Melawan Libido Keserakahan

Keserakahan tidak pernah membuat orang puas dengan apa yang sudah dimilikinya. Seberapa besar dan banyak pun yang dipunyai tidak ada kata “cukup” baginya. Bahkan, terus menggetarkan libido orang yang sudah dimabuk roh keserakahan, mengejar hasrat pemenuhan semua ambisi. Orang seperti ini tidak pernah menikmati apa yang sudah ada dan menerima dengan perasaan hati yang bersyukur. Tidak pernah hidupnya melihat ke bawah, melihat orang lain yang masih hidup susah dan melarat. 

Libido keserakahan merupakan suatu energi psikis yang bercokol di hati seseorang, berkembang pesat menjadi hasrat individu untuk terus mengeksplorasi diri menuju pemenuhannya. Lahir dari satu manusia, diwariskan kepada manusia lainnya di muka bumi dan turun-temurun ikut membesarkan “libido keserakahan” hidup. 

Keserakahan merupakan roh yang ada sepanjang zaman, menghinggapi siapa saja yang mau menyediakan hati menerimanya. Keserakahan menjelma ketika ada penguasa mabuk kepayang dengan tindakannya, menumpuk harta sebanyak-banyaknya. Keserakahan mewujud dalam tindakan pemimpin yang lalim memperkaya diri dan kelompok elitenya. 

Pokoknya, keserakahan yang menjadi akar penyebab bumi kita menjadi bangkrut, ketika kekayaan perut bumi terus tereksplorasi, dikuras oleh orang yang berlomba memenuhi libido kerakusan, lalu berusaha keras, tanpa rasa salah, dengan segala daya, menguras habis apa yang dapat direngkuh tangannya. Roh keserakahan membuat seseorang bertindak untuk kepentingan sesaat, tidak lagi berpikir untuk kepentingan hari esok, dan menyisakan kepentingan bagi anak cucu pada masa depan. 

Naluri orang yang digerakkan oleh libido keserakahan terus bergetar, ingin memiliki lebih dari apa yang menjadi porsinya dan tega meninggalkan orang lain, tertinggal di belakang barisan. 

Mahatma Gandhi mengingatkan supaya kita gencar memerangi libido keserakahan agar jangan terus bercokol di hati. Katanya: bumi kita sebenarnya cukup untuk memberikan makan bagi setiap penduduk bumi, tetapi tidak akan cukup untuk menampung kerakusan dan keserakahan manusia yang tidak pernah merasa puas dengan apa yang dimilikinya. Keserakahan dapat dilawan dengan bertindak tegas, membedakan mana yang menjadi kebutuhan dan mana yang menjadi keinginan. 

Dunia akan terjatuh ketika setiap orang hanya terobsesi mengejar kepentingan pribadi. Manakala roh egoisme individu menyatu menjadi roh kerakusan kelompok akhirnya bergerilya mendominasi kepentingan orang banyak untuk ditundukkan di bawah perintahnya. Libido kerakusan sebenarnya dapat dijinakkan manusia, kalau kita tidak mau membiarkan libido itu berkembang liar menguasai diri kita. Sebagai makhluk yang sudah diberikan pencerahan dan akal budi, nalar, dan hati nurani oleh Pencipta, seharusnya kita dapat mengontrol perilaku dan dengan arif melakukan apa yang menjadi tugas, dengan mengutamakan hidup cukup. Dengan satu prinsip hidup yang terus dipegang: “cukupkan dirimu dengan apa yang ada padamu”.

Senjata Pamungkas

Asketisisme merupakan senjata pamungkas untuk menangkal tumbuhnya libido keserakahan dan terus menggurita. Asketisisme adalah sikap yang mampu menjaga jarak agar kita tidak larut dalam pusaran energi kerakusan yang membelenggu manusia. Asketisisme adalah sikap bertarak. Caranya, bukan seperti sikap pertapa yang masuk dalam padang gurun dan mengisolasikan diri dengan pengaruh materialisme dunia. 

Manusia masih hidup di dunia, mempunyai darah dan daging, membutuhkan materi untuk hidup. Manusia dapat membangun sikap kritis terhadap libido keserakahan yang melahirkan kerakusan. Manusia bukan menjadi objek yang tidak berdaya dipengaruhi naluri keserakahan, melainkan dapat menjadi subjek utama yang mengendalikan panggung kehidupan. 

Asketisisme mendorong orang bekerja keras, tidak rakus dengan materi yang mengitarinya, hemat, disiplin tinggi, bahkan berani bekerja berkeringat untuk mencapai hasil. Bukan sekadar memamerkan otot perkasa, tergila kuasa, dan menghalalkan segala cara. Tugas semua orang, termasuk pemimpin dan elite keagamaan, terus berjuang agar tiap orang jangan tergoda naluri kekuasaan dan roh kerakusan. 

Agus Wiyanto, pengkaji etika, Pendeta Gereja Kristen Indonesia Cinere – SuaraPembaruan

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: