Kandang Banteng di Istana

Gelak tawa terdengar membahana, menembus pintu depan rumah Megawati Soekarnoputri di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu malam dua pekan lalu. Di ruang tengah kediaman Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu, Ketua Partai Demokrat Hadi Utomo dan Ketua Fraksi Demokrat di legislatif Syarief Hassan terpingkal-pingkal.

Mega didampingi elite partai Banteng. Ada Ketua Dewan Pertimbangan Pusat Taufiq Kiemas, Ketua Departemen Perempuan Puan Maharani, Sekretaris Jenderal Pramono Anung, Ketua Fraksi PDIP di DPR Tjahjo Kumolo, dan para politikus senior Banteng seperti Sabam Sirait, Panda Nababan, dan Adang Ruchiatna.

Adalah Panda Nababan yang malam itu mengocok perut semua orang. ”Sudah pernah dengar cerita tentang anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang naik pesawat ke Jakarta?” Dia lalu berkisah: seorang anggota legislatif yang belum pernah naik pesawat terbang bingung mencari tempat duduk. Seorang pramugari menghampiri. ”Bapak di eksekutif,” katanya ramah mengarahkan tamunya ke deretan kursi depan.

Tak disangka-sangka, anggota Dewan itu meradang. ”Saya ini dari legislatif, bukan eksekutif.” Karena marahnya tak kunjung reda, pilot turun tangan. ”Menurut undang-undang, legislatif dan eksekutif setara, Pak,” kata Panda menirukan pilot.

Sepanjang satu setengah jam, humor segar mengalir tak putus-putus. ”Suasananya hangat sekali,” kata Syarief Hassan, pekan lalu. Usai makan malam, Taufiq Kiemas menawarkan kopi lampung kepada Hadi dan Syarief. ”Saya, yang sebetulnya tidak pernah ngopi, akhirnya minum juga,” kata Syarief.

Setelah makan malam, pertemuan bergulir ke agenda utama. Taufiq Kiemas, mengatasnamakan keluarga besar Megawati, mengucapkan selamat atas kemenangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Partai Demokrat dalam pemilu lalu. ”Setelah selesai berkompetisi, ya sekarang memang saatnya semua kembali bersatu,” kata Taufiq kepada Tempo pekan lalu.

Dua pekan sebelumnya, isyarat kemesraan Banteng dan Istana sebenarnya sudah mulai tercium. Setelah membacakan nota pengantar Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2010 dalam Rapat Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat, Presiden Yudhoyono mendatangi kursi Taufiq Kiemas, yang duduk di deretan terdepan. Sambil tersenyum lebar, mereka berangkulan dan saling menempelkan pipi. Taufiq memuji pidato Yudhoyono itu sebagai sikap pemimpin yang pro-rakyat.

***

TEUKU Umar, menjelang hari pencontrengan pemilihan umum, April lalu. Hasil survei terakhir dari Lingkaran Survei Indonesia—lembaga konsultan politik yang disewa PDIP—menggelisahkan para elite partai Banteng. Lingkaran saat itu memprediksi Demokrat akan menang; di tempat kedua, Golkar dan PDIP bersaing ketat. ”Kalau saja PDIP bisa nomor satu, pertarungan antara SBY dan Mega bakal seru,” kata sumber Tempo di kubu Banteng. ”Tapi, kalau hanya nomor tiga, peluangnya sulit.”

Hasil survei itu kemudian terbukti. PDIP hanya mendapat 14,5 persen suara, terpaut 5 persen dari Partai Demokrat, sang pemenang. Sejumlah petinggi partai lalu mulai berpikir bagaimana menyelamatkan biduk PDIP setelah pemilihan legislatif. ”Kalau modal hanya 14,5 persen, sulit mendapatkan dana dan dukungan supaya menang dalam pemilihan presiden,” kata seorang tokoh senior PDIP.

Dua langkah besar lalu cepat-cepat digodok: merapat ke Demokrat dan membatalkan pencalonan Megawati. Agar pendekatan ke Demokrat lebih mulus, PDIP menawarkan konsesi: Megawati tidak akan maju ke pemilihan presiden. Kalaupun Banteng tetap bertarung, nama Puan Maharani yang akan disorongkan sebagai calon wakil presiden, mendampingi figur lain.

Beberapa orang di kubu Banteng menyebut otak di balik gerilya politik ini adalah Denny Januar Aly, konsultan politik yang juga pemilik Lingkaran Survei Indonesia. Denny sendiri saat dihubungi Tempo menolak berkomentar. ”Ada hal-hal yang tak bisa saya sampaikan. Saya punya etika sebagai konsultan,” katanya.

Setelah strategi itu disepakati, kontak dengan Demokrat mulai dilakukan. Ujung-ujungnya, Yudhoyono mengutus Menteri-Sekretaris Negara Hatta Radjasa untuk menemui Megawati di Teuku Umar, awal Mei lalu. Peluang berkoalisi pun terbuka lebar. Saat itulah santer beredar kabar: SBY akan segera bertemu empat mata dengan Megawati.

Namun upaya menjodohkan kedua partai ini layu sebelum berkembang. ”Ada faksi yang menentang dan mereka kuat sekali,” kata sumber Tempo di Dewan Pengurus Pusat PDIP. Seorang petinggi partai lain mengakui sempat ada perpecahan. ”Waktu itu, masih ada yang mau coba-coba mendorong Megawati untuk maju,” katanya pekan lalu. Sejumlah orang dalam menunjuk Taufiq Kiemas sebagai motor paling gigih dalam usaha mendekati Demokrat. Kala itu, ia berhadap-hadapan dengan istrinya sendiri. ”Posisi Bu Mega tidak salah, dia konsisten menjalankan amanat Kongres Partai,” kata satu anggota DPR dari Fraksi PDIP.

Karena mentok, para penggagas duet PDIP-Demokrat lalu menawarkan skenario baru: kedua partai boleh maju sendiri-sendiri dalam pemilihan presiden, tapi setelah itu keduanya harus saling merangkul. ”Kalau Demokrat yang menang, orang PDIP harus diajak. Begitu juga sebaliknya,” kata sumber Tempo.

Belakangan, insting politik Taufiq Kiemas terbukti benar. Megawati kalah telak. Seperti mendapat angin, kubu Banteng pro-Cikeas kembali membuka jalan. Pada saat yang sama, ada momen tepat: pembahasan Rancangan Undang-Undang Susunan dan Kedudukan DPR, Dewan Perwakilan Daerah, dan Majelis Permusyawaratan Rakyat.

”Sejak awal kami ingin agar RUU Susunan Kedudukan mengatur agar pembagian kursi pemimpin Dewan dibagi secara proporsional murni, berdasarkan urutan pemenang pemilihan umum,” kata Syarief Hassan, Ketua Fraksi Demokrat di DPR. Semula tak semua fraksi setuju. Malah sempat ada usul agar model pemilihan pemimpin DPR dilakukan secara paket, seperti lima tahun lalu. Kalau model itu yang dipilih, pertarungan keras ala Koalisi Kebangsaan vs Koalisi Kerakyatan pada masa-masa awal parlemen bersidang pada 2004 bisa terulang. ”Kami tidak mau begitu,” kata Syarief.

Lobi-lobi pun dilakukan, sampai akhirnya kesepakatan tercapai. Usulan Demokrat disetujui dua partai utama lain di parlemen: PDIP dan Golkar. Ini artinya kursi Demokrat sebagai Ketua DPR bakal aman.

Seiring dengan proses lobi itu hubungan Demokrat dan PDIP jadi makin cair. ”Saya akhirnya ditelepon Mas Pramono Anung, yang menawarkan kapan Ketua Umum Demokrat bisa bertemu Ibu Mega,” kata Syarief. Babak berikutnya sudah diketahui banyak orang: Hadi Utomo datang ke Teuku Umar.

***

SEJAK awal Juli lalu, usai pemilihan presiden, tim khusus PDIP yang terdiri dari Puan Maharani, Pramono Anung, dan Tjahjo Kumolo sudah bolak-balik bertemu Yudhoyono. ”Kalau tidak salah sudah tiga kali. Satu pertemuan di Cikeas, dua lagi di tempat lain di Jakarta,” kata satu petinggi Banteng, pekan lalu.

Dari serangkaian pertemuan itu, beredar kabar bahwa PDIP mendapat tawaran tiga kursi menteri: Menteri Komunikasi dan Informatika untuk Puan Maharani, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral untuk Pramono Anung, dan Menteri Koperasi/Usaha Kecil dan Menengah untuk Tjahjo Kumolo.

Sumber Tempo di PDIP menegaskan alokasi jatah menteri untuk tiga kader papan atas itu adalah hal yang wajar saja. ”Mereka representasi partai. Kalau yang masuk kabinet di luar tiga nama itu, justru massa PDIP di akar rumput bisa bertanya-tanya,” katanya.

Sayangnya, tak ada satu pihak pun yang bisa memastikan kabar tawaran tiga menteri SBY itu sahih atau isapan jempol semata. ”Kami belum bicara tentang menteri,” kata Sekjen PDIP Pramono Anung, salah satu pemimpin partai yang terlibat langsung berunding dengan Yudhoyono. ”Sistem kita adalah presidensial, jadi serahkan sepenuhnya kepada Presiden,” katanya.

Menurut Pramono, partainya baru menyodorkan nama Taufiq Kiemas sebagai Ketua MPR. Keputusan soal berkoalisi dengan Demokrat atau tidak baru akan diambil Ketua Umum PDIP bulan ini.

Suara para petinggi Partai Demokrat pun senada. Sekjen Partai Demokrat Marzuki Alie mengaku tidak tahu-menahu ada pembicaraan dengan PDIP tentang kursi kabinet. ”Itu hak prerogatif Presiden,” katanya. Yang jelas, Demokrat saat ini dalam posisi menunggu. ”Kami tidak mau dikesankan haus kekuasaan, mau merangkul semua partai ke dalam koalisi,” kata Marzuki. ”Tapi kami juga tidak mau dituding jual mahal, mentang-mentang menang lalu menampik pihak yang ingin bersama-sama.”

Menteri-Sekretaris Negara Hatta Radjasa, yang disebut-sebut menyampaikan tawaran tiga kursi menteri ini, juga membantah. ”Mana mungkin saya menawarkan kursi menteri? Itu melampaui kewenangan Presiden sebagai pemegang hak prerogatif,” katanya akhir pekan lalu. Dia menjamin kedatangannya ke Teuku Umar tidak membicarakan politik dagang sapi. ”Saya tidak dalam kapasitas bicara tentang kabinet.”

Ditemui akhir pekan lalu, Taufiq Kiemas menolak jika peluang masuk kabinet disebut sebagai alasan utama merapatnya PDIP ke Istana. ”Ini soal kebangsaan, soal mengamankan Pancasila,” katanya serius. Meski begitu, dia tak membantah ada kalkulasi dan strategi politik di balik langkah kuda PDIP ini. Ia lalu berseloroh, ”Kami sudah pernah berkuasa, kalah. Sudah pernah oposisi, kalah juga. Koalisi kan belum pernah….”

Wahyu Dhyatmika, Munawwaroh, Akbar Tri Kurniawan – TEMPO (31 Agustus 2009)

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Kepergian Mar'ie Muhammad kehilangan bagi Indonesia
      Wakil Presiden, Jusuf Kalla, menyebut almarhum mantan Menteri Keuangan, Mar'ie Muhammad, sebagai sosok yang bersih dan jujur semasa menjabat. "Kita kehilangan sosok yang dahulu pada saat menjabat sebagai menteri keuangan ...
    • Hampir semua korban bom Istanbul adalah polisi
      Dua bom meledak di luar stadion sepakbola di Istanbul, Turki, pada Sabtu malam waktu setempat, menyebabkan 29 orang tewas, yang terdiri atas 27 polisi dan dua warga sipil.Menteri Dalam Negeri Suleyman Soylu mengatakan ledakan ...
    • Sejumlah tokoh melayat ke kediaman Mar'ie Muhammad
      Sejumlah tokoh mendatangi kediaman almarhum mantan Menteri Keuangan, Mar'ie Muhammad, di Jalan Taman Brawijaya III Nomor 139, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu. Di antara mereka adalah Wakil Presiden, Jusuf Kalla dan ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: