Koyakkanlah Hatimu dan Jangan Pakaianmu!

“Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu!” (Yl. 2:13). Demikianlah intisari seruan nabi Yoel kepada umat Israel, yang kembali digemakan Gereja pada Rabu Abu, 25 Februari 2009.

Di Israel mengoyakkan pakaian merupakan tanda kabung, yang menyiratkan pengakuan dosa. Itu bukan perkara gampang. Mengoyak berarti mencabik, merobek, dan membuat pakaian menjadi compang-camping. Relakah kita melakukannya?

Bagaimanapun, banyak orang senang-dan itu wajar-mengenakan pakaian yang bersih, rapi, bahkan licin. Pada titik ini pengoyakan pakaian merupakan hal yang patut dipuji.

Bukan Ajang Pamer
Namun, Yoel mengingatkan umat agar tidak hanya bertumpu pada yang tampak. Apalagi, jika pengoyakan pakaian itu malah menjadi ajang pamer kesalehan. Inilah bahaya tindakan kasatmata. Lebih berbahaya, kalau pengakuan dosa malah menjadi proyek. Karena itu, nabi menasihatkan umat untuk mengoyakkan hati.

Pengoyakan hati tentu lebih sulit. Pakaian lebih gampang dikoyakkan karena berada di luar tubuh. Bagaimana dengan hati yang bersifat abstrak dan berada di dalam tubuh? Lalu, apa bukti bahwa seseorang telah mengoyak hatinya? Siapa pula yang menjamin bahwa hati itu telah terkoyak?

Terkait dengan hati yang terkoyak, hanya dua pribadi yang sungguh tahu: diri sendiri dan Allah. Manusia tidak mungkin membohongi diri sendiri. Dan Allah, menurut Daud, “berkenan akan kebenaran dalam batin” (Mzm. 51:8). Allah menuntut ketulusan.

Senada dengan Nabi Yoel, kepada para murid-Nya, Yesus pun berujar: “Jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka…” (Mat. 6:1). Motivasi seseorang menjadi hal krusial di sini. Mereka tidak dilarang menjalani kewajiban agama, tetapi apa motif di balik tindakan menjadi sangat penting dan bermakna.

Dalam ibadah Rabu Abu, umat mendapatkan olesan abu di dahinya. Pengolesan abu itu pun sepatutnya tidak menjadi ajang pamer kesalehan. Setiap orang yang menerima olesan abu seyogianya telah mengoyakkan hatinya.

Jadi, dengan menggunakan terminologi Nabi Yoel, bukan mengoyakkan pakaian dahulu baru mengoyakkan hati. Namun, pengoyakan hati itulah yang memampukan kita mengoyakkan pakaian. Pengoyakan pakaian hanyalah lambang. Dengan kata lain, pengoyakan hati itulah yang mendorong kita menerima olesan abu sebagai lambang pengoyakan hati!

Yang juga perlu diingat, meski berada di dalam tubuh-tidak terlihat oleh manusia lain-pengakuan dosa merupakan tindakan aktif. Kata kerja yang dipakai bukanlah kata kerja pasif, melainkan kata kerja aktif; “koyakkan” dan bukan “dikoyakkan”. Pengakuan dosa merupakan niat diri, bukan karena terpaksa.

Bukan Tanpa Alasan
Pengoyakan hati bukanlah tanpa dasar! Pengakuan dosa bukanlah tanpa alasan. Pertama: manusia memang debu dan abu. Manusia adalah makhluk lemah, ringkih, dan rentan.

Kisah Adam dan Hawa merupakan kisah kita juga. Kadang, sebagaimana Adam dan Hawa kita terpikat untuk melakukan apa yang kita pikir dan kita rasa benar.

Apa salahnya tahu yang baik dan jahat! Bukankah itu akan membuat kita menjadi lebih bijak? Apa salahnya menjadi bijak? Apa salahnya berpengetahuan? Ya, memang tidak ada salahnya! Tetapi, masalah manusia pertama ialah mereka melanggar kesepakatan bersama.

Inilah salah satu bukti keabuan manusia. Kita sering bertindak menurut apa yang kita rasa dan pikir benar, yang bisa membawa pada pelanggaran. Pengandalan akal dan rasa kadang membuat kita lupa bahwa akal budi adalah karunia Tuhan. Lebih gawat lagi, jika manusia akhirnya merasa lebih pandai dan lebih peka ketimbang Tuhan.

Atau, ada yang beranggapan bahwa Tuhan pastilah memaklumi kesalahan manusia. Pemahaman macam begini kadang menjadi dasar untuk berbuat sesuka hati. Ini juga merupakan sesat pikir dan sesat rasa! Pandangan itu berujung pada meremehtemehkan Tuhan. Aneh rasanya, kita sengaja berbuat salah karena tahu Tuhan itu pengasih. Bukankah ini pula bukti keringkihan kita selaku manusia?

Kedua: Allah ingin berdamai dengan manusia. Allah ingin bersekutu kembali dengan manusia. Tak heran jika Paulus berkata: “Terimalah uluran tangan Allah yang memungkinkan kalian berbaik dengan Dia.” (II Kor. 5:20b, BIMK)
Inilah kebenaran yang seharusnya memampukan kita mengoyakkan hati! Pengakuan dosa hanya akan terjadi kala orang sadar bahwa Allah bersedia menerima dirinya tanpa syarat. Banyak orang tak yakin adanya pengampunan sehingga mereka enggan mengakui dosanya. Jika tak ada kepastian pengampunan dosa, buat apa pula kita mengaku dosa?

Allah telah terlebih dahulu mengulurkan tangan-Nya. Persoalannya: apakah manusia mau pula mengulurkan tangannya? Jika manusia mau mengulurkan tangannya, maka manusia dan Allah bergandengan tangan. Itulah persekutuan sejati!

Dan itu dimulai kala kita mengoyakkan hati-dan bukan pakaian kita-secara tulus, sepi ing pamrih. Ya, tulus, tanpa basa-basi!

Yoel M Indrasmoro, pendeta Gereja Kristen Jawa Jakarta – SinarHarapan

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Belanja di Apple Store bisa lewat Apple Watch
      Pembaruan Apple Store kini membuat pengguna Apple Watch dapat membeli item langsung dari pergelangan tangan.Fitur baru tersebut dapat dinikmati setelah pembaruan versi 4.1 aplikasi tersebut, tapi, tidak semua katalog bisa ...
    • Wapres: bela negara bukan hanya saat perang
      Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan semua harus mempersiapkan diri untuk bela negara, bukan hanya pada saat terjadi perang. "Bela negara bukan hanya perang, tapi juga memajukan negeri ini dengan baik dan berkeadilan," ...
    • Polda Kepri benarkan pesawat Polri jatuh
      Polda Kepri membenarkan pesawat M-28 Sky Truck dengan nomor regristrasi B-4201 hilang kontak dan diketahui jatuh di perairan Kabupatan Lingga pada sisi selatan Provinsi Kepri. "Iya benar, pesawat sempat hilang kontak. ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: