Kalla-Mega: Koalisi atau Konspirasi?

Hanya beberapa hari menjelang kampanye terbuka untuk pemilu legislatif, Ketua Umum Partai Golkar HM Jusuf Kalla mengadakan pertemuan dengan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. Nama pertama adalah mantan Menko Kesra dalam kabinet yang dipimpin Megawati. Waktu itu, bersama dengan rekannya sesama anggota kabinet, Susilo Bambang Yudhoyono, Kalla sukses mengalahkan atasannya, Megawati yang berpasangan dengan KH A Hasyim Muzadi, pada Pilpres 2004.

Dalam beberapa hari terakhir, kisah sukses dua mantan anak buah pada satu formasi kabinet di satu era ini, tampaknya akan segera berakhir, atau paling kurang mulai menggeliat. Sebuah geliat kegairahan atau geliat karena pembangkangan? Tak jelas benar alasannya. Hanya saja, tak lama setelah Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Ahmad Mubarok memprediksi perolehan suara Partai Golkar akan turun hingga titik nadir, sebagai Ketua Umum, Jusuf Kalla yang saat itu tengah berada di Belanda, bereaksi keras. Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Yudhoyono, pun merasa terusik dengan hitung-hitungan versi anak buahnya itu. Algoritma versi Mubarok sukses membakar lumbung Partai Golkar.

Adalah mantan Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal, Saefullah Yusuf, memanfaatkan momentum Tahun Baru Hijriyah 1428 untuk mempertemukan Jusuf Kalla dengan Ketua Dewan Pertimbangan PDI Perjuangan, Taufik Kiemas. Pertemuan berlanjut hingga ke Medan dan umpan langsung disambar Surya Paloh, Ketua Dewan Pembina Partai Golkar. Lalu serangkaian pertemuan pun dilakukan. Paloh paling agresif memberikan pembekalan menjelang rapat konsultasi nasional untuk penjaringan capres dan cawapres partai ini. Ia membuka pintu exit bagi Kalla untuk berpisah dengan Yudhoyono.

Lalu ingatkah kita bagaimana sebenarnya kisah sukses ini dimulai dan bagaimana pula diakhiri? Kini, sadarkah Yudhoyono, betapa dulu bersama Jusuf Kalla ia pernah merancang sebuah “persekongkolan politik” untuk mengalahkan Megawati? Kalla saat itu dengan tenangnya meninggalkan Partai Golkar yang tengah menggelar konvensi. Kini, Kalla menapaktilasi peta masa lalu itu, “berkoalisi” dengan orang yang pernah menjadi korbannya pada Pilpres 2004 lalu, untuk kepentingan menjungkalkan Yudhoyono pada Pilpres 2009.

Saling Serang
Tentu kita masih ingat serangkaian aksi serang-menyerang antara Megawati dengan Yudhoyono sebagai presiden, dan Kalla sebagai wakil presiden. Itu dimulai, jauh sebelum Yudhoyono menggantikan Megawati sebagai presiden. Yudhoyono sempat disindir sebagai “jenderal kayak anak kecil”, lalu ketika banyak anak buahnya di kabinet ikut meramaikan bursa pilpres, Megawati juga menyentil mereka sebagai “bajing loncat”.

Terakhir, dalam Rakernas PDIP di Solo, 27 Januari 2009, Megawati mengkritik Yudhoyono dengan menyebut pemerintah menempatkan rakyat Indonesia tak lebih dari sekadar gaya permainan yoyo. Lalu Presiden Yudhoyono membalasnya lewat pantun. Seperti gayung bersambut, Kalla juga balas menyindir dengan menyebut orang yang terus mengkritik kebijakan pemerintah sebagai orang yang tidak pernah puas. “Naik salah turun salah. Dia pikir bangsa kita keledai,” ujar Kalla di sela-sela lawatan ke Tokyo, Jepang.

Rupanya, mengkritik Yudhoyono dengan pedas sudah menjadi trademark Megawati, terasa ada dendam dan sakit hati terhadap bekas bawahannya itu yang dinilainya telah berkhianat dengan mencalonkan diri sebagai presiden tanpa mau terus terang. Dalam Rakernas PDIP di Bali, 7-10 Januari 2007, Megawati menjuluki Yudhoyono sebagai penebar pesona. Pada Rakernas PDIP di Jakarta, medio 2007, Megawati lagi-lagi menjuluki pemerintahan Yudhoyono sebagai “hanya bisa berjanji setinggi langit, sedangkan pencapaiannya hanya sampai di kaki bukit.” Dalam Road Show ke Sumatera, pada 31 Januari 2008, Megawati kembali lagi menjuluki gaya pemerintahan Yudhoyono “seperti menari poco-poco, maju selangkah, mundur dua langkah.”

Menjawab sindiran “poco-poco”, Kalla menyindir Megawati yang pernah “melantai” dengan Presiden RRC Jiang Zemin, saat jamuan makan malam kenegaraan di Balai Rakyat Agung Beijing pada 2002. Dansa itu berujung kontrak ekspor gas alam cair (LNG) Tangguh ke Republik Rakyat China dengan patokan harga US$ 3,3 per 1 british thermal unit (MMBTU) dan berlaku selama 20 tahun. Megawati tak terima lalu menegaskan bahwa kontrak LNG Tangguh merupakan kebijakan pemerintah yang di da-lamnya ada Kalla dan Yudhoyono sebagai menterinya. Kalla menantang DPR menggunakan hak angket atas kontrak ekspor LNG itu. Kalla bahkan menilai, inilah sebuah kontrak kerja terjelek dan paling berbahaya, yang pernah ada.

“Unholy Alliance”
Belakangan, Kalla justru menyindir hubungan personal para pemimpin Indonesia yang tidak harmonis. Ia meminta mereka meneladani Perdana Menteri Moh Natsir. Meski sering berbeda pandangan dengan kawan atau lawan politik-nya, Natsir selalu memelihara rasa kekeluargaan. “Di republik ini, kita punya enam presiden. Keenam presiden itu tidak ada yang saling ngomong. Bung Karno tidak bicara de-ngan Pak Harto, Pak Harto tidak bicara dengan Habibie, Habibie tidak bicara dengan Gus Dur, Gus Dur tidak bicara dengan Mega, dan Ibu Mega tidak bicara dengan SBY,” ujar Kalla saat memberikan sambutan dalam acara memperingati seabad M Natsir di aula Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta.

Lalu, benarkah analisis berita yang menyebutkan bahwa kedua ketua umum partai dengan perolehan suara terbesar pada pemilu lalu itu tengah merintis jalan menuju sebuah koalisi? Dalam dunia politik kita mengenal istilah “unholy alliance”, yakni persekutuan antara pihak-pihak yang sebenarnya tak patut berkoalisi dan hanya dibuat untuk tujuan jangka pendek dan pragmatis (istilah ini biasanya dipakai dalam sistem semipresidensial di mana presiden dipilih langsung oleh rakyat, tetapi kabinet dipimpin oleh seorang perdana menteri dan bisa dibubarkan oleh parlemen hasil pemilu, presiden dan perdana menteri bisa berasal dari partai-partai yang berseberangan, lihat The Politics of Semipresidentialism, Robert Elgie).

Kalau itu demikian adanya, “koalisi” seperti itu lebih dekat kepada sebuah ikhtiar pembuatan peta kekuatan politik untuk melaksanakan sebuah konspirasi atau “persekongkolan politik” demi sekadar meraih kekuasaan. Pasti ada yang berani bertaruh, karena Kalla masih berstatus incumbent dengan Partai Golkar sebagai mesin politik yang terus mengaum, PDI Perjuangan siap mengalah menjadi nomor 2 asal bisa menutup peluang Yudhoyono kembali berkuasa.

Jannus TH Siahaan, mahasiswa Program S3 Bidang Sosiologi Padjadjaran SinarHarapan

2 Comments

  1. kampanye damai pemilu indonesia 2009…

    Melalui blog ini, saya ikut mengajak para blogger indonesia untuk menyerukan aksi Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009…

  2. Ini namanya koalisi sejati untuk bagi-2 kekuasaan bukan untuk kepentingan rakyat. Kalau benar-2 dari lubuk hati yang dalam untuk membangun bangsa mengapa sejak beberapa tahun terakhir PDI menjadi opposan terhapa Golkar dalam hal ini pemerintah yang didukung oleh Golkar.Pada awal reformasi PDIP pernah menyebut sebagai Golkar Hitam.Menarik sekali langkah Golkar PDIP ini yang dirintis oleh duet SP dan TK.Di;ain fihak JK dan MS mulai sindiran mengenai jual elpiji melalui diplomasi dansa yang dibalas oleh MS JK juga tersangkut.Kesimpulan saya baik Golkar dan PDIP sedang menuju kelembah kehancuran, sehingga perlu baik-2an walaupun semu sifatnya..


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • 7 cara manfaatkan tabir surya kedaluwarsa
      Coba periksa tanggal kedaluwarsa tabir surya Anda untuk memastikan apakah masih berfungsi sebagai pelindung dari sinar matahari.Tabir surya punya masa kedaluwarsa selama enam bulan setelah dibuka, kata perlindungan konsumen ...
    • Klasemen Liga Spanyol, Real Madrid tinggalkan Barcelona
      Berikut hasil pertandingan dan klasemen liga Spanyol pada Minggu waktu setempat. Pertandingan Minggu 4 Desember: Alaves 1 Las Palmas 1 Athletic Club 3 Eibar 1 Real Betis 3 Celta Vigo 3 Sporting ...
    • Beberapa mayat ditemukan lagi setelah gudang terbakar di Oakland
      Beberapa mayat ditemukan lagi pada Ahad (4/12), setelah petugas pencarian memasuki dua daerah lain di gudang yang terbakar 36 jam sebelumnya. Namun Sersan Ray Kelly dalam taklimat kedua pada Ahad, tak bersedia menyebutkan ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: