AS dan Dunia Masuki Tahap Baru

elasa tengah malam lalu, Rabu siang WIB (5/11), Barack Hussein Obama, 47 tahun, calon Presiden Partai Demokrat berdiri di panggung di Grant Park, kota Chicago menghadapi lebih 200.000 manusia yang berteriak hampir histeris: “Obama, Obama”. Dia sudah dinyatakan oleh pemancar TV CNN sebagai pemenang dalam pemilihan presiden 4 November. Tandingannya dari Partai Republik, Senator John McCain telah menyampaikan ucapan selamat melalui telepon.

Presiden terpilih Barack Obama (teman-temannya di Sekolah Dasar Jalan Besuki, Jakarta mengenangnya sebagai “Barry” ketika dia bersekolah di sana, 1967-1971) adalah putera dari seorang bapak, asal Kenya, dan ibu, Ann Dunham dari Kansas, AS. Mereka cerai dan ibunya nikah dengan Letkol (AL) Lolo Soetoro. Melalui perjalanan hidup yang serbaliku, dia mampu tamat dari Harvard Law School (Fakultas Hukum, Universitas Harvard yang dianggap top). Dia menjadi anggota Dewan Senat, mewakili negara bagian Illinois, baru dua tahun.

Barack Obama, bakal presiden Amerika Serikat ke-44, berdiri lewat tengah malam itu, seakan-akan perjalanan yang ditempuhnya menuju Gedung Putih serbasantai saja. Padahal, perjuangan politik yang mampu diselesaikannya selama 21 bulan secara sukses gemilang, harus diatasinya melalui berbagai hadangan. Terpilihnya Barack Obama sebagai Presiden AS menandakan bahwa akhirnya seorang kulit hitam dapat menjadi penghuni Gedung Putih. Jauh lebih penting adalah menganalisis kekuatan sosial politik yang ditempa oleh Barack Obama secara jitu sehingga mendorong Amerika Serikat memasuki tahap baru dalam sejarahnya. Apa yang telah terjadi dan berlangsung terus di negara adikuasa itu praktis merupakan revolusi sosial politik. Kalau bangsa-bangsa di luar AS tidak berusaha memahaminya, termasuk kita di Indonesia, maka kita akan dihadapkan dengan kejutan-kejutan oleh pelaksanaan politik luar negeri pemerintahan Presiden Obama.

Di sisi lain, kalau Indonesia mampu memahami derap dinamika sosial politik yang dicetuskan oleh kemenangan Barack Obama ini, mungkin saja kita dapat memetik manfaat demi kepentingan nasional RI dari kebijakan global yang diterapkan oleh kepemimpinan Presiden Obama. “….Fajar baru bagi kepemimpinan AS di dunia sedang merekah,” demikian Obama. “Mereka yang ingin merusak dunia ini, kita akan hantam. Mereka yang mendambakan perdamaian dan ketenteraman, akan kita bantu”. Kata-kata sederhana presiden terpilih Obama yang akan angkat sumpah pada 20 Januari tahun depan, dapat merupakan pangkal tolak dalam mengkaji ulang hubungan bilateral RI -AS.

*

Pemilihan seorang presiden, menurut konstitusi Amerika Serikat, berdasarkan sistem tidak langsung. Maksudnya begini, suara seorang pemilih pada Selasa lalu itu yang menjagokan Senator John McCain, calon Partai Republik, atau Senator Barack Obama, calon Partai Demokrat, sebenarnya menentukan anggota yang mewakili negara bagian yang bersangkutan ke sebuah lembaga yang disebut Dewan Pemilih Presiden. Umpamanya, negara bagian New York berdasarkan jumlah para pemilih yang terdaftar dialokasikan 31 kursi di Dewan Pemilih Presiden. Kalau mayoritas para pemilih di negara bagian New York menjagokan Senator Barack Obama, dan memang itulah yang terjadi, maka 31 kursi yang merupakan alokasinya di Dewan Pemilih Presiden nantinya secara formal akan memilih Barack Obama. Jumlah anggota Dewan Pemilih Presiden ini mewakili 48 negara bagian dan daerah khusus Ibukota Washington DC adalah 538 kursi. Untuk terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat, seorang calon presiden harus meraih 270 wakil di Dewan Pemilih Presiden tersebut. Senator Barack Obama berhasil merebut 338 wakil di lembaga tersebut, yang berarti lebih dari 50 persen. Hal ini dimungkinkan, antara lain, Barack Obama dan Partai Demokrat unggul di negara-negara bagian dengan para pemilih yang besar jumlahnya sehingga kursi di Dewan Pemilih Presiden yang dialokasikan untuk negara bagian tersebut, juga cukup besar.

Sebagai contoh, negara-negara bagian, seperti New York 31 kursi, California 55, Florida 27, Illinois 21, dan Pennsylvania 21 kursi. Semuanya direbut Barack Obama. Senator John McCain hanya mampu meraih 161 kursi di Dewan Pemilih Presiden. Angka-angka ini belum final ketika ulasan ini dipersiapkan, namun hasil akhirnya tidak akan terlalu meleset.

Yang juga patut dicatat tentang pemilihan presiden Amerika Serikat ini adalah jumlah pemilih yang mempergunakan hak pilihnya yang relatif tinggi dibandingkan dengan pemilihan presiden tahun-tahun lalu. Diperkirakan lebih dari 65 persen atau lebih dari 135 juta warga Amerika Serikat mempergunakan hak pilih mereka. Kehebatan para pekerja sukarela Barack Obama adalah usaha mereka untuk mendorong para warga minoritas (negro atau Latino) dan generasi muda untuk mendaftarkan diri sebagai calon pemilih.

*

Ada beberapa indikasi yang mengungkapkan bahwa dengan terpilihnya Barack Obama sebagai presiden, sebenarnya suatu revolusi sosial politik sudah terjadi dan akan terus berlangsung di negara adikuasa itu. Kita di Indonesia perlu mempelajarinya dan menyesuaikan kebijakan hubungan bilateral sesuai realitas yang terjadi.

Perubahan besar atau revolusi sosial politik ini bukan saja dilambangkan oleh terpilihnya seorang kulit hitam sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan. Kampanye Barack Obama mengungkapkan bahwa dia berhasil mempersatukan warga dari latar belakang yang beda, tingkat sosial aneka ragam dan lintas generasi menjadi suatu gerakan rakyat yang mendambakan sebuah tujuan bersama. Dan tujuan koalisi baru ini dicanangkan oleh Barack Obama sejak 21 bulan lalu, ketika ia mencalonkan dirinya sebagai bakal presiden, yakni perubahan!

Dukungan luas dengan pola jaringan yang memanfaatkan teknologi informasi serbacanggih nampak dari teknik penggalangan dana yang diterapkan oleh kampanye Barack Obama. Melalui internet dimungkinkan bahwa seorang pendukung memberikan sumbangan sebesar 50 dolar beberapa kali sehingga hasil akhir dari penggalangan dana secara merata dan meluas ini adalah jumlah mengesankan, jauh di atas jumlah yang dikumpulkan oleh lawannya, John McCain. Karena itu, kampanye Barack Obama mampu melancarkan kampanye tayangan iklan televisi secara terkonsentrasi dan kontiniu di beberapa negara bagian. Yakni, di negara bagian yang menjadi rebutan sengit, seperti Pennsylvania dan Virginia. Obama ternyata unggul di sana.

Koalisi sosial politik para pendukung Barack Obama sehingga dia terpilih sebagai presiden yang pasti akan menandai karakter pemerintahannya selama empat tahun mendatang, mulai awal 2009. Transparansi dan keterus-terangan akan merupakan ciri khas gaya pemerintahannya. Dalam pidatonya Selasa tengah malam di Chicago, kota pangkalannya, atau Rabu siang WIB, Presiden Obama menyambut kemenangannya menandaskan, dia selalu terbuka mendengar berbagai pendapat, dan selalu akan menjalankan transparansi. “Saya ini adalah presiden dari semua golongan, juga mereka yang tidak mendukung saya dalam pemilihan lalu”. Nada suara Obama dan tekniknya berpidato mengingatkan saya pada almarhum Presiden Soekarno.

*

Persoalan yang perlu dikaji oleh para perumus kebijakan politik luar negeri RI, tapi juga oleh kita sebagai masyarakat : Apakah makna dan konsekuensi terpilihnya Barack Obama sebagai Presiden Amerika Serikat? Bagaimanakah kira-kira sepak terjang pemerintahannya? Bagaimanakah sikapnya terhadap Asia dan Indonesia? Memang, bakal Presiden Amerika Serikat yang baru terpilih itu, pernah tinggal bersama orangtuanya selama 3 atau 4 tahun di Jakarta – tapi jangan timbul asumsi bahwa serta merta pemerintahannya bersikap, simpatik terhadap Republik Indonesia.

Yang pasti, Presiden Obama akan mengutamakan penyelesaian krisis finansial yang melanda negaranya. Ia sudah mencanangkan beberapa program selama kampanye. Antara lain, mengatasi masalah pengangguran dan mengamankan kesempatan kerja bagi para buruh. Ia katakan, tanpa bersikap proteksionis, ia akan kaji ulang, semua perjanjian perdagangan yang memudahkan impor barang-barang jadi ke pasaran Amerika. Dalam hubungan ini perlu diteliti, sampai di mana ekspor Indonesia akan terancam pembatasan. Yang mengkhawatirkan adalah kemungkinan timbulnya ketegangan hubungan ekonomi dan perdagangan dengan Republik Rakyat Tiongkok. Neraca dagang bilateral selalu menghasilkan surplus besar bagi Beijing, sehingga pemerintahan Obama pasti akan meninjaunya. Obama pernah mengkritik Beijing bahwa nilai mata uang “yuan” perlu ditinjau karena ditentukan terlalu rendah untuk mendorong ekspor. Apakah ketegangan itu, kalau timbul, dapat mempengaruhi Asia Tenggara?

Presiden Obama juga sudah dapat diperkirakan akan mengurangi keterlibatan Amerika Serikat di Iran, dan membatasi komitmen militernya di Eropa dan Asia demi penghematan. Tapi dia akan meningkatkan usaha diplomasi secara aktif untuk menyelesaikan konflik-konflik di berbagai penjuru dunia. Kita akan melihat, Amerika Serikat yang dipimpin Presiden Obama, akan menjauhi sikap gagah-gagahan dan bahasa gertak, seperti kebiasaan Presiden Bush. Namun, ia akan tetap tegas dalam mempertahankan kepentingan nasional negaranya.

Juga, dapat diperkirakan bahwa pemerintahan Presiden Obama akan bersikap lebih cermat dalam menanggapi kasus-kasus pelanggaran hak asasi dan penyimpangan prinsip demokrasi di sejumlah negara. Dan akan mengutamakan prinsip transparansi dalam hubungan antarnegara dan antarbangsa.Kita, di Indonesia patut menyambut baik kepemimpinan Presiden Barack Obama yang akan mendorong Amerika Serikat berperan sebagai adikuasa yang mendambakan pembangunan dan perdamaian.*

Sabam Siagian adalah pengamat perkembangan internasional

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Unknown Feed

    • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: