“BPPN” AS dan RRT sebagai “Neo-IMF”

Pemilihan presiden Amerika Serikat mengalami kejutan, September lalu, bukan dari Osama bin Laden, melainkan dari “King Hank Paulson” Menkeu AS, yang tampil di depan Kongres AS pada 17 September. Ia meminta dana talangan darurat US$ 700 miliar untuk mengatasi krisis moneter (krismon) AS. Usulan tiga halaman itu tentu saja ditolak 205 versus 228 oleh Kongres pada voting, Senin 22 September. Wall Street langsung ambruk dan market capitalization US$ 1,2 triliun tergerus dalam satu hari itu, disusul anjloknya bursa global.

Kongres mengabaikan lobi segitiga Bush, Obama, dan McCain, bersama pimpinan Kongres di Gedung Putih menjelang voting karena terkejut dengan jumlah astronomic yang diajukan Paulson. Stimulan yang dianggarkan pada 2006 untuk ekonomi AS hanya US$ 189 miliar, lalu mengapa untuk menalangi Wall Street malah butuh lima kali lipat. Sejak penyelamatan Bear Stearns pada 2007 oleh JP Morgan Chase, nasionalisasi Freddie Mae, Fannie Mae, serta penyelamatan AIG, dana terkait sudah sekitar US$ 300 miliar.

Anggota Kongres dari Partai Republik mengecam langkah Paulson sebagai neokomunisme. Sementara anggota Kongres Demokrat tetap menganggap, langkah Paulson sebagai penyelamatan Wall Street atas beban rakyat jelata AS (Main Street). Setelah bursa dunia ambruk dan dunia panik, Presiden Bush serta dua capres, Obama dan McCain, melobi untuk mengubah pendirian 25 anggota Republik dan 32 anggota Demokrat pada voting 3 Oktober siang. Dengan hasil 264 setuju dan 171 (108 Republik dan 63 Demokrat) tetap menolak.

Keserakahan

Krisis ekonomi dunia sebetulnya didasari oleh keserakahan pelaku bursa dan kelemahan sistem dan lembaga pengawasan (oversight agency), karena KKN ataupun regulasi yang ketinggalan dari praktik yang mestinya dilarang, tapi dibiarkan seperti short selling. Penyebab awal adalah penyaluran kredit perumahan secara tidak bertanggung jawab, tidak memakai agunan, dan bersifat politis untuk mencapai target propaganda politik, bahwa pemerintah AS berhasil mengentaskan kemiskinan dari warga minoritas sampai bisa memiliki rumah. Walaupun, jelas daya beli dan pendapatan debitur tidak memadai, tapi tetap dikucuri kredit oleh lembaga perumahan swasta ataupun semi BUMN, seperti Freddie Mae dan Fannie Mae.

Ketika utang mulai tidak tertagih, para bankir dan lembaga keuangan yang terlibat menciptakan produk untuk mewadahi aset bermasalah, yang diberi nama collateralized debt obligation (CDO). Ini, dikeluarkan oleh badan hukum special purpose vehicle (SPV), yang berdomisili di luar AS (off shore haven), dan dijual berulang kali mirip dengan Anda menjual barang dengan multilevel marketing, antarbank, bahkan hingga keluar AS. Akibatnya, bank-bank di luar AS juga terbeban oleh utang properti yang tidak terbayar karena pembeli memang tidak punya daya beli. Sedang keyakinan utama bankir, ialah properti tidak akan pernah rugi atau menurun harganya.

Properti hanya punya satu arah, naik, apresiasi, capital gain, profit, dan tidak ada “bukunya” turun atau rugi. Sedang suku bunga deposito rendah dan nilai mata uang, bisa menurun karena inflasi. Ini terjadi secara siklus dalam kurun waktu 10 tahun sejak tragedi WTC. Hingga tahun 2004 grafik harga properti masih terus menaik dan mencapai puncaknya, kemudian mulai menurun drastis dan sejak 2006 sudah mulai memperlihatkan kegagalan pembayaran oleh debitur.

Hukum ekonomi yang mendasarinya adalah there is no such thing as free lunch in this world, you have to pay for your lunch. Wall Street sendiri tidak sepi dari petualang dan predator yang tidak bertanggung jawab dan praktis menjadi kriminal, karena hanya menggoreng saham tanpa kinerja nyata di sektor riil.

Gelombang kredit bukan hanya dibenamkan dalam sektor perumahan, tapi juga dalam kredit konsumsi, yang tentu saja akan lenyap tak berbekas. Penyakit “besar pasak daripada tiang” mengidap ke masyarakat, keluarga dan individu AS. Semuanya berpenyakit lebih besar belanja ketimbang mengandalkan pendapatan riil (take home pay). Yang diijonkan melalui kartu kredit, akhirnya bisa menyamai atau melebihi pendapatannya bila ditambah bebas kredit perumahan yang di- obral oleh lembaga keuangan secara tidak prudent.

Dari mana AS membiayai utang itu? Dari larisnya surat utang yang dibeli oleh negara-negara surplus seperti RRT, Timur Tengah, penabung Asia Timur lain, serta Rusia yang sedang menikmati boom komoditas dan harta karun migas. Dana-dana surplus dari negara-negara yang tidak sepenuhnya menjadi sahabat AS itu, bernilai triliunan dolar AS di samping dari mitra tradisional, seperti Eropa Barat dan Jepang.

Reformasi

Dalam acara GPS CNN dengan Fareed Zakaria, PM RRT Wen Jiabau mengatakan, sekarang diperlukan reformasi arsitektur keuangan global yang mengikutsertakan secara proaktif semua pelaku. Ini suatu sindiran bahwa Bank Dunia dan IMF sudah tidak mencerminkan arsitektur keuangan global. Dana milik bank sentral negara-negara surplus jauh lebih besar dari dana Bank Dunia, IMF dan bank-bank regional lain, seperti: Asian Development Bank, African Development Bank, dan Inter American Development Bank. Dana itu sebagian besar, karena tidak tersalurkan dalam proyek bisnis dan investasi sektor riil maka diendapkan dalam surat berharga AS (treasury notes).

Perdebatan mengenai ideologi menjadi tidak relevan, sebab kata kuncinya adalah meritokrasi dan akuntabilitas. Sistem kapitalis Wall Street gagal mengendalikan pasar, sedang sistem RRT dengan kendali otoriter, menciptakan surplus dana yang sekarang menjadi penyelamat sistem liberal Barat.

“BPPN” AS yang baru dibentuk dengan “modal awal” US$ 700 miliar harus memperhatikan kreditur RRT dan kawan-kawan yang mempunyai kepentingan terhadap aset bermasalah tersebut. Segera setelah pengesahan UU Penyelamatan Ekonomi US$ 700 miliar, pemerintah dan Bank Sentral RRT mengeluarkan pernyataan, mendukung dan akan bekerja sama untuk memulihkan perekonomian dunia.

Eropa menyusul langkah darurat AS dengan KTT Paris, Sabtu 4 Oktober, yang diprakarsai oleh Presiden Sarkozy, sebab krisis AS ternyata juga merebak di Eropa. Pemerintah Inggris, Benelux, Irlandia, dan Yunani mengambil langkah sepihak dan koalisi untuk menyelamatkan bank-bank papan atas dan kredibilitas perbankan mereka. Belanda menasionalisasikan Fortis dengan 16,6 miliar euro, sedangkan Inggris harus menyelamatkan Bradford & Bingley. Irlandia memberikan jaminan penuh atas deposito disusul Yunani, yang mengundang protes bankir London karena nasabah menarik semua dana dari London pindah ke Dublin, Irlandia.

Presiden Sarkozy melontarkan gagasan pembentukan “BPPN” Eropa dengan modal 300 miliar euro atau sekitar US$ 450 miliar untuk mengatasi krisis Eropa.

Perlu diingatkan agar RI tidak asyik dengan debat pemilu rutin dan kegenitan elite bersindrom “pede” mirip Soeharto saat krismon. Perdarahan ekonomi AS kali ini berdampak transformasi geopolitik yang sangat fundamental. RRT, sebagai penyandang dana dalam fungsi “Neo-IMF” pasti menuntut jaminan agar “BPPN” versi BOM (Bush -Obama-McCain) dan “BPPN Eropa” tidak mengulangi kebangkrutan Lehman dkk. RRT dkk berkepentingan tidak bisa membiarkan AS bangkrut. karena US$ 1 triliun dananya terlanjur terbenam di negara Paman Sam. Interdependensi global adalah keniscayaan bagi semua negara, termasuk RI.

Christianto Wibisono adalah pengamat masalah nasional dan internasional

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Unknown Feed

    • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: