Menghitung Kekuatan Menuju Istana

Genderang perang pemilihan presiden dan wakil presiden sudah ditabuh. Serangan pertama dibuka saat pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono melakukan deklarasi di Bandung, Jumat pekan lalu. Yang menjadi subjek serangan adalah kemewahan seremoni yang berlangsung di Sasana Budaya Ganesha Institut Teknologi Bandung, yang ditaksir menghabiskan dana Rp 10 milyar.

“Kalau dibandingkan, masih sederhana JK-Win daripada SBY-Boediono. Sebaiknya biaya yang besar untuk acara itu diberikan kepada kepentingan rakyat,” kata Ketua DPP Golkar, Anton Lesiangi. Ia menilai, SBY meniru deklarasi Barack Obama. Sebagai perbandingan, deklarasi pasangan JK-Win memang terbilang sederhana.

Acara itu dihelat di Tugu Proklamasi, Jakarta, 10 Mei lalu, dan dihadiri sekitar 200 simpatisan. Acaranya hanya berupa pelepasan balon usai deklarasi. Biayanya, menurut Suahnadoyo, juru bicara tim sukses JK-Wiranto, hanya Rp 20 juta. Senjata berupa citra sederhana dan pro-rakyat yang dilepaskan Golkar ini juga dijadikan arsenal pertama oleh pasangan Megawati-Prabowo untuk membuka serangan.

Tak mau kalah sederhana dan merakyat, pasangan ini bakal mendeklarasikan diri di Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) Bantargebang, Bekasi. “Masak pengusung ekonomi kerakyatan deklarasi di hotel mewah,” kata Fadli Zon, sekretaris utama tim kampanye pasangan itu. Tapi serangan pembuka pada satu sasaran oleh dua saingannya itu tak membuat pasangan SBY-Boediono kalang kabut.

Wakil Ketua Umum Partai Demokrat, Ahmad Mubarok, mengatakan bahwa acara itu sama sekali tidak mewah. “Bukan mewah, tetapi anggun dan tertib,” katanya. Ia juga membantah anggapan bahwa biaya yang dikeluarkan mencapai Rp 10 milyar. “Biaya apa, kok mahal seperti itu. Acaranya cuma satu jam,” tuturnya.

Pencitraan adalah salah satu senjata yang kerap digunakan dalam kontes seperti pemilihan presiden dan wakil presiden. Namun, di balik itu, para kontestan masih punya senjata cadangan yang siap diluncurkan. Menurut Direktur Eksekutif Indo Barometer, M. Qodari, peluang kemenangan pemilihan presiden pada 8 Juli mendatang ditentukan oleh tiga hal.

Pertama adalah mesin politik, logistik, dan strategi kampanye. “Peluang menang akan diraih jika mesin politik, logistik, dan strategi berjalan dengan benar,” kata Qodari kepada Birny Birdieni dariGatra. Melihat modal awalnya, pasangan SBY-Boediono memang cukup punya peluang besar.

Dari sisi logistik alias dana kampanye, diperkirakan yang terkuat adalah SBY-Boediono. “Minimal SBY-Boediono akan menyiapkan dana dua kali lipat daripada pemilu legislatif lalu,” tuturnya. Pada pemilu legislatif lalu, dana kampanye yang disediakan Demokrat adalah Rp 234 milyar. Posisi kedua adalah pasangan Megawati-Prabowo, dengan kekuatan logistik di tangan Prabowo yang memiliki kekayaan Rp 1,7 trilyun.

Sementara itu, logistik pasangan JK-Wiranto diperkirakan tidak sekuat dua kandidat tersebut. Dari sisi mesin politik, pasangan SBY-Boediono juga memiliki mesin politik yang besar, dengan berkumpulnya sebagian besar parpol di sana. SBY-Boediono mendapat dukungan dari 23 partai, dan lima partai di antaranya lolos parliamentary threshold.

Dari sisi perolehan suara nasional, parpol pendukung SBY-Boediono mampu meraup 60,6 juta suara atau 58,23% suara nasional. Jika koalisi pendukung pasangan ini tidak pecah, duet SBY-Boediono juga bisa menggalang pemerintahan yang kuat dengan dukungan 314 kursi di DPR atau 56,07%.

Sedangkan mesin politik pasangan JK-Wiranto dan Mega-Prabowo tidak terlalu besar. Dari sisi dukungan partai, JK-Wiranto hanya didukung tiga partai. Para pendukung pasangan ini hanya mampu meraup 20,5 juta suara atau 19,69%. Jika menang, dukungan dari parlemen pun bisa jadi tidak terlalu kuat, yakni hanya 125 kursi DPR atau 22,32%, sumbangan Golkar-Hanura.

Nasib pasangan Megawati-Prabowo tak jauh berbeda. Dari sisi dukungan parpol, pasangan ini sama-sama didukung dua partai utama, yaitu PDI Perjuangan dan Gerindra, sedangkan tujuh partai lainnya adalah partai kecil yang tak lolos parliamentary threshold. Total suara yang bisa dikumpulkan pasangan ini pada pemilu legislatif lalu hanya 21 juta suara atau 20,19% suara nasional. Dukungan di parlemen pun tak cukup kuat, hanya dengan modal 121 kursi DPR atau 21,61%.

Menurut analis politik dari Universitas Airlangga, Surabaya, Kacung Marijan, model koalisi yang dibangun pasangan JK-Wiranto dan Mega-Prabowo memang tidak sekuat SBY-Boediono. “Pasangan SBY-Boediono lebih ke arah bagaimana membangun koalisi untuk membentuk sistem pemerintahan yang efektif dan efisien,” kata Kacang.

Dua pasangan lainnya lebih ke arah bagaimana memenuhi syarat mengajukan calon presiden dan wakil presiden. Apalagi, pasangan Megawati-Prabowo yang terkesan dipaksakan. “Mereka belum berpikir terlalu jauh soal bagaimana nanti setelah terpilih,” Kacung menambahkan.

Dari sisi popularitas, lagi-lagi SBY menempati peringkat pertama. Meski survei popularitas pasangan belum ada, rating popularitas personal SBY masih paling tinggi. Survei terakhir LP3ES pada awal 2009 masih menempatkan SBY sebagai capres terpopuler, dengan dukungan 71,6%. Di belakangnya, berturut-turut ada nama Megawati Soekarnoputri dengan dukungan 5,2%, Jusuf Kalla (3,5%), Prabowo Subianto (2,6%), dan Wiranto (0,4%).

Dengan modal kekuatan itu, Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia, Saiful Mujani, yakin bahwa pilpres hanya berlangsung satu putaran dan pasangan SBY-Boediono keluar sebagai pemenang.

Dalam prediksi Saiful Mujani, saat ini peta dukungan suara masing-masing calon adalah 70% untuk SBY, 20% untuk Mega, dan 10% untuk JK. “Tapi masih ada satu setengah bulan lagi sampai pemilu. Kita tidak tahu, apa yang akan terjadi,” kata Saiful Mujani kepada Rukmi Hapsari dari Gatra.

Meski demikian, bukan berarti peluang pasangan lain tidak ada. Menurut Qodari, meski modal besar, mesin politik SBY-Boediono bisa tak bekerja maksimal. Pangkal soalnya adalah langkah SBY memilih Boediono sebagai cawapres. Sosok Boediono yang dianggap sebagai ekonom yang pro-ekonomi pasar tidak cocok dengan pandangan PKS dan PAN.

“PAN dan PKS masih setengah hati. Amien Rais belum sreg dengan Boediono,” tutur Qodari. Selain itu, sosok Boediono dengan citra neoliberalismenya juga bisa menjadi titik serangan yang disasar para kontestan lain. Ia memprediksi, mesin politik PAN dan PKS agak kendur dalam mengusung pasangan ini.

Meski solid, PKB juga dinilai tak bisa terlalu diharapkan menjadi mesin peraup suara lantaran pengurusnya berbeda dari yang terdahulu, saat masih ada Gus Dur. Di PPP pun pada tingkat elite, menurut Qodari, masih belum jelas kondisinya. Apalagi, militansi kader partai Islam ini diprediksi tak akan terlalu kuat, karena tidak ada tokohnya tak mendampingi SBY.

Persoalan soliditas mesin politik itu juga menghinggapi pasangan JK-Wiranto, khususnya di internal Golkar. Sudah bukan rahasia lagi, beberapa elite Golkar memiliki agenda tersendiri. Pertemuan para petinggi Partai Golkar seperti Agung Laksono, Priyo Budi Santoso, beserta puluhan anggota Fraksi Partai Golkar di rumah Aburizal Bakrie, Senin malam lalu, dinilai sebagai upaya menggembosi pasangan JK-Wiranto.

Pertemuan ini membuat tim kampanye JK-Wiranto meradang. “Ini sudah mengarah pada indikasi penggembosan,” kata Yuddy Chrisnandi, juru bicara tim kampanye JK-Wiranto. Ia meminta seluruh petinggi Golkar solid mendukung pasangan JK-Wiranto karena sudah diputuskan bersama.

“Terlepas setuju atau tidak, jangan ganggu tatanan dan jangan rusak konsolidasi yang sedang dibangun,” Yuddy menambahkan. Untuk sisi solidaritas, Qodari melihat, ada pada pasangan Megawati-Prabowo. Militansi kader PDI Perjuangan sebagai partai lama dinilai akan tinggi dan maksimal untuk mendukung Megawati.

Meski partai baru dan militansinya belum kuat, Gerindra bisa berharap pada sosok Prabowo sebagai pendulang suara. Dengan situasi seperti ini, Qodari menilai, sulit menentukan siapa pemenang pilpres nanti. Sementara itu, Direktur LP3ES, Suhardi Suryadi, mengatakan bahwa pilpres yang mengusung tiga calon sekarang ini bisa berlangsung dua putaran.

Syaratnya, pasangan Mega-Prabowo dan JK-Wiranto dapat melakukan penetrasi suara yang hilang saat pemilu legislatif lalu. Selain itu, peluang mereka menang juga terbuka jika pasangan yang kalah pada putaran pertama mengusung pasangan yang lolos ke putaran kedua.

Antara JK dan Megawati memang ada komitmen seperti itu ketika keduanya merapat usai pengumuman hasil pemilu legislatif, April lalu. Saat itu, JK dan Mega berkomitmen akan saling mendukung jika salah satu lolos ke putaran kedua.

Kini tinggal membuktikan, apakah komitmen itu masih kokoh atau sudah lekang dimakan waktu.

M. Agung Riyadi dan M. Nur Cholish Zaein
[NasionalGatra Nomor 28 Beredar Kamis, 21 Mei 2009]

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Patti Smith akan bernyanyi untuk antar Hadiah Nobel bagi Bob Dylan
      Saat pidato penerima Hadiah Nobel Sastra Bob Dylan dibacakan, rekannya sesama penyanyi sekaligus penulis lagu Patti Smith akan menyanyikan salah satu lagu terbaiknya pada selebrasi Hadiah Nobel di Stockholm nanti.Smith akan ...
    • YLBHI ramalkan jaksa akan sulit buktikan kesalahan Ahok
      Koordinator Bantuan Hukum Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Julius Ibrani melihat banyak kejanggalan dalam pengusutan kasus dugaan penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama, bahkan Jaksa diyakininya akan sulit ...
    • Malaria sudah ada di zaman kekaisaran Romawi
      Para peneliti mengungkapkan analisis DNA gigi berusia 2.000 tahun yang digali dari satu kuburan di Italia menunjukkan bukti kuat bahwa malaria sudah ada selama Kekaisaran Romawi.Temuan itu berdasarkan pada DNA mitokondria - ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: