Setelah Gong Perdamaian Berdentang

Hari itu, Selasa, 19 Januari 1999. Masih dalam suasana Idul Fitri, di hari kedua Lebaran itu, suasana kota Ambon tiba-tiba berubah mencekam. Para pemuda dari Desa Mardika dan Desa Batu Merah terlibat perkelahian massal. Dengan penuh kebencian, mereka baku hantam. Tak ada yang menyangka, bentrokan massal yang dipicu pertikaian seorang sopir angkot dari Desa Mardika dengan seorang pemuda dari Desa Batu Merah itu meluas dan berbuntut panjang.

Peristiwa yang kemudian menyeret-nyeret isu agama itu menyebabkan ratusan ribu orang terpaksa mengungsi. Lebih dari 5.000 orang tewas dalam konflik berkepanjangan selama dua tahun. Entah berapa ribu rumah warga yang hangus terbakar dan rusak.

Selama itu, dendam dan amarah membuat warga seakan lupa pada kearifan lokal pela gandong, yang telah berabad-abad mengikat mereka dalam tali persaudaraan yang erat. Rasa takut dan cemas terus menghantui warga hingga beberapa tahun setelah peristiwa itu. Suasana panas pun mulai mereda sejak kedua pihak berdamai lewat Deklarasi Malino II pada 12 Februari 2002, yang difasilitasi pemerintah pusat. “Sekarang Ambon sudah tenang dan aman,” ujar Helma Alkatiri, seorang warga setempat.

Masih terbayang di pelupuk mata ibu satu anak itu peristiwa yang dialaminya 11 tahun silam tersebut. Ketika itu, Helma tengah bersilaturahmi ke kediaman tetangganya. Tiba-tiba, teleponnya berdering. Seorang kerabatnya mengabarkan, telah terjadi kerusuhan massal di kawasan Terminal Mardika dan Batu Merah. “Saya langsung gemetar mendengarnya,” ungkap perempuan kelahiran Ambon, 26 April 1960, ini.

Betapa tidak. Lokasi kerusuhan itu hanya berjarak sekitar lima kilometer dari rumahnya di belakang Jalan A.Y. Patty, di pusat kota. Kerusuhan dengan cepat menjalar ke seluruh pelosok kota. Pada hari itu juga, Helma beserta keluarganya memutuskan mengungsi ke rumah seorang kerabatnya, lalu ke Masjid Raya Al-Fatah. “Saya hanya membawa yang penting saja, seperti pakaian dan ijazah,” katanya mengenang.

Pengalaman Mengungsi Berkali-kali
Helma masih ingat, ketika menuju Masjid Al-Fatah, ia harus melewati pecahan kaca dan serpihan batu yang bertebaran. Masjid terbesar di Ambon itu berlokasi di Jalan Sultan Baabullah. Di sana, ia hidup bersesak-sesak dengan ribuan pengungsi lainnya. Pakaian yang ia kenakan pun seadanya. “Asal selamat, sudah lebih bagus,” tuturnya.

Karena keadaan yang tak kondusif, ia kembali pindah ke rumah seorang familinya. Dua pekan di sana, ia kemudian memutuskan mengungsi sementara ke rumah famili lainnya di Surabaya, Jawa Timur. Di “kota buaya” ini pun ia tak lama tinggal, hanya sekitar dua pekan, lalu kembali ke Ambon. “Bagaimanapun, Ambon tetap tanah kelahiran beta,” katanya. Sekarang Helma memilih tinggal di rumahnya di kawasan Air Kuning.

Seperti dituturkan Helma, suasana Ambon kini memang relatif pulih seperti sediakala. Kota itu pun sekarang mulai mempercantik diri lagi. Lihat saja kawasan jantung kota, seperti di Jalan A.Y. Patty.

Atmosfer di kawasan ini sudah banyak berubah. Hingga 2004, masih tampak banyak bangunan yang rusak akibat konflik. Warna hitam-legam bangunan yang dilalap api mendominasi pemandangan di kawasan tersebut. Suasana semakin terkesan kumuh karena banyak pula bangunan di kawasan itu yang digunakan sebagai tempat pengungsian. Gantungan baju bergelayutan di jendela-jendelanya. Ketika itu, jumlah toko yang beraktivitas bisa dihitung dengan jari.

Suasana Kembali Semarak
Sekarang kawasan A.Y. Patty terasa hidup karena roda perekonomian mulai bergulir. Hampir semua toko aktif kembali. Mulai toko emas, toko swalayan, hingga kantor-kantor biro jasa perjalanan buka lagi. Jalan A.Y. Patty merupakan salah satu dari empat ruas jalan utama di kota Ambon. Tiga lainnya adalah Jalan Anthony Rhebok, Jalan A.M. Sangadji, dan Jalan Sultan Baabullah.

Pulihnya roda perekonomian di Ambon itu dirasakan Muntamah, pemilik Rumah Makan Arema di salah satu ruas Jalan Sultan Hairun. Ia mengaku membuka usaha rumah makan itu sejak 2003, ketika keadaan di kawasan tersebut masih sangat sepi. “Jumlah toko yang buka masih bisa dihitung dengan jari,? katanya.

Walau demikian, Muntamah tak patah arang. Ia tetap membuka rumah makannya mulai pukul 09.00 hingga pukul 21.00. Beruntung, karena minimnya warung makan di kawasan tersebut pada saat itu, ia bisa meraup omset hingga Rp 20 juta per bulan. Sekarang, setelah banyak warung makan, ia mengaku meraih keuntungan Rp 5 juta-Rp 10 juta. “Sekarang, ke mana kaki melangkah, di situ selalu ada toko,” ujarnya.

Perubahan atmosfer juga amat terasa di sejumlah pusat keramaian. Ambon Plaza (Amplaz), misalnya, yang merupakan satu-satunya tempat perbelanjaan terbesar di kota Ambon. Gedung berlantai empat ini didominasi toko pakaian hingga kebutuhan sehari-hari. Eskalator yang kini masih tak berfungsi pun tidak menyurutkan niat warga untuk mengunjungi plaza itu.

Sebuah toserba ternama ikut meramaikan suasana di dalamnya. Karena pendingin ruangan alias AC tak berfungsi, udara di dalamnya terasa pengap. Ditambah lagi banyaknya orang yang hendak berbelanja atau sekadar cuci mata. Para pengunjung masih tetap tampak menikmati “wisata belanja” mereka di tengah desiran kipas angin sebagai pengganti AC.

Menjelang malam, kebanyakan toko di Amplaz sudah tutup. Hanya toserba itu yang masih tetap buka hingga pukul sembilan malam. Sebagai alternatif, masyarakat lebih banyak menghabiskan waktu di ruas jalan utama kota Ambon, terutama pada malam akhir pekan. Kawasan di Jalan Sultan Baabullah dipenuhi warga. Tua-muda, lelaki-perempuan, tumplek-blek di lokasi itu. Kafe-kafe pun mulai dibanjiri orang. Di dalam kafe dilengkapi pertunjukan musik secara langsung. Begitu pula warung-warung kopi yang bertebaran.

Kawasan Pasar Mardika sebagai tempat awal pecahnya kerusuhan pun kini ramai kembali. Tak ada sekat-sekat wilayah seperti dulu. Ini tentu berbeda pada saat konflik pecah. Syaiful, salah satu pemilik toko kelontong di sana, mengatakan bahwa situasi pada saat ini lebih aman dan nyaman. Seperti Muntamah, ia kembali membuka toko pada 2003. “Pada waktu itu, lampu sering mati. Buka toko paling hanya dua-tiga jam. Sekarang buka sampai pukul sembilan malam,” katanya.

Suasana tak kalah semarak terasa di lokasi lain. Di Jalan Yos Sudarso, misalnya, terdapat Pantai Losari. Jika malam tiba, lokasi ini dipenuhi kafe tenda. Terdengar pula ingar-bingar suara musik. Yang dijual kebanyakan makanan dan minuman ringan, seperti jagung rebus, kacang rebus, hingga air jahe.

Yang Luput Dilanda Konflik
Namun, yang cukup menarik disimak, ada satu kawasan yang ternyata sama sekali tidak terkena dampak konflik dan kerusuhan berkepanjangan itu. Perumahan BTN di Desa Wayame, Kecamatan Teluk Ambon, menjadi satu-satunya wilayah yang tidak terimbas peristiwa yang sangat mengenaskan itu.

Hal itu diungkapkan beberapa warga di sana. Pada saat Gatra menyambangi kawasan tersebut, suasananya terasa begitu tenang dan tenteram. Beberapa pria tampak asyik bercanda di pos di samping kiri gapura BTN. “Sejak dulu Wayame aman. Katong (kita, dalam bahasa setempat) lebih pilih mangkal di sini,” kata Irvan, seorang tukang ojek yang ditemui di situ.

Di perumahan itu, umat Islam dan Kristen bahu-membahu untuk tetap menjaga keharmonisan dan perdamaian. Kawasan seluas 43.000 kilometer persegi ini terletak sekitar 15 kilometer dari pusat kota Ambon. Akses menuju lokasi ini cukup mudah karena banyak angkutan umum yang menuju Wayame.

Walau demikian, tak mudah memang menjaga kedamaian di wilayah yang berpenghuni sekitar 1.200 kepala keluarga itu. “Kami sepakat tidak terlibat konflik,” ucap Kanes Amanupunnjo, salah satu pemrakarsa Tim 20, yang dibentuk untuk menjaga kedamaian.

Desa itu terdiri dari 21 RT dan 10 RW. Setelah melalui perundingan, akhirnya diiperoleh kesepatan untuk membentuk Tim 20. Tim ini beranggotakan 10 orang Kristen dan 10 orang muslim, yang terdiri dari tokoh masyarakat, pemuda, dan tokoh keagamaan. “Tugasnya, menyelesaikan masalah terkait konflik,” kata Kanes.

Ia mencontohkan, bila ada isu penyerangan oleh suatu komunitas, tim dari komunitas itulah yang ditugasi mengecek isu tersebut dan mencoba menyelesaikan masalahnya. “Rata-rata isu itu tidak benar,” katanya lagi.

Tetap Menjaga Kebersamaan
Dalam seminggu, dilakukan dua kali pertemuan, yakni usai salat Jumat di masjid dan usai kebaktian Minggu di gereja. Masjid Darul Na’im dan Gereja Peniel menjadi saksi sumpah anggota masyarakat di Wayame.

Janji itu diucapkan melalui Abdurrachman Marasabessy, yang mewakili komunitas Islam. Sedangkan komunitas Kristen diwakili Pendeta Jhon Sahalessy. Di sana, mereka bersumpah dengan satu tujuan: “Jangan sampai ada konflik dan membuat Wayame terpisah,” ujarnya, mengungkapkan sumpah bersama.

Pada malam hari, kawasan itu dijaga bersama-sama. Sampai-sampai, banyak warga yang tidak tidur pada malam hari. Aturan yang diberlakukan di kawasan tersebut sangat ketat. Kalau ada yang melanggar, sanksinya: bisa diusir dari Wayame.

Menerapkan Aturan Ketat
Kanes menuturkan, dahulu memang banyak pihak yang mencoba mengadu domba warga di kawasan tersebut. Pernah suatu kali ada yang melempari masjid. Ada juga yang sengaja membakar salah satu rumah warga dengan sembilan bom molotov. Para provokator malah sempat memasuki wilayah Wayame sambil membawa persenjataan lengkap. Hal ini tentu membuat masyarakat menjadi ketakutan. “Kami tetap bergeming,” tuturnya.

Sebagai konsekuensinya, pelaku lantas dikeluarkan dari kawasan Wayame. Bahkan terkadang, sebelumnya, pelaku dipukuli hingga babak belur jika mencoba membuat keonaran di kawasan itu. Jika ada yang terlibat lalu tewas dalam konflik itu, mayatnya harus dimakamkan di luar Wayame. “Semua agar ada efek jera,” katanya.

Bila ada info tentang konflik bersenjata di suatu desa, Wayame punya aturan: jangan sampai konflik itu lewat Wayame. Akibatnya, proses distribusi makanan pernah terhambat. “Kami hanya mengonsumsi air yang berasal dari sungai di gunung,” ujarnya. Dalam situasi seperti itu, pada April 1999, muncul ide mendirikan pasar sebagai tempat pertemuan kedua komunitas.

Sejak itu, Wayame menjadi sentra transaksi perdagangan bahan pokok yang berlangsung pada pukul dua siang. Pedagang dari kedua komunitas bercampur baur menjual barang dagangan kepada komunitasnya.

Terdapat speedboat yang mengantar penumpang beragama Islam ke Batu Merah. Sedangkan penumpang Kristen diantar hingga Pelabuhan Gudang Arang. “Pertemuan itu kadang membuat haru karena ada transaksi dalam keadaan perang seperti itu,” ucap Kanes.

Banyak yang mengatakan, perdamaian di sana terjadi karena Wayame dikelilingi asrama tentara Kompi C Linud 733 BS dan berada di lokasi Pertamina. Tapi, menurut Kanes, hal itu tidak 100% benar. Sebab warga Dusun Wailete, Dusun Kemiri, dan Desa Poka-Rumahtiga yang berdekatan dengan Wayame tak luput dari dampak konflik itu. “Semua karena kami ingin damai,” ia menegaskan.

Gong Simbol Perdamaian
Setelah konflik pecah dan melebar, perdamaian di kota Ambon sebenarnya tak hanya diinginkan segelintir orang, melainkan oleh hampir seluruh lapisan masyarakat. Belakangan, sebagai simbol perdamaian, di kota Ambon dipasang “Gong Perdamaian” di Lapangan Pelita di Jalan Sultan Hairun.

Sebelum konflik melanda, lokasi tersebut sempat menjadi tempat konfeksi. Setelah itu, pada 2004, kawasan itu disulap menjadi terminal bayangan untuk angkutan luar kota. Ambon merupakan kota ke-35 yang dipasangi gong berdiameter dua meter itu. Lingkaran luarnya menampilkan bendera seluruh negara merdeka di dunia. Di lingkaran tengahnya terdapat tulisan “World Peace Gong”, serta ada gambar bunga dan tulisan dalam bahasa Indonesia: “Gong Perdamaian”.

Di lingkaran dalamnya ditampilkan 10 simbol agama besar yang dianut mayoritas penduduk dunia. Sedangkan gambar bunga merupakan peneguhan jati diri Gong Perdamaian. Di lingkaran puncak “Gong Perdamaian Dunia” ditampilkan bola dunia alias planet bumi.

Peresmian Gong Perdamaian itu dilakukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 25 Januari 2009. Pada malam minggu, kawasan Gong Perdamaian ramai dikunjungi masyarakat. Adanya dua lampu sorot semakin menarik minat, walaupun lokasi itu agak minim cahaya pada malam hari.
Masyarakat umumnya memilih menghabiskan waktu di sana sambil memotret-motret. Untuk sekali masuk, pengunjung dikenai retribusi Rp 5.000. “Kalau ramai, bisa sampai Rp 3 juta semalam,” ungkap seorang petugas jaga.

Di lokasi tersebut juga ada museum, di dalam bangunan yang ada di bawah gong. Di situ terpajang 71 foto acara seremonial. Ada foto kedatangan Megawati pada tahun 2000. Ada juga foto Abdurrahman Wahid (almarhum) pada saat bertemu dengan delegasi Maluku.

Di luar itu, ada foto kondisi pertokoan di samping tiga pos yang dibakar massa pada tahun 2000.Tumplekblek-nya masyarakat yang hendak keluar dari Ambon pada 1999 juga terpotret. Bahkan terpampang foto sebuah mobil angkutan umum yang diduga menjadi asal-muasal pecahnya konflik horizontal di Ambon.

Sayang, museum itu tak dilengkapi dengan informasi seputar gong itu. Padahal, dengan adanya informasi tentang “Gong Perdamaian Dunia”, tempat ini bisa dijadikan lokasi alternatif bagi studi wisata para pelajar.

[RagamGatra Nomor 12 Beredar Kamis, 28 Januari 2010]

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Stadion Pakansari Cibinong memerah
      Stadion Pakansari Cibinong, Bogor, memerah sejak Sabtu sore menjelang semifinal Piala AFF 2014 antara tuan rumah Indonesia melawan Vietnam.Stadion dengan kapasitas 30 ribu tempat duduk pelan tapi pasti tertutup dengan penonton ...
    • SAR temukan barang penumpang pesawat M-28 Sky Truck Polri
      Polda Kepri menyatakan tim SAR gabungan sudah mencapai titip lokasi pesawat M-28 Sky Truck P 4201 Mabes Polri yang jatuh pada Sabtu siang dan menemukan sejumlah barang milik penumpang. "Hingga saat ini yang ditemukan baru ...
    • Susunan pemain Indonesia melawan Vietnam
      Indonesia akan menghadapi Vietnam pada pertandingan leg pertama semifinal Piala AFF, Sabtu, di Stadion Pakansari, Kabupaten Bogor. Dari daftar susunan pemain pemain, Hansamu Yama menjadi starter.Berikut susunan pemain Indonesia ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: