yang membantu saya. Apa ada solidaritas wartawan Tempo atau Kompas membantu saya? PWI bantu saya? Tidak. Padahal mereka semua tahu Sudjana itu penakut. Dia karena tahu saya tidak ada ikatan dengan media dia sikat saya. Dia nggak berani sikat Tempo atau Kompas. Tapi karena dia lihat saya sendirian dia sikat saya. Ya tidak apa saya layani di pengadilan. Padahal waktu itu secara finansial saya rugi besar.

Satu-satunya lembaga yang mau membantu saya adalah World Bank. Ketika mendapat tuduhan itu saya sedang bekerja di World Bank dan saya bilang sorry saya ada masalah hukum. Tapi mereka bilang saya tidak perlu keluar. Ini justru melawan korupsi. Malah mereka mengumpulkan uang untuk membantu saya. Tapi saya menolak, nanti dituduh macam-macam lagi. Saya bilang saya akan hadapi sendiri. Todung Mulya Lubis juga membantu sehingga saya cukup membayar biaya transportasi satu lawyer dari Jogja. Disitu saya merasa saya tidak diakui oleh komunitas pers. Jadi saya kaget saja kalau kemudian ISAI mengatakan itu the best investigative report. Terima kasih. Tapi itu melewati suatu pengorbanan yang luar biasa.

Dua tahun lewat kan 10 tahun peristiwa Busang itu. Ada orang Kanada yang tanya saya, bagaimana kalau dibikin film berdasarkan buku saya. Saya bilang silakan saja.

Dokumenter?

Bukan, film layar lebar. Karena dia bukan orang Hollywood tidak saya ladeni lah omongannya.

Tapi kasus Busang ini kan masih menarik karena de Guzman belum terlacak?

Ya sebetulnya masih menarik. Dan saya didukung oleh banyak pihak. Kesimpulan saya adalah Guzman seumur hidupnya selalu tertekan. Geologis seperti dia digaji kecil, tapi dia dijanjikan imbalan saham yang besar kalau menemukan emas. Tapi selalu dia gagal. Orang-orang seperti dia lantas berpikir bagaimana caranya dia memalsukan kandungan emas yang dia temukan. Lalu dia bekerjasama dengan pedagang saham di Amerika yang mengetahui cerita ini. Jadi setiap kali dia mengatakan dia menemukan emas di Busang, maka setiap kali pula harga saham Bre-X naik. Dan pialang saham ini diuntungkan karena dia melakukan insider trading. Karena banyak orang mau beli dia bilang: ‘OK kamu bisa beli seribu, tapi kartu sahamnya tidak bisa saya kasih sekarang, tanda terima saja untuk 100 saham.’ Ketika ketahuan harga saham yang tadinya pat mencapai 280 dolar akhirnya menjadi 10 sen maka dikeluarkanlah surat sahamnya, tapi harganya sudah 10 sen. Sewaktu harga tertinggi Guzman telah menjual sahamnya.

Dan mungkin Guzman hidup mewah selamanya. Dulu ada seorang wartawan Wall Street Journal, sekarang wartawan Strait Times, yang menyangkal teori saya kalau de Guzman pura-pura bunuh diri. Setahun lalu dia telepon saya, dia bilang: ‘Teori kamu benar.’ Michael de Guzman baru mengirim uang untuk istrinya Jeni di Palangkaraya. Berarti dia masih hidup di suatu tempat. Itu cocok dengan teori saya; Guzman di Los Angeles, di Hawaii atau di Brazil. Karena di negara-negara itu tampang dia tidak mencolok, seperti lokal saja. Apalagi kalau di Brazil yang law enforcement-nya rendah, memalsukan identitas itu gampang.

Saya pernah bertemu Jeni setahun lalu, dan dia mengaku terima kiriman uang dari Guzman.

Anda bertemu dia untuk?

Dalam rangka 10 tahun Busang. Saya diwawancara oleh TV Kanada. Dia orang pertama yang mensupport teori saya. Bisa bertemu dia juga aneh. Semua wartawan dia tolak, saya dia terima, di rumahnya di Cibubur. Saya dipersilakan duduk, dan setelah dia mandi, dia ngomong sama saya. Saya tanya Anda percaya kalau Michael sudah mati? Dia bilang tidak. Saya kaget sendiri. Kenapa, saya tanya. Saya orang Dayak, saya bisa panggil roh orang mati, saya panggil roh dia tidak datang. Saya panggil abang dan ayah saya melakukan upacara yang sama, roh Michael tidak datang. Artinya dia belum jadi roh, masih hidup.

Dia mengatakan ada komunikasi dengan Guzman?

Belum. Tidak tahu kalau sekarang.

Hanya mengirimkan uang?

Ya. Atau dia tidak mengakui.

Saya pernah lihat di depan garasi Anda ada spanduk menolak kebijakan pengembang Sentul City menaikkan harga air?

Ya, saya dan warga di sini memang geram dengan cara mereka menaikkan harga air seenaknya, tanpa berdialog dengan warga. Toh air itu juga bukan mereka yang produksi, tapi dari PAM Bogor. Pengembang ini memang aneh, sekarang namanya diganti jadi Sentul City (dulu Bukit Sentul). Imej apa sih yang mau mereka jual? Kesan tentang sebuah kota? Padahal orang beli tanah di sini kan karena namanya Bukit Sentul.

Harusnya urusan seperti air itu diserahkan kepada warga. Di luar negeri saja di kompleks-kompleks apartemen ada konsep RT dan mereka dilibatkan dalam pengelolaan masalah sehari-hari seperti air, keamanan dan penataan.

Anda cukup aktif dalam perkumpulan warga di sini?

Ya, saya memang bercita-cita jadi ketua RT. Dari dulu.

Kenapa?

Saya pikir urusan negara yang besar ini dimulai dari satuan-satuan yang kecil, yaitu RT. Ngapain jadi presiden kalau tidak pernah mengurusi RT.

Meniru gurus Makanan Ala Thai
Alfred Ginting

Bondan Winarno percaya usaha makanan adalah sektor ekonomi yang paling tahan banting. Sektor ekonomi ini pula yang paling banyak digeluti orang Indonesia, dari yang di pinggir jalan berdagang dengan tampah atau pikulan sampai restoran mewah. “Orang yang kehilangan pekerjaan sewaktu krisis malah bukan café tenda. Ini bisnis yang proven, sekalipun tidak diakui pemerintah,” kata Bondan.

Bagi Bondan, makanan adalah daya tarik wisata yang merata ada di seluruh Indonesia. Tidak setiap tempat di Indonesia bisa seperti Bali atau Jogjakarta. Tapi hampir setiap daerah di Indonesia punya objek wisata kuliner yang menarik. “Kalau ke Semarang, objek wisata apa yang bisa didatangi? Klenteng Sam Po Kong. Apalagi? Lawang Sewu yang banyak hantunya?” kata Bondan. “Tapi kalau saya kasih daftar makanan di Semarang, tiga hari keliling kekenyangan itu daftar belum habis.”

Pemerintah tidak pernah serius menggarap potensi itu, malah justru sibuk menarik wisatawan luar negeri. Menurut Bondan, strategi pemerintah Thailand di masa Thaksin Shinawatra perlu ditiru. Thaksin mencanangkan program Thai Kitchen to the World. Tujuannya untuk menarik wisatawan dan meningkatkan ekspor makanan Thai ke luar negeri. Makanan Thailand diklasifikasi menjadi tiga. Golden Leaf untuk fine dining, Cool Basil untuk makanan kelas menengah yang biasanya mengandung banyak kemangi (basil), dan Elephant Jump untuk kelas warung. “Pemerintah tidak perlu mensubsidi. Hanya memberi informasi kalau mau buka bisnis di Jerman bagaimana, kantor apa saja yang harus dihubungi, peraturan, biaya, kesukaan orang Jerman bagaimana. Kalau mau ke London, New York aturannya lain lagi,” kata Bondan.

Pemerintah Thai juga menunjuk bank yang sudah paham kebijakan investasi setiap negara untuk membantu calon investor. Dengan strategi itu pemerintah Thaksin menargetkan tahun 2005 harus ada 10.000 restoran Thai di luar negeri. Tahun 2004 sasaran itu tercapai dan kemudian target tahun 2008 direvisi menjadi 20.000 restoran. Sampai tahun 2006 sudah tercapai 16.000 restoran. Akibatnya turis ke Thailand terus meningkat. “Di Indonesia saja tom yang gong menjadi populer dan tidak hanya disediakan oleh restoran Thai, jadi menu yang umum,” kata dia.

Menurut Bondan apa yang dilakukan pemerintah Thai sangat sederhana. ”Kenapa kita tidak bikin seperti itu. Kenapa rendang dan gado-gado diaku oleh Malaysia. Kita nggak pernah ada usaha, jangan salahkan Malaysia dong. Kita tidak pernah usaha misalnya bikin seratus restoran di Singapura. Saya kira kalau pemerintah mau arahkan itu saya pun ikut di antara seratus itu,” kata dia.

KoranJakarta

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Kepergian Mar'ie Muhammad kehilangan bagi Indonesia
      Wakil Presiden, Jusuf Kalla, menyebut almarhum mantan Menteri Keuangan, Mar'ie Muhammad, sebagai sosok yang bersih dan jujur semasa menjabat. "Kita kehilangan sosok yang dahulu pada saat menjabat sebagai menteri keuangan ...
    • Hampir semua korban bom Istanbul adalah polisi
      Dua bom meledak di luar stadion sepakbola di Istanbul, Turki, pada Sabtu malam waktu setempat, menyebabkan 29 orang tewas, yang terdiri atas 27 polisi dan dua warga sipil.Menteri Dalam Negeri Suleyman Soylu mengatakan ledakan ...
    • Sejumlah tokoh melayat ke kediaman Mar'ie Muhammad
      Sejumlah tokoh mendatangi kediaman almarhum mantan Menteri Keuangan, Mar'ie Muhammad, di Jalan Taman Brawijaya III Nomor 139, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu. Di antara mereka adalah Wakil Presiden, Jusuf Kalla dan ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: