Kesepakatan Copenhagen Melibas Protokol Kyoto

Hari pertama Konferensi Perubahan Iklim ke-15 membuahkan Kesepakatan Copenhagen yang kontroversial. Kesepakatan ini hanya melindungi kepentingan negara maju, terutama Amerika Serikat dan Uni Eropa, untuk menghindar dari tanggung jawab mereka mengurangi emisi karbon dan menanggulangi dampak perubahan iklim.

Negara-negara berkembang dan miskin meminta komitmen negara maju untuk –secara keseluruhan– memangkas 45% emisinya di bawah emisi tahun 1990 pada 2020. Namun, sejauh ini, negara-negara maju mengajukan target 16%-23%. Akibatnya, negosiasi yang dimulai pada 2006 dalam payung Kelompok Kerja Adhoc tentang komitmen lanjutan pihak Annex I Protokol Kyoto (AWG-KP) itu berlarut-larut.

Sebagai terobosan, dalam pertemuan COP ke-13 di Bali pada 2007, diupayakan satu jalur negosiasi lain yang dikenal dengan nama Bali Roadmap. Dalam kesepakatan ini, diatur adanya komitme, setelah berakhirnya Protokol Kyoto, dana adaptasi, alih teknologi, dan pengurangan emisi akibat penggundulan hutan di negara berkembang. Untuk itu, dibentuklah Kelompok Kerja Adhoc mengenai Aksi Kerja Sama Jangka Panjang (AWG-LCA).

Kelompok kerja itu bertujuan mencapai kesepakatan baru untuk menetapkan seberapa banyak negara-negara di dunia harus mengurangi emisi karbon mereka, bagaimana caranya, dan kapan harus dilakukan. Targetnya diserahkan kepada tiap-tiap negara. Kesepakatan itu harus bisa dicapai pada 2009 ini juga. Karena itu, sejak semula, pertemuan di Copenhagen diharapkan bisa menghasilkan kesepakatan ini.

Masalahnya, bagi negara Uni Eropa, keharusan menghasilkan komitmen tunggal pengurangan emisi itu diartikan sebagai pengakhiran Protokol Kyoto setelah 2012. Padahal, baik jalur negosiasi AWG-KP maupun AWG LCA justru sama-sama bertujuan memperkuat pelaksanaan Protokol Kyoto.

Niat negara-negara maju mengakhiri Protokol Kyoto pada mulanya dianggap sebagai upaya memaksa negara-negara berkembang dengan emisi besar, seperti Cina, India, Brasil, dan Afrika Selatan, untuk sama-sama berkomitmen mengurangi emisi karbon mereka serta menghapus perbedaan antara negara-negara Annex I dan non-Annex I.

Di sisi lain, niat negara maju menghapus Protokol Kyoto itu dicurigai para aktivis lingkungan sebagai upaya negara maju menurunkan komitmen mereka atau malah menghindar sepenuhnya dari komitmen pengurangan emisi yang mengikat secara internasional. Pertemuan pendahuluan sebelum Copenhagen, yaitu pertemuan di Barcelona dan Bangkok, menegaskan sinyal itu. Negara-negara maju tetap enggan menetapkan target pengurangan emisi karbon mereka.

Sejauh ini, negara-negara tersebut, plus beberapa negara berkembang, masih berbicara dalam tahap komitmen, bukan aksi. Cina, misalnya, menyatakan bersedia menurunkan emisi karbonnya per unit GDP sebesar 40%-45% pada 2020 dibandingkan dengan level tahun 2005. “Ini aksi sukarela Pemerintah Cina berdasarkan kondisi nasional, dan ini adalah kontribusi utama Cina bagi upaya global menghadapi perubahan iklim,” kata Perdana Menteri Cina, Wen Jiabao.

Walaupun niat mengurangi emisi itu tidak dalam skala nasional, menurut Yang Ailun, Manager Kampanye Greenpeace Cina, langkah Pemerintah Cina tersebut cukup positif. “Tetapi, kami pikir, Cina bisa berbuat lebih dari itu,” kata Yang, seperti dikutip AFP. Hal serupa ditunjukkan Amerika Serikat. Negara adidaya ini berjanji mengumumkan target pengurangan emisinya sebelum pertemuan Copenhagen dimulai.

Konferensi Copenhagen tidak akan menghasilkan kesepakatan yang adil bagi semua negara.

M. Agung Riyadi
[Laporan UtamaGatra Nomor 5 Beredar Kamis, 10 Desember 2009]

3 Comments

  1. Anda tinggal ketik protokol kopenhagen atau protokol kyoto di Google, pasti banyak info yg akan anda dapatkan…

  2. saya mahasiswa S-2 di Universitas Negeri di Provinsi Aceh
    saya berencana ingin mengupas tentang pemanasan global sebagai dampak kerusakan lahan dan hutan..
    saya membutuhkan data dan informasi tentang poin-poin yg terdapat di protokol kopenhagen dan protokol kyoto…serta apa yg membedakan kedua piagam tersebut…mohon dapat disampaikan ke alamat email saya.

    mohon bantuannya…terima kasih

  3. saya salah satu mahasiswa HI, saya sgt tertarik dg nasalah protokol kyoto… saya berencana mengangkat protokol kyoto khusunya setalh kopenhagen 2009
    sya btuh info2, data2 tentang protokol kyoto dan konferensi kopenhagen 2009, sdt yang berhubungan… saya in\gin mengangkatnya dalam UP dan skripsi…
    apalagi melihat sikap AS yg kokoh untuk tetap tidak meratifikasinya

    sudinya anda membantu saya ucapkan terima kasih… balas saja di emaiol saya


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Aparat gabungan sita bambu runcing dan bom molotov di Kediri
      Aparat gabungan dari Kepolisian Resor Kediri Kota dan TNI merazia kawasan bekas lokalisasi Semampir di Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur, dan menyita sejumlah barang seperti bambu runcing serta bom molotov."Kami sudah ...
    • Persipura tanpa Bio dan Ricardinho hadapi Gresik United
      Tim Persipura Jayapura tanpa Bio Paulin Pierre dan Ricardinho da Silva saat melawan tuan rumah Gresik United dalam laga lanjutan Torabika Soccer Championship (TSC) 2016 di stadion Petrokimia Gresik, Jawa Timur, Minggu (11/12). ...
    • Pencarian korban pesawat Polri libatkan 19 kapal
      Polri mengerahkan 19 kapal dan tiga pesawat untuk mencari korban pesawat Polri M-28 Sky Truck yang jatuh pada Sabtu (3/12) di perairan Kabupaten Lingga, Kepri. "Sembilan belas kapal dan tiga unsur udara dikerahkan pada ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Unknown Feed

    • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: