Kampanye dan Capres di Mata Aristoteles dan Mattulada

Ketiga pasangan capres-cawapres ada unsur militernya. Dalam ilmu perang mereka, ada panduan yang menyebut bahwa pertahanan paling baik adalah dengan menyerang. Itulah yang dilakukan oleh ketiga pasangan maupun tim kampanyenya, sadar maupun tidak. Tidaklah heran bila kita dapat menangkap secara nyata adanya serang-menyerang itu.

Slogan-slogan bertaburan di berbagai media, termasuk di luar ruang. Sayangnya, slogan-slogan tersebut kurang dijabarkan dalam bentuk program yang mudah dilihat, ditangkap, dan dirasakan oleh masyarakat. Slogan “Lanjutkan!” atau “Lebih Cepat lebih Baik” atau “Mega Pro Rakyat” masih kurang nilai pengingatnya karena lemahnya rincian tersebut. 

** 

Teknik argumentasi dari Toulmin, akhli retorika mencakup tiga unsur. Pertama, claim, yaitu pernyataan verbal berisikan tuntutan atau tujuan. Misalnya, serangan ataupun pertahanan terhadap apa yang dimaksud dengan antineolib. Kedua, ground, yaitu latar belakang yang mendasari claim tersebut. 

Misalnya, setelah 10 tahun reformasi dan penerapan kebijakan liberalisasi ekonomi masyarakat miskin tetap banyak, pengangguran tambah tinggi, usaha kecil sulit berkembang, Ketiga, warrant, yaitu situasi dan kondisi masa kini yang mendorong munculnya claim itu. Misalnya, kebijakan moneter yang menguntungkan pengusaha asing, utang yang meningkat. 

Pengamatan terhadap isi pesan-pesan kampanye pilpers oleh ketiga pasangan capres-cawapres: umumnya hanya berisi claim dan saling mengcounter claim. Di dalamnya termasuk saling menyerang atau menjelekkan. 

Pernyataan atau tuntutan kurang didukung dengan penjelasan yang gamblang, termasuk data mengenai ground dan warrant yang merupakan 2 (dua) unsur yang mendasari claim. Ini tampak tidak hanya di iklan tetapi juga dalam acara-acara debat antarcapres/cawapres terutama yang dilakukan tim kampanyenya. 

Hal-hal di atas, dapat dikaitkan dengan prinsip retorika dari Aristoteles dan Cicero, yang mencakup 5 (lima) unsur. Kelimanya adalah etos (hal yang menyangkut kredibilitas), patos (hal yang menyangkut perasaan), logos (hal yang menyangkut rasio), pronunciation (cara dan urutan penyajian/sistematika), dan eloqutio (daya tarik penyajian, termasuk kesantunan). 

Dari kelima unsur tersebut, dua unsur terakhir yakni pronunciation dan eloqutio kurang diperhatikan oleh para tim kampanye pilpers. 

** 

Meski idealnya, dalam berkampanye adalah menjual program, serang-menyerang tersebut sulit dielakkan. Segala pernyataan dan perilaku kandidat, tidak lepas dari pola dasar manusianya. Melihat karakter dan ciri sosiologis-antropologis para capres, ada dua dominasi (pernah dinyatakan oleh Mattulada dan Mochtar Naim secara terpisah). 

Pertama, tipikal J (Jawa). Pola pikir dan perilakunya kurang langsung dalam pengertian kurang terbuka. Ini menyangkut kebiasaan mereka yang agak tertutup. Ibarat permainan, seperti main karambol atau bilyard. Apa yang dituju tidak ditunjukkan secara langsung, melainkan menggunakan media/alat. Bisa terjadi, menganggukkan kepala bukan berarti persetujuan. 

Karena itu, mereka memerlukan waktu yang lebih lama dalam mencapai sasaran. Ada yang menyebutnya itu adalah perilaku alon-alon waton kelakon, pelan-pelan asal sampai. Mereka yang berada dalam kelompok ini lazim beralasan: sabar, cermat, dan memperhatikan kehati-hatian. Tidak jarang ada yang membungkusnya dengan istilah mereka lebih bijak. 

Ikatan mereka pada tanah (kelahiran) sangat kuat, hingga mobilitas sosial kurang dapat mengikuti perkembangan zaman yang cepat. Perpindahan penduduk dengan inisiatif sendiri, sangatlah sulit. Perpindahan bisa terjadi dengan instruksi, misalnya perpindahan pejabat pemerintah karena tugasnya dan transmigrasi. Pada tahap awal perpindahan menjadi tanggungan pemerintah. 

Kedua, tipikal M (Minangkabau-Makassar). Pola pikir dan perilakukanya langsung dan terbuka. Ini menyangkut kebiasaan hidup mereka yang bebas menghadapi dan menyikapi alam. Ibarat permainan, boleh dikatakan sebagai panah memanah. 

Sasaran yang dituju jelas, cepat kena sasaran. Jika perhitungannya kurang cermat maka yang terjadi adalah kebat kliwat. Cepat tetapi meleset sasaran. Mereka boleh beralasan: tidak boleh kehilangan waktu. 

Ikatan mereka pada tanah (kelahiran) tidak sangat kuat, hingga mobilitas sosialnya cepat. Perpindahan penduduk dengan inisiatif sendiri, sangatlah mudah. Di mana bumi di pijak di situlah mereka mencari makan. Mereka menjadi pedagang (besar maupun kecil) dan nelayan di mana-mana. Jika terjadi kerugian maka itu adalah kerugian anggota masyarakat itu sendiri. 

Serangan bilyard dibalas dengan serangan panah. Serangan bilyard bisa dianggap lebih sopan, tidak langsung, tapi memakan waktu. Serangan panah, mungkin kurang sopan, langsung, tapi cepat. 
Dari kedua tipe tersebut tampak ada nilai-nilai positifnya yang perlu ditonjolkan. Untuk pemahaman lebih lanjut, silakan masing-masing mencerna lebih jauh dan mendalam. 

** 

Tinjauan yang lain dapat dihubungkan dengan kehidupan kalangan priyayi (menak, Sunda) dengan pedagang. Priyayi adalah strata sosial yang awalnya “dibuat” oleh pemerintah kolonial untuk suksesnya mereka menjalankan administrasi di Hindia Belanda. Di luar Jawa, kebanyakan tidak berlaku seperti itu. Mereka adalah kalangan wedana, asisten wedana, juru tulis, mantri polisi, dll. 

Dalam perkembangannya, keturunan mereka sudah kawin mawin dengan berbagai suku. Tetapi dikhawatirkan karakter dan perilaku mereka masih tertinggal di masa kini, yaitu sebagai penurut, menunggu perintah, kurang inisiatif, dll. Nama-nama mereka, pada umumnya diawali dengan “Su” dan atau diakhiri dengan “o” 

Strata sosial yang lain adalah pedagang, yang bebas berpikir dan bertindak dengan mobilitas tinggi. Tingkat pencampuran mereka dengan suku yang lain tinggi. Mereka tidak terikat dengan instruksi-instruksi tetapi terikat pada etika yang berkembang di masyarakat. 

Dari hari ke hari, perkembangan mereka makin bebas, mudah memberi pendapat dan menerima masukan. Nama-nama mereka pada umumnya dipengaruhi agama tertentu, misalnya Arifin, Ahmad, Syarif, Afifah. 

Dari sudut nama-nama tersebut, sudah berkembang bersilangan. Mereka yang namanya berawalan Su dan berakhiran o, banyak yang muslim. Sebaliknya nama-nama yang bernuansa Islami bahkan kehilangan nuansa dan semangat Islamnya. 

** 

Kembali ke soal capres, penglihatan Aristoteles dan Mattulada benar. Cara berkampanye makin lama makin perlu diperbaiki. Kampanye dengan segala cara-caranya yang baru, antara lain dengan beban berat pada penggunaan media massa, adalah bagian dari pembelajaran. 

Lama kelamaan sistem akan lebih mantap dan kehidupan makin menjadi lapang. Konflik tidak menajam dan sudah dianggap sebagai bagian dari demokrasi itu sendiri. 

Perbedaan karakter dan perilaku antarsuku sudah waktunya tidak lagi dianggap sebagai jurang. Jurang itu akan kian sempit dan dangkal karena terjadi pembauran yang terus menerus. Keanekaragaman tidak menjadi mempertajam perbedaan, melainkan merekatkannya. Ciri-ciri pada strata sosial sudah akan melebur bersamaan dengan jalannya kehidupan itu sendiri.

S. Sinansari Ecip (Mantan Dosen Unhas) [FAJAR]

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Kepergian Mar'ie Muhammad kehilangan bagi Indonesia
      Wakil Presiden, Jusuf Kalla, menyebut almarhum mantan Menteri Keuangan, Mar'ie Muhammad, sebagai sosok yang bersih dan jujur semasa menjabat. "Kita kehilangan sosok yang dahulu pada saat menjabat sebagai menteri keuangan ...
    • Hampir semua korban bom Istanbul adalah polisi
      Dua bom meledak di luar stadion sepakbola di Istanbul, Turki, pada Sabtu malam waktu setempat, menyebabkan 29 orang tewas, yang terdiri atas 27 polisi dan dua warga sipil.Menteri Dalam Negeri Suleyman Soylu mengatakan ledakan ...
    • Sejumlah tokoh melayat ke kediaman Mar'ie Muhammad
      Sejumlah tokoh mendatangi kediaman almarhum mantan Menteri Keuangan, Mar'ie Muhammad, di Jalan Taman Brawijaya III Nomor 139, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu. Di antara mereka adalah Wakil Presiden, Jusuf Kalla dan ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: