”Pemain Burung” Masih Berkeliaran

6Andre Christian Brail alias Christopher Le alias Andri Wijaya, 28 tahun, hendak check out dari Hotel Sultan, Jakarta, Ahad pekan lalu. Tapi petugas kasir hotel berbintang itu menolak pembayaran sewa kamar lewat kartu kredit Andre. Sebab nomor timbul yang termaktub dalam wajah kartunya tak sesuai dengan nomor magnetik dalam mesin gesek (electronic data capture –EDC) di meja kasir tersebut. Merasa ada keganjilan, kasir hotel itu bergegas menelepon polisi yang sudah berkoordinasi dengannya.

Tak berapa lama kemudian, polisi dari Satuan Fiskal, Moneter, dan Devisa (Fismondev), Direktorat Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, membekuk Andre yang tengah ditemani kekasihnya. Ternyata dua sejoli yang akan melanjutkan pelesiran ke luar kota Jakarta itu menggunakan kartu kredit aspal alias asli tapi palsu. ”Anda kami tangkap karena diduga menggunakan kartu kredit palsu!” gertak seorang anggota polisi kepada sepasang kekasih itu di lobi hotel.

Tim kepolisian yang dikomandani AKBP Bahagia Dachi itu lalu menggelandang keduanya ke Polda Metro Jaya untuk diperiksa. Dalam pemeriksaan itu, Andre mengaku kepada penyidik menjalankan aksinya itu sejak tahun 2000. Jebolan sebuah perguruan tinggi swasta di Amerika ini rupanya bekerja sama dengan Khoirunnisa Yulita alias Maya alias Suri alias Mami.

Wanita berusia 44 tahun itu pun diciduk polisi di rumahnya di Tebet, Jakarta Selatan. Sohib Andre itu kemudian diboyong ke Polda Metro pada hari itu pula. Sedangkan kekasih Andre dilepas karena tak terbukti terlibat. Tanpa perlawanan berarti dari kedua tersangka pembobol kartu kredit bodong itu, polisi berhasil menyita sejumlah barang bukti.

Barang bukti itu, antara lain, 31 kartu kredit yang telah digandakan, ribuan nomor registrasi kartu kredit yang tercatat dalam dua buku, laptop, telepon seluler, alat sablon, mesin skimmer, dan mesinembosser buatan luar negeri. ”Dalam aksinya, tersangka diduga melibatkan oknum bank dan warga negara asing,” kata Kombes Raja Eizman, Direktur Kriminal Khusus Polda Metro Jaya.

Kepada penyidik, dua tersangka itu bercerita seputar aktivitas mereka selama menggunakan kartu kredit palsu. Dari ribuan rekening nasabah berbagai bank di dalam dan luar negeri, dalam sehari tersangka bisa menghabiskan duit puluhan juta rupiah. ”Uangnya saya gunakan untuk belanja, biaya travel, dan menginap di hotel mewah,” kata Andre.

Tak hanya itu. Andre dan Khoirunnisa juga berfoya-foya dan terkadang mentraktir teman serta kerabatnya. Perilaku mereka bak orang kaya raya dadakan. Apa pun yang mereka minati pada saat itu pasti terbeli. ”Andre dan Khoirunnisa kini sebagai pencetak, pembuat, pengguna, dan pengedar kartu kredit palsu,” kata AKBP Bahagia Dachi.

Gaya hidup mewah ”pemain burung” –sebutan untuk pemalsu kartu kredit — itu, menurut Dachi, bermula dari keberhasilan kedua tersangka mencetak kartu kredit palsu, enam tahun lalu. Sebelum memproduksi sendiri, lanjut Dachi, kedua tersangka dikader para ”pemain burung” lama yang mahir lebih dulu. Mereka awalnya dijadikan sebagai kurir barang belanjaan. Setelah itu, mereka dilatih pemain lama sampai lihai.

Polisi menduga, pemain lama itu, antara lain, KR dan KK. Dalam penelusuran Gatra, dua orang itu tak lain adalah Kawi Rachmat dan Kim kim. Sebab dua nama yang telah dimasukkan dalam DPO (daftar pencarian orang) ini, pada Februari 2007, pernah ditangkap jajaran Direktorat IV Narkoba & Kejahatan Terorganisasi, Bareskrim Mabes Polri (baca Gatra edisi 15/XIV, 27 Februari 2008).

Kedua residivis itu, terutama Kawi Rachmat, disangka sebagai aktor utama pembobol kartu kredit dalam sindikat jaringan internasional, yang bekerja sama dengan sindikat jaringan pengedar narkoba Malaysia-Indonesia (baca: Jejak Sang Residivis).

Tapi, belakangan, Dachi memperoleh informasi bahwa KR sudah bebas dari penjara. Dari KR, Dachi melanjutkan, Andre dan Khoirunnisa memperoleh ribuan daftar PIN (personal identity number), yang sebelumnya didapatkan KR dari oknum karyawan berbagai bank di Indonesia. Sedangkan Kim Kim menyuplai fisik kartu pesanan Andre dan Khoirunnisa.

Lewat fisik kartu bodong itulah, daftar PIN nasabah yang diperoleh dari oknum karyawan berbagai bank di Indonesia ditanamkan. Pembuatan teknisnya dengan mesin embosser dan skimmer. ”Secanggih-canggihnya sistem kartu kredit, bila masih ada oknum karyawan bank yang membocorkan nomor rahasia, ya, tetap saja bisa dibobol,” ujar Dachi.

Ketika sudah berfungsi, kata Dachi, selain dipakai sendiri, kartu kredit palsu itu juga dijual lewat jaringan Andre. Antara lain di jalur Aldi dan Reynaldi alias Boy, yang kini buron. Kedua buron inilah yang kemudian memasarkan kepada konsumen pengguna pilihan. ”Rekrutmennya tidak sembarangan,” katanya.

Menurut Dachi, sindikat jaringan itu merugikan nasabah bank di dalam dan luar negeri hingga milyaran rupiah. Nasabah yang disasar biasanya para pengusaha dan pelancong yang berduit gede. Tak mengherankan bila dalam sehari saja, kata Dachi, jaringan yang tersebar di kota-kota besar dan sekitarnya itu meraup hingga Rp 200 juta.

Selain memburu KR dan KK, polisi kini memfokuskan penyelidikan terhadap oknum karyawan bank yang ada di Indonesia. Sayang, polisi belum menyebutkan prioritas oknum karyawan bank dimaksud. ”Kami utamakan memburu KR dan KK terlebih dahulu. Setelah itu, baru membidik oknum karyawan bank,” tutur Dachi.

Sebab, lanjut Dachi, peran mereka (oknum bank) sangat membantu para ”pemain burung” untuk beraksi. Karenanya, selama ada oknum di dalam bank, selama itu pula ”pemain burung” terus berkeliaran. ”Tersangka yang sudah tertangkap dikenai Pasal 263 (pemalsuan) dan 378 (penipuan) KUHP. Juga dikenai Undang-Undang Nomor 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (cyber crime),” ujarnya.

Sejurus kemudian, Budi Setiawan, Board of Executive Asosiasi Kartu Kredit Indonesia, mengatakan bahwa para pemain sindikat kartu kredit tak hanya orang Indonesia. Sindikat itu biasanya terkait juga dengan pemain dari luar negeri seperti Malaysia. “Orang Indonesia hanya menjadi joki. Orang luar negeri yang menguasai persoalan (pemalsuan kartu kredit),” katanya.

Pemalsuan kartu kredit itu, lanjut Budi, berjejer dalam skala kecil dan besar. Dikatakan besar bila pemalsuan itu menghasilkan ratusan juta rupiah. Sedangkan dalam skala kecil hanya meraup puluhan juta.

Guna memangkas aksi para penjahat itu, kata Budi, sebetulnya pihak Bank Indonesia telah melakukan migrasi dari magnetic stripe ke chips. Sehingga mestinya pemalsuan kartu kredit itu menurun. Sayang, proses migrasi itu belum juga usai. Celah inilah, Budi menambahkan, yang masih dimanfaatkan sindikat jaringan kartu kredit palsu untuk terus beraksi.

Deni Muliya Barus dan Rach Alida Bahaweres
[
Hukum, Gatra Nomor 15 Beredar Kamis, 19 Februari 2009]

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Belanja di Apple Store bisa lewat Apple Watch
      Pembaruan Apple Store kini membuat pengguna Apple Watch dapat membeli item langsung dari pergelangan tangan.Fitur baru tersebut dapat dinikmati setelah pembaruan versi 4.1 aplikasi tersebut, tapi, tidak semua katalog bisa ...
    • Wapres: bela negara bukan hanya saat perang
      Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan semua harus mempersiapkan diri untuk bela negara, bukan hanya pada saat terjadi perang. "Bela negara bukan hanya perang, tapi juga memajukan negeri ini dengan baik dan berkeadilan," ...
    • Polda Kepri benarkan pesawat Polri jatuh
      Polda Kepri membenarkan pesawat M-28 Sky Truck dengan nomor regristrasi B-4201 hilang kontak dan diketahui jatuh di perairan Kabupatan Lingga pada sisi selatan Provinsi Kepri. "Iya benar, pesawat sempat hilang kontak. ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: