Oma Oya Bertahan dengan Sempeh Saparua

Inilah kerja tangan…Gadis lisa boli…Dari dahulu kala…Moyang-moyang kami….

Itulah cuplikan senandung Oya Pelupessy (72) sembari mengolah tanah liat menjadi sempeh atau gerabah di halaman rumahnya, di Negeri Ouw, Kecamatan Saparua, Maluku Tengah, Maluku. A Ponco Anggoro

Sudah 57 tahun, perempuan renta itu melestarikan sempeh berikut lagu warisan nenek moyangnya tersebut. Lagu daerah Maluku itu berkisah tentang tata cara pembuatan sempeh dari tanah liat. Mulai dari proses mengambil tanah liat, merendam, mengadon, menjemur, hingga membakarnya sebelum dijual. Lagu itu diciptakan oleh nenek moyang orang Saparua agar sempeh tetap lestari.

Lagu ini pula yang menyertai Oma Oya, begitu kerap dia disapa, dalam setiap pembuatan sempeh hingga di usianya yang sudah renta. Senandung lagu membuat hati ceria, sehingga pembuatan sempeh yang sulit dan menguras tenaga menjadi ringan dan mudah. ”Hati senang buat awet muda,” tuturnya seraya tersenyum.

Sejak berusia 15 tahun, Oya remaja mulai mempelajari cara pembuatan sempeh dari orangtuanya, Paul Pelupessy dan Wehelmina Pelupessy.

Bukan hal aneh memang. Ketika itu, hampir semua warga Ouw di jazirah tenggara Pulau Saparua bekerja sebagai perajin sempeh. Sempeh buatan perajin banyak dipakai oleh warga Saparua, bahkan warga pulau-pulau lain di sekitarnya, termasuk sampai ke Ambon, ibu kota Maluku. Sempeh memang menjadi peralatan utama rumah tangga kala itu sehingga banyak dicari.

Oleh warga Saparua, sempeh digunakan untuk memasak papeda (sagu), sagu lempeng atau ikan, dan membuat obat-obatan tradisional. Biasa juga digunakan sebagai wadah suguhan, yang berfungsi seperti piring. Tidak itu saja, bahkan, sempeh juga untuk kompor. Warga setempat menyebutnya kompor dari sempeh itu anglong. Sempeh bisa pula dibuat untuk belangan air, layaknya kendi.

Belangan air ini biasa dijunjung di atas kepala dengan alas kain penggal. Lingkaran kain berguna untuk menjaga keseimbangan supaya belangan tidak jatuh dari kepala.

”Karena keperluan-keperluan inilah, waktu itu sempeh dibuat dalam ukuran besar,” kata Oma Oya.

Pamor meredup

Namun, perjalanan waktu rupanya membuat cerita lain. Pamor sempeh mulai berkurang seiring maraknya peralatan rumah tangga buatan pabrikan, yang kini umumnya dibuat dari plastik atau logam. Satu per satu perajin sempeh di Ouw jadi ”mati suri”. Kalaupun ada perajin yang masih membuat sempeh, itu hanya pekerjaan selingan, saat mereka tidak ada pekerjaan lain.

Namun tidak demikian halnya dengan Oma Oya. Setiap hari dia masih tetap setia membuat sempeh. Padahal, semua itu bukan pekerjaan mudah. Setiap hari dia masih berjalan kaki ke hutan sekitar satu kilometer jauhnya untuk mengambil tanah liat, mengolah dengan jari-jemarinya, menjemurnya, hingga membakarnya sebelum akhirnya dijual.

Oma Oya seperti tidak termakan zaman. Dia membuat sempeh masih dengan cara tradisional seperti yang diajarkan orangtuanya. Sempeh setengah jadi masih dibakar dengan gaba-gaba (pelepah pohon sagu), dengan cara menumpukkan sempeh di antara gaba-gaba. Damar yang diperoleh dari Kairatu, Pulau Seram, pun masih digunakan untuk melicinkan sempeh setelah dibakar.

Karena menjadi satu-satunya perajin sempeh yang masih rajin membuat sempeh, nenek dari tiga cicit ini sering menjadi rujukan wisatawan asing yang berkunjung ke Ouw. Tanjung Ouw di Negeri Ouw, merupakan salah satu tempat wisata di Saparua. Keindahan Tanjung Ouw pernah dilukiskan penyanyi Bob Tutupoly dalam sebuah lagu.

Turis asing, umumnya warga Belanda, yang masih punya keluarga atau kerabat di Saparua, senang melihat kepiawaian Oma Oya membuat sempeh. Tidak heran jika sejumlah agen perjalanan wisata masih sering membawa rombongan turis ke rumahnya.

Ternyata, semakin hari semakin banyak saja turis yang mendatanginya. Itu bisa jadi karena para turis tersebut menceritakan kepiawaian Oma kepada teman-temannya.

Pernah satu kali, seorang turis yang berkunjung ke Ouw menunjukkan foto Oma Oya kepada warga setempat. Rupanya, dia mencari Oma Oya untuk melihat kepiawaiannya membuat sempeh.

Dari kunjungan para wisatawan ini, Oma Oya memperoleh tambahan penghasilan. Rupanya, setiap turis yang datang selalu memberikan sumbangan sekitar Rp 20.000 – Rp 50.000 setelah melihat ketelatenan Oya.

Namun demikian, semua itu diterimanya dengan lapang hati. Bahkan, dia selalu menolak bantuan dari pemerintah karena khawatir dimanfaatkan oleh oknum-oknum pemerintah. Kini, dia juga mencoba membuat sempeh dalam ukuran kecil. Replika sempeh itu dibuat agar turis yang ingin membeli sempeh tidak kerepotan membawanya.

”Kalau besar, tentu mereka akan kesulitan membawanya sebagai oleh-oleh. Kalau kecil, bisa mereka bawa dalam tas buat ditunjukkan pada ke teman-temannya,” katanya.

Agar terlihat ”berseni”, Oma Oya menyisipkan sedikit ukiran di sempeh-sempeh mungil ini. Ukirannya sederhana: berbentuk titik, garis, dan segi tiga, tetapi cukup membuat sempeh lebih ”berwarna” dibandingkan dengan bentuk aslinya.

”Harus dengan perasaan, hati-hati, pelan-pelan, untuk membuat sempeh-sempeh kecil ini. Membuatnya lebih sulit dibandingkan dengan membuat sempeh dalam ukuran besar,” katanya.

Kreativitas dan keuletan perempuan yang senang bernyanyi ini berbuah hasil. Setiap turis yang datang selalu membeli sempeh yang dihargainya Rp 15.000 itu. Sementara sempeh ukuran besar untuk keperluan rumah tangga, dijual Rp 25.000. Dalam sebulan, dia bisa menjual 50 sempeh mungil atau dua sampai tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan penjualan sempeh berukuran besar.

Selain itu, dia juga memodifikasi sempeh sehingga bisa digunakan untuk pot bunga. Beraneka bentuk dan ukuran pot bunga dibuat dan dijual dengan harga sekitar Rp 25.000.

Dari kreativitas dan keuletannya inilah, hasil dari sempeh bisa digunakan untuk menyekolahkan ketujuh anaknya. Ketujuh anaknya kini sudah berkeluarga dan memiliki 40 anak atau cucu bagi Oya.

”Jangan sampai anak-cucu tidak mengenal lagi sempeh. Sempeh warisan nenek moyang yang harus terus dilestarikan,” tuturnya. Dia bertekad akan terus membuat sempeh hingga akhir hayat.

***

Oya Pelupessy

• Lahir: Saparua, 1938

• Alamat: Negeri Ouw (samping Baileo Ouw), Saparua, Maluku Tengah, Provinsi Maluku

• Suami: Petrus Pelupessy (almarhum)

• Orangtua: Paul Pelupessy dan Wehelmina Pelupessy

• Anak: Yoti Pelupessy (41), Christian Pelupessy (40), Ivan Pelupessy (34), Merry Pelupessy (28), Allen Pelupessy (27), David Pelupessy (25), Nona Pelupessy (17)

[KOMPAS – 14 Januari 2011]

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Patti Smith akan bernyanyi untuk antar Hadiah Nobel bagi Bob Dylan
      Saat pidato penerima Hadiah Nobel Sastra Bob Dylan dibacakan, rekannya sesama penyanyi sekaligus penulis lagu Patti Smith akan menyanyikan salah satu lagu terbaiknya pada selebrasi Hadiah Nobel di Stockholm nanti.Smith akan ...
    • YLBHI ramalkan jaksa akan sulit buktikan kesalahan Ahok
      Koordinator Bantuan Hukum Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Julius Ibrani melihat banyak kejanggalan dalam pengusutan kasus dugaan penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama, bahkan Jaksa diyakininya akan sulit ...
    • Malaria sudah ada di zaman kekaisaran Romawi
      Para peneliti mengungkapkan analisis DNA gigi berusia 2.000 tahun yang digali dari satu kuburan di Italia menunjukkan bukti kuat bahwa malaria sudah ada selama Kekaisaran Romawi.Temuan itu berdasarkan pada DNA mitokondria - ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: