Miing: “Paradigma Partai Melebihi Agama”

Calon anggota legislatif (caleg) dari kalangan selebritas atau artis, selain diragukan pengalamannya, juga dikhawatirkan bakal jadi bahan mainan para politisi senior di Senayan. Tubagus Dedy Suwandi Gumelar, yang populer dengan panggilan Miing Bagito, merupakan satu dari belasan calon wakil rakyat dari kalangan ini.

Miing perlu waktu delapan bulan untuk bersosialisasi dengan masyarakat di daerah pemilihannya (dapil), Kabupaten Lebak, Pandeglang, Provinsi Banten. Saat Hari “H” atau hari pencontrengan, Miing berhadapan dengan saingan yang tergolong “kelas berat”. “Saya dijepit oleh dua bupati. Bupati Lebak, anaknya (Bupati Lebak) dari Demokrat. Untuk DPR juga ada Bupati Pandeglang, dirinya juga nyaleg, istrinya pun nyaleg,” tutur kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini.

Kisruh soal adanya dugaan money politic, kata Miing, menjelang hari pemilihan pada 9 April lalu, membuatnya tak karuan. Meski telah merogoh kocek dalam-dalam guna membantu masyarakat dapilnya jauh-jauh hari sebelum hari kampanye, nilai investasi politik yang dimilikinya, jauh lebih kecil ketimbang para pesaingnya tersebut. Belum lagi, saat pemilihan, surat suara –yang menurut Miing– berukuran segede koran, justru membuat rakyat kian bingung. “Di sana, blanko atau (suara) tidak sah, mencapai 40%,” ungkapnya.

Masuknya belasan selebritas ke DPR ini memang menjadi fenomena yang cukup mencengangkan. Meski fenomena ini bukan hal baru, namun dari segi jumlah “tak seheboh” sekarang ini. Sebagian adalah wajah lama, seperti pasangan suami-istri Adjie Massaid dan Angelina Sondakh, serta Nurul Qomar. Ketiganya berasal dari Partai Demokrat. Meski belum resmi diangkat menjadi wakil rakyat, Miing sudah mengincar kursi di komisi II (Politik Dalam Negeri).

Terjun ke dunia politik, bagi Miing, memiliki resiko tersendiri yang harus ditanggungnya. Jalur ekonomi terpotong secara alami. Lantaran menjadi caleg, kontraknya menjadi pembawa acara di sejumlah televisi, diputus. Padahal, popularitasnya sebagai seorang selebritas, tak setenar artis lainnya. Bagaimana ceritanya Miing bisa lolos ke Senayan? Berikut petikan wawancara bapak lima anak ini dengan Gatra.com:

Anda terpilih menjadi anggota DPR sebagai artis?
Itu masalah paradigma saja. Karena kan yang dikejar artis, sementara saya popularitasnya sudah nggak ngartis. Kayaknya sudah nggak menarik untuk ‘dijual’, terutama bagi infotainment.

Tapi konstituen Anda saja, tetap memandang Miing sebagai seorang artis?
Awalnya iya. tapi ketika saya bicara, akhirnya nggak. Bagaimana pun juga, saat di kampung, orang melihatnya saya pelawak. Tapi begitu saya bicara, muncul karakter saya. Karakter itulah yang barangkali memberikan pemahaman kepada masyarakat. Dan jujur, saya termasuk yang paling lama bersosialisasi di dapil saya. Delapan bulan saya bolak-balik. Sejak Juli (2008).

Apa kendala yang Anda hadapi, sampai akhirnya bisa lolos ke Senayan?
Kalau ingin menyampaikan (kendala), sesungguhnya, ada beberapa poin yang memberikan potensi yang membuat saya bisa tidak terpilih.

Misalnya, pertama, saya dijepit oleh dua bupati. Bupati lebak, anaknya (bupati Lebak) dari Demokrat. Untuk DPR juga. Bupati Pandeglang, dirinya nyaleg, istrinya juga nyaleg. Artinya, political power menghimpit saya. Maka mereka mendapat suara jauh di atas saya. (Miing mendapatkan 120 ribu suara). Dari sisi economy power, mereka punya uang.

Belum lagi soal teknis. Kertas segede koran terbagi empat. Di sana blanko atau tidak sah mencapai 40%. Tidak ada kertas atas nama Miing, melainkan atas nama Tubagus Dedy Suwandi Gumelar.

Nah, kalau soal ini adalah masalah positioning. Saya pelawak, tapi kan sekarang sudah beda. Branding Miing sudah beda. Di kertas itu tidak ada nama Miing. Sampai di dalam kobong (bilik suara), itu ada ibu-ibu sampai ke luar lagi karena dia tidak menemukan nama Miing.

Dia teriak di luar, “Aing hayang Miing, euweuh di dieu! (Saya mau Miing, tapi tidak ada di sini)”. Dia keluar dan ke Panwaslu, minta tolong sama petugas. Keukeuh dia hayang Miing. Sudah ditunjukkan nama saya yang asli, dia tetap maunya Miing. Akhirnya, si petugas menunjukkan foto para calon. Kan ada nama dan fotonya. “Nah ini siapa Bu? Ini Miing. Nah ini di bawah ini nama aslinya”. Baru dia balik lagi ke dalam.

Lalu, setelah disumpah nanti menjadi anggota DPR, Anda sudah punya bayangan ingin duduk di komisi berapa?
Saya ingin ambil Komisi II, Politik Dalam Negeri.

Apa pendapat Anda, tentang banyaknya artis di DPR?
Saya kira bagus ya. Cuma persoalannya begini. Masyarakat, baik pers, pengamat, dan masyarakat intelektual, meng-under estimate artis. Artis ini kan kehidupannya dipandang hura-hura, menghibur, glamor. Jadi dianggap kurang atau lack of knowledge, alias tidak berpengetahuan.

Tapi, artis ini jumlahnya kan tidak banyak. Lagipula, di alam demokrasi ini, dikotomi semacam ini sudah harus dihentikan. Harus melihat bahwa artis itu hanya tidak sampai 4%.

Tapi kan Anda akhirnya kesampaian juga menjadi politikus?
Politik juga tidak harus jadi politikus. Contohnya Bagito, sudah 30 tahun berkarir. Artinya ketika Bagito menjalankan hiburan, itu fungsi kontrolnya sebagai pengkritisi. Begitu pula dengan artis atau seniman lainnya seperti WS Rendra atau Nano Riantiarno. Mereka itu melakukan politik dengan alatnya, kesenian. Tapi substansinya politik.

Jauh hari sebelum terpilih, tampaknya Anda kurang diekspos media?
Oh nggak masalah. Ketika saya terjun ke politik, saya sudah siap dengan sebuah resiko. Saya tidak lagi siaran di Metro TV, di Jak TV, itu sebuah pengorbanan bagi saya untuk terjun ke politik. Jalur ekonomi yang terpotong secara alami.

Ibaratnya begini, orang Islam boleh kerja dengan orang Katolik atau di toko milik orang Cina. Begitu pun sebaliknya. Tapi, orang partai tidak boleh kerja di partai lain. Itu kan gila! Di sini sampai sebegitunya. Paradigma partai ini melebihi agama. Padahal, kalau soal menghibur proporsional saja. Ini soal pekerjaan kok.

Kalau tidak diliput media, saya punya kesadaran kok bahwa mungkin saya tidak punya nilai jual lagi sebagai artis untuk diliput media. Saya orang yang sangat tidak mengejar popularitas sejak dulu. Lagi pula, buat saya masa itu sudah lewat.

GATRA

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Liga Eropa - Hasil dan klasemen Grup B, Apoel juara grup
      Apoel FC, berhasil menjuarai Grup B Liga Europa setelah mengalahkan wakil Yunani, Olympiakos, dengan skor 2-0 dalam laga pamungkas penyisihan di Stadion GSP, Siprus, Jumat dini hari WIB.Kemenangan yang diraih berkat gol dari ...
    • Liga Europa - Hasil dan klasemen Grup A, Fenerbahce-MU lolos
      Fenerbahce dan Manchester United lolos ke babak 32 besar Liga Europa selepas rangkaian pertandingan pamungkas penyisihan Grup A, Jumat dini hari WIB.Fenerbahce memastikan satu tiket ke babak 32 besar setelah tim asal Turki itu ...
    • Ngobrol dengan BJ Habibie di Belanda
      Nonton film berlanjut dengan ngobrol-ngobrol santai tapi serius terjadi di Belanda, antara anggota Perhimpunan Pelajar Indonesia Belanda dan masyarakat Indonesia di Belanda, dengan Presiden Baharuddin Jusuf ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: