Sepuluh Kejutan Terbesar Tersingkirnya Tim Unggulan Di Babak Pertama

Dua tim unggulan kontestan Piala Dunia 2010 yang baru saja tersingkir di babak penyisihan semakin melengkapi daftar rangkaian peristiwa mengejutkan sepanjang sejarah perhelatan empat tahunan ini…

Inggris 0-1 Amerika Serikat  [Inggris 1958]

Amerika Serikat sang penakluk nama besar Inggris

Saat tersiar berita kekalahan 1-0 Inggris dari Amerika Serikat di tanah Britania Pada Piala Dunia yang diselenggarakan di Brasil ini, banyak kalangan seakan tak percaya dan menganggap berita itu keliru. Betapa tidak, salah satu tim favorit juara Piala Dunia kala itu dibuat tak berdaya saat ditaklukkan oleh gol semata wayang pemain Amerika Serikat Gatjens di menit ke-38. Meski di laga perdana grup Inggris menang 2-0 atas Cili, namun mimpi buruk kembali hadir saat mereka dipaksa menyerah 1-0 kali kedua dari tangan Spanyol. Skuad The Three Lions era 50an yang terlibat dalam keterpurukan itu adalah Billy Wright, Stan Mortensen, Tom Finney dan bintang mereka Stanley Matthews. Semuanya gagal total.

Wales taklukkan Hegemoni Magyars [Hungaria 1958]

Hungaria sedikit kehilangan sinar benderangnya seperti ketika tahun 1954 [juara dua Piala Dunia] —Tanpa diperkuat bintang Ferenc Puskas yang berpaling kewarganegaraan— Meski begitu, Hungaria pada Piala Dunia edisi berikutnya masih bisa menghasilkan pemain-pemain lokal berkelas. Sebut saja Jozsef Bozsik, Nandor Hidegkuti dan pemain-pemain bertalenta lainnya yang diharapkan mampu menjawab ketatnya persaingan dari rival satu grup mereka yakni Swedia, Wales, dan Meksiko. Di laga perdana grup mereka tak begitu mengecewakan kendati ditahan seri Wales. Tetapi di laga berikutnya mereka justru menelan pil pahit saat ditumbangkan tuan rumah [Swedia]. Beruntung di laga pamungkas Magyars berhasil menang meyakinkan 4-0 atas Meksiko. Ironisnya, poin akhir antara Hungaria dan Wales di grup tersebut berakhir sama. Alhasil babak play-off pun harus dilalui kedua negara tersebut. Nahas bagi Hungaria. Gol penyama Ivor Allchurch menjatuhkan mental anak-anak Magyars hingga akhirnya Wales menambah keunggulan, padahal Hungaria sudah unggul lebih dulu di paruh pertama.

Pulang Kampung Ke Uruguay, Kenapa?  [Argentina 1958]

Argentina yang tergabung satu grup dengan Jerman Barat, Cekoslovakia, dan Irlandia Utara, harus mengakhiri babak penyisihan grup dengan perasaan duka mendalam. Keluar sebagai juru kunci dan diperparah dengan kebobolan sebanyak 10 kali dalam tiga pertandingan. Di laga perdana, tanda-tanda kehancuran Argentina memang sudah terlihat kala mereka diempaskan 3-1 oleh Jerman sebelum mereka bangkit dengan menundukkan pendatang baru Irlandia Utara dengan skor yang sama. Tetapi, pukulan telak datang lagi ketika mereka dibuat bertekuk lutut 6-1 dari perlawanan anak-anak Cekoslovakia. Datang dengan status sebagai tim favorit sungguh merupakan sebuah ‘noda’ kala mereka harus pulang kampung dengan keadaan babak belur. Saking bobroknya performa mereka, saat mengepak koper dari Swedia [tuan rumah Piala Dunia 1958], bukannya pulang ka tanah merekas sendiri, pasukan Argentina malah mendaratkan pesawatnya di kota Montevideo, Uruguay. Langkah tersebut diambil sebagai bentuk antisipasi demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan di Buenos Aires. Ironis sekali!

Pele Tumbang  [Brasil 1966]

Menjadi kontestan dengan menyandang predikat dua kali juara Piala Dunia beruntun 1958 dan 1962, Brasil justru melempem di ajang yang sama empat tahun berikutnya. Dimotori sosok paling disegani seperti Pele dan Garrincha, kemelut justru harus diterima Pele di ajang tersebut. Layaknya penyerang berbahaya, Pele yang ditakuti malah jadi bulan-bulanan sepanjang turnamen ini. Pada partai pertama Pele masih bisa mencetak gol kala timnya menang atas Bulgaria. Tetapi di laga tersebut, Selecao harus membayar mahal dengan kehilangan bintang lapangan mereka itu terlalu dini akibat di ‘hantam’ berkali-kali oleh para pemain bertahan Bulgaria yang membuat Pele terpincang-pincang. Akibatnya bisa diterka, di laga selanjutnya minus Pele, Brasil tersandung. Mereka takluk secara mengejutkan dari kaki Hungaria. Walau begitu, setitik asa kemudian kembali hidup saat Pele tampil di laga pamungkas grup kontra Portugal, namun lagi-lagi Pele mendapatkan perlakuan brutal dari punggawa Portugal. Adalah Jose Morais yang melakukan ganjalan berbahaya terhadap striker maut Brasil tersebut. Hasilnya, Brasil menyerah 3-1 dari Portugal. Seperi halnya Pele yang tertatih-tatih, Selecao pun pulang pulang kampung dengan kepala tertunduk. Selepas turnamen tersebut, Pele sempat membuat pernyataan tak akan lagi turut andil di pertandingan Piala Dunia, tetapi pada akhirnya ia menarik kembali ucapannya.

Korea Utara Fantastis  [Italia 1966]

Sepakbola Italia mungkin tak akan melupakan nama Park Doo-Ik. Yah, pilar Korea Utara itu melahirkan momen historis bagi Italia, yakni kekalahan paling memalukan sepanjang sejarah sepakbola Italia. Dibungkam Uni Soviet setelah sebelumnya di laga pembuka sempat menaklukkan Cili, kampiun Piala Dunia dua kali kala itu tak bisa mengimbangi permainan efektif Korea Utara di laga selanjutnya. Lebih mencengangkannya, Italia dibuat KO Korea Utara. Padahal saat itu hasil seri sudah cukup mengantar Azzurri lolos dari babak penyisihan grup. Tak ayal, saat Italia menapakkan kaki kembali ke tanah mereka, serangkaian cemoohan pun mengalir deras bak sungai. Termasyhur, Italia juga pernah menuai hasil serupa pada Piala Dunia 2002 dengan lawan satu mitra Korea Utara juga. Azzurri disisihkan Korea Selatan berkat gol emas Ahn Jung Hwan.

Italia dipermalukan Korea Utara, 1966

Italia Duplikat Prancis 2010?  [Italia 1974]

Giorgio Chinaglia kasusnya menyerupai Nicolas Anelka di Piala Dunia 2010

Era Italia saat itu diisi oleh salah soerang kiper terbaik dunia Dino Zoff, yang menciptakan rekor dunia tak kemasukan selama 1142 menit antara tahun 1972 hingga 1974 di kancah internasional. Tak heran bila Azzurri menjadi favorit kampiun di edisi tersebut. Tapi nyatanya, fakta berbicara lain. Kemenangan 3-1 atas tim kecil, Haiti, di laga perdana mereka ditandai dengan kontroversi antara striker Giorgio Chinaglia dan pelatih Ferruccio Valcareggi setelah sang pelatih mengganti dirinya di laga tersebut. Chinaglia yang merasa kecewa karena diganti, mengamuk dan melakukan gerakan tak ter terhormat ke arah pelatihnya serta melempar botol sebelum ia langsung menyelonong meninggalkan lapangan ke ruang ganti. Hasilnya, dengan situasi tak kondusif di tubuh tim, Italia mati kutu di laga selanjutnya. Setelah bermain imbang dengan Argentina, akhirnya di laga pamungkas mereka takluk 2-1 dari tangan Polandia. Italia pun tersisih. Fabio Capello termasuk pemain yang memperkuat Azzurri era tersebut.

Sang Pecundang Gijon  [Aljazair 1982]

Tak banyak publik yang miris ketika Aljazair terdepak dari Piala Dunia 1982 ini karena sepak terjangnya yang terbilang mengesankan. Tim asal Afrika Utara ini sukses menyungkurkan Jerman Barat di laga perdana turnamen yang digelar di Spanyol lewat gol-gol yang dicetak Rabah Madjer dan Lakhdar Belloumi, sedang di kubu Jerman lahir dari aksi Karl-Heinz Rummenigge. Kemenangan itu pun disebut-sebut sebagai rekor kemenangan mengejutkan di Piala Dunia. Maski begitu, Aljazair kemudian kalah dari Austria di laga selanjutnya. Tetapi tim berjuluk Desert Fox lekas bangkit untuk mengalahkan Cili 3-2 di partai terakhir grup sebelum 24 jam menuju laga penentuan Jerman kontra Australia di Gijon kick off. Di sinilah titik krusialnya. Bila Jerman menang, dua wakil Eropa tersebut melenggang ke fase selanjutnya. Tetapi bila sebaliknya, Austria menang, asa Aljazair menyala terang untuk mencicipi babak putaran kedua. Tapi pada akhirnya, Jerman dan Austria lah yang lolos dari penyisihan grup. Berkat gol semata wayang Horst Hrubesch di menit ke sepuluh, Jerman menang. Sejak gol itu tercipta, kedua tim seperti menjalin konspirasi karena tidak lagi saling ngotot menambah kedudukan. Mereka terlihat lebih memilih main hati-hati agar keduanya tancap gas. Alhasil pasca laga, banyak yang menyebut kedua tim adalah ‘pecundang dari Gijon’. FIFA mensahkan mereka lolos karena aturan selisih gol kendati banyak suara-suara keras berpihak pada kubu Aljazair yang lebih pantas lolos. Pada akhirnya FIFA pun turun tangan menindak lanjuti tindakan tidak sportif yang digagas antara Jerman dan Austria tersebut.

Insiden Berdarah  [Kolombia 1994]

Sebelum menjajaki Piala Dunia 1994, Kolombia sudah menebar ancaman terhadap lawan-lawannya kelak, usai membantai Argentina 5-0 di partai pamungkas babak kualifikasi Piala Dunia. Meski demikian, turnamen akbar yang saat itu dihelat di Amerika Serakat, menyimpan luka tersendiri bagi tim wakil Amerika Selatan ini. Merebah kabar, ada skandal antara sindikat judi dengan pihak tim. Imbasnya manajer Kolombia Francisco Maturana mendapat ancaman pembunuhan jika tim gagal. Kekalahan yang dipetik Kolombia kala berhadapan dengan Rumania dan sang tuan rumah membuat mereka jatuh ke dasar klasemen grup, serta kemenangan atas Swiss tak juga mempengaruhi nasib mereka untuk lolos dari babak penyisihan. Tragisnya, setelah tersisih dan pulang kampung, pencetak gol bunuh diri kala menghadapi Amerika Serikat, bek Andres Escobar, menjadi korban pembunuhan para sindikat judi. Diketahui pada saat itu, Escobar mendapat tembakan dari jarak dekat beberapa kali di bar Medellin dan diketahui lagi aksi tersebut dipicu oleh dendam kesumat merujuk pada gol bunuh diri Escobar yang sontak membuat pasar judi menderita kerugian besar.

Carlos Valderrama, tak bisa berbuat banyak menolong timnya

Gagal Pertahankan Gelar  [Prancis 2002]

Kampanye Prancis di Piala Dunia kali ini dengan status juara bertahan, terganggu dengan permasalahan beberapa pemainnya yang mengalami cedera. Kehilangan pilar inti Robert Pires karena cedera lutut, serta Zinedine Zidane pun didera persoalan pangkal paha yang kerap sakit. Walau demikian, Les Blues diprediksi tidak akan kesulitan karena satu grup dengan tim yang relatif setingkat atau satu level di bawah mereka. Rupanya tanpa diduga, sang juara bertahan menyerah dari tim kuda hitam Senegal 1-0 di laga pembuka, kemudian Prancis juga ditahan seri Uruguay. Kontan di pertandingan terakhir, Prancis wajib mengusung kemenangan atas lawannya, Denmark, jika ingin melenggang ke fase selanutnya. Ditambah lagi mereka mendapat angin segar karena bintang lapangan mereka, Zidane telah pulih untuk kembali merumput. Malang bagi tim Ayam Jantan, dua gol yang dijaringkan John Dahl Tomasson dan Dennis Rommedhal ke gawang Prancis, membuat langkah pasukan Roger Lemmere terhenti. Parahnya, Prancis pulang kampung dalam kondisi bak kapal pecah. Jadi juru kunci grup, tak pernah menang, dan hanya melesakkan satu gol.

Kandas, Bielsa!  [Argentina 2002]

Ternyata Prancis bukan satu-satunya tim yang terhenti langkahnya di babak penyisihan grup. Mereka didampingi Argentina yang bernasib serupa. Pelatih Argentina Marcelo Bielsa memang sadar akan kans timnya menilik Albiceleste tergabung dalam grup neraka [Inggris, Swedia, dan Nigeria]. Namun Argentina tak bergeming. Mereka buktinya mampu memenangi laga perdana grup dengan mengalahkan Nigeria. Tetapi prediksi sang pelatih seakan menjadi nyata kala skuad besutannya dibungkam Inggris lewat penalti David Beckham. Praktis untuk menyelamatkan nasib mereka di babak penyisihan ini, Albiceleste butuh kemenangan untuk mengamankan diri lolos dari babak penyisihan grup. Tak ubahnya Prancis, Hernan Crespo yang mencetak gol telat, tak mampu memberikan timnya satu tiket ke putaran kedua setelah sebelumnya pemain Swedia Andres Svensson memecah kebuntuan dan pertandingan pun berakhir seri. Wakil Amerika Selatan ini pulang dengan dahi mengerut.

Argentina pada Piala 2002 meratapi kegagalannya

Anugerah PamujiGoal.com

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • 7 cara manfaatkan tabir surya kedaluwarsa
      Coba periksa tanggal kedaluwarsa tabir surya Anda untuk memastikan apakah masih berfungsi sebagai pelindung dari sinar matahari.Tabir surya punya masa kedaluwarsa selama enam bulan setelah dibuka, kata perlindungan konsumen ...
    • Klasemen Liga Spanyol, Real Madrid tinggalkan Barcelona
      Berikut hasil pertandingan dan klasemen liga Spanyol pada Minggu waktu setempat. Pertandingan Minggu 4 Desember: Alaves 1 Las Palmas 1 Athletic Club 3 Eibar 1 Real Betis 3 Celta Vigo 3 Sporting ...
    • Beberapa mayat ditemukan lagi setelah gudang terbakar di Oakland
      Beberapa mayat ditemukan lagi pada Ahad (4/12), setelah petugas pencarian memasuki dua daerah lain di gudang yang terbakar 36 jam sebelumnya. Namun Sersan Ray Kelly dalam taklimat kedua pada Ahad, tak bersedia menyebutkan ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: