Jalan Terjal Pemerintahan Obama

Dua perang di Irak dan Afganistan. Krisis finansial yang meremukkan perekonomian. Persaingan dengan China dan Rusia. Citra yang buruk. Itulah setidaknya tantangan yang menanti Barack Obama setelah resmi menjabat sebagai presiden ke-44 AS pada 20 Januari 2009.

Beratnya tantangan bagi Obama digambarkan menarik dalam karikatur karya Mike Luckovich berjudul Day One atau Hari Pertama. Karikatur itu menggambarkan Obama tengah berupaya menyatukan kembali lembaran Konstitusi AS yang tercabik-cabik.

”Saya ingin menjadi presiden yang benar-benar hebat,” kata Obama dalam wawancara dengan majalah New York, tak lama setelah maju sebagai calon presiden dari Partai Demokrat.

Kemenangan Obama pada pemilu presiden, 4 November 2008, adalah sejarah bagi bangsa Amerika. Dialah presiden kulit hitam pertama, mematahkan dominasi white, Anglo-Saxon, Protestant, seperti mendiang Presiden John F Kennedy yang beragama Katolik. Dia adalah perwujudan ”Mimpi Amerika”.

Obama pula yang ”menggairahkan” para pemilih AS pada pemilu tahun ini sehingga partisipasi melonjak drastis, mencapai 135 juta orang. Usianya yang masih muda (47 tahun), ide-idenya yang segar, dan mantra ”Change We Can Believe In” yang dijabarkan dalam pidatonya yang memukau membuat pemilih, tua dan muda, hitam dan putih, mengular di tempat pemungutan suara.

Obama memperoleh 66.882.230 (52 persen) popular votes dan 365 electoral votes. Dia mengungguli rivalnya dari Partai Republik, John McCain, yang mendapatkan 58.343.671 (46 persen) popular votes dan 173 electoral votes.

Pemilih yang semula mendukung Partai Republik beralih mendukung Obama. Begitu pula sejumlah negara bagian yang secara tradisional basis Republik bisa ”direbut” Demokrat.

Mengapa? Obama mampu melihat apa yang salah dengan negaranya, yaitu kegagalan pemerintahan sebelumnya untuk memberikan perlindungan bagi warganya. Dia tidak menjanjikan bisa memecahkan semua persoalan bangsa Amerika, tetapi dia akan bersama seluruh bangsa Amerika mengatasi persoalan itu. Dia hanya mengatakan akan memberikan sesuatu yang sama sekali berbeda dengan pemerintahan sebelumnya.

Transformatif

Penulis Robert Kuttner dalam bukunya Obama’s Challenge: A Transformative Opportunity (Chelsea Green Publishing, 2008) menyebutkan, Obama berpotensi menjadi presiden yang progresif dan transformatif pertama sejak Lyndon Johnson. ”Jika dia mampu meraih momentum, dia bisa bergabung dalam segelintir presiden sebelumnya yang sungguh-sungguh transformatif, berhasil mengubah secara mendasar ekonomi, masyarakat, dan demokrasi kita menjadi lebih baik,” tulisnya.

Jika dia gagal mengejawantahkan harapan, lanjut Kuttner, dia berisiko tidak saja kondisi negara yang lebih buruk, tetapi juga kepresidenan yang gagal.

Dari situlah ujian dimulai. Sejumlah kebijakan Obama, walaupun belum terucapkan, sudah terlihat saat kampanye. Dalam bidang ekonomi, misalnya, Obama akan memotong pajak bagi keluarga pekerja hingga 500 dollar AS per orang atau 1.000 dollar AS per keluarga. Dalam kebijakan luar negeri, Obama akan lebih membuka diri terhadap ”musuh-musuh” AS dan memperbarui cara diplomasi AS.

Seperti telah digaungkannya sejak masa kampanye, Obama akan menarik pasukan AS di Irak secara bertahap dalam 19 bulan. Dia juga akan mengalihkan sumber daya untuk berperang di Afganistan yang disebutnya sebagai garis depan perang melawan terorisme.

Proteksi

Sosok pemerintahan Obama mulai terlihat. Beberapa personal yang akan mengawal kebijakan Obama terlihat. Yang pertama adalah tim ekonomi, mengisyaratkan pentingnya isu itu bagi pemerintahan Obama.

Obama dipuji karena memilih orang-orang yang sudah ”jaminan mutu”, terutama untuk berhadapan dengan krisis ekonomi. Seperti sosok Lawrence Summers (Direktur Dewan Ekonomi Nasional), Timothy Geithner (Menteri Keuangan), dan Paul Volcker (Dewan Penasihat Pemulihan Ekonomi) diyakini banyak pihak akan mampu membawa secercah harapan di tengah terpaan badai ekonomi.

Namun, Obama juga dikritik, terutama oleh kelompok kanan, karena dia membawa nuansa ”kiri” dalam tim pemerintahannya. Kebijakan ekonomi Obama juga diperkirakan akan lebih proteksionis dibandingkan Presiden George W Bush. Hal itu mengingat begitu terpuruknya perekonomian dalam negeri—bangkrutnya perusahaan besar dan hilangnya lapangan pekerjaan—yang membutuhkan ”perlindungan ekstra” pemerintah.

Sektor industri otomotif, misalnya, akan diproteksi menyusul jatuhnya produsen mobil terkemuka di AS, seperti General Motors. Sektor manufaktur tampaknya juga turut diproteksi.

Sikap proteksi AS jelas tidak menguntungkan negara lain, termasuk Indonesia, di mana AS masih menjadi salah satu negara tujuan ekspor. Kendati Obama pernah empat tahun tinggal di Indonesia dan punya kenangan pada nasi goreng serta rambutan, kebijakannya tak serta-merta memprioritaskan Indonesia.

Francisca Romana – KOMPAS

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: