KTT G-20, Obama, Sultan, dan SBY-JK

Majalah Tempo 26 Oktober menyebut Pemilu 2009 sebagai medan Kuruksetra, perang saudara Bharatayudha antara sepupu Pandawa dan Kurawa, memperebutkan Indraprasta atau paruhan Hastinapura.

Pada Pisowanan Ageng di Alun-alun Yogyakarta, Selasa 28 Oktober 2008, Sri Sultan Hamengku Buwono X menyatakan, bersedia dan siap menjadi presiden pada 2009. Rabu pekan lalu, UU Pilpres mematok angka 20%, suatu upaya mempersulit Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tampil sendirian sebagai capres dan harus berkoalisi dengan partai lain. Reaksi Jusuf Kalla dan Agung Laksono agak sinis terhadap langkah Sultan. Pada Jumat lalu, Arifin Panigoro, bos grup Medco menyatakan, insiden Lumpur Lapindo bukan bencana alam melainkan kelalaian kontraktor. Satu sodokan bola biliar politik ke arah Aburizal Bakrie. Arifin adalah satu dari lima serangkai: Sukardi Rinakit, Garin Nugroho, Muslim Abdulrahman, dan Franky Sahilatua, yang dijuluki “tim sukses HB X”.

Tampilnya Sultan tepat di tengah krisis keuangan menambah komplikasi ketika semua orang sibuk memikirkan manuver menjadi capres dengan tantangan yang dihadapi incumbent. Pre- siden Yudhoyono memperoleh advantage, karena diundang sebagai peserta KTT G-20 yang resminya disebut Summit on Financial Markets and the World Economy Leaders, 14-15 November, di Washington DC.

Belum ada capres lain yang berani memberikan komentar tentang krisis keuangan, karena sadar bahwa jika mereka menjadi presiden juga akan menghadapi tantangan berat yang sulit dipecahkan. Sebagai elite, mereka sadar bahwa krisis ini global dan mendasar, sehingga jika Indonesia tidak kompak menanggapi dengan sigap, maka mereka juga akan menjadi korban krisis.

Apakah semangat ini bisa terus dipertahankan ketika genderang perang Kuruksetra Pemilu 2009 merasuki elite politik Indonesia?

Amerika Serikat sedang mengalami ujian, apakah Obama akan menang berdasarkan meritokrasi, kinerja, dan kapabilitas yang memadai. Bukan sekadar jatah atau kuota, dan pertimbangan public relations, memasang orang kulit berwarna untuk menjual citra AS yang sangat terpuruk pada era Bush. Jadi, rakyat AS sudah bisa menerima bahwa tidak ada masalah minoritas atau mayoritas, semua warga negara sama dan berhak menjadi presiden.

Sisa Dikotomi

Di Indonesia, Jusuf Kalla merasa tidak akan laku di Pulau Jawa, karena itu rela menjadi wapres walaupun Golkar menang. Debat Priyo Budi Santoso dan Sukardi Rinakit di harian ini, Sabtu (1/11) merupakan sisa dari dikotomi Jawa luar Jawa. Priyo mengatakan bahwa jika Sultan mau berkampanye dan Golkar menang di Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur, maka Golkar akan mencalonkannya menjadi presiden, karena Golkar lebih menang di luar Jawa dan figur Jusuf Kalla tidak akan laku di Jawa. Padahal, menurut sosiolog Thamrin Amal Tamagola, dalam Sugeng Saryadi Forum, Jusuf Kalla itu “nJawani” jika dialog dengan rakyat, ketimbang SBY, yang dinilai bergaya priyayi santun yang agak “tinggi” di mata rakyat.

Muslim Abdulrahman dari tim sukses Sultan, dalam diskusi itu menyatakan, cawapres Sultan akan lebih membuktikan pluralitas, bila terpilih orang Indonesia Timur yang nonmuslim. Sukardi Rinakit memberikan kriteria lain, harus orang yang mengerti bisnis. Ini tentu terobosan luar biasa di tengah kontroversi dikotomi klasik, soal non-Jawa dan nonmuslim.

Dunia sedang menghadapi krisis yang sangat fundamental, bukan sekadar krisis kredit subprime AS. Kombinasi berbagai skenario dan grand theory geopolitik berimpitan satu sama lain. Teori jatuhnya imperium dan transformasi sistem global mulai dari Edward Gibbon, Mancur Olson, Paul Kennedy, David Landes, Immanuel Wallerstein, Francis Fukuyama, Samuel Huntington hingga Amy Chua, Kishore Mahbubani, Parag Khanna, serta Fareed Zakaria. Ada kebenaran pada sebagian dari teori para ahli tersebut. Ada yang tumpang tindih dan ada juga yang berdasarkan momen opname sesaat, sehingga akan terkoreksi oleh perkembangan zaman. Tapi, ada juga yang validitasnya permanen dari zaman purbakala hingga dewasa ini.

Sedang terjadi gempa bumi geopolitik dan geoekonomi dengan “kebangkrutan ekonomi AS” dan “kebangkitan ekonomi Asia”. AS dalam posisi debitor, sedang Asia menjadi kreditur karena surplus cadangan devisa RRT, Asia Timur, dan Timur Tengah merupakan sumber dana piutang untuk AS.

Kalah Bersaing

Bangkrutnya AS karena membiayai perang teror mengakibatkan overstretch secara ekonomi, menurut teori Paul Kennedy. Perang teror memaksa AS menyisihkan biaya triliunan dolar, yang sama sekali tidak produktif secara ekonomi. Karena sektor riil, AS kalah bersaing dengan Tiongkok, maka sektor moneter AS menciptakan satu “ekonomi fiktif” bernama derivatif, yang memperdagangkan “surat berharga” atas dasar aset, yang sebetulnya sangat overvalued, kabur statusnya, dan tidak ditopang oleh aset sektor riil. Ketika semua aset disekuritisasi dalam bentuk kertas, sehingga mencapai beberapa “turunan” dan sangat jauh dari aset riil yang nilainya merosot, maka uang yang diputarkan dalam transaksi itu seolah menguap tak berbekas. Ini dinikmati oleh para CEO dan agen perusahaan yang memperjualbelikan surat berharga yang sekarang menjadi surat tak berharga.

Dalam permainan itu, perbankan dan lembaga keuangan AS menyedot triliunan dana dari Eropa dan Asia, lenyap tak berbekas atau menjadi rumah kumuh di suatu desa terpencil di pedesaan AS.

Oleh karena itu, Uni Eropa menuntut agar lembaga Bretton Woods (Bank Dunia/IMF) direformasi agar bisa melakukan supervisi terhadap kasino global derivatif model Lehman. Runtuhnya imperium global, seperti Romawi, pasti berdampak bagi dunia sekitar. Begitu pula bangkrutnya predator derivatif AS. Juga gaya hidup AS yang mirip Soeharto di mana Indonesia diperlakukan sebagai “sapi perah” harus diubah. AS tidak bisa lagi berlagak seperti Soeharto, sebab sudah kehilangan pamor dan wangsit sebagai superpower ekonomi. Posisinya sebagai debitor terbesar menghadapi Asia sebagai kreditur, memaksa AS untuk menerima reformasi dan menciptakan “A New International Financial Architecture.” Inilah latar belakang mengapa Bush mengundang KTT G-20 di Washington DC atas desakan Uni Eropa dan Asia.

Indonesia beruntung masuk dalam G-20 dan dianggap mewakili kawasan Asia Tenggara. Tapi, pasar dan kelas menengah Indonesia sulit dikomando untuk tidak panik menghadapi krisis. Rawannya kurs rupiah dan tidak kebalnya BEI dari arus induk bursa dunia, bahkan seolah-olah tidak mempedulikan berbagai langkah pemerintah sejak krisis terasa. Kebijakan pemerintah, yang telah disetujui DPR yang juga panik, tidak bisa menenangkan masyarakat. Kelas menengah yang gelisah bisa memengaruhi dengan tindakan yang semakin mempersulit situasi.

Capres lain yang tidak punya peluang tampil di G-20 tentu akan mencari celah amunisi untuk mempergunakan isu itu bagi kampanye pilpres. Keretakan duet SBY-JK, tampilnya Sultan, dan aliansi baru yang sedang berkembang, mengkhawatirkan akal dan pikiran sehat. Kepentingan nasional Indonesia untuk melihat krisis ini dengan kebijakan negarawan akan tergerus oleh rivalitas antarcapres secara primitif. Sayang sekali, jika peluang menjadi salah satu kekuatan reformator Bretton Woods tidak dapat dimanfaatkan optimal, gara-gara Bharata Yudha. Jika duet SBY-JK “gugur” , maka Sultan calon terkuat untuk menjadi capres alternatif, lebih menjanjikan ketimbang kembali ke presiden ke-5. Namun, segala skenario manusia termasuk kolom ini, jelas bukan absolut, karena besok saja baru akan diketahui apakah Obama benar bisa menang atau akan dikalahkan oleh video Osama bin Laden, seperti kekhawatiran Effendi Gazali, pagi ini, di Kompas.

Christianto Wibisopno adalah pengamat masalah nasional dan internasional

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Tim pencari lanjutkan evakuasi korban gempa dari reruntuhan
      Tim pencari dan penyelamat melanjutkan upaya mengevakuasi korban gempa dari bangunan-bangunan yang runtuh akibat gempa 6,5 Skala Richter (SR) yang melanda Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, dan sekitarnya kemarin pagi, menewaskan lebih ...
    • Kekuatan gempa 6,5 SR setara empat bom Hiroshima
      Perekayasa Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menyebut kekuatan gempa bumi 6,5 Skala Richter (SR) yang kemarin pagi mengguncang di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, dan sekitarnya setara dengan kekuatan empat hingga enam ...
    • Penyertaan Modal Negara untuk PT SMI perlu diaudit BPK
      PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) hampir setiap tahun memperoleh Penyertaan Modal Negara (PMN) yang secara total telah tersalurkan Rp24,3 triliun.Anggota Komisi XI DPR RI Heri Gunawan, dalam keterangan tertulis, Kamis, ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: