SBY Wait and See, JK Dongkrak Reputasi

Deretan kursi terdepan dalam acara pembukaan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Partai Demokrat di Hall D, Pekan Raya Jakarta, Kemayoran, Jakarta Pusat, Ahad lalu, diduduki tokoh berkostum biru. Tak tampak figur kondang dari luar partai. Berbeda dari pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PDI Perjuangan (PDIP) di Solo, Jawa Tengah, akhir Januari lalu.

Di tengah petinggi PDIP yang berseragam merah, terlihat Sri Sultan Hamengku Buwono X, tokoh Golkar, berkemeja batik hijau-cokelat. Dua rapat berbeda nama itu sama-sama musyawarah tertinggi di bawah kongres pada dua partai, yang figur kuncinya bersaing ketat dalam bursa calon presiden: Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Megawati Soekarnoputri.

Beda panorama itu bukan tanpa pesan politik. Itu isyarat perbedaan strategi dua partai –yang menurut banyak survei terakhir, menduduki dua posisi teratas– menyikapi bursa calon wakil presiden (cawapres). Tanpa kehadiran tokoh luar, Demokrat tak mau menebar harapan kepada figur lain sebagai nominasi pendamping SBY.

Wacana pasangan SBY dan koalisi akan disikapi pasca-pemilu legislatif. Sebaliknya, PDIP tengah gencar menjajaki sejumlah figur bakal pendamping Mega. Rakernas PDIP memunculkan lima terkuat calon wakil Mega: Sultan, Prabowo Subianto, Hidayat Nurwahid, Surya Paloh, dan Akbar Tandjung.

Di kalangan peserta Rapimnas Demokrat sebenarnya beredar sejumlah nama nominasi pendamping SBY. Fungsionaris Demokrat, Ruhut Sitompul, menyebut tiga nama: Jusuf Kalla (JK), Hidayat Nurwahid, dan Sri Mulyani (Menteri Keuangan). Wakil Ketua Umum Demokrat, Ahmad Mubarok, juga membenarkan peredaran tiga nama itu.

Beberapa peserta Rapimnas Demokrat berharap, cawapres segera ditetapkan. Tapi SBY menyetop. “Belum saatnya menghabiskan waktu untuk membicarakan capres ataupun cawapres,” paparnya ketika membuka rapimnas.

Ia memerintahkan Demokrat fokus memenangkan pemilu legislatif. “Saya minta DPP jangan sembarangan pasang nama-nama untuk cawapres. Jangan biasakan memberi angin surga. Itu tidak baik,” ujar SBY, sembari menganjurkan kader partainya menghormati tokoh-tokoh nasional yang sering disebut sebagai cawapres.

“Tokoh-tokoh itu punya harga diri dan penghormatan. Mari kita hormati tokoh-tokoh lain di negeri ini,” kata Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat itu. Kemudian, fungsionaris DPP Demokrat, Andi Mallarangeng, menimpali. “Inilah etika politik yang dikembangkan Demokrat,” kata Andi kepada Sukmono Fajar Turido dari Gatra.

Mengambangnya prospek duet SBY-Jusuf Kalla (JK) sempat dimaknai sebagai isyarat: Demokrat bakal meninggalkan JK. Ketua Dewan Pembina Partai Golkar, Surya Paloh, sampai bersikap jual mahal. “Saya mempersilakan Partai Demokrat meninggalkan Golkar,” katanya di Bali, Januari lalu.

Golkar bisa bekerja sama dengan partai mana pun. Surya yang masuk lima besar cawapres Mega ini intensif menggagas koalisi dengan PDIP. Adapun larangan SBY memberi angin surga itu juga respons atas dinamika di internal Demokrat.

Menurut Ahmad Mubarok, ada dua kecenderungan di tubuh Demokrat. Pertama, simpul yang ingin meneruskan duet SBY-JK. Sinergi pasangan ini dinilai makin bagus. SBY adalah sosok yang hati-hati, implikasinya agak lambat, tapi dilengkapi sosok JK yang cepat mengambil keputusan.

“Posisi sekarang, hubungan SBY-JK sangat bagus,” kata Mubarok. Diakui, pada tahun pertama pemerintahan, hubungan keduanya memang kurang baik. Setelah itu, sinerginya makin paten. “SBY semakin terampil dan tegas, JK semakin tahu diri,” katanya. “JK tak perlu berkecil hati akan ditinggalkan SBY.”

Periode pertama pasangan ini dinilai baru membangun fondasi. Periode kedua nanti diharapkan melanjutkan pembangunan dinding dan atap. Sehingga, siapa pun presiden tahun 2014 akan lebih mudah melangkah. SBY sendiri pada September lalu di istana mengatakan, peluang duetnya kembali dengan JK sangat mungkin.

Kedua, faksi yang menekankan kesinambungan pemerintahan. Indonesia lebih sering mengalami keterputusan pada saat pergantian pemerintahan. Maka, penting dicari sosok wapres baru yang mampu menjadi presiden pada periode berikutnya. Problemnya, kata Mubarok, belum ditemukan figur yang tepat.

Munculnya nama Hidayat dan Mulyani bukan karena memenuhi kualifikasi, melainkan spontanitas saja. Ketika nama-nama itu beredar, SBY menggariskan bahwa wacana tersebut harus dihentikan, agar tidak mengecewakan tokoh yang dinominasikan. Mubarok merujuk pada pengalaman Demokrat yang batal mencalonkan Agum Gumelar dalam bursa Gubernur DKI Jakarta.

Pada saat SBY masih wait and see, JK mulai bangkit memperkuat pamor politik. Banyak survei menunjukkan, kebijakan populis pemerintah lebih besar menyumbang keuntungan politik bagi SBY dan Demokrat. Popularitas Demokrat terdongkrak ke nomor teratas. Namun Golkar terpuruk di urutan ketiga.

Popularitas JK juga terseok. Para petinggi Golkar tak terima. Mulai medio Januari lalu, partai ini gencar beriklan bahwa sukses pemerintah tidak bisa mengecilkan sumbangan Golkar dan JK. Brand JK sebagai tokoh perdamaian diangkat sebagai tema pembuka kampanye.

Citra itu makin terteguhkan dalam lawatan mancanegaranya, awal Februari ini, ke Jepang, Amerika Serikat, Belgia, dan Belanda. Di Jepang, JK menerima doktor kehormatan bidang perdamaian dari Universitas Soka. Di Amerika, ia diundang Kongres dalam National Prayer Breakfast untuk menjelaskan pengalamannya menyelesaikan konflik Poso, Ambon, dan Aceh.

Lawatan JK juga memberi pesan bahwa kemampuan internasionalnya tak bisa dipandang sebelah mata. Ia tercatat sebagai wapres asing pertama yang diterima Wapres Joe Biden. Bandingkan dengan SBY ketika melawat ke Amerika, November 2008, yang hanya bisa menelepon Obama.

Kepada Biden, JK dinilai berani tegas. Ketika ditanya tentang pemicu buruknya hubungan Amerika dengan negara-negara muslim, JK menjawab, karena ketidakadilan Amerika dalam konflik Israel-Palestina. Amerika harus mendorong perdamaian di kawasan itu. Sikap demikian bisa menambah bahan kampanye JK di dalam negeri. Dalam relasi dengan SBY, pamor JK itu juga membuatnya makin diperhitungkan.

Dibandingkan dengan JK, Hidayat Nurwahid, nominasi lain di internal Demokrat, menonjol dari sisi integritas. Hidayat tercitrakan sebagai sosok sederhana, bersih, dan peduli. Citra integritasnya melambung pada saat awal sidang MPR 2004, ia menolak mobil Volvo dan kamar mewah Hotel Mulia. Aksinya bersama Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang kerap terjun langsung membantu korban bencana menguatkan citra peduli itu.

Akseptabilitas politik Hidayat juga penting ditimang. Pada Pemilu 2004, ia tercatat sebagai satu dari hanya dua anggota DPR yang mampu melampaui bilangan pembagi pemilih. PKS pun selalu masuk lima besar dalam berbagai survei. Tapi, dalam peta lebih luas, kini Hidayat menghadapi tantangan berat dari sejumlah nama yang menanjak di papan tengah: Sultan dan Prabowo.

Tantangan lain, kapabilitas Hidayat sebagai pejabat publik dinilai belum istimewa. Kinerjanya sebagai Ketua MPR dipandang masih standar, misalnya, dibandingkan dengan kepemimpinan Amien Rais yang produktif membenahi konstitusi dan mengendalikan dinamika politik. Terhadap desakan amandemen UUD untuk penguatan Dewan Perwalina Daerah, Hidayat tidak berkutik menggerakkan MPR. Ketika isu Israel-Palestina memanas, pekan-pekan lalu, Hidayat mencoba memainkan lobi Timur Tengah-nya, tapi hasilnya kurang mengejutkan.

Rendahnya kapabilitas Hidayat membuat JK yang sudah lama menunjukkan kinerja lebih menonjol sebagai pejabat publik punya posisi tawar lebih di mata SBY. Nominasi lain, Sri Mulyani, dalam soal kapabilitas di bidangnya diacungi jempol. Tapi akseptabilitas politiknya belum teruji. Berbeda dari Hidayat dan JK, Mulyani tidak punya partai politik.

JK sendiri mengisyaratkan masih ingin berduet dengan SBY ketimbang maju sendiri. Pada saat berdialog dengan warga Indonesia di Belanda, Senin lalu, JK membuat tamsil indahnya perpaduan padi kuning (Golkar) dan langit biru (Demokrat) serta bahaya warna merah (PDIP). “Tanaman padi itu hijau, tapi baru bisa dinikmati dan ada manfaatnya kalau sudah menguning,” katanya.

“Kalau terbakar jadi merah, itu bahaya. Jadi, pada warna merah itu harus agak hati-hati kita,” ia menambahkan. Dikatakannya, padi yang menguning perlu harmoni dengan langit biru yang bening. Ini bukan pernyataan pertama. Metafora serupa disampaikan JK ketika meresmikan “Aksi Menanam Serentak” di Lebak, Banten, akhir Desember lalu. Rangkaian manuver JK itu bisa membuat SBY harus berpikir keras untuk pindah ke lain hati.

Asrori S. Karni [Nasional, Gatra Nomor 16 Beredar Kamis, 26 Februari 2009]

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Liga Eropa - Hasil dan klasemen Grup B, Apoel juara grup
      Apoel FC, berhasil menjuarai Grup B Liga Europa setelah mengalahkan wakil Yunani, Olympiakos, dengan skor 2-0 dalam laga pamungkas penyisihan di Stadion GSP, Siprus, Jumat dini hari WIB.Kemenangan yang diraih berkat gol dari ...
    • Liga Europa - Hasil dan klasemen Grup A, Fenerbahce-MU lolos
      Fenerbahce dan Manchester United lolos ke babak 32 besar Liga Europa selepas rangkaian pertandingan pamungkas penyisihan Grup A, Jumat dini hari WIB.Fenerbahce memastikan satu tiket ke babak 32 besar setelah tim asal Turki itu ...
    • Ngobrol dengan BJ Habibie di Belanda
      Nonton film berlanjut dengan ngobrol-ngobrol santai tapi serius terjadi di Belanda, antara anggota Perhimpunan Pelajar Indonesia Belanda dan masyarakat Indonesia di Belanda, dengan Presiden Baharuddin Jusuf ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: