Jaga Stamina pada 2009

Tahun 2008 ibarat masa yang semula diharapkan manis, tetapi tiba-tiba menjadi pahit bagi industri perbankan. Saat perbankan tengah bersemangat bekerja, tecermin dari tingginya penyaluran kredit, tiba-tiba badai krisis datang, menghancurkan pasar keuangan domestik.

Aliran likuiditas yang sebelumnya berlimpah langsung macet karena bank saling enggan meminjamkan dananya. Likuiditas yang sebelumnya melimpah ruah kini jadi barang langka. Suku bunga pun terkerek naik menciptakan berbagai ranjau risiko bagi perjalanan industri perbankan ke depan. Bagaimana nasib perbankan pada tahun 2009?

Dasar pijakan perbankan memasuki tahun depan sungguh muram. Suku bunga deposito berjangka per November 2008 rata-rata 10 persen, naik dibandingkan akhir 2007 yang sekitar 7 persen. Suku bunga kredit rata-rata mencapai 14 persen meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 12 persen. Rezim suku bunga tinggi amat tidak disukai perbankan.

Kredit bermasalah

Selain menurunkan permintaan kredit dari sektor riil, kondisi tersebut juga meningkatkan kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL). Jika NPL meningkat, modal dan laba bank akan tergerus karena dipakai untuk pencadangan.

Aliran likuiditas, yang merupakan aliran darah bagi perbankan, mulai mengering. Itu terlihat dari ekses likuiditas yang berkurang. Per September 2008, ekses likuiditas yang disimpan dalam Sertifikat Bank Indonesia, fasilitas BI, dan fine tuning operation (FTO) sebesar Rp 134 triliun, turun jauh dibandingkan akhir tahun 2007 yang senilai Rp 249 triliun. Jika ekses likuiditas terus menurun, kemampuan bank melayani penarikan dana nasabah juga berkurang.

Perbankan pun memasuki 2009 pada saat laju kredit mulai melambat. Pertumbuhan kredit bulanan terus menurun. Jika selama periode Februari-Juni 2008 laju kredit bulanan mencapai hampir 4 persen, pada periode Juli-September 2008 laju kredit hanya sekitar 2 persen.

Di tengah lingkungan dan pijakan yang buruk tersebut, untung saja bank masih memiliki tingkat kesehatan yang baik, tecermin dari rasio kecukupan modal (CAR), rasio kredit bermasalah (NPL), dan tingkat efisiensi. CAR perbankan masih sebesar 17,1 persen, jauh di atas angka minimal sebesar 8 persen. Artinya, bank memiliki modal yang lebih dari cukup untuk meng-cover risiko. NPL pun relatif rendah, hanya 3,89 persen. Meskipun tekanan NPL diperkirakan meningkat pada 2009, bank telah memiliki modal manajemen risiko yang baik.

Kesehatan bank yang masih baik tersebut jelas akan menjadi modal memasuki 2009. Perbankan hanya perlu menjaga stamina dan daya tahan untuk lolos melewati pelbagai rintangan tahun depan.

Direktur Bank Mandiri Zulkifli Zaini saat Infobank Outlook 2009 menjelaskan, ada sejumlah tantangan pada 2009. Tantangan tersebut antara lain berlanjutnya ketidakpastian makroekonomi global, melambatnya penyaluran kredit, ketatnya persaingan memperebutkan dana, dan tuntutan peningkatan modal seiring meningkatnya risiko.

Laju pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2009 diperkirakan paling banter sekitar 5,5 persen. Seiring itu, laju kredit juga bakal melambat di kisaran 22-24 persen. Begitu pula dengan laju dana pihak ketiga yang diperkirakan 12-14 persen.

Masih akan meningkat

Suku bunga bank diperkirakan masih akan meningkat sampai triwulan I/2009 dengan rata-rata suku bunga deposito berkisar 11 persen dan rata-rata suku bunga kredit berkisar 16 persen. Seiring penurunan inflasi mulai semester II/2009, suku bunga akan kembali turun.

Kondisi likuiditas yang masih kering pada 2009 akan membuat perebutan dana murah, seperti tabungan, akan semakin ketat. Kondisi ini akan membuat posisi dana murah akan turun. Adapun posisi deposito, yang bunganya cukup tinggi bakal tetap tumbuh.

Menurut Zulkifli, kunci untuk memenangi persaingan perebutan dana adalah menjaga kepercayaan nasabah. Caranya ialah dengan mengedukasi nasabah untuk memahami kondisi bank dan risiko produk serta komunikasi intens untuk mencegah rumor.

Zulkifli juga mengusulkan agar diberlakukan penjaminan penuh (blanket guarantee) terhadap simpanan nasabah.

Deputi Gubernur BI Muliaman D Hadad menjelaskan, pengaruh krisis keuangan global telah meningkatkan risiko likuiditas, risiko pasar, risiko kredit, dan risiko sistemik perbankan.

Risiko kredit meningkat karena penurunan daya beli masyarakat dan penurunan laba perusahaan akan mengurangi kemampuan bayar debitor. Dampaknya, NPL akan meningkat. Menurut Muliaman, bank perlu mewaspadai kondisi keuangan debitor eksportir seiring melemahnya ekonomi global.

Pengamat perbankan Eko B Supriyanto mengatakan, dampak lain dari gejolak pasar keuangan ialah mendorong konsolidasi perbankan. Bank-bank kecil yang rentan dihantam badai akan banyak diakuisisi bank- bank besar yang bermodal kuat.

M. Fajar Marta – KOMPAS

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Tim pencari lanjutkan evakuasi korban gempa dari reruntuhan
      Tim pencari dan penyelamat melanjutkan upaya mengevakuasi korban gempa dari bangunan-bangunan yang runtuh akibat gempa 6,5 Skala Richter (SR) yang melanda Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, dan sekitarnya kemarin pagi, menewaskan lebih ...
    • Kekuatan gempa 6,5 SR setara empat bom Hiroshima
      Perekayasa Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menyebut kekuatan gempa bumi 6,5 Skala Richter (SR) yang kemarin pagi mengguncang di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, dan sekitarnya setara dengan kekuatan empat hingga enam ...
    • Penyertaan Modal Negara untuk PT SMI perlu diaudit BPK
      PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) hampir setiap tahun memperoleh Penyertaan Modal Negara (PMN) yang secara total telah tersalurkan Rp24,3 triliun.Anggota Komisi XI DPR RI Heri Gunawan, dalam keterangan tertulis, Kamis, ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: