Paskah, “Nekronomik” dan Kebangkitan

Krisis global yang bermuasal dari krisis finansial Amerika Serikat (AS) membawa epidemi ekonomi kematian, “nekronomik” (necronomic). Meski berbagai langkah stimulus ekonomi digelontorkan, hasilnya tidak ada yang bisa memastikan kapan krisis ini berangsur pulih atau sebaliknya bertambah buruk. Sayang sekali, tidak banyak yang menelisik lebih dalam bahwa sumber krisis global bukan hanya dari perilaku ekonomi yang salah. Bagaimana pun perilaku ekonomi yang salah bermuasal dari krisis rohani, yang menjadi akar terdalam nekronomik itu.

Krisis global merupakan krisis bawaan dari spiritualitas yang bengkok di tengah sekularisasi kehidupan. Dengan demikian, krisis global harus didekati pula sebagai krisis spiritual. Ia tak cukup stimulus fiskal, tetapi juga memerlukan stimulus rohani. Dan Paskah menjadi stimulus rohani untuk mengembalikan krisis global menjadi anugerah bersama. Bahwa orang fasik (baca: dunia) merancang-rancang yang jahat (krisis), tetapi tangan Tuhan membuatnya menjadi kebaikan (berkat).

Kisah dunia Sarfat boleh krisis pangan dan kelaparan, tapi dunia rohani seorang janda tidak, karena minyak dan tepungnya tidak pernah berkurang (I Raja-Raja 17:7-24). Kisah saudara-saudara Yusuf yang merancangkan kematiannya, tetapi Tuhan menjadikan Yusuf “Bulog Keluarga Yakub” sumber pangan dari ancaman kelaparan (Kejadian 42,43). Lima roti dan dua ikan di tangan seorang anak kecil adalah krisis besar bagi lima ribu laki-laki (belum termasuk perempuan dan anak-anak), tapi lima roti dan dua ikan ketika pindah di tangan-Nya mengalami pelipatgandaan, mencukupi semuanya, bahkan sisa dua belas bakul (Markus 6:30-44).

Tidak akan ada kehidupan pohon yang melahirkan buah, jika sebuah biji tidak jatuh ke tanah, terbelah, dan mati terlebih dahulu demi tunas pohon baru.

Janda di Sarfat siap mati ketika minyak dan tepung diserahkan ke nabi Tuhan, Elia. Yusuf siap mati di sumur kering atau penjara Firaun. Anak kecil siap “mati” dan tidak makan ketika lima roti dan dua ikan diserahkan ke Yesus. Apa arti semua ini? Kematian atau situasi krisis, jika diserahkan ke dalam tangan-Nya bisa berubah sebaliknya menjadi kehi-dupan, berkat. Sebuah pelajaran untuk perlunya “mati” terlebih dahulu. Krisis global harus disikapi sebagai jalan berkat ketika itu semua diserahkan kepada-Nya.

Ekonomi Tanpa Tuhan
Di tengah kapitalisme yang tidak mempercayai adanya Tuhan, tapi lebih percaya kapital-meminjam istilah Walter Brueggemann-menjadikan economic without God, an economic self. Di mana, manusia merasa otonom dan menyangkali adanya peran Tuhan dalam berekonomi. Manusia lebih percaya kemampuan dan kapitalnya daripada mengimani bahwa di balik ekonomi ada tangan Tuhan tak kelihatan yang membawa berkat dan anugerah. Akibat dari sikap otonom ini manusia menganggap bahwa makanannya, kesejahteraannya, megakorporasinya, target penjualannya, keuntungannya dan bonus tahunannya, bukan dari Tuhan, tetapi dari jerih payah keringatnya sendiri. Menjadi otonom dan mengesampingkan Tuhan, justru membuat manusia khawatir tidak bisa mempertahankan itu semua dan takut kehilangan. Makanya ia berekonomi dengan rakus. Peduli apa dengan orang lain, egoisme ekonomi menjadi-jadi, manusia menjadi tamak dan serigala bagi sesamanya.

Keberanian untuk mati, masuk dalam krisis, dan berkata “Hai maut di mana sengatmu?” (I Kor 15:55) justru menjadi kesadaran bahwa urusan hidup-mati, krisis-tidak krisis, problem-pemulihan ada dalam otoritas-Nya. Sepanjang manusia menyerahkan hidupnya, tetap berada dalam wilayah otonomi Illahi-Nya, akan membuka jalan keterlibatan Allah. Ekonomi yang menghidupkan adalah ekonomi yang mempercayai bahwa Tuhan memelihara.

Nekronomik di tengah Paskah harus disikapi bahwa itu semua akan terlewatkan, passover, sebagaimana makna Paskah. Nekronomik tidak menghinggapi mereka yang ambang pintu rumahnya dilumuri darah Anak Domba. Apa artinya? Tentu bukan dalam makna pelumuran darah menolak tulah anak sulung mati seperti di Perjanjian Lama, tetapi menyiratkan bahwa darah berarti ada proses pengorbanan, kematian, yang harus dikedepankan untuk menjaga kehidupan.

Pelajaran Kematian
Alkitab menyaksikan tiga kisah kematian, yang paling menghidupkan. Pertama, kematian Abraham atas ego dan hak milik anak tunggalnya Ishak yang diminta Tuhan untuk dikorbankan. Abraham taat kepada Allah dan bukan focus on the family, pun fokus pada anak semata wayangnya. Kematian ego Abraham sehingga taat kepada Allah melahirkan pembatalan kematian, berupa tersedianya domba untuk menggantikan Ishak sehingga Ishak memperoleh kehidupan.

Kedua, pelajaran kematian yang lebih tinggi dialami Sadrakh, Mesakh, dan Abednego yang dibakar hidup-hidup oleh Nebukadnezar di tungku api karena tidak mau menyembah dewa dan patung emas yang didirikannya. Lihat, bahwa ketiganya tidak berupaya lari dari situasi krisis dan kematian. Tidak juga ada ganti domba atau orang lain. Sebaliknya, apa kata mereka kepada Nebukadnezar, “Seandainya Allah kami tidak melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala ini, ketahuilah kami tidak akan menyembah dewa dan patung emas yang tuanku dirikan”. Ketika ketiganya rela krisis, rela mati, ia justru hidup di tengah tungku api itu karena ada Allah penyelamat muncul di tengah ketiganya. Mereka keluar dari tungku api tanpa terbakar, kematian melahirkan kehidupan.

Ketiga, kematian spektakuler dialami oleh Yesus sendiri. Allah turun dalam manusia Yesus, dari surga lahir ke dunia, dari kemuliaan ke kehinaan, dari tak bercacat cela menjadi penanggung dosa, dari tak bersalah menanggung salib dan mati. Tapi dari kematianNya, Ia justru bangkit dan hidup.

Reaksi Yesus atas krisis dan ancaman kematian, “jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini (derita, salib, kematian) lalu dari padaKu”, menunjukkan sisi manusiawi. Kita akui betapa berat krisis dan kematian, tetapi lihat ucapan berikutnya, “Jangan kehendak-Ku Bapa, tapi kehendak-Mu jadilah”. Inilah cara menyikapi krisis dan kematian yang benar dengan berserah kepada Allah. Hasilnya, Ia memang mati, tapi Ia justru menyatroni alam maut, mengalahkannya, dan bangkit pada hari ketiga.

Krisis global, nekronomik sampai musibah Situ Gintung adalah kesempatan untuk melihat itu semua dari kacamata Tuhan. Karena “bukan lagi aku yang hidup, tetapi Dia”, sehingga Dia yang berhadapan dengan setiap pencobaan ganti kita. “Ia harus makin bertambah dan aku makin berkurang”. Maka, porsi pencobaan hari-hari ini lebih banyak menjadi urusan-Nya daripada kita. Syaratnya cuma satu, menyangkal diri dan menjadikan-Nya Penguasa tunggal atas hidup kita.

Stevanus Subagijo, peneliti pada Center for National Urgency Studies Jakarta – SinarHarapan

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Patti Smith akan bernyanyi untuk antar Hadiah Nobel bagi Bob Dylan
      Saat pidato penerima Hadiah Nobel Sastra Bob Dylan dibacakan, rekannya sesama penyanyi sekaligus penulis lagu Patti Smith akan menyanyikan salah satu lagu terbaiknya pada selebrasi Hadiah Nobel di Stockholm nanti.Smith akan ...
    • YLBHI ramalkan jaksa akan sulit buktikan kesalahan Ahok
      Koordinator Bantuan Hukum Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Julius Ibrani melihat banyak kejanggalan dalam pengusutan kasus dugaan penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama, bahkan Jaksa diyakininya akan sulit ...
    • Malaria sudah ada di zaman kekaisaran Romawi
      Para peneliti mengungkapkan analisis DNA gigi berusia 2.000 tahun yang digali dari satu kuburan di Italia menunjukkan bukti kuat bahwa malaria sudah ada selama Kekaisaran Romawi.Temuan itu berdasarkan pada DNA mitokondria - ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: