Rahasia Sang Pemenang

Seperti ramalan lembaga survei: Partai Demokrat unggul dalam pemilihan umum pekan lalu. Partai berlambang bintang segitiga merah-putih itu melampaui Partai Golkar dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan-yang pada Pemilu 2004 menempati posisi pertama dan kedua. Kemenangan itu memang masih berupa prediksi, berdasarkan teknik hitung cepat. Tapi tingkat kesalahan quick count biasanya tidak lebih dari satu persen.

Yang mungkin membuat orang geleng-geleng kepala adalah lonjakan suara partai Susilo Bambang Yudhoyono itu. Lima tahun lalu partai itu hanya mendapat tujuh persen suara, sekarang melompat hampir tiga kali lipat.

Barangkali Demokrat menyedot pemilih Partai Golkar dan PDI Perjuangan, yang kali ini anjlok suaranya. Analisis begini mengasumsikan konstituen dalam memilih tak pernah melompati pagar ideologi. Mereka yang sebelumnya mencoblos partai Islam, misalnya, tak akan memilih Demokrat yang bukan partai “kanan”. Pemilih partai tengah akan tetap bermain di lingkungan partai tengah seperti Demokrat, Golkar, PDI Perjuangan, plus Hanura dan Gerindra. Partai tengah adalah partai non-Islam yang mengusung ideologi developmentalisme.

Tak juga sulit menjelaskan kemenangan Demokrat ini. Partai incumbent selalu punya banyak keunggulan: dana, kualitas manusia, pesona. Ia bagai lampu neon bagi para laron. Tak peduli tulus atau oportunistis, pasti ramai orang berkerumun.

Sebagai partai baru-didirikan pada 2002 sebagai kendaraan politik bagi Yudhoyono untuk menjadi calon presiden-organisasi Demokrat sebetulnya tak hebat-hebat amat. Tak seperti Golkar yang cabang dan rantingnya sudah merambah ke mana-mana, Demokrat tak mengakar. Kampanye meriah di pelbagai daerah bukan karena lancarnya roda organisasi di tingkat lokal, melainkan karena sokongan dari Jakarta. Di pusat kita mendengar Yudhoyono membentuk sejumlah tim-Sekoci, Alfa, Beta, Echo-untuk menopang organisasi partai yang tak maksimal bekerja.

Demokrat juga sangat bergantung pada Yudhoyono. Di banyak tempat pemungutan suara, lebih banyak pemilih yang mencontreng tanda gambar Partai Demokrat ketimbang calon anggota legislatifnya. Menyadari bahwa infrastruktur partai belum apa-apa, pengurus partai itu berusaha menanamkan citra bahwa Demokrat dan Yudhoyono adalah kesatuan yang tak terpisahkan. Itulah sebabnya iklan yang muncul di antaranya berbunyi “Demokrat partainya SBY”.

Partai seharusnya lebih kuat dari figur pemimpinnya. Di masa depan, Demokrat tak boleh terus-menerus menjadi “SBY Fans Club”-meminjam kritik seorang pengamat. Lima tahun lagi, karena batasan undang-undang, Yudhoyono tak bisa lagi mencalonkan diri sebagai presiden. Jika masih mengandalkan figur, Demokrat bisa bubar atau mendadak kerdil. Karena itu, kaderisasi harus dilakukan. Tak perlu mengulangi kesalahan partai-partai yang mengandalkan garis keturunan. Partai modern adalah partai yang tidak feodalistis.

Dengan suara yang signifikan di Dewan Perwakilan Rakyat, Demokrat mestinya semakin percaya diri untuk tidak bergeser ke “kiri” atau ke “kanan” hanya untuk mencuri hati pemilih dan politikus di dua sisi. Dulu panitia khusus Rancangan Undang-Undang Pornografi diketuai legislator dari Partai Demokrat. Dukungan terhadap Undang-Undang Pornografi pasti menyenangkan partai “kanan”, tapi sesungguhnya mengingkari kebinekaan.

Partai itu seharusnya juga lebih gencar membela kelompok minoritas. Perbedaan keyakinan kelompok Ahmadiyah dengan umat Islam mayoritas tak boleh jadi alasan untuk memberangus mereka. Hak hidup dan hak berkeyakinan warga negara dijamin oleh konstitusi.

Gerakan antikorupsi harus terus digalakkan. Desember nanti Dewan harus merampungkan revisi atas Undang-Undang Antikorupsi, terutama perihal pengadilan tindak pidana korupsi. Tanpa revisi tersebut, pengadilan itu terancam bubar dan kerja Komisi Pemberantasan Korupsi bakal tak maksimal.

Hubungan Dewan dengan pemerintah pasca-Pemilu 2009 akan berbeda. Demokrat akan mempunyai suara cukup besar untuk mendukung Yudhoyono-jika kelak ia terpilih sebagai presiden untuk kedua kali. Kerja pemerintah akan lebih efisien. Apalagi jika Golkar dan partai tengah lain kemudian bergabung dengan Demokrat dalam sebuah koalisi yang kukuh.

Adagium politik lain kemudian akan berlaku: dukungan legislatif bisa membuat pemerintahan kuat, namun pada saat yang sama kontrol terhadapnya menjadi berkurang. Melemahnya kontrol bisa mendorong lahirnya pemerintahan diktatoris.

Walhasil, kemenangan Partai Demokrat membuat konstelasi politik di Senayan menjadi menarik. Partai penyokong penguasa dan oposisi diharapkan berperan sebagai mana mestinya. Resultante dari itu semua adalah pemerintahan kuat yang terkontrol, dan kepentingan publik semogalah selalu menjadi prioritas nomor satu.

TEMPO (13 April 2009)

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Liga Eropa - Hasil dan klasemen Grup B, Apoel juara grup
      Apoel FC, berhasil menjuarai Grup B Liga Europa setelah mengalahkan wakil Yunani, Olympiakos, dengan skor 2-0 dalam laga pamungkas penyisihan di Stadion GSP, Siprus, Jumat dini hari WIB.Kemenangan yang diraih berkat gol dari ...
    • Liga Europa - Hasil dan klasemen Grup A, Fenerbahce-MU lolos
      Fenerbahce dan Manchester United lolos ke babak 32 besar Liga Europa selepas rangkaian pertandingan pamungkas penyisihan Grup A, Jumat dini hari WIB.Fenerbahce memastikan satu tiket ke babak 32 besar setelah tim asal Turki itu ...
    • Ngobrol dengan BJ Habibie di Belanda
      Nonton film berlanjut dengan ngobrol-ngobrol santai tapi serius terjadi di Belanda, antara anggota Perhimpunan Pelajar Indonesia Belanda dan masyarakat Indonesia di Belanda, dengan Presiden Baharuddin Jusuf ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: