Fadjroel Rachman: “We lost the battle, but we won the war”

Tas Berdarah di ITB

Suatu hari di tahun 1989. Sekitar 40 mahasiswa Institut Teknologi Bandung turun ke jalan. Mereka memprotes penggusuran tanah rakyat di Kaca Piring. Fadjroel Rachman, seorang mahasiwa jurusan kimia ada dalam barikade. Aksi itu diobrak-abrik tentara. Fadjroel terpukul di kepala. Berdarah. Dia pun melarikan ke RS Borromeus yang tak jauh dari kampus ITB. Tujuh jahitan untuk kepala Fadjroel.

Arnold Poerba, kawan Fadjroel, ke kampus. Arnold berdiri di tengah lapangan bola basket dan berseru: “Fadjroel Rachman mati!” sambil mengangkat tas Fadjroel yang bernoda darah. Dan langsung 5000 mahasiswa ITB berkumpul untuk aksi yang lebih besar. “Itu pertama kali sejarah pergerakan mahasiswa tahun 80an yang meluas. Siapa yang bisa membayangkan ‘Fadjroel Rachman mati’ bisa menggerakkan 5000 orang,” kata Fadjroel.

Siapa 5000 orang itu? Menurut Fadjroel mereka sebenarnya para penghindar resiko, risk avoider. Kelompok kedua adalah mereka yang netral resiko. Kelompok terakhir orang yang berani mengambil resiko (risk taker). Dalam prinsip oligarki, selalu ada tiga sampai lima orang yang melakukan energizing (menyemangati) anggota kelompok lain. Dan sampai detik ini Fadjroel masih menempatkan dirinya sebagai risk taker. Dia menempuh segala resiko untuk mencapai keyakinannya tentang demokrasi dan perubahan sosial. Termasuk berjuang untuk menjadi calon presiden independen.

Tak berhenti Fadjroel berjuang meski Mahkamah Konstitusi telah menolak permohonan uji materi tentang pengajuan calon presiden non partai atau capres independen. Putusan MK yang diketok palu Selasa (17/2) itu terganjal ketentuan Pasal 6 Ayat (2) UUD 1945 yang menyatakan pasangan capres/cawapres diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik. Tapi Fadjroel belum surut. “Kami memenangkan perangnya, hanya kalah dalam pertempuran,” kata Fadjroel.

Gigih dan ngotot memang khas Fajroel. Masih segar putusan MK itu, Fadjroel sudah pasang kuda-kuda untuk uji materi berikutnya, mengampanyekan golongan putih (golput) pada pemilihan presiden, tapi memilih dalam pemilu legislatif, dengan syarat memilih caleg muda yang pro nasionalisasi harta negara, pro amandemen UUD 1945, dan pro Hak Asasi Manusia. Fadjroel membayangkan terbentuk republik kaum muda kedua setelah 1945.

Di masa Orde Baru, lelaki kelahiran Banjarmasin, 17 Januari 1964 sempat menjajal berbagai penjara akibat penentangannya pada rejim berkuasa. Bakortanasda, lalu Kebon Waru, Nusa Kambangan dan terakhir dipindah ke Sukamiskin Bandung. Kepada Alfred Ginting, Teguh Nugroho dan Rizki Amelia berbicara penuh semangat. Berikut petikan wawancaranya:

Setelah keputusan MK 17 masih ada harapan untuk calon presiden independen?

Pada intinya kami memenangkan gagasan capres independen. Karena delapan hakim menyatakan setuju dengan gagasan capres independen namun terbagi menjadi dua kubu mengenai prosedur. Tiga hakim mendukung kami dengan menyatakan cukup dengan merivisi Undang-Undang No.42 thn 2008 sementara lima hakim yang lain mengatakan harus mengamendemen pasal 46 ayat 2 UUD 1945. Jadi kami memenangkan perangnya tapi kalah dalam pertempuran. We lost the battle but we won the war.

Sebelumnya banyak orang meramalkan posisinya 8-0, betul-betul kami kalah. Tiga hakim yang setuju memberikan pesan capres independen diperbolehkan dalam arsitektur politik Indonesia bisa dicoba melalui revisi lagi. Melalui DPR atau lebih jauh lagi melalui amandemen ke-5 UUD 1945.

Kekalahan ini karena rezim Mahfud MD tidak ramah terhadap independen. Akan beda kalau MK masih dipimpin oleh Jimly Asshiddiqie. Kami memasukkan uji materi itu saat Jimly tapi kemudian dia mengundurkan diri. Pengambilan keputusan tanpa Jimly sama sekali. Di awal kami ramalkan hasilnya 5-4. Kalau masih ada Jimly kami berharap dia akan menggoda dengan kemampuan akademisnya dalam mengambil keputusan. Tapi ketika saat pengambilan keputusan, rezim berubah. Jimly turun. Itu saja yang kami sesalkan.

Calon independen untuk pilkada yang diputuskan pada jaman rezim Jimly tidak ada masalah. Saat itu bisa karena konstitusi dilihat secara kesenian, istilahnya living constitution. Konstitusi yang hidup. Contohnya di Aceh, UU no. 4 tahun 2006 memperbolehkan Gubernur, Walikota dan Bupati melalui jalur independen. Itu dianggap sebagai kondisi kekinian dan dipakai oleh MK untuk memenangkan pilkada independen. Lucunya, ketika rezim Mahfud memutuskan capres perseorangan dengan alasan kita harus mengikuti keinginan konstitusi sesuai dengan apa yang diinginkan di dalam MPR. Yang mengatakan hanya boleh partai politik dan gabungan partai politik yang ikut dalam pemilihan presiden.

Jadi pilkada independen dan capres independen merupakan satu barang yang sama tapi dihadapkan pada rezim yang berbeda 180 derajat dalam cara berpikirnya. Terjadi standar ganda. Yang digunakan untuk memenangkan pilkada independen tinggal di balik saja dalam mengalahkan capres indepeden.

Dimana perbedaan cara pikir rezim Jimly dan Mahfud?

Mahfud berangkat dari partai sehingga cara berpikir dia kaku, ala partai sekali. Selain itu gagasan ideologisnya juga aneh. Dia mengatakan capres perseorangan itu pro individualistik. Jadi aku ini dituduh menyebarkan paham individualistik dan liberalisme. Sementara Indonesia, kata dia, pro kolektivistik. Itu yang dibantah oleh Maruarar (Siahaan). Dia bilang perdebatan itu sudah selesai ketika Soepomo berdebat dengan Hatta tentang pasal 28 UUD 1945. Soepemo pro kolektivistik, sedangkan Hatta bilang individualistik harus dihormati. Tetapi itu dikembalikan lagi oleh Mahfud bahwa Fadjroel ini pendorong gagasan individualistik dan liberalistik. Jadi kemarin itu sudah pertarungan ideologi politik, berlapis-lapis. Jadi aku tanya ke pengacaraku: “Taufik memang selama bergaul dengan aku, aku ini individualistik ya?” (tertawa)

Keputusan MK itu murni perdebatan intelektual atau politik?

Pertama, apa betul pilkada indepeden adalah individualistik dan liberalistik. Apakah betul Indonesia masih menganut paham kolektifistik? Itu perdebatan ideologi dan politik. Kedua, soal kekinian dan tentang konstitusi hidup atau konstitusi mati. Itu politik juga. Sekarang di Indonesia ada satu gubernur dan 12 bupati/walikota dari calon independen. Artinya secara kekinian orang menerima independen dan partai sudah kehilangan suara, sudah mengalami kebangkrutan. Tapi ini dilemahkan, tidak ada kekinian itu. Mereka menentang sesuatu yang sudah nyata terjadi.

Ketiga, dari mana kita mulai punya capres. Di Amerika sejak pertama kali merdeka, sistem presidensialnya menganut partai politik dan calon independen. Dalam pemilu AS kemarin tidak hanya Obama melawan Mccain tapi ada 12 capres independen. Di Korea dan Malaysia ada. Bahkan di tahun 1955, konstituate memperbolehkan independen. Abu Hasan dari Sumatera Selatan contohnya.

Soal individualistik dibantah oleh Maruarar Siahaan. Soal kekinian dibantah oleh Akil Muktar yang mengatakan kita harus melihat konstitusi hidup bukan konstitusi mati. Soal capres dibantah oleh Mukti Fajar. Dia mengatakan soal partai, gabungan partai maupun independen itu ibarat kendaraan, sampainya pun sama, menjadi presiden.

Sampai saat ini yang berhasil hanya gubernur dan walikota/pupati. Kami terus berjalan dan ini hambatan kecil saja. Jadi kami sudah menerobos dua titik. Legislatif dan eksekutif. Mereka menganggap kalau ini diteruskan habislah partai. Menurut aku ini arsitektur politik baru dengan dua pilar yaitu partai politik dan independen. Itu praktik demokrasi modern.

Apa yang Anda kerjakan selanjutnya?

Ada empat. Aku tetap tidak mengundurkan diri sebagai calon independen, tetap berkampanye. Sebenarnya hari ini (20/2) mau dimasukkan uji materi capres independen. Cuma ditambahkan satu atau dua masalah baru. Namun kami masih mempertimbangkan karena ada hakim MK baru Pak Haryono. Apakah ia memiliki pengaruh besar dalam pengambilan keputusan MK. Kita lihat dalam satu atau dua keputusan yang telah dibuatnya. Dari semua keputusan yang diambil MK nanti bisa kita lihat konsistensi pemikirannya. Mudahnya di MK, kita tinggal masukan saja yang baru lalu diuji lagi.

Kedua, amandamen UUD 1945. Aku sudah dihubungi oleh Adnan Buyung Nasution (anggota Dewan Pertimbangan Presiden). Dia mengundang untuk membicarakan amandemen UUD 45. Tetapi untuk itu ya harus berhadapan dengan 550 anggota DPR plus 128 anggota DPD. Mereka belum tentu pro amandemen kan? Tidak ada jalan lain maka aku dan kawan-kawan putuskan untuk mendorong terbentuknya legislatif kaum muda. Tapi dengan kriteria yang aku sebutkan tadi: pro amandemen kelima, pro independen, pro ham dan nasionalisasi.

Keempat aku akan golput pada pemilihan presiden, artinya aku akan mendorong legislatif kaum muda dengan pemilih anak muda. Lalu aku akan golput pada pemilihan presiden, menolak kaum tua. Ini akan menjadi republik kaum muda kedua setelah Soekarno tahun 1945. Memang di 2009, mundur sedikit, legislatif kaum muda, presidennya masih tua. Nanti tahun 2014, presidennya kaum muda, legislatif kaum muda membentuk republik kaum muda kedua.

Republik kaum muda ini kan bukan hanya soal usia?

Kepemimpinan nasional kedua, Suharto dan Orde Baru, kepemimpinan nasional orbais dan Suhartois. Sekarang ini kan masih Suhartois dan orbais. SBY adalah loyalis. Setelah kepemimpinan yang Suhartois dan orbais kami berharap pada kepemimpinan nasional yang non orbais dan non Suhartois. Jadi kalau mau memakai gagasan mengenai tahapan kepemimpinan nasional polanya seperti itu.

Anda lebih percaya lewat jalan MK daripada amandemen di MPR?

Untuk mengamandemen UUD’45, berhadapan dengan 9 hakim akan lebih mudah daripada berhadapan dengan 550 anggota DPR ditambah dengan 128 anggota DPD.

Kami tidak mungkin mengabaikan peluang amandemen. Cara pada pemilihan legislatif aku akan memilih, tidak golput, dengan kriteria memilih anak muda yang pro amandemen, pro hak asasi manusia, dan pro nasionalisasi. Dengan harapan akan terbentuk legislatif kaum muda.

Sedangkan pada pilpres aku akan golput. Pada 17 dan 18 Februari kemarin adalah ladang pembunuhan buat capres independen dan capres dari partai kecil seperti Yusril, Wiranto, Sutiyoso, Prabowo dan lainnya. Sehingga nanti yang muncul kita sudah tahu yakni SBY-JK dan Mega dengan pasangannya. Dan pemenangnya yaitu SBY-JK. Jadi ladang pembunuhan di MK itu adalah political engineering untuk menghasilkan kemenangan SBY-JK. Sudah desainnya begitu. Jadi kita sudah tahu hasil Pemilu.

Kenapa Golput dalam Pilpres?

SBY dan Mega anti nasionalisasi, SBY menjual Cepu sedangkan Mega menjual Indosat. Untuk amandemen pada pemerintahan Mega enggan melakukan. Sedangkan SBY tidak jelas. Praktis capres yang pro HAM, pro amandemen, pro agaria dan pro nasionalisasi tidak ada, buat apa memilih. Toh kalau golput hanya 20 jutaan penduduk tetap juga dianggap 100 persen.

Anda akan mengajak pendukung Anda untuk golput?

Jadi begini, paling tidak kamu tidak mendapatkan aku kan. Aku yang pro nasionalis sudah tidak ada. Berarti calon alternatif sudah tidak ada, termasuk independen yang lain. Kemudian yang dari partai kecil, seperti Yusril, itu tidak akan ada yang keluar (sebagai capres) kalau hanya mengandalkan kepada 2,5 persen. Karena sudah ditolak kan hari kedua. Itu berarti kita akan kembali ke UU undang-undang 42 tahun 2008 tentang syarat untuk pasangan yang berhak maju ke pilpres adalah 20 persen kursi DPR. Berarti 120 kursi di DPR. Kalau melihat kondisi hari ini yang bisa memenuhi kan hanya dua Gokar dan PDI-P. Bahkan SBY pun tidak bisa karena perolehan Demokrat hanya 7 persen. Jadi koalisinya nanti SBY masih tetap bersama JK. Kemudian Megawati mungkin dengan Prabowo atau siapa. Lalu ada satu pasangan lagi.

Bisa terjadi Kemungkinan besar kasusnya mirip pemilihan gubernur Jakarta. Disangka karena hanya butuh 15 persen kursi akan ada 6 calon. Ternyata 20 partai mengusung Foke dan satu partai ke Adang. Yang dimungkinkan enam saja, cuma terjadi dua. Apalagi yang dimungkinkan cuma tiga. Berarti cuma ada dua (tertawa). Jadi sebenarnya keputusan MK tanggal 17 dan 18 itu sebenarnya sudah selesai pemilu kita. Kita sudah tahu kok siapa yang menang.

Tapi dalam politik selalu ada yang abnormal?

Ya. Soeharto dulu tahun 1998 hanya menjabat selama 6 bulan. Jadi dia sebenarnya masih berkuasa 4,5 tahun lagi. Artinya, jika terjadi gejolak politik seperti 1998, capres independen akan maju, dan aku sudah menginvestasi untuk itu.

Gejolak sosial dan politik juga butuh kondisi, apa yang akan terjadi?

Waktu Soeharto turun, aku masih di DPR lalu dijemput oleh wartawan CNN lalu dibawa ke atap Hotel Mandarin. Di bawah, di bundaran HI cuma ada satu tank. Sepi. Pertanyaan pertama mereka; apa perasaan sekarang ini? Aku terdiam. Aku merasa kosong, kok lawanku hilang? Jadi sesuatu yang tidak terduga sama sekali seperti itu bisa terjadi. Dalam pertempuran di MK, orang meramalkan kami kalah 0-8.

Untuk yang normal, kami melalui jalur yang legal, melalui amandemen. Tetapi harus bersiap-siap juga terhadap jalur yang abnormal. Kita kan hidup harus begitu. Hidup di alam normal dan abnormal. Jadi kita tidak berpikiran ada sesuatu di luar kontrol kita. Aku selalu mempersiapkan diri di dua titik itu. Aku tetap berhubungan dengan teman-teman di gerakan. Sebenarnya kalau calon independen dimenangkan siapa sih pendukung sebenarnya? Ya, orang-orang abnormal seperti Anda juga. Para Slankers.

Sejauh mana terjadi kebangkrutan partai politik?

Di Kabupaten Batubara (Sumatera Utara), Kab. Rote Ndao (Nusa Tenggara Timur), Kab. Garut (Jawa Barat, dan Kab. Kubu Raya (Kalimantan Barat). Di Garut, Aceng Fikri dan Dicky Chandra mengalahkan semua partai tua seperti Golkar dan PDI-P serta PKS yang kata orang itu hebat. Calon independen akan lebih banyak memenangkan pilkada bila diperbolehkan di pemilihan Gubernur Jawa barat, Timur dan Tengah dan Bali. Undang-undang sudah ada tapi partai menolak dengan alasan KPU belum siap. Kalau diperbolehkan, salah satu pasti dimenangkan calon independen.

Kemungkinan menangnya di Jawa timur karena golputnya 51 persen. Kemungkinan kedua kami menang di Jawa Barat, karena yang memilih Hade (Heryawan-Dede Yusuf) 7 juta, golput 11 juta. Di Jawa Tengah kemungkinan golput dari 40-45 persen. Jawa Tengah, Timur, Barat dan Bali kursi setengah dari kursi DPR yang diperebutkan diambil dari independen.

Tapi belum pasti juga golput akan lari ke calon independen?

Mereka menolak partai. Tapi belum tentu ke independen, itu benar. Tetapi dia akan lebih dekat dengan independen. Kalau dia lari, dia akan bergeser ke independen.

Belum tentu golput bisa juga dia ke partai yang lain. Contoh menariknya adalah Amerika. Rata-rata partisipasi pemilihan di pemilu Amerika dalam dua periode sebelumnya Cuma 40 persen. Tapi ketika Obama muncul, calon alternatif, pemilih meningkat menjadi 67 persen. Obama kan calon alternatif. Program yang dia tawarkan kan berbeda. Kalau Bush pro perang, Obama anti perang. Bush senantiasa mendorong 500 konglomerat untuk ekspansi ke luar negeri dengan insentif pajak. Obama mengancam, para konglomerat akan dikenakan pasar progresif, kalau tidak mau kembali insentif pajak dicabut. Itu untuk membangun di dalam negeri. Makanya Obama mengatakan 150 juta pekerja kelas menengah langsung diberi insentif pajak. Setiap orang dipotong pajak seribu dolar. Setiap rumah tangga 500 dolar. Itu untuk 150 juta pekerja kelas menengah. Mahasiswa diberi kredit 4000 dolar. Tujuh juta orang pensiunan dibebaskan dari pajak. Kepada orang miskin diberikan BLT, jumlahnya 500 triliun. Jadi kelihatan, ketika orangnya berbeda, minat terhadap pemilu juga berbeda.

Aku kan berbeda, ingin nasionalisasi aset rakyat. Kalau mereka (capres lain) semua pro pasar. Lantas aku pro Hak Asasi Manusia, pro pajak progresif, kebijakan yang ketat atas 200 konglomerat. Aku pro kepada kaum menengah. Aku ingin membebaskan agar kita tidak kena pajak 15 persen tapi hanya 5 persen saja. Tetapi kepada 200 konglomerat seperti Jusuf Kalla dan Aburizal Bakrie itu kena pajak 55 persen seperti di Swedia. Di Indonesia 30 persen sekarang malah diturunkan menjadi 28 persen.

Di luar program alternatif, Obama juga melakukan cara alternatif?

Ya, dia membangun network alternatif. Dia sebenarnya tidak tergantung sama sekali kepada Partai Demokrat. Ada tiga juta orang dari situs Facebook, Twitter, dan My Space, yang menyumbang sampai 6,9 triliun kepada Obama. Karena itulah Obama menolak dana kampanye dari pemerintah, yang justru diambil oleh John McCain. Kalau di sini semua capres mengambil uang negara untuk bikin bendera.

Dia berhasil membangun citranya sebagai tokoh alternatif. Kedua, program alternatif yang netral terhadap Bush. Dan ketiga membangun jaringan politik baru di luar parpol. Dia masuk ke jaringan anak muda. Rata-rata orang yang ber-facebook kan anak muda. Sekarang siapa capres yang main facebook? Fadjroel Rahman, Rizal Malarangeng dan Yudi Chrisnandi. Ada sih Prabowo, Megawati, tapi cuma fotonya saja. Kaum tua itu tidak aktif di teknologi, mungkin tidak paham.

Anda menggalang dana darimana?

Sampai saat ini belum perlu dana. Kami capres independen bersama tim politik dalam tahap pertama adalah memperjuangkan uji materi. Tidak ada jalan lain karena independen itu harus memiliki regulasi. Jalannya adalah di Mahkamah Konstitusi. Kalau dia menang baru masuk ke Peraturan Pemerintah pengganti UU No 4. Revisi. Kenapa harus peraturan pemerintah pengganti undang-undang, karena pemilunya 8 Juli, sudah mepet betul.

Untuk pilkada independen dulu revisinya hingga 13 bulan. Baru tahap ketiga berhadapan dengan 171 juta pemilih. Jadi yang dihadapi oleh capres independen adalah sembilan hakim konstitusi, berhadapan dengan SBY, baru berhadapan dengan 171 juta pemilih. Dana untuk tahap pertama tidak terlalu besar, paling hanya menghabiskan 25-30 juta rupiah. Itu selama pertemuan tujuh bulan. Misalnya saja sekali fotokopi satu juta rupiah, untuk sembilan hakim. Kami ada tim hukum, tim politik dan tim media. Tim ahlinya dari UI. Tim uangnya dari ITB. Tim media massanya dari LSM.

Apa yang terjadi pada alam pikiran anak muda, benarkah mereka jengah dengan ranah politik atau pada figur dan gagasan politik?

Untuk ini ada dua pelajaran. Pertama kasus obama itu menarik. Ternyata meraka yang begitu apatis bisa dibangkitkan dengan isu pro perang atau anti perang. Obama berkulit hitam yang tidak pernah ada dalam sejarah Amerika tapi bisa muncul.

Apakah gagasan anti nasionalisasi dan nasionalisasi bisa laku untuk anak muda?

Mereka pro swastanisasi dengan menjual BUMN, aset strategis. Aku pro nasionalisasi. Aku ingin membuat program yang berbeda. Kemudian aku juga ingin membuat perbedaaan antara kaum muda dan kaum tua. Sebenarnya ada yang lain akan aku munculkan yaitu memindahkan ibukota Indonesia ke Palangkaraya. Seperti cita-cita Soekarno dulu. Secara geografis itu menarik, biarkan Jakarta seperti New York. Amerika memindahkan ibukota ke Washington DC. Ini untuk menghadapi ketimpangan antardaerah, biarkan saja Jakarta sebagai kota perdagangan. Pola-pola begini membuat sesuatu yang kontradiktif.

Pemilu lalu dimenangkan Golkar, dan kita belum pernah selesai dengan Suharto. Benarkah kita masih belum ingin beralih dari orde baru?

Aku percaya pada pikiran (Samuel) Huntington mengenai gelombang ketiga demokarasi. Dibuat riset tiga kali tentang demokrasi di Jepang dan Jerman. Pertama setelah Perang Dunia II. Orang ditanya rezim manakah yang paling bagus di Jerman dan di Jepang? 70-80 menjawab Hitler dan Hirohito. Seperti sekarang, di Indonesia orang ditanya mana yang lebih baik? Suharto. Tahun 70an ditanya hal serupa jawabannya mulai bergeser. Lalu tahun 80an barulah 90 persen menjawab rezim demokrasilah yang terbaik. Jadi kesimpulannya perubahan generasi membuat demokrasi menjadi normal. Tetapi perubahan pikiran itu mirip ular berganti kulit. Jadi jangan percaya politisi yang bilang kami tampil dengan paradigma baru. Perubahan itu baru benar-benar terjadi jika generasinya berubah. Makanya harus terjadi perubahan generasi.

Kalau dilihat dari 1998, perubahan sosial itu kan dinamika kelas menengah. Sementara mereka cenderung mencintai kemapanan?

Nah itu generasi muda yang riset kedua Huntington. Riset pertama mereka masih mencintai Hitler. Di riset kedua mulai luntur. Nah pada riset ketiga sudah mulai jauh jaraknya. Dalam pola Huntington, yang sekarang ini masih riset kedua. Bisa bayangkan seorang Pius (Lustrilanang) mencintai penculiknya. Nanti ada saatnya tidak ada lagi yang mengenal orang-orang itu.

Berapa tahun untuk itu?

Satu generasi kan 15 tahun. Ini generasi kedua pasca reformasi. Generasi kedua pasca reformasi sekitar 15 tahun baru kemudian generasi ketiga pasca reformasi. Itu mungkin angkatan anakku. Di situ mapan demokrasinya. Di generasi kedua itu benar-benar terancam. Kalau generasi pertama pasca reformasi itu yang orbais Suhartois itu yang bikin kita sakit kepala kan? Jadi kalau kita pakai pola 15 tahun, semestinya mereka selesai setelah 2014.

Anda berbicara cepat dan berstamina. Kenapa begitu?

Aku berasal dari etnis Banjar dan Bugis, tapi tinggal di Bandung. Banjar dan Bugis orang pesisir, ada kecenderungan untuk berbicara cepat. Kami keluarga dokter, kakekku dokter, generasi kedua juga dokter tapi tidak ada yang berpolitik. Generasi ketiga semuanya jadi insinyur dan aku yang berpolitik. Itupun kecemplung. Waktu masuk ITB aku kan masuk PSIK. Di sana diskusi, bahas buku filsafat dan ekonomi, debat. Lalu aku ikut English student forum untuk melatih bahasa Inggris dan debat dalam bahasa Inggris. Kemudian pada masa-masa itu muncul masalah tanah, di Kaca Piring, Pandeglang dan sebagainya. Kemudian saya terlibat, melakukan riset. Dan menjadi bagian dari gerakan itu.

Di kelompok studi dilatih untuk berpikir cepat. Kan biasanya ada dua kelompok; afirmatif dan negatif. Dan kita diberi waktu tiga menit untuk menyampaikan gagasan. Kebetulan aku dari etnis berbicara cepat, hal itu menjadi lebih mudah. Kemudian aku pernah menjadi Pemred majalah Ganesha paling tidak aku bisa mendapatkan pelajaran 5W+1H (apa, siapa, kapan, dimana, kenapa dan bagaimana). Jadi terlatih itu di kelompok studi.

Itu cukup untuk modal calon presiden?

Sebenarnya modal untuk menjadi aktivis. Aktivis yang memilih untuk menjadi calon presiden independen daripada aktivis yang masuk ke sistem politik lama, berharap bisa melakukan perubahan. Tapi tidak apa kawan-kawan itu memilih jalannya. Kalau saya cita-cita untuk presiden independen. Mereka yang bersimpati saya ajak untuk berpikir, mau presiden pro nasionalisasi dan pro HAM atau tidak? Kalau iya, mari golput.

Atau pilihannya mungkin mau presiden sastrawan atau presiden bukan sastrawan?

Atau pilih presiden sastrawan atau presiden penyanyi (tertawa)

Biodata

Nama: Fadjroel Rachman
Tempat, tanggal lahir: Banjarmasin, 17 January 1964

Pendidikan:

  • FMIPA, Jurusan Kimia, ITB (tidak lulus)
  • Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
  • Pascasarjana FE Universitas Indonesia Bidang Manajemen Keuangan dan Moneter
  • Program S3 di Program Pascasarjana FE UI (2008)

Pengalaman Kerja

  • Lembaga Pengkajian Demokrasi dan Negara Kesejahteraan (Pedoman Indonesia) (1999-sekarang)
  • Penulis di berbagai media nasional
  • Presenter di berbagai program televisi dan radio
  • Financial and Business Development Executive, PT Pedoman Global Komunindo, Communication, Engineering and General Trading, Jakarta (1998-sekarang)
  • Financial and Business Development Executive, PT Oktagon Komunikasi, Jakarta (2004-sekarang)

Organisasi:

  • Ketua Gerakan Nasional Calon Independen
  • Anggota Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan
  • Anggota Lingkar Muda Indonesia
  • Kandidat komisioner Truth and Reconciliation Commission (TRC) of Indonesia (2006)
  • Ketua Perserikatan Rakyat (2004-sekarang)
  • Anggota presidium Forum Wacana UI (1998)
  • Anggota Forum Demokrasi (1993-sekarang)

Buku

  • Catatan Bawah Tanah (1993)
  • Pesta Sastra Indonesia (1985),
  • Social Democracy Movement in Indonesia (2001)
  • May Revolution and Mass Media (2001)
  • Soetan Sjahrir: Guru Bangsa (1999)
  • Demokrasi Tanpa Kaum Demokrat – May Revolution and Mass Media (2001)
  • Antologi puisi Dongeng untuk Poppy (2007)
  • Antologi Puisi Sejarah Lari Tergesa (2004)
  • Bulan Jingga dalam Kepala (2008)

N alfred ginting – KoranJakarta

3 Comments

  1. assalamu alaikum wr. wb.

    alhamdulilah…
    Selamat akhirnya golput berhasil memenangkan jumlah suara terbanyak!
    Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung Partai Golput,
    baik yang dengan penuh kesadaran dan keikhlasan maupun yang tidak.
    Lho, maksudnya? Gak Jelas?😐

    Sudah saatnya kita ganti sistem!
    Sistem yang lebih “pro rakyat” dan lebih “berbudi”…
    Ayo kita ganti secepatnya, “lebih cepat lebih baik”…
    Mari kita “lanjutkan” perjuangan dakwah untuk menegakkannya!
    Sistem Islam, petunjuk dari Sang Maha Pencipta!

    Lihatlah dengan hati dan fikiran yang jernih!
    Aturan Sang Maha Pencipta diinjak-injak
    dan diganti dengan aturan yang dibuat seenak udelnya!
    Dan lihat akibatnya saat ini, telah nampak kerusakan
    yang ditimbulkan oleh sistem sekulerisme dan turunannya
    (seperti: kapitalisme, sosialisme, demokrasi, dsb) di depan mata kita!

    Banyak anak terlantar gara2 putus sekolah.
    Banyak warga sekarat gara2 sulit berobat.
    Banyak orang lupa gara2 ngejar2 dunia.
    Dan banyak lagi masalah yang terjadi gara2 manusia nurutin hawa nafsunya.

    Lihat saja buktinya di
    http://hizbut-tahrir.or.id/2009/05/12/kemungkaran-marak-akibat-syariah-tidak-tegak/
    http://hizbut-tahrir.or.id/category/alwaie/
    http://hizbut-tahrir.or.id/category/alislam/
    dan banyak lagi bukti nyata yang ada di sekitar kita!

    Untuk itu, sekali lagi saya mohon kepada semua pihak
    agar segera sadar akan kondisi yang sekarang ini…
    dan berkenan untuk membantu perjuangan kami
    dalam membentuk masyarakat dan negeri yang lebih baik,
    untuk menghancurkan semua bentuk penjajahan dan perbudakan
    yang dilakukan oleh manusia (makhluk),
    dan membebaskan rakyat untuk mengabdi hanya kepada Sang Maha Pencipta.

    Mari kita bangkit untuk menerapkan Islam!
    mulai dari diri sendiri.
    mulai dari yang sederhana.
    dan mulai dari sekarang.

    Islam akan tetap berlaku hingga akhir masa!
    Dan Islam akan menerangi dunia dengan cahaya kemenangan!
    Mohon maaf apabila ada perkataan yang kurang berkenan (-_-)
    terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.

    wassalamu alaikum wr. wb.

  2. INI BUKTINYA : PUTUSAN SESAT PERADILAN INDONESIA

    Putusan PN. Jkt. Pst No. 551/Put.G/2000/PN.Jkt.Pst membatalkan demi hukum atas Klausula Baku yang digunakan Pelaku Usaha. Putusan ini telah dijadikan yurisprudensi.
    Sebaliknya, putusan PN Surakarta No. 13/Pdt.G/2006/PN.Ska justru menggunakan Klausula Baku untuk menolak gugatan (karena terindikasi gratifikasi di Polda Jateng serta pelanggaran fidusia oleh Pelaku Usaha?). Inilah bukti inkonsistensi Penegakan Hukum di Indonesia.
    Quo vadis hukum Indonesia?

    David
    (0274)9345675

  3. info yang bagus…
    thanx


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Belanja di Apple Store bisa lewat Apple Watch
      Pembaruan Apple Store kini membuat pengguna Apple Watch dapat membeli item langsung dari pergelangan tangan.Fitur baru tersebut dapat dinikmati setelah pembaruan versi 4.1 aplikasi tersebut, tapi, tidak semua katalog bisa ...
    • Wapres: bela negara bukan hanya saat perang
      Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan semua harus mempersiapkan diri untuk bela negara, bukan hanya pada saat terjadi perang. "Bela negara bukan hanya perang, tapi juga memajukan negeri ini dengan baik dan berkeadilan," ...
    • Polda Kepri benarkan pesawat Polri jatuh
      Polda Kepri membenarkan pesawat M-28 Sky Truck dengan nomor regristrasi B-4201 hilang kontak dan diketahui jatuh di perairan Kabupatan Lingga pada sisi selatan Provinsi Kepri. "Iya benar, pesawat sempat hilang kontak. ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: