Hikmat Natal, Allah Tidak Sinis

Menyadarkan jati diri manusia yang bernilai mulia, itulah hikmat pokok Natal. Saat Allah menjadi manusia, terutama manusia yang sederhana yang nantinya mati sebagai orang yang dipersalahkan, Allah mengingatkan kita bahwa dalam kesengsaraan manusia yang paling nista, Ia ada di situ.

Bagi orang Kristiani, Allah tidak beradu argumentasi untuk meyakinkan nilai mulia manusia, tetapi ia masuk sejarah manusia, memberikan teladan-Nya.

Pandangan sinis

Intuisi tentang kodrat mulia manusia bukanlah hal baru. Para filsuf Yunani sudah menekankan pentingnya manusia merawat jiwanya karena di situlah kemiripan dengan yang Ilahi paling bisa ditemukan.

Manusia bukanlah tubuhnya, apalagi status sosial atau harta kekayaannya. Manusia adalah jiwanya, itulah intuisi Sokratik yang memiliki sejarah panjang. Tentu saja hikmat seperti ini tidak begitu saja diterima umum. Banyak orang pada zaman itu dan sekarang berpandangan sebaliknya.

Harga manusia, kebahagiaan dan kemuliaannya, sering ditolokukuri dengan status sosial, merek pakaian, dan mobil atau deretan titel. Secara awam, kesuksesan manusia lebih kelihatan seperti itu. Pada tingkat paling kasar, uang menjadi tolok ukur kesuksesan dan kebahagiaan. Itulah manusia, dulu dan sekarang.

Dan, zaman dulu, sebelum peristiwa Natal masuk sejarah manusia, ada pengikut-pengikut Sokrates yang mengkritik kecenderungan mengukur kemanusiaan secara eksterior seperti itu, salah satunya adalah kaum Sinis.

Mengapa ”sinis”? Karena mereka hidup seperti kunikos (anjing): menggelandang, makan dan minum seadanya, serta hidup telanjang demi mewartakan kesejatian kodrat manusia. Bagi kaum Sinis, manusia bahagia bila ia hidup menuruti kodrat alaminya.

Dikisahkan, suatu hari, Diogenes, si orang Sinis, berlari-lari telanjang di tengah pasar pada siang bolong membawa lentera dan berteriak-teriak ”Aku mencari manusia!” Di pasar, tempat orang banyak berkerumun, Diogenes tidak menemukan manusia. Yang ia temukan adalah topeng status, buntalan pakaian, dan selimut titel. Itulah mengapa meski siang hari bolong, ia perlu membawa lentera untuk menerangi ada apa dibalik bertumpuk-tumpuk tabir yang menyelimuti manusia-manusia itu. Ia mencari-cari bilamana ada manusia yang bernilai, yang hidup sederhana dan selaras dengan kodrat alamiahnya.

Allah tidak sinis

Pertanyaan Diogenes masih aktual untuk kita. Apakah yang ditampakkan untuk menunjukkan jati diri manusia kita? Pakaian dan titel? Bagaimana nilai manusia kuukur? Bila orang tak beruang, tidak eksis di mataku, siapakah manusia bagiku?

Natal mengingatkan, Allah tidak berpuas diri sekadar mengajukan berbagai pertanyaan yang mengganggu suara hati. Iman Kristiani mengajarkan, Allah bertindak dan menjadikan diri-Nya manusia.

Dalam arti itu, Ia sama sekali tidak sinis. Allah dalam kebijaksanaan-Nya tahu, manusia terlalu lihai untuk membolak-balik argumentasi untuk sekadar menunjukkan diri paling benar. Maka, Ia memilih jalan inkarnasi historis dengan tindakan dan contoh. Dalam diri manusia Yesus yang lahir di kandang sederhana, Allah mengosongkan diri-Nya. Ia menjadi sama seperti kita, bahkan yang paling kecil di antara kita.

Lebih dari itu, Natal juga mengingatkan, Yesus manusia yang benar nantinya justru dipersalahkan dan dihukum mati. Inkarnasi Allah menjadi manusia berujung ekstrem pada kematian tragis dan tak masuk akal. Wajar kalau Santo Paulus berujar, iman Kristiani menjadi skandalon (skandal, batu sandungan) bagi kaum pecinta kebijaksanaan Yunani. Barangkali karena aspek skandalon yang menggugah pikiran seperti itulah, literatur sejarah Yunani dan Hellenistik kadang menyejajarkan figur Yesus dengan Sokrates atau orang Sinis.

Namun, Allah dalam diri Yesus sama sekali tidak sinis karena Ia tidak berpuas diri memprovokasi pikiran kita. Inkarnasi bukanlah metode filosofis untuk mengajak orang berpikir. Allah menjadi manusia adalah buah perjalanan sejarah Allah yang mendengarkan teriakan nestapa manusia. Kini Ia tidak hanya mendengarkan, Ia menjadikan diri-Nya sama dengan yang ternista dari kita supaya pada gilirannya kita peka untuk saling mendengarkan penderitaan sesama.

Allah bukan hanya entitas serba murni transenden jauh dari akal manusia. Ia adalah terutama yang memperkenalkan diri lewat kesederhanaan dan kematian-Nya. Ia mengatakan dan menyatakan, ”dalam diri orang yang paling kecil” Ia hadir. Dalam wajah manusia yang papa dan diterpa kenistaan, kita diajak melihat kehadiran-Nya.

Terlalu indah untuk bisa dipercayai sebagai nyata? Tradisi iman Kristiani mengajarkan, iman yang indah itu nyata. Dan, tantangan orang Kristiani pada setiap zaman adalah menyatakan keindahan itu dalam tindakan nyata secara individual demi solidaritas dengan yang paling kecil. Iman Kristiani adalah iman yang menyejarah, terlibat aktif menyibakkan terang di tengah keabu-abuan yang menjadi ciri khas sejarah kita.

Siapakah orang paling kecil di antara kita kini? Anak-anak di pinggir jalan, korban krisis ekonomi, atau korban Lapindo? Di mana wajah-Nya hadir saat ini? Natal adalah contoh nyata tindakan Allah dan di depan sebuah teladan pilihan kita hanya mengikuti atau menolak-Nya.

Semoga kesempatan Natal ini menjadikan kita merenungkan kemuliaan kodrat manusia sebagai manusia. Kemuliaan dan keindahan yang setiap kali harus dibela dan diperjuangkan karena manusia mudah lupa dan takabur sehingga mengorbankan sesamanya. ”Gloria dei, homo vivens est,” kata Santo Ireneus. Kemuliaan Tuhan adalah manusia yang hidup sepenuhnya. Di mana ada manusia yang hidup secara tidak manusiawi (miskin, tersingkir, terasingkan, dan terabaikan), orang Kristiani dipanggil untuk memperbaiki dan mengembalikan kodrat mulia mereka.

A Setyo Wibowo Pengajar STF Driyarkara, Jakarta – KOMPAS

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: