Jangan Masuk Jurang

Lintas%207-13%2008%2006%20_302_Jangan terpancing isu-isu flag-waving nationalism seperti kampanye ganyang Malaysia atau protes ”penjualan” pulau-pulau. Isu-isu panas yang sesekali muncul ini justru mengalihkan perhatian kita dari berbagai masalah yang lebih penting. Salah satunya kemandirian/kedaulatan bangsa yang makin terkikis karena kekeliruan berbagai kebijakan politik-ekonomi Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla (SBY-JK) 2004-2009.

Cobalah cari jawaban pertanyaan apakah duet SBY-JK telah berhasil memenuhi janji-janji kampanye? Tentu tak mudah menjawabnya. Pertanyaan ini makin penting karena pemerintahan SBY-Boediono 2009-2014 akan diisi orang-orang yang sebagian besar masih sama—minus JK. Pertanyaannya, apa yang akan dikerjakan pemerintahan baru agar kita bisa merebut kembali kemandirian/kedaulatan bangsa?

Salah satu cara untuk menjawabnya adalah mencoba memahami hubungan antara centers dan peripheries (pusat dan pinggiran). Pusat adalah elite yang memerintah di Barat, pinggiran adalah elite Dunia Ketiga. Kepentingan pusat jelas, yakni menguasai pemerintah, sumber alam, dan aset negara pinggiran—dulu dikenal dengan kolonialisme.

”Kolonialisme baru” dipraktikkan dengan wajah manusiawi dan bertujuan menciptakan dependensi negara pinggiran dari pusat. Dependensi diciptakan melalui pemaksaan penerapan struktur politik/ekonomi internasional terhadap negara pinggiran melalui beraneka kesepakatan/institusi macam Perjanjian Bretton Woods, perdagangan bebas, Konsensus Washington, G-20, WTO, dan sebagainya.

Negara pusat mengalirkan utang untuk negara pinggiran yang sebagian besar dialokasikan untuk KKN. Negara pusat menggelontorkan utang sampai jumlah yang mustahil dibayar. Setelah ngemplang, negara pinggiran dipaksa menjual wilayah, sumber alam, atau aset nasional. Itu sebabnya kita sukar mencapai status negara ”maju” (developed), terus saja ”berkembang” (developing), atau malah ”terbelakang” (underdeveloped).

Negara-negara pusat telah lama saling rebut pengaruh di sini. Indonesia besar dari jumlah populasi, kekayaan alam, dan secara geografis berlokasi strategis. Bagi Amerika Serikat, Uni Soviet, dan China, kita mustahil diabaikan. Selain pasar besar, perairannya merupakan jalur perdagangan terpenting di Timur Jauh. Siapa menguasai Indonesia memegang kendali atas aktivitas perdagangan dan militer di Samudra Hindia dan Pasifik.

Dengan politik luar negeri bebas dan aktif serta salah satu pendiri Gerakan Nonblok (GNB), Indonesia sukar dikendalikan negara besar. Presiden Soekarno berupaya menjaga jarak yang sama dengan AS, Uni Soviet, maupun China. Ia pandai ”memainkan” kompetisi itu, antara lain untuk memperkuat pertahanan. Misalnya, kita diprediksi sudah memiliki teknologi nuklir pada 1965-1966 dengan uranium dari China.

Manuver China disaingi AS yang menawari Soekarno pembangunan reaktor nuklir bertujuan damai di ITB, Bandung. Presiden AS John F Kennedy memerintahkan pengiriman 2,3 kg uranium-235 untuk reaktor yang dijadwalkan operasional tahun 1972-1973. Sementara Uni Soviet memberikan bantuan militer gratis senilai 1 miliar dollar AS.

Pengelolaan ekonomi belum modern karena, antara lain, pengusiran warga Belanda tahun 1957-1958 dan keturunan China tahun 1959-1960. Mereka pengelola administrasi dan penggerak ekonomi andal. PRRI/Permesta menimbulkan black economy. Separuh dari anggaran habis untuk menumpas pemberontakan, perjuangan merebut Irian Barat, dan konfrontasi. Sejak 1960 cadangan devisa makin tipis dan inflasi tak terkendali walau utang hanya 2,5 miliar dollar AS.

Dalam kondisi yang sukar itulah kemandirian goyah. Barat ingin kita tak jatuh ke komunis, tetapi stabilitas politik goyah akibat persaingan Soekarno-PKI-TNI. Gerakan 30 September 1965 dan perubahan selanjutnya merupakan rangkaian peristiwa yang menggoyahkan kemandirian karena kiblat ke Barat. Ideologi pembangunan yang mendewakan pertumbuhan ekonomi, meski belakangan diimbuhi pemerataan, dalam periode 1967-1997 menjadi proses yang mengentalkan dependensi.

Sebenarnya Presiden Soeharto berupaya keras menjaga kemandirian politik. Ia paling tidak menjalankan politik luar negeri bebas dan aktif, menakhodai ASEAN, dan mempertahankan posisi kita sebagai negara menengah. Sebagai pendiri GNB, kita membantu Argentina memerangi Inggris, membantu Irak dalam Perang Teluk pertama, atau mendanai perjuangan PLO serta Nelson Mandela.

Namun, dependensi ekonomi menggurita dan merontokkan hampir semua sendi kehidupan. Dependensi ekonomi melahirkan kekuasaan represif yang antidemokrasi, penyalahgunaan kekuasaan, KKN, pengabaian rakyat, dan merusak moral. Ketika Soeharto mundur, kita menghadapi kondisi in the aftermath menyusul terjadinya ”bencana”.

Ada upaya oleh rezim Reformasi melepaskan diri dari dependensi. Kini fakta menunjukkan, misalnya, utang membubung sampai sekitar Rp 1.600 triliun, impor pangan mencapai Rp 50 triliun per tahun sementara ekspor menurun 36 persen tahun ini, aset nasional dijual ke asing, dan sumber-sumber migas dikuasai asing. Di bidang politik kita tak lagi disegani karena TNI lemah dan politik luar negeri terlalu condong ke Barat.

Wajar jika pada saat kampanye Pilpres 2009 kemandirian/kedaulatan yang terkikis itu vokal disuarakan oleh Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto dan JK-Wiranto. Sebenarnya, itulah aspirasi mayoritas rakyat! SBY-Boediono sudah menjawab dengan konsep ”jalan tengah” yang perlu ditelusuri lagi hal ihwalnya. Setidaknya ada kesadaran pada SBY-Boediono, dependensi kita, negara pinggiran, dari Barat wajib dikurangi drastis.

Salah satu caranya, PDI-P dan Golkar menjalin koalisi terbatas dengan Partai Demokrat di DPR. Sebagai law-making body, koalisi di DPR lebih efektif daripada koalisi di kabinet. Koalisi ini dapat difokuskan pada kerja sama perumusan pengurangan dependensi di komisi yang terlekat erat dengan kemandirian/kedaulatan, seperti anggaran, hukum, dan politik luar negeri. Ingat, kita masih negara pinggiran yang makin terpinggirkan dan tak mustahil bisa tergelincir masuk ke jurang.

Budiarto Shambazy – KOMPAS

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Aparat gabungan sita bambu runcing dan bom molotov di Kediri
      Aparat gabungan dari Kepolisian Resor Kediri Kota dan TNI merazia kawasan bekas lokalisasi Semampir di Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur, dan menyita sejumlah barang seperti bambu runcing serta bom molotov."Kami sudah ...
    • Persipura tanpa Bio dan Ricardinho hadapi Gresik United
      Tim Persipura Jayapura tanpa Bio Paulin Pierre dan Ricardinho da Silva saat melawan tuan rumah Gresik United dalam laga lanjutan Torabika Soccer Championship (TSC) 2016 di stadion Petrokimia Gresik, Jawa Timur, Minggu (11/12). ...
    • Pencarian korban pesawat Polri libatkan 19 kapal
      Polri mengerahkan 19 kapal dan tiga pesawat untuk mencari korban pesawat Polri M-28 Sky Truck yang jatuh pada Sabtu (3/12) di perairan Kabupaten Lingga, Kepri. "Sembilan belas kapal dan tiga unsur udara dikerahkan pada ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Unknown Feed

    • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: