Hitam-Putih Facebook

Seorang karyawan tiba-tiba tak masuk kantor. Ia tidak memberitahu lewat surat, juga tidak kirim SMS, apa lagi menelepon. Tapi seorang temannya mengetahui, karyawan bersangkutan tak masuk kantor karena kena flu berat. Tahu dari mana” “Buka Facebook, dong,” katanya.

Facebook, tak pelak lagi, telah menjadi situs jaringan sosial paling populer di jagat maya. Pelanggan aktifnya mencapai 64 juta orang pada Maret 2008, dengan rata-rata 20.000 pendaftar baru tiap hari (Freiert, 2007). Untuk rekor pelanggan seperti itu, Facebook tentu menjadi fenomena sosial tersendiri.

Inilah yang membuat banyak ahli sosial penasaran, apa saja dampak sosial yang timbul akibat situs ini. Salah satu hasil penelitian mutakhir yang menarik tentang Facebook dilakukan Aryn Karpinski dari Ohio State University dan Adam Duberstein dari Ohio Dominican University.

Mereka menyimpulkan, terlalu berasyik-masyuk dengan Facebook dapat berdampak buruk. Para mahasiswa pengguna Facebook di Universitas Ohio, misalnya, memiliki rata-rata nilai akademis (grade point average –GPA) 3,0-3,5 atau “B” dan “B+”. Gara-gara terlalu banyak Facebooking, mereka hanya sempat belajar satu hingga lima jam per pekan.

Bandingkan dengan prestasi para mahasiswa non-Facebook yang menyediakan waktu belajar hingga 11-15 jam per minggu. “Karena itu, mahasiswa kelompok ini memiliki nilai rata-rata lebih tinggi, yakni 3,5-4,0 atau ‘A-‘ dan ‘A’,” kata Aryn Karpinski, ketua tim peneliti.

Penelitian itu melibatkan 219 responden mahasiswa di Ohio State University. Sebanyak 148 responden menyatakan punya akun Facebook. Yang berstatus mahasiswa 85% dan sarjana 52%. Hasil penelitian itu dipresentasikan dalam pertemuan tahunan American Education Research Association, April lalu.

Temuan menarik lainnya, menurut Karpinski, para Facebooker itu umumnya berasal dari mahasiwa ilmu-ilmu pasti, seperti teknologi, rekayasa, matematika, dan ilmu pasti alam, ketimbang mahasiswa ilmu-ilmu sosial dan humanis. Karpinski melihat, itu terjadi karena para mahasiswa ilmu pasti lebih banyak terlibat dengan internet daripada mahasiswa lainnya.

“Itu menjadi salah satu faktor yang memungkinkan mereka akrab dengan Facebook,” kata Karpinski. Selain masalah itu, Karpinski tak menemukan data unik lainnya untuk kategori ras, jenis kelamin, dan suku bangsa. Walau begitu, lebih dari sepertiga pengguna Facebook membantah rendahnya nilai mereka gara-gara mencandu Facebook.

Dalam menjawab pertanyaan terbuka pada penelitian, mereka merasa, penggunaan Facebook tak sampai menimbulkan dampak tertentu. Belajar, menurut responden, tetap menjadi prioritas perhatian mereka. “Tetapi, kenyataannya, hasil penelitian kami menemukan hubungan sebab-akibat di sana,” tutur Karpinski.

Ini bukan pertama kali ada penelitian yang membahas dampak Facebook –dan teknologi digital pada umumnya– terhadap kecerdasan dan mental. Februari lalu, ahli saraf Susan Greenfield dari Oxford University menyimpulkan, situs pertemanan seperti Facebook dan Bebo “menciutkan otak dewasa menjadi otak bayi”. Menurut Greenfield, interaksi terus-menerus dengan Facebook dapat “memperpendek konsentrasi” dan “memberikan kesenangan instan” –mirip kondisi otak ketika masih bayi.

Dalam buku terbarunya, iBrain: Surviving the Technological Alteration of the Modern Mind, ahli saraf Gary Small dari UCLA mengingatkan bahwa kemampuan memahami ekspresi pergaulan dan gerak-gerik emosional tubuh dapat berkurang. Ini dapat terjadi pada mereka yang terlalu intens terlibat dalam dunia maya atau teknologi digital lainnya, yang berupaya menggantikan aspek kontak langsung antarmanusia.

Risiko tertinggi terjadi pada anak-anak muda. “Itu karena jiwa dan mental muda cenderung lebih sensitif, paling banyak terpapar oleh teknologi digital seperti itu,” tulis Small. Apakah berbagai penelitian itu berlebihan” Wallahualam. Yang jelas, hasil penelitian sosial memang banyak diperdebatkan, termasuk penelitin Kapinski dan kawan-kawan tadi.

Belakangan, tim ahli dari Northwestern University membuat penelitian tandingan. Mereka mengklaim bahwa hasil penelitian mereka lebih “serius” dan “ilmiah”. Juru bicara tim peneliti Northwestern, Prof. Eszter Hargittai, mengkritik bahwa metode pengambilan data dan responden tim Karpinski “tidak jelas” dan “tidak representatif”.

Karena itu, mereka mengambil data sampel yang lebih besar, melibatkan 1.000 mahasiswa berumur 14-22 tahun. Hasilnya” “Kami tidak menemukan korelasi antara penggunaan Facebook dan rendahnya nilai. Tidak ada hubungannya,” kata Hargittai kepada pers.

Penelitian Kapinski, menurut Hargittai, tak lebih dari kecurigaan dampak media digital di dalam masyarakat. Ini persis seperti kecurigaan atas dampak siaran kekerasan dalam televisi dan videogame kepada anak-anak. Jadi, Facebook tak lebih dari media pengalih perhatian seperti televisi danvideo game.

“Penggunaan internet dan situs jaringan sosial dapat saja positif atau negatif. Memelihara pertemanan, contohnya, dapat juga menghasilkan hal positif. Jadi, tergantung bagaimana kita menggunakannya,” tutur Hargittai.

Menurut Hargittai, nilai pelajaran pasti jelek jika pelajar menghabiskan waktu lebih banyak untuk kegiatan lain daripada belajar. Jadi, tak mesti karena Facebook. “Kita memerlukan metode penelitian lebih sempurna dan menyeluruh untuk mengetahui dampak situs pertemanan terhadap performa akademik,” kata Hargittai.

Karpinski pun mengaku memahami masalah itu. “Rendahnya nilai bisa terjadi karena banyak faktor. Tetapi, dalam kasus ini, Facebook-lah yang menjadi faktor penentu itu, karena pelajar banyak menggunakan waktunya untuk bersosialisasi secara online,” ujar Karpinski. Masalah ini, menurut Karpinski, dapat berdampak panjang sehingga perlu ditangani dan mendapat perhatian serius.

Sayang, sejauh ini belum ada penelitian tentang dampak Facebook di Indonesia. “Yang ada hanyalah sejumlah asumsi bahwa Facebook membuat orang tak produktif, buang-buang waktu. Tapi tak ada data pendukung sama sekali mengenai seberapa besar pengaruhnya,” kata Wicaksono, seorang blogger kondang yang juga sangat aktif gaul di Facebook.

Presiden Blogger Indonesia, Enda Nasution, masih melihat Facebook sebagai wadah ekspresi yang efektif, terutama bagi anak muda. “Gagasan dan kreativitas mereka dapat tersalurkan dengan baik,” tutur Enda kepada wartawan Gatra Jefira Valianti.

Wicaksono mengakui, dampak positif-negatif Facebook memang ada. Mereka yang menemukan teman lama pasti merasa beruntung. “Tapi seorang istri minta cerai dari suaminya gara-gara sang suami mengubah status jadi lajang termasuk yang buntung,” kata Wicaksono, yang situs blog Ndoro Kakung-nya laris bak kacang goreng.

Agar tak muncul hal negatif, sebaiknya Facebook digunakan untuk hal-hal positif. “Gunakan Facebook secara sehat,” Wicaksono berpesan.

Nur Hidayat
[
Ilmu & TeknologiGatra Nomor 29 Beredar Kamis, 28 Mei 2009] 

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Belanja di Apple Store bisa lewat Apple Watch
      Pembaruan Apple Store kini membuat pengguna Apple Watch dapat membeli item langsung dari pergelangan tangan.Fitur baru tersebut dapat dinikmati setelah pembaruan versi 4.1 aplikasi tersebut, tapi, tidak semua katalog bisa ...
    • Wapres: bela negara bukan hanya saat perang
      Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan semua harus mempersiapkan diri untuk bela negara, bukan hanya pada saat terjadi perang. "Bela negara bukan hanya perang, tapi juga memajukan negeri ini dengan baik dan berkeadilan," ...
    • Polda Kepri benarkan pesawat Polri jatuh
      Polda Kepri membenarkan pesawat M-28 Sky Truck dengan nomor regristrasi B-4201 hilang kontak dan diketahui jatuh di perairan Kabupatan Lingga pada sisi selatan Provinsi Kepri. "Iya benar, pesawat sempat hilang kontak. ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: