Partai Para Penguasa

“Bersatulah para penguasa di seluruh Indonesia!” Inilah slogan utama political rally yang  kian nyaring dibisikkan secara berantai dari Minagkabau sampai Minahasa sejak tahun 2007.

Pesan utama dari bisikan yang menggoda ini selengkapnya kira-kira berbunyi seperti ini:  “Wahai para penguasa yang sedang menjabat, bila Anda ingin tetap memegang kendali kereta  kencana kekuasaan untuk masa jabatan kedua, maka bergabunglah dengan Partai Demokrat  sekarang juga!”

Kader “kutu loncat” pertama yang berhasil direkrut adalah mantan Bupati Solok dan Gubernur  Sumatera Barat, diikuti oleh Gubernur Sulawesi Utara dan yang mutakhir Gubernur DKI Jaya.  Kecuali Gubernur DKI Jaya, kedu kader yang lain memang dikenal secara nasional punya  keandalan teknokrasi dan birokrasi yang mumpuni serta sudah membukukan prestasi yang patut  dibanggakan. Di belakang tiga pionir “kutu loncat” ini, hampir pasti telah berjejal  mengantre para wali kota/bupati dan gubernur dari luar wilayah “segitiga emas” politik  nasional: Padang, Jakarta, dan Manado.

Sejarah berulang

Beberapa perkembangan internal dan eksternal Partai Demokrat (PD), khususnya dalam manuver  perekrutan kader politik ke dalam bahtera titanik PD, wacana politik yang digulirkan Ketua  Dewan Pembina serta kebijakan yang dibuat oleh anggota kabinet SBY-Boediono dalam tiga bulan  terakhir ini secara kuat memberikan isyarat bahwa Partai Demokrat sama sekali masih belum  puas dengan posisinya sebagai partai pemegang kendali pemerintahan, “the ruling party”,  khususnya setelah berhasil membentuk “Setgab Koalisi” bersama Golkar dan beberapa partai  kecil dayang-dayang politik PD.

PD terbaca menginginkan dominasi politik yang lebih dari itu, yaitu menjadi “the ruler’s  party”, partai para penguasa yang dipersatukan oleh hanya satu ideologi tunggal: bertahan  selama mungkin sebagai penguasa! Pada saat ini, PD mulai menunjukkan gejala-gejala awal  penyakit kronis kekuasaan yang “pencemburu, ganas, dan terus haus dalam nafsu ingin hadir  dan berdaulat dalam setiap ruang kehidupan” (Dhakidae, 2003), suatu penyakit bawaan  kekuasaan yang pernah membuat Sekber Golkar lupa dri selama tiga dekade tanpa jeda.

Paling kurang ada tiga petunjuk yang mengisyaratkan bahwa PD sedang mengatur langsung ke  arah peningkatan posisinya dari sekedar parpol yang berkuasa menjadi partai para penguasa.

Pertama, seperti klub-klub sepak bola dan perusahaan rekaman bergengsi, PD sejak sangat dini  di masa pemerintahan SBY yang pertama gencar melakukan talent scouting tanpa lelah. Para  kader yang berbobot, baik secara profesional maupun secara politik, dari berbagai latar  belakang rekam jejak sosial dan ideologi didekati dan bila berminat langsung direkrut. Tidak  peduli apakah para kader baru itu pernah sejalan atau berseberangan, baik dalam sikap  ideologis maupun dalam menyikapi suatu masalah aktual tertentu. Sama seperti strategi sapu  jagat yang pernah diterapkan Sekber Golkar Orba. Rangkul semua, termasuk yang miskin  integritas ataupun yang sedang menjalani pemeriksaan dalam satu kasus korupsi.

Kader yang paling diminati adalah kepala daerah yang telah berhasil merebut hati dan pikiran  rakyat pemilih. Calon kader yang diincar akan semakin bernilai lebih bila ia berasal dari  parpol pesaing sengit PD, PDI-P misalnya. Ini nyata dalam kasus Gubernur Sulawesi Utara.  Ketua Dewan Pembina PD malah secara eksplisit memberikan “approval seal”-nya dalam kalimat  gamblang bahwa “Partai Demokrat adalh partai pendukung pemerintah (baca: penguasa) di  tingkat pusat dan daerah; terlepas dari asal parpol kepala daerah”. Ini dinyatakannya dalam  pidato pelantikan DPP dan dewan pembina Partai demokrat di Cibubur, depok, Sabtu lalu  (Kompas, 11/7/2010). Strategi ini sangat cerdas untuk menarik para kepala daerah yang nasib  pencalonannya digantung oleh partai lain yang sebelumnya mencalonkan mereka di masa jabatan  pertama.

Kedua, sadar bahwa secara konstitusional SBY tidak dapat mencalonkan diri lagi untuk ketiga  kalinya dan karena itu harus dicari seorang kandidat presiden dari PD di Pilpres 2014, yang  nilai jual di pasar politik mungkin jauh di bawah SBY, PD memang harus sedari dini  memperkuat cengekaraman elektoral di akar rumput.

Pihak yang sudah teruji mampu memobilisir pemilih sejak Orde Baru adalah keluarga Besar  Militer dan Kepolisian. Banyak pihak menduga keras bahwa manuver wacana hak memilih anggota  TNI dan POLRI yang dilemparkan SBY di Istana Cipanas dua mingguan lalu adalah dalam rangka  ancang-ancang langkah persiapan menggerakkan anggola TNI/POLRI secara sosial menjaring sanak  keluarga mereka. Walaupun SBY sempat mengimbau untuk menghentikan wacana hak memilih anggota  TNI/POLRI yang digulirkannya sendiri, publik sudah terlanjur tersentak dan mulai waspada  pada trik lama Orde Baru ini.

Ketiga, terkait erat dengan manuver menggenggam jejaring keluarga besar anggota TNI/POLRI,  lamgkah-langkah persiapan untuk meneguhkan posisi sebagai partai para penguasa diduga juga  dicoba dilakukan lewat penetapan Kepmendagri No 26/2010 yang dikeluarkan pada 23 Maret lalu,  yang membolehkan Satpol PP dipersenjatai. Walaupun kecil kemungkinannya untuk dimanfaatkan  dalam pilkada, memang cukup masuk akal bila langkah sistematis merekrut para kepala daerah  tersebut di atas diikuti dengan penguatan perlengkapan, bila perlu dengan senjata api,  satpol PP yang dapat digerakkan oleh para kepala daerah untuk keperluan apa saja, termasuk  pemenangan diri mereka dalam pilkada yang sedang berlangsung di banyak daerah.

Ke mana bermuara?

Serangkaian rentetan manuver perekrutan kader, wacana politik, dan kebijakan pemerintah yang  ditelurkan di bawah kendali PD ini dengan serta-merta mengingatkan publik pada mimpi buruk  kesewenang-wenangan, kekejian, dan kezaliman dominasi Sekber Golkar di abad silam. sebagai  “the ruler’s party” yang berintikan militer/TNI AD, teknokrat, dan birokrat, Golkar Orde  Baru ini memang dipenuhi oleh kader sipil dan militer yang mumpuni dalam bidang masing- masing, tapi sama sekali tidak bernurani. Tubuh biologis mereka seakan hanya terdiri dari  kepala, leher, langsung perut dan kaki, tanpa dada yang berjantung dan berhati. Berujung  pada sebuah parpol tanpa nurani!

Bila kecenderungan kuat dari PD ini terus berlanjut dan bersambut gayung dengan para  penguasa daerah, bukan tidak mungkin PD akan bernasib sama dengan sekber Golkar, terjerembab  karena keserakahan kepala daerah yang teperosok dalam kubangan korupsi. Akibat akhir yang  tragis, sama seperti Golkar Orba, PD akan terus kehilangan suara dari pemilu ke pemilu.

TAMRIN AMAL TOMAGOLA, Sosiolog: menekuni Kajian Negara dalam MasyarakatKOMPAS

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Kepergian Mar'ie Muhammad kehilangan bagi Indonesia
      Wakil Presiden, Jusuf Kalla, menyebut almarhum mantan Menteri Keuangan, Mar'ie Muhammad, sebagai sosok yang bersih dan jujur semasa menjabat. "Kita kehilangan sosok yang dahulu pada saat menjabat sebagai menteri keuangan ...
    • Hampir semua korban bom Istanbul adalah polisi
      Dua bom meledak di luar stadion sepakbola di Istanbul, Turki, pada Sabtu malam waktu setempat, menyebabkan 29 orang tewas, yang terdiri atas 27 polisi dan dua warga sipil.Menteri Dalam Negeri Suleyman Soylu mengatakan ledakan ...
    • Sejumlah tokoh melayat ke kediaman Mar'ie Muhammad
      Sejumlah tokoh mendatangi kediaman almarhum mantan Menteri Keuangan, Mar'ie Muhammad, di Jalan Taman Brawijaya III Nomor 139, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu. Di antara mereka adalah Wakil Presiden, Jusuf Kalla dan ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: