CERITA TENTANG KASIH TAK SAMPAI

Lantai 17 Hotel Four Seasons, di sudut kawasan Kuningan, Jakarta Pusat, Selasa siang pekan lalu. Enam pria duduk berhadap-hadapan di ruang makan klub eksekutif hotel berbintang lima itu. Hidangan terhampar di atas meja. Ada ikan panggang, bistik sapi, dan aneka minuman. Tiga lelaki pertama adalah utusan Partai Demokrat: Ketua Umum Kolonel (Purn) Hadi Utomo, Sekretaris Jenderal Marzuki Alie, dan Ketua Bidang Politik Anas Urbaningrum. Lawan bicara mereka adalah delegasi resmi Golkar, yakni dua ketua partai: Muladi dan Andi Matalatta, plus Sekjen Letnan Jenderal (Purn) Sumarsono. ”Sengaja kami bertemu di lantai paling tinggi, untuk menghindari wartawan,” kata Marzuki Alie, saat ditemui sehari setelah pertemuan itu. Tapi, ”Ternyata, bocor juga.”

Setelah makan siang rampung, pembicaraan beranjak ke topik yang lebih serius: koalisi Golkar dan Partai Demokrat. Sejak dua pekan lalu, garis besar rencana koalisi sebenarnya sudah disetujui pucuk pimpinan kedua partai. Tugas kedua tim siang itu tinggal merumuskan aspek teknis. Tim Beringin sudah membawa berkas berisi tawaran poin-poin kerja sama yang sebagian langsung disetujui tanpa banyak perdebatan.

Pembicaraan baru macet ketika membahas poin tentang pasangan calon wakil presiden. Dalam konsep Golkar, disebutkan bahwa koalisi Demokrat-Golkar akan mengusung pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla sebagai calon presiden-wakil presiden.

Di luar dugaan kubu Beringin, poin ini jadi masalah. Tiga jam pertemuan, kata sepakat tak diperoleh. ”Kami ingin ada evaluasi,” kata Marzuki Alie tentang hubungan SBY-JK selama ini. Apalagi Partai Demokrat, kata dia, saat ini sedang mengumpulkan nama calon wakil presiden. ”Kader Golkar banyak yang bagus, mengapa tidak diusulkan beberapa nama?” katanya. Tim Beringin berkukuh tidak mau. ”Karena tak ada kesepakatan, kami setuju untuk cooling down sambil melapor ke partai masing-masing,” kata Marzuki.

Tim Golkar langsung merapat ke Istana Wakil Presiden di kawasan Kebon Sirih, Jakarta Pusat. Sumber Tempo berbisik, di sana terjadi perdebatan hangat tentang sikap Partai Demokrat. Ada yang meminta Jusuf Kalla bersabar dan menunggu, sementara yang lain merasa sudah patah arang. ”Selesai sudah dengan Demokrat,” kata Ketua Dewan Penasihat Golkar, Surya Paloh.

Baru pada pukul 10 malam, tim Partai Demokrat mendapat waktu untuk menemui Yudhoyono di Puri Cikeas, Bogor, Jawa Barat. Marzuki bercerita, usai laporan disampaikan, Yudhoyono—ketua dewan pembina partai itu—menyatakan, ”Tindakan pengurus pusat sudah tepat.” SBY lalu menyarankan agar masalah pencalonan wakil presiden ini diendapkan dulu. Sikap Yudhoyono itu diteruskan kepada elite Beringin yang sedang gelisah menunggu. ”Saya sendiri yang menelepon Sekjen Golkar malam itu,” kata Marzuki membenarkan.

Namun sumbu kesabaran Golkar rupanya sudah habis terbakar. Sumber Tempo yang dekat dengan Kalla memastikan, malam itu lingkaran inti sang saudagar Bugis ingin balik kanan saja. Namun beberapa pengurus teras Golkar seperti Muladi dan Aburizal Bakrie berusaha menenangkan.

Rabu pagi, Dewan Pengurus Pusat Golkar mendadak dikumpulkan di kantor partai di kawasan Slipi, Jakarta Barat. Seusai rapat, Sekjen Sumarsono membacakan keterangan pers. ”Setelah melakukan komunikasi politik yang intensif untuk melanjutkan pemerintahan SBY-JK selama satu minggu ini, tidak didapatkan titik temu koalisi dari kedua belah pihak,” katanya. Atas dasar itu, Golkar kemudian memberikan mandat penuh kepada Ketua Umum Jusuf Kalla untuk membuka komunikasi politik dengan partai lain. Sejak itulah, pasangan SBY-JK resmi bercerai.

***

Pertemuan Kalla dengan para pimpinan dewan pengurus daerah Golkar di kediamannya, Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, pada 19 Februari lalu adalah titik awal yang menandai perubahan sikap politik Beringin. Ketika itu sejumlah ketua Golkar daerah meminta kesediaan Kalla menjadi calon presiden.

”Mereka bertanya, kalau Bapak diajukan, Bapak keberatan atau tidak? Saya bilang bagaimana saya bisa keberatan sama Anda? Saya tidak bisa keberatan, karena itu adalah amanah,” kata Kalla, menceritakan ihwal persetujuannya maju menjadi calon RI-1.

Keputusan Kalla itu segera mengubah peta politik nasional. Sebelumnya, banyak yang menduga Kalla tak akan berani meninggalkan SBY. Sejumlah survei memprediksi Kalla bakal keok jika maju sendiri.

Namun kepada Tempo, akhir Februari lalu, Kalla mengaku langkah politik itu sudah ditimbang matang. Dia memperkirakan hanya akan ada tiga calon presiden yang bertarung pada Juli mendatang: Yudhoyono, Megawati, dan dia sendiri. Jika lolos ke putaran kedua, Kalla berharap limpahan suara dari kubu Mega akan cukup untuk mengantarkannya ke Istana Merdeka.

Di sisi lain, taktik Kalla untuk maju sendiri juga berhasil meredam kondisi internal Beringin yang sempat memanas setelah anggota Dewan Penasihat Golkar, Sultan Hamengku Buwono X, menyatakan siap menjadi presiden. Kader Golkar yang semula tampak seperti kehilangan nakhoda langsung berbaris di belakang Kalla.

Semangat menggebu-gebu Beringin meredup setelah pemilihan umum pada awal April lalu. Perolehan suara Golkar, menurut versi hitung cepat, anjlok menjadi hanya 14,6 persen. Tak yakin bisa maju ke pemilihan presiden, Kalla dan Golkar mulai ambil ancang-ancang untuk kembali ke pangkuan Yudhoyono. Pada 10 April lalu, hanya satu hari setelah pemilihan, Kalla menelepon Yudhoyono, menyampaikan selamat atas kemenangan Partai Demokrat.

Sinyal Kalla bersambut. Hari itu juga SBY mengirim utusan untuk mengajak Kalla merapat ke Cikeas. Namun Kalla tak mau cepat-cepat menjawab undangan itu. Dia mengaku masih harus menunggu rapat pleno Dewan Pengurus Pusat Golkar yang akan berlangsung pada Minggu, 12 April. Choel Mallarangeng, konsultan politik Partai Demokrat, yang disebut-sebut menjadi utusan SBY, menolak berkomentar.

Rencana pertemuan SBY-JK akhirnya baru terwujud pada Senin, 13 April, di Cikeas. Dalam pertemuan itu, Kalla membawa hasil rapat pleno pengurus Golkar sehari sebelumnya, yang memberinya mandat untuk menjalin kembali koalisi dengan Partai Demokrat. Soal kepastian berlanjut-tidaknya SBY-JK tidak dibahas sama sekali saat itu. ”Saat itu Pak SBY hanya meminta agar pencalonan Pak JK menjadi cawapres benar-benar didukung institusi partai,” kata Ketua Golkar, Firman Subagyo.

Tiga hari kemudian Golkar menggelar rapat konsultasi nasional di Slipi, Jakarta Barat. Banyak yang menduga rapat ini adalah prakondisi yang dirancang Kalla, sebelum masuk ke forum rapat pimpinan nasional. Dalam pertemuan yang dihadiri semua utusan dewan pengurus daerah itu, Kalla meminta kader partainya bersikap realistis. Dia menekankan bahwa dengan perolehan suara saat ini, Partai Golkar tidak mungkin mencalonkan kadernya sebagai presiden. Pilihan yang paling mungkin adalah berkoalisi untuk mengajukan calon wakil presiden.

”Katakanlah, kita berkoalisi dengan Partai Demokrat, maka itu harus saling menguntungkan. Kita tidak mau jika kita dirugikan,” kata Kalla saat itu. Selain itu, kata dia, koalisi harus dijalin dengan partai yang paling berpotensi menang dan mampu menjalankan pemerintahan. Saat itu semua sinyal menunjukkan bahwa jalan bagi maju kembalinya SBY-JK seperti terbentang lapang bebas hambatan.

***

Puluhan ketua dewan perwakilan daerah Golkar berkumpul di Jalan Mangunsarkoro 1, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu malam pekan lalu. Ini adalah rumah yang dikontrak Kalla untuk kepentingan Partai Golkar. Letaknya persis di belakang kediaman resmi Wakil Presiden. Karena fungsinya sebagai tempat rapat partai, rumah ini kerap dijuluki Slipi Dua—merujuk kantor resmi Golkar di kawasan Slipi, Jakarta Barat.

Para tamu dijamu makan malam. Dalam pertemuan yang dinyatakan tertutup bagi wartawan itu, penolakan kubu Demokrat untuk menerima satu calon wakil presiden Golkar menjadi perbincangan hangat. Manuver Akbar Tandjung yang juga mengincar posisi RI-2 jadi bahan diskusi pula di antara para ketua Golkar daerah (lihat ”Gerilyawan dari Aryaduta”).

Pada akhir pertemuan, gagasan para ketua Golkar daerah untuk mengajukan calon presiden Jusuf Kalla mendadak hidup lagi. Kubu yang menolak koalisi Demokrat-Golkar seperti mendapat angin.

Ali Umri, Ketua Golkar Sumatera Utara, seusai rapat, langsung sesumbar bahwa partainya solid di belakang gerakan ”Kalla for President”. ”Tidak ada yang berkhianat. Kalaupun ada, pecat saja,” katanya. Ketua Golkar Jawa Barat, Uu Rukmana, yang sejak awal mendukung Kalla maju menjadi calon RI-1, tak kalah bersemangat. ”Kalau posisi calon wapres, kami tidak mau,” katanya.

Semangat itulah yang kemudian dibawa ke forum Rapat Pimpinan Nasional Khusus Golkar, di Hotel Borobudur, di kawasan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Kamis pekan lalu. Tak mengherankan bila rapat yang seharusnya berakhir pukul 10 malam itu bisa ditutup tujuh jam lebih awal. Rapat sepakat secara aklamasi mengajukan Kalla sebagai calon presiden Golkar.

Fadel Muhammad, Ketua Golkar Gorontalo, yang sempat masuk daftar calon wakil presiden Beringin, mengaku heran dengan keputusan itu. ”Saya tidak tahu, kok banyak sekali daerah yang mendukung Kalla menjadi calon presiden,” katanya seusai rapat.

Muladi menduga kemarahan peserta Rapat Pimpinan tersulut oleh kabar bahwa Demokrat menampik calon wakil presiden tunggal dari Golkar. ”Soal harga diri partai dan emosi mewarnai forum,” katanya. Dia sendiri tetap berpandangan, Golkar lebih baik meneruskan upayanya berkoalisi dengan Demokrat.

Apa pun alasannya, Kalla merespons keputusan itu dengan cepat. Malam setelah Rapat Pimpinan, dia menerima utusan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan di Slipi Dua. Ketua Dewan Pembina PDIP Taufiq Kiemas dan Sekjen Pramono Anung disambut hangat selayaknya sahabat lama. Kamis malam itu, cetak biru koalisi Golkar-PDIP mulai dibicarakan.

Masalahnya, siapa yang akan menjadi calon presiden. Kalla jelas tak mau mundur. Sedangkan kubu Banteng sudah menegaskan bahwa pencalonan Megawati adalah harga mati. Solusinya? Sumber Tempo di Golkar mengaku partainya akan berusaha mendesak Megawati untuk menyerahkan tiket calon wakil presiden kepada tokoh PDIP yang direstuinya. Sejumlah nama sempat disebut: mulai dari Pramono Anung sampai putri Megawati, Puan Maharani.

Belum sempat lobi dilakukan, hambatan lain menghadang. Pertemuan puncak Kalla-Megawati di rumah Ketua Umum PDIP, Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat, Jumat pekan lalu, berakhir mengambang. ”Kami dari PDIP punya posisi prinsipil yang berbeda,” kata Megawati seusai rapat.

Persoalan itu adalah posisi PDIP sebagai oposan dan Golkar sebagai pendukung pemerintah. ”Itu yang harus diselesaikan dulu,” kata Ketua PDIP Panda Nababan. Apakah PDIP menghendaki Kalla menarik diri dari pemerintahan yang akan berakhir enam bulan lagi? Panda tak menjawab. Katanya, ”Nanti itu dibicarakan lagi. Semua kan masih dalam proses.”

Wahyu Dhyatmika, Iqbal Muhtarom, Amandra Megarani, Kurniasih Budi – TEMPO (27 Maret 2009)

2 Comments

  1. Pak JK dgn Golkarnya ni terkesan plin plan…

  2. Pada prinsipnya PDIP tidak ingin berkoalisi dengan Partai Golkar yang selama ini hanya main untung dan enak saja

    terimakasih


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • 7 cara manfaatkan tabir surya kedaluwarsa
      Coba periksa tanggal kedaluwarsa tabir surya Anda untuk memastikan apakah masih berfungsi sebagai pelindung dari sinar matahari.Tabir surya punya masa kedaluwarsa selama enam bulan setelah dibuka, kata perlindungan konsumen ...
    • Klasemen Liga Spanyol, Real Madrid tinggalkan Barcelona
      Berikut hasil pertandingan dan klasemen liga Spanyol pada Minggu waktu setempat. Pertandingan Minggu 4 Desember: Alaves 1 Las Palmas 1 Athletic Club 3 Eibar 1 Real Betis 3 Celta Vigo 3 Sporting ...
    • Beberapa mayat ditemukan lagi setelah gudang terbakar di Oakland
      Beberapa mayat ditemukan lagi pada Ahad (4/12), setelah petugas pencarian memasuki dua daerah lain di gudang yang terbakar 36 jam sebelumnya. Namun Sersan Ray Kelly dalam taklimat kedua pada Ahad, tak bersedia menyebutkan ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: