Mengenang Sutan Sjahrir

sutan-sjahrirNama dan peran Sutan Sjahrir memang tidak terlalu banyak disebut dalam buku pelajaran sejarah Indonesia. Perannya yang tercatat menonjol adalah ketika dia menjadi perdana menteri (dilantik pada 14 November 1945 dan berumur selama dua tahun) di sebuah negara yang menganut sistem presidensial dan sejak itu perannya merosot. Dia menjalani tahanan semasa pemerintahan Presiden Soekarno (1962-hingga wafat pada 1966 di Zurich, Swiss). Sjahrir dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Namun, sesungguhnya Sjahrir termasuk tokoh sentral dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, khususnya di bidang diplomasi dan politik. Pada usianya yang ke-25 tahun, dia sudah berhasil memberi warna dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia yang membuatnya harus diasingkan. Pada usia 36 tahun, dia menjadi perdana menteri dan pada usia 40 tahun (1949) dia sudah mulai tersisih dari panggung utama politik Indonesia. Namun, pemikiran dan pengaruhnya tetap besar, khususnya dalam merekrut dan menempatkan kader-kader muda Partai Sosialis Indonesia (PSI) pada berbagai posisi penting dan strategis.

Sebelum Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Sjahrir sudah menjadi salah satu intelektual muda di masa itu karena latar belakang pendidikannya yang cukup baik (sekolah-sekolah Belanda), di samping dia memang sangat cerdas. Pada usia 19 tahun, dia ikut ambil bagian dalam peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 yang mencetuskan satu tanah air Indonesia, berbangsa satu Indonesia, dan berbahasa satu Indonesia.

Sebelumnya, dia juga ikut bergabung dalam kelompok Pemuda Indonesia di mana Soekarno, yang adalah seniornya, juga ada di situ. Di sinilah dia mulai belajar politik. Dia tidak pernah ikut dalam kelompok-kelompok organisasi kedaerahan, visi dan orientasinya adalah modernitas dan nasionalisme Indonesia. Maka ketika dia membentuk PSI pun, itu sama sekali tidak mencerminkan ikatan-ikatan primordial, seperti agama dan Jawa atau luar Jawa (NU, Masjumi, dll) atau PNI (kaum abangan dan priyayi).

Tak Selesai Sekolah

Sjahrir pernah mengenyam pendidikan hukum di Belanda (Leiden) dan di sana dia aktif di Perhimpunan Indonesia (PI) bersama-sama Mohammad Hatta (tiba di Belanda tahun 1921 untuk belajar ekonomi). Di Belanda, kedua tokoh itu banyak menelurkan pemikiran dan gagasan untuk Indonesia ke depan.

Sjahrir pulang ke Indonesia tahun 1931 untuk mewakili Hatta membentuk partai politik yang kemudian diberi nama Pendidikan Nasional Indonesia (PNI) tanpa menyelesaikan pendidikan hukumnya–untuk hal yang satu ini Hatta pernah mengungkapkan penyesalannya bahwa juniornya ini tidak pernah meraih gelar Mr padahal dia lulus doktorandus ekonomi.

Sjahrir menjadi ketua pertama PNI sampai Hatta pulang dari Belanda. Semasa di PNI, Hatta menerbitkan manifesto partai bertajuk Ke Arah Indonesia Merdeka. Karya ini memang ditulis atas nama Hatta. Namun menurut Subadio Sastrosatomo dan Burhanuddin, gagasan manifesto itu berasal dari Sjahrir.

Sjahrir juga mengalami hidup di pembuangan dan penjara. Tahun 1931, dia bersama-sama Soekarno dan Hatta menjalani hukuman penjara dan pengasingan selama delapan tahun, termasuk mendekam di Penjara Cipinang (10 bulan), dibuang ke Boven Digul (di Papua selama setahun), dan dipindahkan lagi ke Banda Neira. Kemudian, baru pulang ke Jawa tahun 1941, menjelang pecahnya Perang Pasifik dan pendudukan Jepang di Indonesia.

Anti-Jepang

Tiga SerangkaiSemasa pendudukan Jepang, Sjahrir aktif mengelola jaringan pergerakan kemerdekaan di berbagai lokasi di Jawa dan rutin menyusun dan menyebarkan berbagai materi propaganda, termasuk info yang diterima dari siaran luar negeri. Dia adalah tokoh yang sangat menentang kerjasama dengan Jepang untuk kemerdekaan Indonesia.

Sjahrir lebih suka Indonesia secara sepihak memproklamasikan kemerdekaan tanpa menunggu Jepang karena dia memang benci dengan Jepang dan fasisme, juga untuk memperlihatkan kepada dunia bahwa Indonesia menentang kekuatan Poros pada masa itu.

Penculikan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok (14 Agustus 1945) dilakukan oleh, antara lain orang-orang Sjahrir dalam upaya memaksa kedua pemimpin itu mengubah pandangan mereka dan mau memproklamasikan kemerdekaan. Soekarno-Hatta pada 16 Agustus 1945 malam masih bertemu dengan Laksma Maeda di kediamannya dan keesokannya proklamasi kemerdekaan dikumandangkan, namun Sjahrir tidak hadir.

Satu Abad

Berkaitan dengan satu abad Sutan Sjahrir, Aristides Katoppo mengatakan, jalan kemerdekaan itu banyak, ada yang mau pakai kekerasan bersenjata, ada yang menggunakan diplomasi, dan ada yang mampu, bahkan mensinergikan dua itu walaupun tidak selalu sempurna. “Nah, sekarang kita menghadapi tantangan yang sama bahwa kalau Indonesia mau bangkit lagi, marilah kita menarik, memetik ilham, bukan dari legenda masa lalu,” ujarnya.

Makanya, kata Aristides, 100 tahun ini jangan dijudulkan mengenang pahlawan yang dilupakan. “Saya kira Bung Kecil, Sjahrir, tidak minta dipahlawankan. Tapi pejuang, ada yang sangat berhasil dan dielu-elukan. Ada juga yang kemudian tersisihkan, tapi tetap tidak bisa dikurangi dan dihilangkan makna perjuangannya. Nah, jadi sekali lagi, semua itu bisa memberi suatu hikmah dan jelas Sutan Sjahrir juga memberikan warna kepada didirikannya republik ini,” ujarnya.

vidi vici/daniel tagukawi – SinarHarapan

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Kepergian Mar'ie Muhammad kehilangan bagi Indonesia
      Wakil Presiden, Jusuf Kalla, menyebut almarhum mantan Menteri Keuangan, Mar'ie Muhammad, sebagai sosok yang bersih dan jujur semasa menjabat. "Kita kehilangan sosok yang dahulu pada saat menjabat sebagai menteri keuangan ...
    • Hampir semua korban bom Istanbul adalah polisi
      Dua bom meledak di luar stadion sepakbola di Istanbul, Turki, pada Sabtu malam waktu setempat, menyebabkan 29 orang tewas, yang terdiri atas 27 polisi dan dua warga sipil.Menteri Dalam Negeri Suleyman Soylu mengatakan ledakan ...
    • Sejumlah tokoh melayat ke kediaman Mar'ie Muhammad
      Sejumlah tokoh mendatangi kediaman almarhum mantan Menteri Keuangan, Mar'ie Muhammad, di Jalan Taman Brawijaya III Nomor 139, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu. Di antara mereka adalah Wakil Presiden, Jusuf Kalla dan ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: