Si Cungek dari Jalan Karet

Sukses gara-gara jualan kupon berhadiah. Pernah dianggap ”naga” baru di Surabaya.

Rumah tua itu hampir tak punya halaman. Pagar depannya hanya 30 sentimeter dari badan jalan, membuat pintu besi selebar dua meter tak bisa dibuka lebar. Debu dan lumut menutupi pagar putih yang warnanya mulai suram kecokelatan.

Itu rumah keluarga Widjojo. Anggodo, Anggoro, Anggono—pengusaha kakak-adik yang terlibat kasus PT Masaro Radiokom dan dua saudara mereka yang lain—lahir dan besar di sini. Ayah mereka Ang Kwe Hwa salah satu orang terkaya di daerah itu. Ia berdagang pelat besi.

Dulu ini kawasan elite. Letaknya hanya tiga ratusan meter dari Tugu Pahlawan, pusat Kota Surabaya. Kiri, kanan, dan belakang rumah di Jalan Karet 12, Bongkaran, ini dipadati rumah toko, semuanya berarsitektur kolonial Belanda. Di depannya, seberang jalan, mengalir Kali Mas, yang pernah menjadi jalur utama transportasi perdagangan Kota Pahlawan.

”Nyari rumah Cungek, ya?” tanya Tjandra Halim, 65 tahun, saat Tempo mengunjungi rumah tua itu pekan lalu. Cungek adalah nama alias Anggodo, 53 tahun, di kampung itu—dipelesetkan dari nama Cinanya, Ang Tjoe Niek. Meski jauh lebih tua, Tjandra mengaku teman main masa kecil Anggodo. Keluarganya tinggal tepat di belakang rumah Anggodo.

Sejak hasil sadap pembicaraan telepon Anggodo dengan beberapa orang untuk mengatur pemidanaan pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi nonaktif Bibit Samad Rianto dan Chandra M. Hamzah disiarkan dalam sidang Mahkamah Konstitusi, banyak orang datang hanya untuk melihat rumah itu. ”Padahal dalam sepuluh tahun terakhir Anggodo enggak di sini lagi,” kata Tjandra.

Meski kaya, menurut Tjandra, keluarga Anggodo tak begitu populer. Anggodo—juga saudara-saudaranya—tidak menonjol. ”Dia malah sering jadi bulan-bulanan teman mainnya,” kata Naksabandi, 62 tahun, tetangga Anggodo yang lain. Kalau sudah begitu, dia biasa dibantu Anggoro, kakaknya. Sang kakak belakangan pernah tak mau main dengan anak-anak di sana gara-gara mereka kerap mengganggu adiknya.

Maka teman-teman kecilnya sangat heran manakala pada 1980-an Anggodo tiba-tiba mencuat sebagai salah satu orang kaya di Surabaya. Entah bagaimana caranya, dia dipercaya Rudy Sumampouw alias Roby Kethek—pengusaha bisnis Porkas yang kemudian menjadi Sumbangan Dana Sosial Berhadiah atawa SDSB—untuk menjadi agen. ”Meski waktu kecil sering dikerjain, Cungek banyak temannya,” kata Naksabandi. ”Ini membuat bisnisnya maju pesat. Sampai tukang becak pun dia suruh jualan kupon.”

Seorang tokoh Tionghoa Surabaya yang tak mau disebut namanya bercerita, Anggodo malah akhirnya lebih sukses daripada Rudy, sehingga dianggap sebagai ”naga” baru—orang yang menjadi kiblat para pengusaha Tionghoa—di Surabaya. Sejak itu pula dia mulai menjalin hubungan dengan polisi serta jaksa di Surabaya.

”Dia ndak pernah pilih teman, dari yang pangkatnya paling kecil dia gumbuli dan dijadikan teman,” cerita sumber itu. Anggodo sering terlihat ”menjamu” para perwira polisi di hotel, tempat mewah, termasuk Studio East—lokasi hiburan miliknya di belakang Gedung Negara Grahadi, Simpang Dukuh. ”Ndak heran sekarang dia kenal banyak pejabat di Jakarta yang dulu tugas di sini,” katanya.

Dari SDSB dan tempat hiburan, Anggodo merambah bisnis kayu. Dia menjadi rekanan Perum Perhutani, dan melalui PT Sapta Wahana Mulia yang berkantor di rumahnya di Bongkaran, dia mengekspor lantai kayu jati. Ketika itu akhir 1980-an. Pada masa inilah dia mengenal Ary Muladi, tokoh lain dalam sengkarut cicak versus buaya, yang juga rekanan Perhutani.

Bagi Ary, Anggodo teman yang sangat baik dan penuh perhatian. ”Dia sering membawakan saya mi kesukaan saya,” cerita Ary kepada Tempo.

Pada periode ini pula Anggodo bertemu Wisnu Subroto, mantan Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen. Wisnu, yang namanya mencuat lantaran menangani kasus Marsinah, kala itu bertugas di Kejaksaan Negeri Surabaya. Kepada pers Wisnu mengaku kenal dengan pengusaha itu karena sering membeli lantai jati di perusahaan Anggodo. Menariknya, mantan Wakil Jaksa Agung Abdul Hakim Ritonga ternyata juga pernah bertugas di Surabaya pada 1987. Demikian pula mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komisaris Jenderal Susno Duadji. Pada 1999-2001 Susno adalah wakil kepala kepolisian kota besar di sana.

Mungkin karena dekat dengan banyak pejabat polisi dan kejaksaan, Anggodo pun mulai berperan sebagai makelar kasus di kepolisian dan kejaksaan Surabaya. ”Tapi dia cuma menangani kasus besar,” cerita sumber Tempo yang lain. Menurut dia, Anggodo sering proaktif menawarkan diri untuk ”menyelesaikan” kasus hukum pengusaha kaya di Surabaya. ”Kenalan saya yang tinggal di Jalan Ambengan pernah dimintai hingga miliaran rupiah.”

Tapi pemasukan terbesar Anggodo tetap dari kupon. Maka, ketika pemerintah mengharamkan bisnis SDSB pada pertengahan 1993, bisnis Anggodo perlahan susut. Kompleks pertokoan sekaligus Studio East dia jual. ”Dia lalu lebih berfokus ke bisnis perkara,” cerita sumber.

Sejak itu dia jarang terlihat di Surabaya. ”Sekitar sepuluh tahun terakhir, Cungek pindah ke Jakarta,” kata Tjandra, tetangganya di Jalan Karet. Sesekali dia masih datang, bagi-bagi uang, lalu pergi lagi. Menurut Anas Fasich, Ketua RT di situ, nama Anggodo tak lagi masuk kartu keluarga di rumah itu. ”Tapi saya masih sering melihat dia,” katanya. ”Terakhir bulan lalu.”

Konon Anggodo hengkang ke Jakarta, bergabung dengan kakaknya, Anggoro, dan adiknya, Anggono, yang telah sukses dengan perusahaan mereka, PT Masaro Radiokom. Sumber Tempo di Apartemen Semanggi bercerita, kakak-adik itu pernah tinggal di sana bersama-sama. Mobil mereka: Rolls-Royce, Mercedes-Benz, Lexus, semua dicat putih dan menggunakan pelat nomor yang diawali dengan ”B-5”.

Tapi Anggodo tak terlibat di Masaro. Di Jakarta, menurut sumber, dia kembali menjadi makelar kasus. Melalui para pejabat hukum kenalannya dari Surabaya, Anggodo masuk ke lorong-lorong kepolisian dan kejaksaan. Seorang kepala kejaksaan tinggi di luar Jawa, misalnya, bercerita Anggodo sering berkunjung ke Kejaksaan Agung. ”Banyak kok pejabat di kejaksaan yang kenal dia,” katanya.

Sayang, Anggodo tak dapat ditemui untuk dimintai konfirmasi. Pengacaranya, Bonaran Situmeang, menjanjikan wawancara khusus dengan Tempo, tapi gagal karena kliennya terus diperiksa di Markas Besar Kepolisian. ”Nantilah, nanti…. Pasti saya kasih kesempatan,” kata Bonaran, ketika terakhir kali dihubungi, Jumat pekan lalu.

Philipus Parera, Wahyu Dyatmika, Ninin Damayanti, Rohman Taufiq (Surabaya) – TEMPO ( 9 November 2009)

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Sering terbang? Ini alasan kulit harus dirawat ekstra
      Menghabiskan waktu berjam-jam di dalam pesawat terbang bisa jadi berita buruk bagi kulit Anda. Kelembaban rendah dan terpaan pendingin udara membuat kulit jadi kering.Dr. Radityo Anugrah yang memiliki spesialisi di bidang kulit ...
    • Yogyakarta kukuhkan Satgas Saber Pungli
      Kota Yogyakarta kini memiliki Satuan Tugas Sapu Bersih Pungutan Liar setelah dikukuhkan secara resmi oleh Pelaksana Tugas Wali Kota Yogyakarta Sulistiyo, Selasa. "Kami akan segera melakukan koordinasi internal untuk ...
    • Pemerintah keluarkan harga patokan ayam
      Kementerian Pertanian mengeluarkan harga patokan ayam ras pedaging melalui Peraturan Menteri Pertanian Nomor 26/2016 tentang Penyediaan, Peredaran dan Pengawasan Ayam Ras.Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, menandatangani revisi ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: