Anak Bawang Pembawa Bola

Siang itu Hadi Utomo berkaus oblong putih dan bercelana pendek loreng hitam. Sesekali, Ketua Umum Partai Demokrat itu mengernyit menahan sakit. Jalannya pun tertatih-tatih. Ada bekas tusukan jarum infus di tangan kirinya. ”Asam urat saya kumat,” katanya lirih, Kamis pekan lalu.

Setelah pagi-pagi mencontreng di bilik suara di dekat rumahnya di Condet, Jakarta Timur, purnawirawan kolonel TNI ini mengeluh tak enak badan.Padahal tiga layar proyektor dan televisi layar datar sudah disiapkan di ruang tamu, ruang tengah, dan halaman belakang untuk memantau pemilu. Kursi-kursi digelar dan penganan kecil tersaji di atas meja: tape, kue bulan, kue kering, apel, dan jeruk mandarin. Tapi Hadi sendiri enggan memantau hasil hitung cepat. Menjelang tengah hari, dia memilih tidur. 

Acara yang mestinya riuh itu sepi pengunjung. Calon legislator dan fungsionaris partai yang diharapkan hadir tak banyak yang muncul. ”Semuanya jaga kandang di tempat pemungutan suara masing-masing,” kata Anas Urbaningrum, Ketua Bidang Politik Partai Demokrat, yang sudah hadir di rumah Hadi sejak pagi. Dua telepon seluler Anas terus berdering. Laporan masuk dari berbagai daerah. ”Jaga terus, jangan dilepas,” katanya memberikan instruksi agar para saksi Demokrat tetap bertahan di lokasi pemilihan. 

Menjelang magrib segeralah kabar gembira itu terdengar. Hitung cepat sejumlah lembaga survei menunjukkan Partai Demokrat berada di peringkat teratas. Hadi muncul dari kamar tidur dengan wajah sumringah. Ia mengenakan kemeja batik biru lengan panjang. Asam uratnya nyaris tak berbekas. ”Hasil ini sesuai target,” katanya. 

Para petinggi Demokrat bermunculan: Wakil Ketua Umum Achmad Mubarok, Ketua Fraksi Demokrat di Dewan Perwakilan Rakyat Sjarifuddin Hassan, dan Sekretaris Jenderal Marzuki Alie. Para calon legislator tiba satu demi satu. 

Di halaman belakang, mereka meriung. Semua membawa berita kemenangan Demokrat di wilayah masing-masing. ”Kampung saya berubah dari merah jadi biru,” kata Anas, tergelak. Mastuti Rahayu, istri Hadi Utomo sekaligus adik kandung Ani Yudhoyono, mondar-mandir mengajak tamunya mencicipi sate padang. ”Ayo, mumpung masih panas,” katanya ramah. 

Tak ingin jumawa, berulang-ulang Hadi mengatakan, ”Ini bukan hasil resmi Komisi Pemilihan Umum.” Beberapa orang bahkan kelihatan tak yakin partai mereka melampaui Golkar dan PDI Perjuangan. ”Ini berkat Tuhan. Ini skenario dari atas,” kata Mubarok. 

***

Hotel Grand Bali Beach, Sanur, Bali, Mei 2005. Kongres pertama Partai Demokrat berlangsung panas: perseteruan antara Ketua Umum Subur Budhisantoso dan Wakil Ketua Umum Ventje Rumangkang sedang runcing-runcingnya. Budi melaporkan Ventje ke polisi dengan tuduhan memalsukan akta pendirian partai. Sebagai balasannya, Budi dipecat dari kursi ketua umum. 

Banyak orang mengira itulah akhir Partai Demokrat—partai anak bawang yang meraih 7,5 persen suara pada Pemilu 2004. Pada saat-saat kritis itu, Susilo Bambang Yudhoyono turun tangan. Kehadirannya manjur mengurangi tensi pertikaian. Hadi Utomo kemudian terpilih menjadi ketua umum partai menyingkirkan dua pesaing utamanya: Suratto Siswodihardjo dan Subur Budhisantoso. Kemenangan Hadi tak lepas dari persepsi sebagian pengurus Demokrat yang melihat mantan Kepala Kantor Ketenteraman dan Ketertiban DKI Jakarta itu sebagai bagian dari keluarga besar Yudhoyono. 

”Baru setelah kongres berakhir, kami bisa melakukan konsolidasi: merekrut orang baru, terutama tokoh lokal, menjadi kader partai,” kata Anas. Setiap tokoh yang baru bergabung membawa jaringan pendukungnya. ”Itu memperbesar basis kami,” kata Anas. Perlawanan bukannya tak ada. Setelah kongres, sejumlah tokoh partai mengundurkan diri. ”Gesekan itu wajar. Itu harga yang harus dibayar,” kata Anas lagi. 

Setelah konsolidasi berjalan, kaderisasi diperbaiki. Dua tahun pertama, pengurus pusat Demokrat berkeliling Indonesia membekali kadernya dengan teknik pemasaran politik, manajemen organisasi, dan penajaman ideologi partai. Ketua Golkar Surabaya Wisnu Wardhana mengaku dikunjungi pengurus pusat sampai tiga kali dalam sebulan. 

Salah satu cabang Partai Demokrat yang paling aktif ada di Jawa Barat. Ketua Demokrat di sana, Mayjen (Purn) Iwan Ridwan Sulandjana, adalah bekas Panglima Kodam Siliwangi. Dia sempat mencalonkan diri menjadi wakil gubernur pada pemilihan April 2008, tapi kalah. Iwan baru menjadi Ketua Demokrat pada Oktober tahun lalu. 

Sumber Tempo memastikan Iwan diberi tugas merebut Jawa Barat yang merupakan basis tradisional Beringin dan Banteng. Dengan 30 juta pemilih, wilayah ini menyediakan kursi parlemen paling banyak di Indonesia. Sebelum Iwan masuk, tingkat keterpilihan Demokrat hanya 7-8 persen. ”Sejak awal 2008, partai memang membuat survei setiap tiga bulan untuk memantau keberhasilan program partai,” kata seorang pengurus Demokrat. Sebuah lembaga survei disewa khusus untuk keperluan itu. 

Iwan diberi target merebut 20 persen suara di Jawa Barat. ”Untuk itu, kami berkonsentrasi menggarap kelompok-kelompok petani di selatan, dari Pelabuhan Ratu sampai Pangandaran,” katanya. Program Iwan di sana diberi nama ”Demokrat Saba Desa”. Pada akhir 2008, ratusan kader partai diberi pelatihan tentang pertanian organik, lalu diturunkan ke desa-desa, mendekati para petani. 

Di perkotaan, ”Kami mengadopsi multilevel marketing,” kata Iwan. Setiap satu kader Demokrat ditargetkan mengajak 10 orang untuk memilih partai itu. Di tingkat nasional, Yudhoyono menamai program ini ”Sowan” alias ”Satu Orang Satu Kawan”. 

***

Tempat pemungutan suara nomor 17, di Jalan Braga, Bandung, masih dipadati warga sampai Kamis sore pekan lalu. Setiap kali petugas pemungutan suara mengangkat kertas suara dan berseru, ”Demokrat,” ibu-ibu yang berkerumun di sekeliling bilik spontan berteriak, ”BLT!” 

Bantuan Langsung Tunai—kebijakan pemerintah untuk memberikan kompensasi kenaikan harga bensin Rp 100 ribu per bulan untuk warga miskin—adalah salah satu faktor penentu kemenangan Demokrat. 

Strategi besar kampanye Demokrat itu sejatinya baru dirumuskan pada awal 2008. ”Berdasarkan hasil riset, kami sadar ada kesenjangan besar antara tingkat keterpilihan SBY dan Partai Demokrat,” kata Anas Urbaningrum. Mereka lalu memutuskan tak ada jalan untuk mengatrol suara Demokrat selain mencantolkan citra partai itu pada SBY. ”Itu kami lakukan dengan sadar.” Walhasil, semua iklan dan atribut kampanye Demokrat menampilkan pesan seragam: ”Partai Demokrat, bersama SBY.” 

Keputusan strategis lain saat itu adalah soal dukungan partai pada pemerintah. Berdasarkan survei, partai yang plin-plan—kadang mendukung kadang menolak kebijakan pemerintah—tak memperoleh tambahan poin di mata publik. ”Pemilih maunya yang pasti-pasti, mereka tidak suka partai abu-abu,” kata Anas. 

Strategi menempelkan SBY dengan Demokrat ini menjadi pilihan realistis. Soalnya, meski konsolidasi sudah berjalan, mesin partai belum bisa diharapkan bekerja maksimal. ”Kami masih di tahap awal. Perlu 5-10 tahun lagi bagi Demokrat untuk bisa menjadi kekuatan politik yang modern dan fungsional,” kata Anas. ”Ibaratnya partai ini baru bisa bekerja sampai lima, tapi dapat hasil sepuluh berkat Pak SBY,” kata Mubarok. Ketua Demokrat Jawa Tengah Sukawi Sutarip terang-terangan mengaku partai ”mendompleng popularitas SBY”. 

Yahya Ombara, koordinator pada tim kampanye nasional SBY-JK lima tahun lalu, secara jujur mengaku pola kemenangan Demokrat sebetulnya tak berubah dibanding pemilu sebelumnya. ”Lebih dari 50 persen adalah faktor SBY,” katanya. 

Selain memiliki mesin partai, Demokrat punya sederet tim siluman. Ada tim Echo dan tim Sekoci yang berfungsi sebagai unit intelijen dan penggalangan di lapangan. Ada tim Delta yang mengurusi logistik, terutama atribut kampanye lain. Anggota tim ini adalah simpatisan SBY yang tak tergabung dalam struktur partai. Mantan Panglima TNI Marsekal (Purn) Djoko Suyanto adalah ketua tim Echo. 

Peran tim ini nyata terlihat pada kampanye terbuka. Seluruh rangkaian acara dan perangkat pendukungnya—termasuk dana—didrop dari Jakarta. Sumber Tempo di tim pendukung membenarkan bahwa struktur partai di daerah tinggal terima bersih. ”Tim Sekoci dan tim Echo mem-back-up apa yang tidak bisa dilakukan partai,” kata Achmad Mubarok. 

Pada hari pemungutan suara, tim pendukung juga berkonsentrasi memperkuat para saksi di TPS. Setiap saksi diberi upah Rp 100 ribu dan diberi petunjuk detail tentang pengawasan penghitungan suara. Tak jelas berapa uang disiapkan Demokrat untuk urusan saksi ini. Tapi seorang petinggi Demokrat menyebut untuk Provinsi Yogyakarta saja mereka menyiapkan Rp 1 miliar. 

Meski kemenangan sudah di tangan, Yudhoyono tetap berhati-hati. Kamis pekan lalu, sekitar pukul sembilan malam, ia menemui wartawan yang sejak pagi menunggu di rumahnya di Cikeas, Jawa Barat. Berbatik merah marun, Yudhoyono tampak rileks, senyumnya mengembang. Dia berjanji tak akan melenggang sendirian. ”Kami tetap membutuhkan kebersamaan dalam menjalankan roda pemerintahan dan kehidupan berbangsa,” katanya. Meski halus, isyarat Yudhoyono terang-benderang: bola kini di tangan Partai Demokrat. 

Wahyu Dhyatmika, Amandra Megarani (Jakarta), Widiarsi Agustina (Bandung), Anang Zakaria (Surabaya), Sohirin (Semarang), Mabsuti Ibnu Marhas (Serang) – TEMPO (13 April 2009)

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Liga Eropa - Hasil dan klasemen Grup B, Apoel juara grup
      Apoel FC, berhasil menjuarai Grup B Liga Europa setelah mengalahkan wakil Yunani, Olympiakos, dengan skor 2-0 dalam laga pamungkas penyisihan di Stadion GSP, Siprus, Jumat dini hari WIB.Kemenangan yang diraih berkat gol dari ...
    • Liga Europa - Hasil dan klasemen Grup A, Fenerbahce-MU lolos
      Fenerbahce dan Manchester United lolos ke babak 32 besar Liga Europa selepas rangkaian pertandingan pamungkas penyisihan Grup A, Jumat dini hari WIB.Fenerbahce memastikan satu tiket ke babak 32 besar setelah tim asal Turki itu ...
    • Ngobrol dengan BJ Habibie di Belanda
      Nonton film berlanjut dengan ngobrol-ngobrol santai tapi serius terjadi di Belanda, antara anggota Perhimpunan Pelajar Indonesia Belanda dan masyarakat Indonesia di Belanda, dengan Presiden Baharuddin Jusuf ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: