Upik Sjahrir: Mengapa Ayah Tak Pernah Diadili?

images-3Masih terlihat jelas di sebuah film dokumenter masa silam, tepat saat Bung Sjahrir dimakamkan. Siti Rabyah Parvati atau Upik Sjahrir, menyaksikan jenazah ayahnya. Perempuan kelahiran 16 Juli 1960 ini masih berusia enam tahun saat ditinggal ayahnya, Sutan Sjahrir, untuk selamanya. Sjahrir, Perdana Menteri I Republik Indonesia (RI), wafat pada 9 April 1966 di Zurich, Swiss.

“Kalau saya sebagai wakil keluarga, saya dalam film itu masih kecil sekali. Bahkan, saya hampir tidak mengenal ayah saya, kecuali kebersamaan kami waktu di Zurich,” ujar Upik seusai menonton penayangan film itu di Ruang Pertemuan Gedung Sinar Harapan, Kamis (19/2).

Upik mengatakan tidak punya kenangan banyak tentang ayahnya. Yang diketahuinya hanyalah bahwa saat bersama sang ayah, suasana selalu menyenangkan.

Setiap kali berkumpul bersama anak-anaknya, menurut Upik, Sutan Sjahrir selalu terlihat bahagia. Beliau terkesan menikmati kehadiran mereka meski sedang di dalam penjara. Satu hal yang baru disadari Upik kini, dirinya tidak begitu mengerti bahwa Sutan Sjahrir pada saat di penjara itu sebenarnya sedang menderita dan sangat kecewa karena ditahan oleh teman-temannya sendiri—yang dulu bersama-sama dengannya mendirikan Republik ini.

Selama Sutan Sjahrir ditahan, Upik mengaku keluarga mereka mengalami banyak kesulitan, dan kehidupan mereka susah. Ibunya, Poppy Sjahrir, selalu repot setiap kali akan berkunjung ke penjara karena harus mengurus izin agar bisa menjenguk suaminya. Apalagi, mereka harus naik kereta dari Solo ke Madiun.

Sejak umur dua tahun, Upik sudah merasakan ketidakhadiran ayahnya di tengah-tengah keluarga. Pada usianya saat itu, Sutan Sjahrir sudah ditahan di Madiun pada tahun 1963.

Upik bahkan masih menyimpan catatan harian Sutan Sjahrir yang diketik di rumah tahanan politik di Madiun pada tanggal 3 Juni 1963. Dalam catatan yang berjudul manusia “edel” (berbudi luhur), Sjahrir menulis, “Kenangan dan pikiranku sebentar-sebentar terus ke rumah, ke anak-anakku, anak-anakku yang kuingin akan lebih bahagia dan lebih baik dari diriku di kemudian hari…”

Upik selalu mengingat, mereka bersama sebagai satu keluarga justru ketika Sjahrir dirawat di Swiss pada 1965. Namun, momen selama satu tahun itu terjadi ketika Sutan Sjahrir sudah tidak bisa bicara. Setahun kemudian, Sutan Sjahrir meninggal dalam status tahanan politik.

“Ayah ke Swiss dalam status tahanan politik. Tapi ketika kembali Beliau menjadi Pahlawan Nasional. Dalam masa tahanan politik, Ayah selalu menanyakan mengapa dirinya tidak pernah diadili untuk mengetahui kesalahannya. Pertanyaan serupa juga dititipkan Ayah kepada Ibu,” ujar Upik yang juga ibu dari tiga anak ini.

Informasi Tak Memadai

Dalam momentum 100 tahun Sjahrir ini, kata Upik, hendaknya peran dan posisi Sjahrir dalam perjuangan Indonesia mendapat tempat yang proporsional. Ini karena, ada banyak kalangan yang tidak mengenal Sjahrir, karena memang tidak ada informasi yang memadai mengenai Sjahrir dalam sejarah Indonesia. Padahal, Sjahrir merupakan perdana menteri pertama Indonesia dan seorang diplomat ulung pada masanya.

“Banyak anak SD, SMP, dan SMA yang tidak mengenal Sutan Sjahrir. Bahkan, ada yang mengira Beliau adalah Sutan Takdir Alisjahbana. Ini karena informasi yang sangat sedikit mengenai Sjahrir,” tutur istri Erwin Saksono ini.

Menurutnya, sudah terlalu lama Sutan Sjahrir, Perdana Menteri I RI yang pernah berjuang bersama Bung Karno dan Bung Hatta, terlupakan atau dilupakan. “Entah apalah istilahnya,” kata Upik. Yang pasti tidak pernah ada ulasan dan analisis, informasi yang lebih mendalam mengenai Sutan Sjahrir. Tidak pernah ada dalam buku-buku sejarah, kalaupun ada itu pun sangat sedikit.

“Dan menurut saya, alangkah sayangnya kalau pemikiran-pemikiran itu hanya dikenal dan diketahui oleh sedikit kalangan saja,” ujar ibu dari Shahrina Tiara Wardhani (20), Harwindra Syahriar (15), dan Shahneza Tiara Anindita (14) ini.

(romauli/daniel tagukawi) – SinarHarapan

Manusia yang ”Edel”

Kenangan dan pikiranku sebentar-sebentar terus ke rumah, ke anak-anakku. Anak-anakku yang kuingin akan lebih bahagia dan lebih baik dari diriku di kemudian hari. Mereka kuharapkan akan berkembang menjadi manusia yang “edel”, yaitu jujur, lurus, sayang kepada sesama manusia, dan tidak mengenal gelar dan bintang-bintangan.

Tentu saja kuharapkan bahwa otak mereka pun tajam, lebih tajam dan terlatih akhirnya daripada aku sendiri. Akan tetapi, apa yang kusebutkan lebih dulu, disimpulkan dengan kata “edel”, itu yang paling penting.

Aku akan jaga benar bahwa selalu akan kucoba memengaruhi pertumbuhan itu ke jurusan seperti yang kusebutkan tadi. Mereka mesti tumbuh menurut haluan kodrat pertumbuhan mereka sendiri, menurut bakat-bakat dan pembawaan mereka sendiri. Yang perlu juga bagi kami sebagai orang tua ialah lebih menyesuaikan diri pada anak-anak sebagai kehidupan sendiri, mengadakan suasana hidup yang dapat memudahkan perkembangan dan pertumbuhan apa yang baik dan indah pada bakat dan pembawaannya itu.

Kukira itu tidak sulit. Hanya perlu selalu kuat dan cinta, serta kasih, bersedia selalu menabahkan hati dan membantu mereka dalam segala persoalan dan kesulitan dalam kehidupan mereka.

Dari catatan harian Sjahrir di rumah tahanan politik di Madiun, 3 Juni 1963

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Aparat gabungan sita bambu runcing dan bom molotov di Kediri
      Aparat gabungan dari Kepolisian Resor Kediri Kota dan TNI merazia kawasan bekas lokalisasi Semampir di Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur, dan menyita sejumlah barang seperti bambu runcing serta bom molotov."Kami sudah ...
    • Persipura tanpa Bio dan Ricardinho hadapi Gresik United
      Tim Persipura Jayapura tanpa Bio Paulin Pierre dan Ricardinho da Silva saat melawan tuan rumah Gresik United dalam laga lanjutan Torabika Soccer Championship (TSC) 2016 di stadion Petrokimia Gresik, Jawa Timur, Minggu (11/12). ...
    • Pencarian korban pesawat Polri libatkan 19 kapal
      Polri mengerahkan 19 kapal dan tiga pesawat untuk mencari korban pesawat Polri M-28 Sky Truck yang jatuh pada Sabtu (3/12) di perairan Kabupaten Lingga, Kepri. "Sembilan belas kapal dan tiga unsur udara dikerahkan pada ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Unknown Feed

    • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: