Obral Calon Presiden

Mahkamah Konstitusi (MK) sudah mengetokkan palu, menolak adanya calon presiden-calon wakil presiden (capres-cawapres) independen.

MK juga menegaskan syarat pengajuan capres-cawapres harus didukung 20 persen kursi DPR atau 25 persen suara sah dalam pemilu secara nasional. Tapi uniknya, sejumlah partai politik (parpol) tak juga mengurungkan niat mereka mengajukan nama capres.

Deklarasi terjadi di mana-mana, dari hotel hingga kafe-kafe. Nama-nama capres pun bahkan bisa dikatakan terus muncul bagaikan “obral” barang dagangan di pasar loak. Ada Sutiyoso, Prabowo Subianto, Wiranto, Rizal Ramli, Yusril Ihza Mahendra, Bugiakso, Slamet Soebijanto, Dedy Mizwar, Fadjroel Rahman, Yuddy Chrisnandi, dan Sri Sultan Hamengku Buwono X. Yang terakhir adalah pasangan Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar dan penyanyi Ahmad Dani.

Padahal, jika merujuk pada aturan, diprediksi paling banyak hanya ada empat pasang calon yang bakal bertarung dalam pemilu presiden nanti. Bahkan, menurut Ketua Dewan Pertimbangan PDIP Taufiq Kiemas, hanya akan ada dua kutub yang bertarung, yakni Megawati Soekarnoputri yang didukung PDIP dan koalisinya, melawan pasangan incumbent. Bisa juga perpaduan antara presiden incumbent dengan wakil presiden (wapres) baru atau wapres incumbent. Jadi capres berduet dengan cawapres baru.

Enggan Bertemu

“Tapi, tidak seru kalau pemilihan presiden tidak diikuti presiden incumbent,” kata Taufiq Kiemas saat peluncuran bukunya beberapa waktu lalu.

Namun, perkiraan Taufiq Kiemas rupanya akan meleset seiring dengan kesediaan Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla untuk menjadi capres. Hubungan Wapres Jusuf Kalla dengan Presiden Yudhoyono saat ini memang tegang. Walaupun mereka menyembunyikannya dengan berbagai cara, kata pengamat politik Universitas Indonesia (UI) Maswadi Rauf, pepercahan keduanya sulit disangkal. Apalagi Jusuf Kalla sudah mengklaim dirinya akan lebih sigap dan lebih baik ketimbang Yudhoyono dalam menjalankan pemerintahan.

“Pak Yudhoyono itu orang Jawa. Sangat menyayat hati kalau diperlakukan seperti itu,” kata Maswadi Rauf.

Sebulan terakhir, Jusuf Kalla dan Yudhoyono memang sudah enggan bertemu. Keduanya bergantian ke luar negeri dan melakukan acara untuk mengonsolidasikan partainya masing-masing. Namun, bukan Jusuf Kalla kalau tidak pandai berkilah.

“Tak ada masalah, saya selalu menelepon Pak Yudhoyono,” kata Jusuf Kalla di Kantor Wapres beberapa waktu lalu. Bagaimana pun, sudah ada tiga blok utama pengajuan capres pada Pemilu 2009 ini, yakni Megawati, Jusuf Kalla, dan Susilo Bambang Yudhoyono.

Fenomena ini tak pelak membuat sejumlah partai lain di luar PDIP, Golkar, dan Demokrat, jadi limbung. Mau tak mau mereka akan berkoalisi dengan salah satu dari tiga blok tersebut. Itu pilihan realistis jika ternyata perolehan suara mereka tak signifikan, atau tak mencapai 15 persen suara dalam pemilu. Ini juga berarti sejumlah pihak yang telah mendeklarasikan diri sebagai capres, seperti Sutiyoso, Prabowo Subianto, Wiranto, Rizal Ramli, Yusril, Bugiakso, Dedy Mizwar, Fadjroel Rahman, Yuddy Chrisnandi, dan Sri Sultan sekalipun, bisa gigit jari.

Perolehan suara Partai Golkar, Partai Demokrat, dan PDIP dalam pemilu legislatif memang menarik untuk ditunggu. Kalau perolehan suara mereka tak seperti yang diharapkan, bukan tidak mungkin ketiga kekuatan itu yang harus gulung tikar.

“Tidak ada yang bisa memperkirakan partai apa mendapat berapa persen suara. Akan terjadi hasil yang di luar perkiraan banyak orang karena yang bekerja adalah para caleg yang bertarung habis-habisan,” ujar Sekretaris Jenderal PDIP Pramono Anung. Dalam konteks itulah, apa yang disebut Rizal Ramli sebagai blok perubahan akan memainkan peran.
Banyak yang memperkirakan Yudhoyono dalam keadaan terjepit akibat manuver Jusuf Kalla yang memilih “cerai” daripada melanjutkan hubungan untuk lima tahun ke depan. Pasalnya, mesin Partai Demokrat terus meredup.

Gampang-gampang Susah

Hanya saja mampukah partai-partai yang dianggap remeh oleh ketiga kekuatan yang ada untuk bersatu mengusung satu kekuatan baru berupa blok perubahan? Ini permasalahan gampang-gampang susah. Kalau harus membangun koalisi baru yang terdiri dari puluhan parpol, membentuk koalisi pelangi seperti sekarang, atau memformat koalisi partai-partai menengah dan kecil secara lebih matang, sebenarnya bisa saja. Pengandaiannya, semua partai itu tidak ingin dianggap remeh oleh ketiga blok kekuatan tadi, atau memiliki semangat yang sama melawan dominasi ketiga blok itu.

Tetapi, hal seperti itu sulit terjadi. Perbedaan kepentingan di antara parpol kecil dan menengah yang ada di dalamnya akan sangat mudah dipermainkan oleh ketiga blok tadi. Itulah sebabnya kebanyakan parpol akan menjatuhkan pilihan setelah melihat peluang berapa kursi di kabinet yang bisa diraih kalau mendukung satu pasangan calon. Ini juga menunjukkan bahwa koalisi antara parpol untuk mendukung pasangan capres-cawapres bukan karena kesamaan visi dan misi membangun bangsa, tetapi semata-mata oleh karena share (pembagian) kekuasaan.

Pada akhirnya, sejumlah capres memang hanya diobralkan ke pasar, menunggu ada yang “membeli”. Pagi hari harga malah murah, kalau tidak ada pembeli dan pasar hendak ditutup, model banting harga bisa terjadi. Asal laku. Yang penting partai dapat kekuasaan apa, tak penting presiden atau wapres. Dari capres jadi calon menteri alias camen, juga tak soal.

Inno Jemabut – SinarHarapan

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Miryam terima dan bagikan dana KTP-E ke DPR
      Mantan anggota Komisi II dari fraksi Hanura Miryam S Haryani disebut menerima 1,2 juta dolar AS dari pengadaan korupsi KTP-Elektronik dan membagi-bagikan uang itu kepada seluruh anggota Komisi II DPR untuk melancarkan anggaran ...
    • Polri: Kamis-Jumat puncak arus mudik
      Polri memperkirakan arus mudik Hari Raya Idul Fitri 1438 Hijriah/2017 akan mencapai puncaknya pada Kamis malam hingga Jumat (23/6) malam. "Mulai malam ini arus kendaraan akan padat setelah pulang kerja. Besok, seharian ...
    • Presiden Jokowi bakal berlebaran di Jakarta
      Presiden RI Joko Widodo berencana berlebaran di Jakarta setelah beberapa tahun sebelumnya berlebaran di daerah. "Presiden rencananya melaksanakan Salat Id di Jakarta waktunya, ya, waktu Salat Idulfitri," kata Sekretaris ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: