”The Economy of Enough”

Dalam memahami lesunya ekonomi global yang melanda seluruh dunia, lagi-lagi paradigma pertumbuhan tetap dijadikan pijakan solusi. Padahal, dikotomi ekonomi pertumbuhan versus perlambatan (stagnasi, kemunduran) tidak menyelesaikan masalah. Ia hanya mencarikan solusi semu. Hal mengingkari substansi ekonomi pertumbuhan itu sendiri yang memang telah mencapai batasnya.

Pemantik krisis global memang disebabkan praktik ekonomi (kasus subprime mortgage), tetapi di balik kasus itu, pertumbuhan kredit properti telah menyentuh titik kritisnya, titik jenuh atau batas pertumbuhan yang berakibat sebaliknya yakni perlambatan, penurunan.

Inilah yang oleh dunia dalam paradigma pertumbuhan disebut krisis. Padahal, dalam paradigma dunia yang tidak menekankan pertumbuhan, tetapi menekankan adanya “rasa cukup”, keseimbangan, krisis di atas justru dianggap proses pemulihan atau mekanisme pelepasan katup dari beban ekonomi.

Krisis global dengan begitu dimaknai sebagai “relaksasi ekonomi” sebagai otomatisasi dari pertumbuhan yang over, meski tetap dijaga agar tidak anjlok drastis, tujuannya untuk mencapai keseimbangan baru. Meminjam istilah Ulrich Duchrow semuanya ini menuju pada apa yang disebut sebagai “the economy of enough”.

Sayangnya, kesadaran “ekonomi cukup” tidak laku dalam kapitalisme yang berbasiskan modal. Tidak ada kata cukup dalam kapitalisme, karena modal dituntut untuk membesarkan dirinya, dengan produksi barang dan jasa, dengan mengkloning industri, membangkitkan terus-menerus konsumsi dunia, dibutuhkan atau tidak. Sumber-sumber alam akan lebih banyak lagi dieksploitasi untuk disedot bahan bakunya dan tidak ada peningkatan konsumsi yang bebas dari limbah dan polusi.

Keseimbangan Baru
Ketika krisis global mendera-dera sampai hari ini, pendekatan keluar dari krisis yang disebabkan oleh kerakusan konsumsi (greed) justru dilakukan dengan cara yang sama dengan penyebabnya, yakni meningkatkan konsumsi lagi. Dalam pertemuan Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss dan juga diikuti kebijakan pemerintah banyak negara sepakat untuk mendorong lebih lagi konsumsi dunia. Ketika krisis global yang disebabkan oleh over consumption, mengapa solusinya meningkatkan konsumsi? Ya karena kita telah terjebak dalam ekonomi pertumbuhan yang didorong oleh konsumsi. Kita tidak terbiasa untuk tidak mengonsumsi.

Kita belum juga sadar bahwa krisis global adalah sinyal “Limits to Growth”, sebuah studi yang memprediksi krisis global akan terjadi di tahun 2000-an (dan terbukti), studi mana dilakukan tahun 1972 oleh Club of Rome. Tetapi, jika paradigma ekonomi kita adalah “ekonomi cukup”, krisis harus disambut dengan ikhlas, diterima sebagai relaksasi, untuk mencapai keseimbangan ekonomi baru yang berbeda dengan ekonomi pertumbuhan.

Celakanya, pertumbuhan tanpa batas, itu menyisakan ruang yang makin lebar bagi masyarakat di piramida terbawah. Krisis global sekalipun menuju keseimbangan baru dan mestinya diarahkan untuk “economy of enough for all”, tetap meminta korban mereka ini, di mana ketika terjadi krisis mereka yang paling dulu terkena PHK, kehilangan pendapatan, dan seterusnya. Semua ini akibat dari tarikan hasrat pertumbuhan ekonomi yang makin melancipkan piramida ekonomi, sehingga rentang antara kelas atas dan bawah semakin jauh.

Ketika elastisitas pertumbuhan ekonomi mencapai batasnya, ibarat karet putus kita terkena jepretannya berupa krisis yang menyakitkan. Atau ibarat karet kehilangan daya lenturnya, kendor, di mana masyarakat di piramida terbawah makin sulit memperbaiki nasibnya dan tetap di situ. Sebaliknya, mereka yang ada di atas pun lebih mungkin turun kelas karena elastisitas ekonomi sudah rusak.

Kemewahan Ekonomi untuk Segelintir
Upaya keluar dari krisis yang disebabkan oleh over consumption di atas ditempuh dengan meningkatkan konsumsi dunia lagi. Inilah jebakan siklus pertumbuhan konsumsi. Iya saja karena hal itu merupakan faktor penting bagi jalannya industrialisasi, angkatan kerja, ekspor-impor, lalu lintas keuangan, eksploitasi alam dll yang menjadi pusaran pertumbuhan. Ketika semuanya berhenti, kita menjadi gagap dan ekonomi kapitalistik tidak terbiasa “berpuasa”. Tak heran jalan keluar meningkatkan konsumsi dunia ialah dengan meningkatkannya lebih lagi. Fak-tanya krisis global ditandai dengan lemahnya konsumsi internal baik perorangan, korporasi atau negara sehingga dibuatlah paket stimulus eksternal yakni dengan berbagai paket stimulus ekonomi (pajak, fiskal, infrastruktur, pembiayaan, industri, proyek padat karya, dll).

Stimulus bertujuan memberikan rangsangan agar ada pertumbuhan, roda produksi, lapangan pekerjaan, daya beli dan akhirnya konsumsi yang akan memutar rantai ekonomi berikutnya. Namun, there is no free lunch untuk stimulus ekonomi. Itu berbicara seberapa banyak kekuatan dana untuk menstimulasi ekonomi adalah dana nganggur yang jika digelontorkan – berdampak positif atau tidak – tidak peduli sumber pendanaannya. Namun, jika paket stimulus ekonomi dari dana strategis, apalagi utang, penggunaannya harus berdampak positif, karena jika negatif, ia akan memengaruhi peran dana strategis yang juga akan ikut negatif dan menambah utang baru. Padahal, perannya bukan hanya pendanaan untuk paket stimulus saja.

Stimulus ekonomi mungkin bisa mendongkrak, memotivasi, menggerakkan ekonomi, tetapi tidak ada jaminan bahwa stimulus karena sifatnya rangsangan dari luar bisa dipertahankan terus-menerus. Kebutuhan ekonomi harus didasarkan pada kebutuhan internal yang rasional dan bukan rekayasa eksternal seperti stimulus ekonomi untuk menciptakan booming produksi, konsumsi, lapangan kerja dan seterusnya yang semu dan tentatif sebagai pancingan agar ekonomi bergerak. Jadi, para motivator tidak lagi bisa menjual krisis dengan mengatakan bahwa dalam krisis ada peluang. Karena dalam peluang juga ada embrio krisis baru. Stimulus ekonomi mempunyai titik krisisnya yang mungkin belum kelihatan, meski efeknya cepat dirasakan.

Untuk itu paket stimulus ekonomi sebaiknya digunakan untuk mendukung motif konsumsi primer yang bisa menggerakkan ekonomi dan bukan motif konsumsi sekunder yang hanya membesarkan nafsu konsumsi, yang begitu habis terus selesai. Stimulus ekonomi yang diperlukan yang bersifat produktif dan berkelanjutan (sustainable production) yang bisa memutar roda dan rantai ekonomi secara cukup (the economy of enough). Kebersahajaan ekonomi untuk semua dan bukan kemewahan ekonomi untuk segelintir.

Stevanus Subagijo, peneliti pada Center for National Urgency Studies, Jakarta – SinarHarapan

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: