Golput Bukan Ancaman

Menghadapi Pemilu 2009, Kiki Syahnakri tampak khawatir dengan potensi menguatnya golongan putih alias golput.

Kiki Syahnakri menulis banyaknya golput, terutama dalam pilkada belum lama ini, merupakan salah satu sisi negatif yang membayangi Pemilu 2009. Alasannya: banyaknya golput bisa berarti keterpilihan pemimpin tidak mencerminkan kehendak rakyat secara utuh.

Dengan kata lain, menurunkan kredibilitas dan legitimasi pemerintah yang dihasilkan sehingga berpotensi menimbulkan kerawanan politik yang bisa merusak integritas bangsa dan negara.

Ia pun berharap, ”jangan lagi ada tokoh yang menyerukan boikot pemilu atau mendukung golput. Ia juga mengharapkan adanya etika demokrasi dan kompetisi yang sehat menuju Pemilu 2009” (Kompas, 6/1/2009).

Realitas politik

Dalam kacamata formal, banyaknya golput bisa berarti seperti digambarkan Kiki Syahnakri. Namun, dalam soal politik sebagai strategi, kita harus realistis dan memandang golput sebagai realitas politik yang sedang berlangsung dan memiliki potensi terhadap kemenangan dan kekalahan partai tertentu.

Hanya partai yang solid keanggotaannya tak akan terpengaruh kampanye golput. (Apalagi) golput di era kini belum bisa digambarkan sebagai satu kekuatan politik yang terorganisasi, seperti pada Pemilu 1997 yang kian dapat mendeligitimasi rezim Orde Baru. Pada pemilu kali ini, golput masih merupakan gambaran abstrak yang bisa diolah dalam rangka memenangi partai tertentu bila partai itu sanggup, mengingat politik kepartaian kita pada masa reformasi masih dibayangi floating mass hasil depolitisasi Orde Baru selama 32 tahun.

Dalam hal tertentu, golput pada era reformasi bukan kesadaran politik, tetapi mungkin lebih banyak pada ke-apatis-an untuk mengikuti pemilu karena sudah muak dan tidak percaya terhadap lembaga politik dan bisa jadi juga tidak peduli saat hak pilihnya dalam Pemilu 2009 tidak diberikan sebagaimana mestinya oleh petugas yang bertanggung jawab untuk itu.

Sebagai gambaran, kita bisa membaca pernyataan Bre Redana terkait peran kelas kreatif dan momentum Pemilu 2009: ”Perubahan gaya hidup memengaruhi perubahan dunia kini. Peningkatan kualitas kehidupan boleh kita harapkan pada individu-individu yang mendorong berkembangnya ekonomi kreatif, bukan pada para caleg yang fotonya terpampang di poster-poster butut” (Kompas Minggu, 4/1/2009).

Pernyataan itu juga dapat diartikan sebagai sikap apatis atau tak adanya harapan pada para aktivis politik yang kini sedang berjuang di medan parlementarian (entah untuk melakukan perubahan atau mempertahankan status quo, tentu ini soal lain).

Kebebasan

Golput tentu saja banyak dimensi dalam alam demokrasi di era reformasi. Tak bisa disimpulkan sebagai ancaman begitu saja karena rakyat relatif punya kebebasan untuk mendirikan partai masing-masing sesuai tingkat kesadaran politik yang dimiliki.

Justru yang berbahaya dalam pemilu era sekarang adalah menguatnya politik uang dan kita tahu siapa-siapa yang memiliki uang di negeri ini. Itu artinya demokrasi semakin dijauhkan dari tangan-tangan kerakyatan yang tulus berjuang dan berkehendak mewujudkan demokrasi sebagaimana arti sebenarnya, yaitu Kedaulatan Rakyat.

AJ Susmana, Alumnus Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta – KOMPAS

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Peneliti UI : `top-up fee` perbankan harus efisien
      Peneliti dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Rizal E. Halim menilai Top-up fee (biaya isi ulang) seharusnya perbankan melakukan efisien. "Top-up fee, perbankan harus bisa lebih efisien," kata ...
    • Perbankan nasional harus mulai perkuat sistem digitalisasi
      Perbankan nasional harus mulai beralih kepada pemberdayaan digitalisasi sehingga dapat mengikuti perkembangan zaman di era globalisasi. "Dunia perbankan dan lembaga keuangan tentunya tidak luput dari disrupsi digital. ...
    • Greysia/Apriani kembali gagal hentikan Matsutomo/Takahashi
      Pasangan ganda putri Greysia Polii/Apriani Rahayu belum bisa mengatasi pasangan nomor satu dunia asal Jepang Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi di turnamen bulu tangkis Jepang Terbuka 2017 usai menderita kekalahan di Korea Terbuka ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

    • Apple Watch 3 Diliris Bagian 2-Habis
      Namun jeroannya juga cukup gahar Perangkat wearable buatan pabrikan yang berbasis di Cupertino ini mengandalkan kinerjanya pada pada dukungan prosesor W2 dual-core Chip itu diklaim ...
    • Apple Watch 3 Diliris Bagian 1
      Apple kembali merilis smartwatch terbarunya Kali ini giliran Watch Series 3 yang dilenggangkan Dililihat dari modelnya jam tangan cerdas ini memiliki tampilan yang mirip dengan ...
    • Nokia Boyong 3 Smartphone Android ke Indonesia
      Nokia menghadirkan smartphone Android terbaru untuk pasar Indonesia Kali ini pabrikan asal Finlandia itu memboyong Nokia 3 5 dan 6 Ketiga ponsel itu dijadwalkan akan ...
  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: