Bung Tomo: Surabaya Bersiap

Ketua Yayasan 10 November ’45, H Des Alwi, bertempat di Gedung Joang 45, Jalan Menteng Raya 31, Jakarta Pusat, pada 3 Januari 2009 menyelenggarakan acara pemutaran sekaligus penyerahan film dokumenter “Perjuangan Surabaya Bung Tomo” kepada keluarga besar Bung Tomo. Berkat usaha cukup panjang, belum lama berselang, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganugerahi gelar Pahlawan Nasional kepada Bung Tomo atau Sutomo.

Saya telah melihat film tentang pertempuran di Surabaya Oktober-November 1945 antara pemuda (Arek Suroboyo) dan tentara Inggris. Saya juga baru membaca buku berjudul: Bersiap! Opstand in het paradijs- De Bersiap-periode op Java en Sumatra 1945-1946, karangan Dr H Th Bussemaker (2006), seorang Indische Nederlander yang lahir di negeri ini. Kebanyakan sejarawan sependapat bahwa periode Bersiap itu berlangsung dari 1 September 1945 hingga 1 Januari 1946, tatkala rakyat Indonesia bangkit serentak menentang kembalinya kolonialisme Belanda. Pekik perjuangan yang terdengar masa itu adalah “Bersiap”. Pemuda beserta rakyat bersenjata bambu runcing, golok, dan sedikit senjata api menyerang pos-pos tentara NICA-Belanda.

Saya pertama kali melihat Bung Tomo sekitar dua bulan sebelum proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Waktu itu, Angkatan Muda baru selesai mengadakan pertemuan di Vila Isola, Bandung. Kemudian, para pemimpinnya datang ke Jakarta. Di antara kelompok itu terdapat Sutomo, wartawan kantor berita Jepang Domei bagian Indonesia di Surabaya. Mereka berkumpul di kantor Kotapraja Jakarta untuk mengobarkan semangat juang pemuda menghadapi kemerdekaan Indonesia yang dijanjikan oleh PM Jepang Koiso, September 1944. Angkatan Muda menolak proklamasi dilakukan oleh Dai Nippon. Kaum nasionalis Indonesia harus tampil di depan dunia internasional.

Sebagai reporter surat kabar Asia Raja, saya saksikan pada suatu ketika Sutomo spontan menanggalkan kemejanya untuk dipersembahkan kepada rakyat yang kekurangan tekstil sebagai perbuatan simbolik. Kemudian, saya tidak melihat lagi Bung Tomo.

Ketika meletus pertempuran di Surabaya 10 November 1945, Bung Tomo tampil sebagai pendekar pidato di depan corong radio, membakar semangat rakyat untuk berjuang melawan tentara Inggris dan Nica-Belanda.

Insiden Bendera

Dalam buku Dr Bussemaker, saya membaca kegiatan Bung Tomo. Secara kronologis dimulai dengan “insiden bendera” di Oranje Hotel di Tunjungan Surabaya. Tanggal 19 September pihak Belanda yang datang bersama tim RAPWI (Recovery of Allied Prisoners of War and Internees) sehari sebelumnya mengibarkan bendera Rood-Wit-Blauw. Rakyat berkerumun menyatakan amarahnya. Bung Tomo berdiri di mobil berpidato di depan massa. Akibatnya, massa menyerbu bendera Belanda itu dan diturunkan. Bagian birunya disobek, tinggal bagian merah dan putih, lalu dikibarkan kembali. Orang-orang Belanda yang berada di Gedung Palang Merah Internasional dekat Oranye Hotel bereaksi. Timbul perkelahian antara Belanda dan pemuda. Itulah yang disebut vlagincident te Surabaya.

Setelah insiden tersebut, sebagian pemuda di bawah pimpinan Sumarsono mendirikan PRI (Pemuda Republik Indonesia). Pada 23 September Bung Tomo mendirikan Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI).

Pada 24 Oktober, tentara Inggris tiba di Surabaya, dipimpin oleh Brigjen AWS Mallaby (42). Drg Moestopo mengatakan kepada Inggris agar jangan mendarat. Mallaby berbicara dengan Moestopo dan berkata tetap akan mendarat. Inggris melalui udara menyebarkan selebaran dan kepada pihak Indonesia diberikan waktu hingga 30 Oktober untuk menyerahkan senjatanya. Pada 27 Oktober lapangan terbang Morokrembangan diduduki oleh Inggris. Sepanjang malam Radio Pemberontakan menyiarkan pidato Bung Tomo yang berapi-api.

Pada 28 Oktober, pertempuran meledak. Tentara Inggris kewalahan. Presiden Soekarno diminta oleh Jenderal Christison untuk turun tangan melerai. Pada 29 Oktober, Bung Karno, Bung Hatta, dan Bung Amir Sjarifuddin, dengan menumpang pesawat RAF tiba di Surabaya.

Pada 30 Oktober, Jenderal Hawthorn datang dari Jakarta. Perundingan diadakan. Bung Tomo hadir bersama Roeslan Abdulgani, Gubernur Jatim Soerio, Residen Surabaya Sudirman, Sungkono, Sumarsono, dan D Atmadji. Gencatan senjata tercapai. Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan Inggris berusaha menghentikan pertempuran. Pemuda berhasil mengalahkan dan merendahkan martabat Brigade ke-49 Inggris. Pada 30 Oktober, Brigjen Mallaby tertembak di depan Gedung Internatio. Pada 31 Oktober, Soekarno mendengar berita kematian Mallaby yang kemudian dimakamkan di Menteng Pulo, Jakarta.

Tanggal 2-3 November, Divisi Kelima Inggris tiba di Surabaya dari Malaka. Juga tiba Jenderal Mansergh. Pada 7 November, diselenggarakan pertemuan antara Mansergh dan Gubernur Soerio. Tidak tercapai persetujuan. Mansergh memberikan ultimatum: pihak Indonesia menyerahkan senjatanya. Pemuda menolak. Pada 10 November, Inggris mengebom Surabaya. Pemuda memberikan perlawanan. Bung Tomo berpidato di Radio Surabaya. Pemuda memberikan perlawanan. Bung Tomo berpidato di Radio Pemberontakan mengobarkan semangat menentang tentara Inggris dan kembalinya kolonialisme Belanda. Pemuda dan pemudi memperlihatkan pengorbanan, rakyat maju tak gentar. Sekitar 6.000 orang Indonesia tewas di medan pertempuran Surabaya. Tanggal 10 November dijadikan Hari Pahlawan.

Sebagai wartawan Merdeka, bersama rekan Mohammad Supardi, saya berangkat dari Yogya 11 November petang dan tiba di Stasiun Wonokromo, 12 November pagi dan berada tiga hari di Surabaya meliput Pemuda melawan tentara Inggris. Waktu itu, saya tidak bertemu dengan Bung Tomo, tapi pidatonya melalui Radio Pemberontakan masih terdengar.

Rosihan Anwar , adalah wartawan senior – SuaraPembaruan

1 Comment

  1. pengalaman seru om…


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Unknown Feed

    • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: