Dampak Resesi terhadap Pertanian Indonesia

Krisis keuangan global di Amerika Serikat yang berimbas pada resesi di sebagian belahan dunia juga berimbas pada dunia pertanian Indonesia. Resesi yang ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang melambat bahkan negatif dan melemahnya daya beli masyarakat. Selanjutnya menurunkan permintaan sebagian besar komoditas barang dan jasa termasuk komoditas pertanian. Komoditas andalan ekspor yang melemah permintaannya itu antara lain karet, kelapa sawit, kopi, cocoa, teh dan komoditas perikanan seperti udang beku, tuna dan cakalang, dan komoditas kehutanan yakni pulp dan kertas.

Akibatnya melemahnya permintaan komoditas pertanian ini harga bergerak turun. Perbandingan harga sejumlah komoditas pada Januari 2008 dan Desember 2008 (berdasarkan data FAO 2009): beras Thailand jenis A1 super (medium) turun 15% dari US$ 365/ton menjadi US$ 310/ton, harga jagung turun 28% dari US$ 204/ton menjadi US$ 147/ton, harga kacang kedelai turun 30% dari US$ 541/ton menjadi US$ 378/ton. Demikian juga harga komoditas ekspor perkebunan seperti CPO sudah turun 54% dari US$ 1.059/ton pada Januari 2008 menjadi US$ 488/ton pada November 2008, harga kopi turun 35% dari US$ 2.300/ton pada Januari 2008 menjadi US$ 1.500/ton pada Desember 2008. Harga karet kering (crumb rubber) turun 33% dari Rp 23.700/kg pada September 2008 menjadi Rp 16.000/kg pada November 2008, dan sebagainya. 

Lantas apakah petani masih untung dengan harga di atas? Jawabannya ya! Hanya marginnya menurun tajam. Karet rakyat biaya produksinya kurang lebih Rp 2,5 juta/ha/tahun dengan produksi rata-rata 1.200 kg/tahun, jadi sekalipun harga di tingkat petani Rp 6.000/kg, petani masih untung Rp 4,8 juta/tahun/ha. Keuntungan itu sudah tidak layak untuk hidup normal. Juga kelapa sawit, biaya produksi lebih rendah kurang lebih Rp 2,0 juta/ha/tahun dengan rata-rata produksi 1.500/kg Tandan Buah Segar (TBS). Jadi, jika harga di tingkat petani Rp 600/kg TBS, petani masih untung Rp 8,8 juta/ha/tahun. Biaya hidup normal dibutuhkan sedikitnya Rp 1,1 juta/bulan atau Rp 13,2 juta/tahun. 

Pasar Dalam Negeri
Apa yang harus dilakukan oleh pemerintah agar petani mampu bertahan di tengah krisis seperti ini. Pertama adalah meningkatkan produktivitas komoditas pertanian. Masih banyak petani kita yang kurang optimal dalam penggunaan pupuk, berbagai alasan dikemukakan seperti harga pupuk mahal, pupuk sulit didapat, modal kurang atau tanah masih subur. Peranan aparat penyuluh pertanian sangat diperlukan di sini. Subsidi pupuk kepada pekebun rakyat, swasta dan negara perlu dipertimbangkan. Harga jual kepada pelaku ekonomi ini sebaiknya disamakan saja dengan petani tanaman pangan. Ini adalah salah satu stimulus fiskal dari pemerintah. Hal ini juga untuk mengurangi kelangkaan pupuk dalam negeri. 

Kedua adalah memperluas lahan pertanian, pemanfaatan lahan-lahan telantar di seluruh tanah air atau lahan kritis yang layak dibudidayakan sangat diperlukan terutama bagi petani berlahan sempit/gurem. Petani pekebun yang sudah memiliki lahan milik 2 ha tidak perlu diberikan, tapi yang memiliki 1 ha ke bawah layak diberikan, sehingga mampu hidup dengan taraf normal. Hal ini juga sekaligus untuk menjalankan reformasi agraria di Indonesia. Reformasi agraria terutama land reform ini dapat dijalankan secara terbatas sesuai dengan ketersediaan lahan dan dana. 

Ketiga adalah memperkuat pasar dalam negeri. Konsumen domestik saat ini masih belum dapat menikmati harga terjangkau dari komoditas perkebunan seperti kopi, minyak goreng, cokelat, dan jagung. Mungkin pedagang masih menggunakan stok lama dengan harga pembelian yang lama. Penurunan harga ini akan dapat meningkatkan daya beli masyarakat. Apalagi pemerintah sudah menurunkan harga BBM. Agar lebih berdampak pada penurunan harga pemerintah dapat membuat peraturan dan menekan Organda agar ongkos transportasi segera turun. 

Menstabilkan Harga Beras
Keempat, menurunkan tingkat suku bunga. Suku bunga saat ini relatif tinggi dan tidak akomodatif bagi dunia usaha pertanian, apalagi investasi di bidang perkebunan yang memiliki grace period 4-5 tahun. Amerika Serikat misalnya menurunkan tingkat suku bunganya sampai hanya 0,25%/tahun agar masyarakat dan pelaku usaha bergairah untuk berinvestasi. Karena resesi ini melanda sebagian dunia maka untuk menarik investor dari luar negeri dan mencegah larinya mata uang dolar sangat tidak mungkin untuk saat ini. Apalagi tingkat inflasi kita relatif rendah. Pemerintah sudah menurunkan BI rate 50 basis poin lagi menjadi 8%/tahun. Suku bunga kredit juga diharapkan turun agar daya beli masyarakat meningkat.

Kelima, mempertahankan nilai dan volume ekspor dengan kondisi yang ada saat ini. Sekalipun jumlah dan nilai ekspor pertanian kita mengalami penurunan, tapi kita harus dapat mempertahankannya dengan melakukan berbagai strategi pemasaran, seperti peningkatan daya saing melalui peningkatan mutu termasuk standardisasi, packaging, dan kesinambungan produksi. Depresiasi rupiah terhadap dolar AS harus dimanfaatkan sebagai peluang pasar dengan menurunkan harga jual. Petani atau produsen primer umumnya menjual dalam bentuk rupiah. Keenam, mengurangi jumlah impor kita agar daya beli masyarakat dapat ditingkatkan dan peluang pasar produk dalam negeri lebih terbuka. 

Bagaimana dengan produksi beras kita yang tahun ini diperkirakan 63,5 juta ton gabah kering giling atau surplus 5 juta ton beras? Dengan harga jual di pasar internasional yang lebih rendah dari harga di dalam negeri, lebih baik jika surplus itu dibuat untuk operasi pasar untuk menstabilkan harga daripada diekspor. Harga beras medium di tingkat eceran saat ini Rp 5.500–6.000/kg, perlu diturunkan sampai harga yang terjangkau misalnya Rp 4.000- 4.500/kg. Dana puluhan triliun untuk penanggulangan kemiskinan perlu dialihkan untuk mengembalikan fungsi Bulog sebagai lembaga penyangga pangan, sehingga harga yang diterima petani tetap menguntungkan dan harga jual ke konsumen tetap terjangkau. 

Viktor Siagian, alumnus IPB. Magister Sains Ilmu Ekonomi Pertanian dari Sekolah Pascasarjana IPB. Peneliti pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumsel, Badan Litbang Deptan, Palembang – SinarHarapan

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Unknown Feed

    • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: