Menanti Angin Cikeas

Jusuf Kalla ingin kembali berduet dengan Susilo Bambang Yudhoyono. Elite Golkar dan Demokrat sama-sama terbelah. Ada gagasan agar calon wakil presiden bukan ketua partai.

Lima mobil sedan hitam memasuki gerbang kediaman pribadi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Puri Cikeas, Bogor, Jawa Barat, menjelang pukul 10 malam, Senin pekan lalu. Mobil ketiga dalam iring-iringan itu, sedan Mercedes-Benz S-500, ditumpangi Wakil Presiden Jusuf Kalla. Jendela semua mobil tertutup rapat.

Inilah pertemuan pertama antara pucuk pimpinan Partai Demokrat dan Partai Golkar setelah pemilihan umum legislatif dua pekan lalu. Siangnya, Yudhoyono dan Kalla memang sempat bertemu dalam rapat kabinet terbatas di Istana Negara. Namun, sebagaimana kebiasaan selama ini, Yudhoyono hanya mau bicara tentang urusan partai di rumah pribadinya.

Sebelum ke Cikeas, Kalla menggelar rapat pengurus pusat Beringin di kediamannya, Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat. ”Pak Kalla tidak ingin melangkahi Dewan Pimpinan Pusat,” kata Malkan Amin, Wakil Sekjen Golkar, yang hadir malam itu. ”Seluruh pimpinan pusat partai merestui langkah-langkah Pak Jusuf Kalla,” kata Ketua Golkar Firman Subagyo.

Pertemuan perdana Yudhoyono-Kalla pasca-pemilu itu berlangsung singkat. Tak sampai setengah jam, rombongan Kalla sudah melesat keluar Cikeas. Hasilnya? ”Yang tahu hanya mereka berdua. Itu pertemuan empat mata,” kata juru bicara kepresidenan Andi Alfian Mallarangeng, pekan lalu.

Penjelasan resmi muncul sehari setelah pertemuan itu. Dicegat wartawan di Istana Merdeka, Yudhoyono menjawab singkat, ”Itu omong-omong biasa. Pertemuan biasa. Tidak ada yang luar biasa.”

Spekulasi tetap merebak. Ada yang menilai pertemuan Cikeas adalah sinyal positif berlanjutnya duet SBY-JK. Sedangkan yang menafsir sebaliknya juga tak kurang banyaknya. Malkan Amin, yang mengaku mendapat informasi dari Kalla, menegaskan bahwa pertemuan Cikeas memang belum membahas soal posisi calon wakil presiden. ”Baru sampai pada kesepakatan untuk berkoalisi antara Golkar dan Demokrat.”

Sepekan setelah pemilihan umum usai, urusan pasangan kandidat presiden dan wakil presiden menuju pemilihan presiden pada Juli mendatang memang hangat dibicarakan. Partai Demokrat, yang banyak diprediksi akan muncul sebagai pemenang pemilihan, berada di atas angin. Diam-diam atau terang-terangan, hampir semua partai politik—kecuali Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), dan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura)—sudah merapat, menjajaki kemungkinan berkoalisi. Bagian terbesar yang diincar partai-partai itu adalah tiket calon wakil presiden, mendampingi Yudhoyono.

***

Senin pagi pekan lalu, Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat berkumpul di kantor mereka di Jalan Pemuda, Jakarta Timur. Jajaran pengurus partai hadir lengkap dalam rapat yang dipimpin Ketua Umum Hadi Utomo itu. ”Kami membahas persiapan penyelenggaraan rapat pimpinan nasional partai pada akhir April ini,” kata ketua bidang politik dan otonomi daerah partai itu, Anas Urbaningrum, pekan lalu.

Pengumuman pasangan calon presiden dan wakil presiden Partai Demokrat direncanakan menjadi puncak acara dalam rapat pimpinan nasional. ”Tapi, kalau calon wakil presiden belum ada saat itu, ya kami umumkan calon presiden saja dulu,” Anas buru-buru menambahkan.

Tenggat penentuan siapa calon wakil presiden yang bakal diusung Partai Demokrat memang amat bergantung pada Yudhoyono. Meski partai berlambang segitiga merah putih itu kini sudah membentuk Tim Sembilan untuk menjajaki koalisi dengan partai politik lain, keputusan akhir tentang calon RI-2 tetap berada di tangan SBY. ”Ini sesuai dengan sistem presidensial yang kita anut,” kata Andi Mallarangeng, yang juga Ketua Partai Demokrat. ”Pada akhirnya, semua terpulang pada sang calon presiden sendiri.”

Tim Sembilan beranggotakan sembilan tokoh elite Partai Demokrat. Di sana ada Hadi Utomo, Anas Urbaningrum, dan Sekretaris Jenderal Marzuki Alie. ”Ingat, tim ini tidak mendaftar nama calon wakil presiden,” kata Marzuki. ”Kami hanya mengusulkan kriteria dan kualifikasi calon wakil presiden.”

Salah satu kriteria yang akan diusulkan adalah pentingnya calon wakil presiden yang bukan ketua umum partai politik. ”Kita belajar dari pengalaman masa lalu,” kata Marzuki. Lima tahun terakhir, kata dia, banyak kasus menunjukkan tugas negara terbengkalai jika urusan partai tiba-tiba menyita perhatian wakil presiden. ”Jangan sampai yang seperti itu terjadi lagi.”

Wakil Ketua Umum Partai Demokrat, Achmad Mubarok, membenarkan. ”Sejak 2004, sebenarnya Pak SBY lebih suka calon wakilnya bukan ketua umum partai,” katanya. Karena itu, Mubarok setuju saja jika tiket calon RI-2 Partai Demokrat diserahkan pada figur non-partai. ”Para wakil partai bisa diakomodasi di dalam kabinet,” katanya.

Jika kriteria ini disetujui Yudhoyono, jelas nama Jusuf Kalla akan terlempar dari bursa. Soalnya, setidaknya sampai Desember depan, dia masih menjabat Ketua Umum Partai Golkar. Sumber Tempo di kubu Kalla berbisik, kriteria itu sengaja dimunculkan untuk menghantam Jusuf Kalla dan mendorong figur Golkar lain menjadi calon wakil presiden. Seorang pengurus teras Golkar yang menolak disebut namanya memastikan Kalla sudah membaca gelagat itu. Karena itu, menurut dia, Kalla siap melepas kursi ketua umum jika diminta menjadi pendamping Yudhoyono.

Pendukung duet SBY-JK di kubu Demokrat bukannya tak ada. Ketua Demokrat Max Sopacua adalah salah satunya. ”Saat ini Ketua Umum Golkar adalah Jusuf Kalla, jadi tak mungkin bicara tentang koalisi tanpa JK,” katanya pekan lalu.

***

April lima tahun lalu, pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla adalah duet calon presiden dan wakil presiden pertama yang mendeklarasikan kesiapannya maju bersama. Saat itu, dua pekan setelah pemilihan umum, para calon presiden lain: Wiranto, Megawati, Hamzah Haz, dan Amien Rais masih sibuk bergerilya mencari pasangan.

Kesigapan deklarasi duet ini tidak bisa lepas dari langkah cepat Kalla. Sepekan sebelumnya, Kalla, yang saat itu menjabat Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, sudah mengambil ancang-ancang dengan mengundurkan diri dari konvensi Partai Golkar. Dia sempat bermain mata dengan kubu PDIP yang bermaksud meminangnya untuk jadi pendamping Megawati. Namun, karena pinangan resmi blok Banteng tak kunjung tiba, Kalla memilih membelot dan merapat ke kubu SBY.

”Kondisi 2004 memang lebih mudah karena JK tidak membawa institusi partai,” kata Firman Subagyo. Bersama Burhanuddin Napitupulu, Fahmi Idris, Marzuki Darusman, dan sederet tokoh Golkar lain, Firman saat itu dipecat dari Beringin karena mendukung Kalla.

Sekarang, situasinya berbeda: Kalla tak bisa bermanuver sendiri. Semua langkahnya harus mendapat persetujuan elite Beringin. ”Karena itulah, kami masih harus menunggu rapat pimpinan nasional khusus,” kata Firman. Rapat itu akan memutuskan siapa mitra koalisi Golkar dan siapa calon wakil presiden yang direstui partai.

Malkan Amin, pengurus teras Golkar yang dikenal dekat dengan Kalla, memastikan suara pengurus pusat dan daerah Beringin bulat di belakang bosnya. ”Saya tidak ingin berandai-andai. Tapi, dari sinyal yang saya tangkap, sepertinya hanya Pak Kalla yang akan diajukan,” katanya.

Sampai pekan lalu, kubu Kalla tampaknya yakin benar duet Yudhoyono-Kalla bakal berlanjut. Apalagi mereka kini punya kartu truf. Sejumlah eks pendukung tim kampanye nasional duet ini pada 2004 sudah membentuk forum komunikasi. Motornya adalah Yahya Ombara, bekas politikus Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia, yang dikenal dekat dengan Yudhoyono. Mereka berkomunikasi intensif dengan Kalla.

Misi forum ini adalah segera merekatkan kembali pasangan SBY-JK untuk maju ke pemilihan presiden. ”Semakin cepat koalisi ini diresmikan, semakin baik,” kata Yahya pekan lalu. Dia mengaku khawatir parlemen saat ini bisa berulah macam-macam jika Golkar tak segera ”dipegang”.

Tantangan bukannya tak ada. Dari dalam kubu Golkar sendiri, setidaknya ada tiga kubu yang menolak berlanjutnya duet SBY-JK. Kubu pertama ingin Beringin tetap mengajukan calon presiden sendiri. Kelompok kedua lebih sreg jika Golkar berkoalisi dengan PDIP, sebagaimana sudah dirintis Ketua Dewan Penasihat Golkar Surya Paloh. Blok terakhir setuju koalisi dengan Demokrat diteruskan, namun tanpa Jusuf Kalla.

”Selama ini, posisi, pernyataan, dan sikap Kalla adalah sebagai calon presiden, bukan wakil,” kata mantan Ketua Umum Golkar Akbar Tandjung. Ditemui pekan lalu di kediamannya di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Akbar mendesak agar pengurus Beringin menjaga martabat partai dengan tidak mendukung Kalla menjadi calon wakil presiden.

”Selama kampanye, Kalla mengaku bisa lebih cepat bekerja, bisa mendorong pertumbuhan ekonomi delapan persen dan melipatgandakan pendapatan bruto setiap penduduk,” kata Akbar. Semua itu, menurut dia, menunjukkan kepercayaan diri Kalla menjadi calon RI-1. ”Lalu bagaimana fatsun politiknya, jika tiba-tiba partai mengajukan Kalla sebagai calon wakil presiden saja?”

Sampai saat ini, kata Akbar, separuh pengurus daerah Golkar sepakat untuk menolak Kalla. ”Jika tidak ada intervensi, dalam rapat pimpinan nasional nanti, mereka akan mengusulkan sejumlah nama calon wakil presiden untuk diajukan kepada SBY,” katanya. Salah satu nama yang kerap disebut adalah Akbar Tandjung sendiri.

Akbar kini bergerilya. Pekan lalu, dia berkeliling Jawa, menemui sejumlah kiai berpengaruh. Pertengahan pekan ini, Akbar dijadwalkan hadir dalam perayaan Maulid Nabi Muhammad di pesantren milik Habib Luthfi Ali Yahya di Pekalongan, Jawa Tengah. Presiden Yudhoyono direncanakan hadir dalam acara yang sama.

***

Di luar persaingan klik Kalla dan bukan Kalla di kubu Golkar, sejumlah nama alternatif juga muncul. Partai Keadilan Sejahtera, misalnya, menjagokan Hidayat Nur Wahid. Sedangkan Partai Kebangkitan Bangsa mengajukan Muhaimin Iskandar. Partai Amanat Nasional belakangan mengajukan dua nama calon wakil presiden: Soetrisno Bachir dan Hatta Rajasa.

Hatta, kini Menteri Sekretaris Negara, dikenal dekat dengan Yudhoyono. Meski bukan sarjana hukum, dia dinilai sukses mengawal Presiden lewat Sekretariat Negara. Hubungan Yudhoyono-Hatta makin mesra ketika Institut Teknologi Bandung memutuskan memberikan gelar doktor honoris causa kepada Presiden Yudhoyono, Februari lalu. Hatta Rajasa adalah Ketua Ikatan Alumni ITB.

Peluang Hatta mendampingi Yudhoyono bukan tak ada. Dasarnya adalah pertemuan hangat Yudhoyono-Amien Rais, patron politik PAN yang juga dekat dengan Hatta, awal pekan lalu. ”Intinya, mereka membahas kepentingan bangsa dan negara,” kata Hatta. Namun menteri berambut perak ini cepat-cepat membantah kabar bahwa Yudhoyono sudah melamarnya menjadi calon RI-2. ”Saya berpikir ke arah sana pun tidak,” katanya.

Wahyu Dhyatmika, Budi Riza, Munawwaroh, Ninin Damayanti – TEMPO (20 April 2009)

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Belanja di Apple Store bisa lewat Apple Watch
      Pembaruan Apple Store kini membuat pengguna Apple Watch dapat membeli item langsung dari pergelangan tangan.Fitur baru tersebut dapat dinikmati setelah pembaruan versi 4.1 aplikasi tersebut, tapi, tidak semua katalog bisa ...
    • Wapres: bela negara bukan hanya saat perang
      Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan semua harus mempersiapkan diri untuk bela negara, bukan hanya pada saat terjadi perang. "Bela negara bukan hanya perang, tapi juga memajukan negeri ini dengan baik dan berkeadilan," ...
    • Polda Kepri benarkan pesawat Polri jatuh
      Polda Kepri membenarkan pesawat M-28 Sky Truck dengan nomor regristrasi B-4201 hilang kontak dan diketahui jatuh di perairan Kabupatan Lingga pada sisi selatan Provinsi Kepri. "Iya benar, pesawat sempat hilang kontak. ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: