Jadi Pahlawan, Mau?

Dalam kondisi seperti sekarang, siapa yang sebenarnya pantas disebut pahlawan? Dalam bahasa Indonesia, kata ”pahlawan” dari bahasa Sanskerta phala, berarti ’buah’.

Buah yang pada masa silam menjadi komoditas rebutan bangsa asing (Eropa) hingga rela berlayar ribuan mil dari negeri asal mereka menuju benua baru. Kata phala lalu ditambah akhiran –wan yang juga berasal dari bahasa Sanskerta untuk menyebut orang terkait. Jadi, kata ”pahlawan” dapat dipahami sebagai orang yang dari dirinya dihasilkan buah karya berkualitas unggul bagi suatu kepentingan baik bangsa, negara, dan agama.

Dalam benak kita kata ”pahlawan” seperti tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, bermakna pejuang yang gagah berani, orang yang menonjol keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran. Dengan kata lain kata ”pahlawan” dipakai untuk menyebut seseorang yang memiliki sifat sebagai warga bangsa yang ideal, baik fisik maupun nonfisik. Selain itu seorang pahlawan juga memiliki kriteria dan ciri unggul seolah di atas kemampuan manusia biasa dan cenderung ”berlebihan”.

Dalam bahasa Inggris dikenal istilah hero yang biasanya muncul dalam karya sastra atau epos. The Glossary of Literary Terms menyebutkan istilah hero dipakai dalam mitologi klasik yang mengacu pada tokoh yang mempunyai kekuatan melebihi manusia biasa bahkan tokoh setengah dewa, seperti Achilles, Thesus, maupun Hercules.

Pada masa modern, saat Amerika Serikat dilanda krisis akibat malaise pada awal tahun 1930-an, dimunculkan seorang tokoh (komik) superhero yang berasal dari planet lain dan bertugas membela kebenaran di bumi. Tokoh ini kelak dikenal sebagai Superman yang digambarkan memiliki dua kehidupan. Pada satu sisi ia menjadi manusia biasa yang bernama Clark Kent dan bekerja sebagai reporter surat kabar, sedangkan pada sisi yang lain ia menjadi Superman, tokoh pahlawan yang bisa terbang.

Obama

Pada krisis di Amerika saat ini, entah siapa yang akan dimunculkan sebagai superhero baru. Apakah Barack Obama? Atau akan muncul tokoh komik baru jika Obama kelak tak mampu mengatasi krisis?

Hal yang menarik adalah dalam historiografi suatu bangsa, individu yang dianggap ”penjahat” dapat menjadi ”pahlawan”. Di sini unsur politis (bangsa) yang berbicara. Misalnya dalam historiografi Indonesia, tokoh seperti Pangeran Diponegoro, Teuku Umar, Pattimura, Tuanku Imam Bonjol, Sultan Hasanuddin disebut sebagai ”pahlawan”. Namun, dalam historiografi Belanda, mereka disebut sebagai ”pemberontak” atau ”penjahat” yang mengganggu ketenteraman pemerintah kolonial.

Sementara itu, dalam historiografi Belanda, Pangeran Willem van Oranye, pendiri dinasti Oranye yang berkuasa sekarang, menurut historiografi Spanyol, justru dianggap ”pemberontak” bukan pahlawan. Karena pada abad ke-17 ia dianggap memberontak terhadap kekuasaan Spanyol yang diwakili Philip II. Nama Willem van Oranye juga diabadikan dalam lagu kebangsaan Belanda, Wilhelmus.

Di Indonesia tidak sembarang orang dapat disebut pahlawan. Penyebutan dan pengangkatan seseorang menjadi pahlawan diatur pemerintah yang dituangkan dalam Keppres, seperti Keppres No 657/1961 tentang penetapan tokoh-tokoh: Dr Sutomo, Kiai Ahmad Dahlan, dan KH Agus Salim sebagai ”Pahlawan-pahlawan Kemerdekaan Nasional”. Keppres itu didasarkan ketentuan yang terkait ”pahlawan” yaitu Keppres No 217/1957 dan No 241/1958 tentang Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Seiring kebijakan otonomi daerah, setiap daerah di Indonesia pun berupaya mencari tokoh pu- tra daerah yang dapat dijadikan ”pahlawan”. Maka dicarilah jejak jasa-jasa mereka pada masa lalu sebagai bahan pertimbangan untuk diangkat menjadi pahlawan, baik melalui sumber lisan maupun mengorek data tumpukan arsip berdebu. Adapun mereka yang jelas telah berjasa membutuhkan waktu untuk diangkat menjadi pahlawan. Meskipun sebenarnya pengakuan dari masyarakatlah yang lebih penting.

Sekarang, bagaimana dengan diri kita, apakah dengan sengaja menanam jasa dan kelak menuainya sebagai pamrih untuk mendapat predikat ”pahlawan”? Atau kita tetap berjuang untuk kepentingan bangsa dan negara sesuai dengan bidang keahlian masing-masing tanpa memikirkan jasa atau pamrih di masa depan?

Achmad Sunjayadi Pengajar di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI dan Erasmus Taalcentrum Jakarta

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Kapolri hadiri hari polisi Malaysia di Kuala Lumpur
      Kapolri Jendral Tito Karnavian turut menghadiri upacara Hari Polisi Malaysia (Polisi Diraja Malaysia) ke-210 yang berlangsung di Dataran Kawad Pulapol Jalan Semarak Kuala Lumpur, Sabtu. Upacara yang dihadiri Perdana ...
    • Wapres pimpin rapat persiapan Asian Games Inasgoc
      Wakil Presiden Jusuf Kalla memimpin rapat persiapan Asian Games 2018 di kantor Sekretariat Komite Penyelenggara Asian Games (INASGOC), Jakarta, Sabtu. Rapat koordinasi kedua untuk persiapan Asian Games 2018 yang dipimpin ...
    • Nyepi bermakna pengendalian diri agar hati teduh
      Hari raya Nyepi merupakan tonggak peringatan penyadaran dharma dan pengendalian diri menuju hati yang teduh, kata akademisi Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar, Bali, Prof Dr I Made Surada. "Kegiatan dalam ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: