Mengapa Syekh Puji Bebas?

Pujiono Cahyo Widianto alias Syekh Puji, 43 tahun, bisa bernapas lega, setidaknya untuk sementara waktu. Pada putusan sela di Pengadilan Negeri Semarang, Selasa pekan lalu, majelis hakim membebaskannya dari segala dakwaan. Karena itu, lelaki yang sehari-hari mengenakan jubah putih dan berkalung tasbih itu dinyatakan bebas demi hukum.

Majelis hakim yang terdiri dari Hari Mulyanto, Salman Alfaris, dan Aris Gunawan berpendapat bahwa dakwaan yang dibuat jaksa penuntut umum lemah. Maka, hakim memerintahkan agar terdakwa dibebaskan dari tahanan begitu sidang ditutup. Bebasnya Syekh Puji itu tertuang dalam putusan sela Nomor 233/Pid.B/2009/PN.Ungaran.

Pujiono adalah pendiri Pondok Pesantren Miftahul Jannah, sekaligus pemilik PT Sinar Lendoh Terang, yang bergerak dalam bidang penjualan kaligrafi. Ia dihadirkan dalam persidangan sebagai tersangka dalam perkara pernikahan di bawah umur. Ia didakwa melanggar Pasal 88 Undang-Undang (UU) Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, yaitu mengenai perbuatan cabul dengan seseorang yang umurnya belum cukup atau belum masanya dinikahi.

Selain itu, ia dijerat pula dengan Pasal 81 ayat (2) KUHP jo Pasal 55 ayat (1) KUHP, yakni melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan atau membujuk anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain dan atau mengeksploitasi ekonomi anak dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain. Pasal-pasal yang didakwakan kepada Syekh Puji memuat ancaman hukuman paling singkat tiga tahun penjara, paling lama 15 tahun, dan denda paling sedikit Rp 50 juta.

Lelaki nyentrik itu didakwa melanggar hukum setelah menikahi secara siri Lutviana Ulfa, 12 tahun, sebagai istri kedua, Agustus tahun lalu. Sebelumnya, Pujiono telah menikah dengan Umi Hani, 26 tahun, yang usianya 17 tahun lebih muda darinya. Sebelum statusnya resmi sebagai tersangka, Syekh Puji sempat sesumbar akan menikahi anak berusia sembilan tahun dan tujuh tahun.

Perkara ini terus-menerus menjadi konsumsi media massa karena kepolisian beberapa kali memanggil lelaki itu tapi tak juga dijadikan tersangka. Setelah beberapa kali dipanggil sebagai saksi, Pujiono akhirnya resmi dijadikan sebagai tersangka. Ia sempat menjadi tahanan Kepolisian Kota Besar (Poltabes) Semarang, 18 Maret lalu, sebelum akhirnya dibebaskan 13 hari kemudian setelah permohonan penangguhan penahanannya dikabulkan.

Syekh Puji kembali ditangkap aparat Poltabes Semarang, 14 Juli lalu, karena dianggap tidak memenuhi ketentuan wajib lapor. Penjemputan paksa yang dipimpin Kepala Satuan Reserse Kriminal, Ajun Komisaris Besar Roy Hardi Siahaan, pada saat itu mendapat perlawanan dari ratusan santri yang ada di Pondok Pesantren Miftahul Jannah.

Akibat peristiwa tersebut, satu unit mobil polisi rusak, kacanya pecah. Polisi akhirnya menyeret paksa Syekh Puji untuk menjalani pemeriksaan lanjutan. Polisi menangkap pula dua pengawal Syekh Puji yang diduga sebagai pelaku perusakan. Selain Pujiono, mertuanya, Suroso, juga ditetapkan sebagai tersangka.

Dalam persidangan lalu, majelis hakim berpendapat bahwa dakwaan jaksa penuntut umum tidak memenuhi ketentuan pasal-pasal yang ada dalam KUHP. Surat dakwaan yang pada prinsipnya mengenai persetubuhan akhirnya dibatalkan karena diniali kurang cermat, tidak jelas, dan tidak lengkap.

Ketua Majelis Hakim Hari Mulyanto mengatakan, lemahnya dakwaan itu terjadi karena surat dakwaan tidak menyebutkan secara jelas mengenai keadaan, cara, dan posisi terdakwa melakukan persetubuhan terhadap korban. Dakwaan jaksa bahwa persetubuhan dilakukan lebih dari sekali juga tidak diuraikan secara rinci waktunya. ”Seharusnya dijelaskan secara detail kapan dan di mana secara spesifik,” katanya.

Usai persidangan itu, Pujiono langsung menikmati udara bebas. Namun ia sulit ditemui. Panggilan telepon dan pesan singkat (SMS) yang diluncurkan Gatra ke telepon selulernya tidak berbalas. Rumahnya di kompleks Pesantren Miftahul Jannah tampak tertutup dan sepi.

Ketua tim jaksa penuntut umum dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Tengah, Suningsih, mengaku heran atas keputusan hakim itu. Menurut dia, dakwaan dalam hal seperti itu tidak harus detail dan vulgar. Yang penting, bisa mengungkapkan perbuatan pidananya. Hasil visum yang ditunjukkan di persidangan memperlihatkan adanya robekan pada kemaluan korban. Namun hakim tidak mempertimbangkannya. Suningsih mengingatkan bahwa persidangan itu dalam konteks perlindungan anak, bukan pornografi.

Atas putusan itu, Kejati Jawa Tengah akan melakukan verset atau perlawanan terhadap putusan sela majelis hakim Pengadilan Negeri Semarang. Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah, Salman Maryadi, mengungkapkan bahwa jajaran kejaksaan akan berupaya semaksimal mungkin agar Syekh Puji mendapat hukuman setimpal. Setelah verset itu, diharapkan pengadilan menerimanya dan kembali menyidangkan kasus tersebut.

Bebasnya Syekh Puji itu memicu kekecewaan para aktivis pembela perempuan dan anak. Aktivis Jaringan Peduli Perempuan dan Anak (JPPA) Jawa Tengah, Nunik Jumoenita, menilai dakwaan jaksa sesungguhnya telah memenuhi aspek materiil dan substansi hukum. ”Majelis hakim sangat subjektif,” katanya dengan nada keras.

Dalam dakwaan telah dijelaskan bahwa persetubuhan itu bertempat di Pondok Pesantren Miftahul Jannah dan waktunya setelah pernikahan. Detail persetubuhan itu sulit diungkapkan karena baik terdakwa maupun korban sama-sama menolak memberi keterangan soal itu. Soal posisi persetubuhan itu pun tidak penting, karena bukti-bukti yang menjadi temuan penyidik dan kejaksaan sebenarnya sudah cukup. ”Visum juga menunjukkan ada sperma yang cocok dengan milik Pujianto. Itu sudah lebih dari cukup,” ujarnya.

Dalam kasus ini, analoginya adalah pemerkosaan yang korbannya meninggal. Nunik menyatakan bahwa putusan sela hakim itu bisa menjadi preseden buruk bagi upaya perlindungan anak. Sebab peristiwa seperti ini sebetulnya pernah terjadi di mana-mana dan cenderung dibiarkan. Untuk itu, koalisi LSM yang tergabung dalam JPPA mengagendakan eksaminasi putusan sela tersebut.

Ketika dihubungi Gatra, Ketua Majelis Hakim Hari Mulyanto menolak memberikan pernyataan. ”Tak ada komentar dulu. Makanya, sejak dilimpahkan ke PN, handphone saya matikan,” kata dia, sambil merogoh saku dan menunjukkan telepon selulernya yang dalam keadaan mati. Alih-alih terbuka mengenai fakta-fakta, ia malah mengaku menyiapkan skema lain untuk melawan jaksa. ”Kami sudah ada strategi,” katanya tanpa merinci lebih lanjut.

Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) menengarai, ada yang tidak beres dalam putusan tersebut. Karena itu, lembaga yang dipimpin Seto Mulyadi ini mengadukan tiga hakim yang memutus bebas Syekh Puji itu ke Komisi Yudisial (KY). “Kami hari ini menulis surat ke KY untuk melakukan penyelidikan terhadap hakim bersangkutan,” ujar Seto Mulyadi. Pria yang akrab disapa Kak Seto ini juga berharap, kejaksaan terus berupaya mencari keadilan dan tidak diam saja melihat putusan itu.

Mujib Rahman dan Arif Koes Hernawan
[HukumGatra Nomor 50 Beredar Kamis, 15 Oktober 2009]

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Kepergian Mar'ie Muhammad kehilangan bagi Indonesia
      Wakil Presiden, Jusuf Kalla, menyebut almarhum mantan Menteri Keuangan, Mar'ie Muhammad, sebagai sosok yang bersih dan jujur semasa menjabat. "Kita kehilangan sosok yang dahulu pada saat menjabat sebagai menteri keuangan ...
    • Hampir semua korban bom Istanbul adalah polisi
      Dua bom meledak di luar stadion sepakbola di Istanbul, Turki, pada Sabtu malam waktu setempat, menyebabkan 29 orang tewas, yang terdiri atas 27 polisi dan dua warga sipil.Menteri Dalam Negeri Suleyman Soylu mengatakan ledakan ...
    • Sejumlah tokoh melayat ke kediaman Mar'ie Muhammad
      Sejumlah tokoh mendatangi kediaman almarhum mantan Menteri Keuangan, Mar'ie Muhammad, di Jalan Taman Brawijaya III Nomor 139, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu. Di antara mereka adalah Wakil Presiden, Jusuf Kalla dan ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: