Hikmah Integrasi Ekonomi Asia

Tidak ada kawasan yang luput dari terpaan krisis finansial yang bermula dari AS. Asia Pasifik, mitra perdagangan penting bagi AS dan sebaliknya, saling terpukul. China, salah satu motor, juga terimbas.

Penurunan laju perekonomian di AS memiliki sisi baik. Setidaknya harga minyak turun dan mengurangi tekanan inflasi.

Dampak krisis global ini tidak sama terhadap negara-negara di Asia karena keadaan berbeda di masing-masing negara.

Menurut para ekonom dari ANZ Bank, pertumbuhan kawasan Asia turun dari 9 persen menjadi 6,25 persen pada tahun 2009. Menurut lembaga pemeringkat Standard & Poor’s, pertumbuhan ekonomi di Asia Pasifik juga akan melemah.

Beberapa faktor masih dapat menutupi pelemahan itu. Pertumbuhan perdagangan di kawasan merupakan faktor yang dapat menstimulasi permintaan. Hal ini bisa terwujud melalui ekspansi moneter dan fiskal. Ekspansi ini bisa dilakukan karena tekanan inflasi yang mereda.

ANZ Bank membedakan negara-negara di Asia menjadi dua kelompok. Kelompok pertama, negara yang memiliki ketergantungan besar terhadap ekspor, seperti Hongkong, Korea Selatan, Taiwan, dan Singapura. Negara- negara ini akan merasakan dampak lebih berat dibandingkan dengan Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam.

Kelompok kedua, seperti Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam, lebih mengandalkan konsumsi domestik dan investasi untuk menunjang pertumbuhan dibandingkan dengan kelompok pertama.

Pertanyaan apakah perekonomian Asia terpisah dari perekonomian AS? Ini menjadi pembahasan menarik dalam beberapa bulan terakhir. Perekonomian AS masih tetap penting untuk Asia walaupun ketergantungan sudah semakin menurun. Perdagangan di antara negara di kawasan Asia tersebut semakin meningkat dalam sepuluh tahun terakhir.

Ada fakta lain bahwa beberapa negara mengalami pertumbuhan pesat belakangan. Pertumbuhan itu merupakan hasil dari peningkatan perdagangan di kawasan Asia.

Hal lain yang penting adalah sebagian besar negara di kawasan Asia Pasifik ini telah sepakat mengikat lewat perjanjian perdagangan dan investasi di dalam kawasan maupun dengan negara di luar kawasan. Sebanyak 13 dari 14 negara di kawasan merupakan anggota dari Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Jadi, walaupun masih bergantung pada ekspor ke AS, perdagangan yang cukup besar di antara negara kawasan juga menopang pertumbuhan perekonomian.

Hal itu jugalah yang menolong Asia sehingga tidak terlalu terpukul krisis yang berasal dari AS.

Akan lain ceritanya jika semua negara di kawasan hanya bertumpu dalam satu negara, yaitu AS. Kawasan Asia juga dapat bertahan karena ada permintaan yang besar dari dua lokomotif Asia, yaitu China dan India.

Harga komoditas, seperti minyak sawit mentah (CPO), mencapai puncak pada tahun 2008. Hal itu menguntungkan produsen di Asia, seperti Malaysia dan Indonesia, juga sekaligus menambah tekanan inflasi. Seiring dengan penurunan harga komoditas ini, termasuk minyak, tekanan inflasi di kawasan akan menurun tahun depan.

Dengan demikian, tekanan inflasi yang rendah memberikan ruang bagi perbankan untuk meningkatkan likuiditas. Hal itu memberikan ruang gerak bagi penurunan tingkat suku bunga.

Langkah antisipasi

Berbagai langkah antisipasi maupun penanganan krisis sudah dilakukan di berbagai negara di kawasan Asia Pasifik. Segala macam jurus dikeluarkan, seperti kebijakan fiskal berupa penurunan atau penundaan pajak dan kebijakan moneter berupa pengaturan uang beredar agar lebih besar dan penurunan tingkat suku bunga, untuk memberi stimulus bagi pertumbuhan.

Penurunan tingkat suku bunga drastis sudah dilakukan di Thailand. Ada juga paket-paket stimulus di berbagai negara Asia bernilai mulai dari 1 miliar dollar AS di Vietnam hingga 600 miliar dollar AS di China.

Kerja sama di tingkat multilateral dalam mengatasi krisis juga sudah mulai dilakukan. Negara-negara ASEAN Plus 3 (China, Korea Selatan, dan Jepang) telah mencapai komitmen membentuk dana bersama sejumlah 80 miliar dollar AS. Dana ini akan digunakan untuk skema swap multilateral baru yang dimulai pada pertengahan tahun 2009.

Pembentukan dana ini dicapai di sela-sela Pertemuan Asia-Eropa (Asem) Ke-7 yang berlangsung di Beijing, China, Oktober lalu. Dengan fasilitas ini, anggota dapat menarik pinjaman jangka pendek melalui mekanisme swap mata uang domestik terhadap dollar AS, euro, atau yen Jepang.

Pengertian swap adalah pertukaran suatu valuta dengan valuta lainnya atas dasar kurs yang disepakati. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi pergerakan kurs pada masa mendatang. Biasanya dana itu antara lain digunakan untuk menjaga kurs mata uang suatu negara dan menjaga level cadangan devisa.

Skema multilateral ini akan menggantikan swap mata uang yang saat ini sudah ada, yaitu Inisiatif Chiang Mai. Dalam kesepakatan baru itu, Korea Selatan, China, dan Jepang setuju menyediakan 80 persen dari total dana atau 64 miliar dollar AS. Adapun 10 negara anggota ASEAN menanggung sisanya.

Kecepatan penanganan krisis di kawasan Asia memang tampaknya berbeda dengan Uni Eropa, yang terkena imbas krisis lebih dalam. Namun, Uni Eropa lebih sigap mengantisipasi dan mengatasi krisis dengan langkah lebih nyata dan terkoordinasi.

Pasar saham

Pasar saham di kawasan Asia juga tidak luput dari penurunan. Para investor, terutama institusi yang banyak merugi karena penurunan harga surat berharga di pasar maju, menarik dananya dari pasar berkembang. Walaupun sebenarnya keadaan fundamental ekonomi di negara berkembang masih dapat dikatakan baik, pelarian itu tidak mampu membendung memburuknya kinerja pasar saham di Asia. Padahal, pada tahun 2007 pasar saham China dan Indonesia merupakan pasar saham terbaik di dunia dengan tingkat capital gain di atas 50 persen per tahun.

Menurut analis saham dari Standard & Poor’s, pasar saham di kawasan Asia akan membaik pada tahun 2009 . Alasannya, sudah banyak dukungan dan perbaikan yang dilakukan berbagai macam pemerintah di kawasan untuk memperbaiki sistem finansial. Dampak dari kebijakan-kebijakan itu akan tecermin dalam peningkatan kepercayaan investor tahun depan. Selain itu, pasar juga sudah jatuh cukup dalam sehingga banyak saham berfundamental bagus berharga murah.

Kurs dollar AS

Sebagian besar kurs mata uang dunia melemah terhadap dollar AS. Hanya ada tiga yang menguat dalam tiga bulan terakhir dan semuanya berasal dari kawasan Asia, yaitu yen Jepang menguat 15,37 persen, yuan China 0,05 persen, dan dollar Hongkong 0,7 persen. Selebihnya, mata uang, termasuk rupiah, melemah dalam tiga bulan terakhir.

Pelemahan kurs mata uang Asia membantu melindungi margin dalam mata uang lokal ketika volume ekspor melemah. Namun, pelemahan kurs berdampak terhadap inflasi karena harga barang impor menjadi lebih mahal.

Dengan menambah faktor penurunan harga minyak, komoditas, dan pangan, tekanan terhadap inflasi berkurang. Perekonomian Asia tampaknya akan bertahan dari terpaan krisis. Kawasan lebih mempunyai daya tahan.

Joice Tauris Santi – KOMPAS

1 Comment

  1. selamat hari natal & tahun baru


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: