Pilih Satu Jangan Ragu

Kemenangan Partai Demokrat dalam pemilihan umum legislatif mengubah konstelasi sekaligus konfigurasi politik Indonesia—paling tidak untuk lima tahun ke depan. Demokrat, partai ”pupuk bawang” dalam Pemilu 2004, dengan telak mengalahkan dua partai pendahulunya lewat selisih angka meyakinkan. Dari sini tersirat sejumlah pergeseran persepsi di dunia persilatan kekuasaan di negeri ini.

Ada asumsi jumlah suara Demokrat didongkrak oleh, di antaranya, pergeseran pemilih dari partai lain, katakanlah Partai Golkar atawa Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Kedua partai ini disebut karena asumsi itu memusykilkan terjadinya hijrah penerobosan pagar ”ideologis”, misalnya dari partai Islam ke partai non-Islam. Postulat itu bisa saja benar, sebelum sebuah riset yang cermat dan komprehensif membuktikan lain.

Tak kalah penting dari tesis pergeseran itu, agaknya, ialah faktor pemilih pemula, yang seperti terabaikan oleh berbagai lembaga survei dan jajak pendapat. Menurut data Komisi Pemilihan Umum, jumlah pemilih pemula dalam pemilihan umum legislatif yang baru lalu meliputi 30 persen dari 174 juta, alias lebih dari 52 juta. Jumlah ini tentu tak bisa didaifkan.

Dengan kata lain, sebetulnya, para pemilih Demokrat bukanlah pemilih tradisional yang biasanya menjatuhkan pilihan kepada partai berpengalaman dan ”bersejarah”. Kedua kata terakhir ini juga terbukti tak mampu lagi dijadikan bahan jualan dan merek dagang. Apalagi mengingat pengalaman kita yang lebih banyak tak menyenangkan, dan sejarah kita yang bersimpang-siur kagak keruan.

Kini bola di tangan Demokrat—konkretnya Susilo Bambang Yudhoyono. Ada keluhan: politik Indonesia lebih ditentukan figur ketimbang institusi, lebih dipuguhkan persona ketimbang lembaga. Apa salahnya? Sejak zaman Boedi Oetomo kita begitu, dan sampai sekarang masih begitu! Itulah memang realitas politik negeri ini. Agak tragis, tetapi dunia tak bisa berubah dalam satu malam.

Dengan segala cacat-celanya, pemilihan umum legislatif yang baru lalu hendaklah memberikan banyak pelajaran berharga bagi pemilihan umum presiden, yang waktunya tinggal berbilang pekan. Pekerjaan paling mendesak tentulah pengajuan calon presiden dan pasangannya, dan di sini, sekali lagi: Susilo Bambang Yudhoyono diuji untuk bertindak cepat dan tepat.

Dalam pemilihan umum legislatif yang baru lalu, Demokrat sempat ”disenggak” oleh semboyan kompetitor yang cukup menyedak: ”Lebih Cepat Lebih Baik”. Siapa pun mafhum, semboyan itu seperti dihunjamkan langsung kepada gaya kepemimpinan SBY yang, terus terang, memang terkesan ”alon-alon waton kelakon”. Kini, dengan asumsi lebih dari 20 persen suara di tangan, konyol sekali bila SBY masih melangkah tertatih-tatih.

Karena itu, alangkah tepat bila kini SBY mengibarkan semboyan ”Lebih Berani Lebih Yakin”. Koalisi, dengan partai apa pun, seyogianyalah dibangun berdasarkan perspektif institusional dan pragmatis, bukan lagi koalisi dengan perspektif personal dan strategis. Apalagi jika diingat matra pemilihan presiden sangat berbeda dengan matra pemilihan legislatif: pemilih dihadapkan pada tokoh, bukan partai.

Memang ada kekhawatiran, presiden yang terlalu kuat, dari partai mayoritas di Dewan Perwakilan Rakyat, akan menciptakan kekuasaan yang sulit dikontrol. Kekhawatiran ini bisa ditepis oleh kenyataan hampir membuhulnya ”koalisi bunga rampai” yang merapat ke kubu Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Megawati Soekarnoputri. Betapapun, koalisi yang tak terlalu jelas persamaan asas dan visinya ini masih bisa diharapkan memelihara daya kritis yang tinggi.

Atau sebaliknya: SBY berpikir untuk merangkul semua kaum dan golongan agar parlemen tidak merupakan ”gangguan” yang merepotkan? Kemungkinan ini juga bukanlah sesuatu yang patut dicemaskan. Pengalaman lima tahun belakangan menunjukkan, koalisi dengan partai mayoritas di Dewan Perwakilan Rakyat tetap saja tak sepenuhnya bisa menafikan ”gangguan”.

Dengan siapa SBY berpasangan, pada akhirnya, hampir sepenuhnya bergantung pada SBY. Apalagi setelah melihat sikap Partai Golkar yang maju-mundur dan berganti-ganti isyarat. Bekerja sama dengan partai yang tidak berkuasa, rasanya, bukanlah merupakan budaya Golkar. Partai yang tumbuh dari kekuasaan ini akan mengalami kesulitan sangat besar bila menempatkan diri sebagai oposisi. Zaman juga sudah berubah, pemilih baru makin berorientasi ke depan. Dengan iktikad ”Lebih Berani Lebih Yakin”, Susilo Bambang Yudhoyono hendaknya melangkah lebih pasti ke pemilihan presiden.

TEMPO (20 April 2009)

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Liga Eropa - Hasil dan klasemen Grup B, Apoel juara grup
      Apoel FC, berhasil menjuarai Grup B Liga Europa setelah mengalahkan wakil Yunani, Olympiakos, dengan skor 2-0 dalam laga pamungkas penyisihan di Stadion GSP, Siprus, Jumat dini hari WIB.Kemenangan yang diraih berkat gol dari ...
    • Liga Europa - Hasil dan klasemen Grup A, Fenerbahce-MU lolos
      Fenerbahce dan Manchester United lolos ke babak 32 besar Liga Europa selepas rangkaian pertandingan pamungkas penyisihan Grup A, Jumat dini hari WIB.Fenerbahce memastikan satu tiket ke babak 32 besar setelah tim asal Turki itu ...
    • Ngobrol dengan BJ Habibie di Belanda
      Nonton film berlanjut dengan ngobrol-ngobrol santai tapi serius terjadi di Belanda, antara anggota Perhimpunan Pelajar Indonesia Belanda dan masyarakat Indonesia di Belanda, dengan Presiden Baharuddin Jusuf ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: