Meletusnya Gelembung Hampa

Bencana ekonomi atau economic disaster itu akhirnya datang juga. Sebenarnya banyak pihak sudah meramalkan, laju akselerasi sektor finansial Amerika Serikat suatu saat akan terkoreksi akibat ”perekonomian gelembung sabun” atau bubble economy yang dianggap sudah berlebihan. Sektor finansial sudah berkembang sedemikian rupa sehingga jauh meninggalkan sektor riil.

Masalahnya, kapan dan bagaimana economic bubble AS akan terkoreksi? Hari-hari ini kita menyaksikan, akhirnya gelembung sabun itu meletus dan menyeret perekonomian ke jurang resesi. Masih adakah sekeping asa bahwa resesi tidak kian berlarut-larut?

Gelembung hampa

Seberapa besar gelembung ini—untuk ilustrasi—gaji seorang CEO (chief executive officer) sebuah perusahaan hedge fund dilaporkan bisa mencapai dua miliar dollar AS setahun. Anda tidak sedang salah baca, gaji itu setara dengan Rp 19 triliun! Bagaimana kita menjelaskan fenomena ini? Adilkah ini Konon, angka itu diperoleh dari proses bekerjanya ”mekanisme pasar”. Seorang fund manager dianggap ”berprestasi” karena berhasil melakukan leverage, alias ”membiakkan” uang.

Celakanya, pembiakan uang itu tidak selalu bisa dikaitkan dengan kinerja fundamental perusahaan. Harga saham bisa naik drastis hanya karena tertiup sentimen positif. Harga saham di Wall Street sering melonjak sedemikian rupa (bullish) secara mendadak, padahal tak ada perubahan signifikan dalam laporan keuangan. Semuanya serba instan, seba mudah, sehingga menyerupai busa sabun yang cepat membesar, tetapi ia tidak memiliki volume. Isinya kosong, hampa, dan semu.

Bursa sabun yang terus membesar itu diyakini bersifat semu sehingga suatu saat akan terkoreksi. Cepat atau lambat. Tak mungkin ia terus menggelembung tanpa batas. Ini bukan fenomena the sky is the limit. Dalam batas tertentu, gelembung itu akan meletus, mengempis, selanjutnya perekonomian akan bergerak mendatar, tak lagi mengalami akselerasi. Jepang lebih dulu mengalaminya pada dasawarsa 1990-an, saat beberapa bank mengalami krisis sehingga harus dimerger atau direkapitalisasi. Sejak itu, perekonomian Jepang cenderung mendatar (mengalami leveling-off).

Dalam kasus economic bubble AS, tanda-tanda koreksi itu mulai tampak saat harga minyak dunia mulai naik dari 30 dollar AS menjadi 70 dollar AS per barrel sejak Juli 2005, disusul krisis subprime mortgage (Juli 2007). Saat harga minyak mencapai 147 dollar AS per barrel (Juli 2008), kita pun kian menyadari, meletusnya gelembung sabun itu sudah dekat, dan proses koreksi sedang dimulai.

Namun, harapan masih menggantung bahwa koreksi gelembung sabun masih bisa diusahakan dengan cara semulus mungkin (smooth). Perekonomian AS diharapkan masih bisa menjalani pendaratan lunak (soft landing) dan terhindar dari pendaratan yang sulit (hard landing), atau bahkan mematikan (crash landing).

Kenaikan harga minyak bisa diinterpretasikan sebagai bentuk ”perlawanan” sektor nonfinansial, khususnya sektor primer (pertambangan dan pertanian), yang selama ini diperlakukan tidak adil. Harga produk primer jauh ketinggalan daripada ”harga” (tepatnya gain, margin dan, fee) di sektor finansial. Disparitasnya amat lebar. Bayangkan, harga minyak dunia pada 1981 adalah 30-an dollar AS per barrel, dan itu bertahan sampai 25 tahun hingga pertengahan 2005. Padahal, dalam rentang waktu yang sama, sektor finansial mengalami perubahan harga berlipat-lipat. Jika analisis kita bertolak dari perspektif ”ketidakadilan” ini, kita ”bisa memahami”, harga minyak memang perlu mengalami koreksi, sehingga hari ini (7/10/2008) mencapai 90 dollar AS per barrel.

Lalu, bagaimana agar koreksi economic bubble bisa berlangsung mulus? Bank Sentral AS (The Fed) pun secara perlahan-lahan menurunkan suku bunga dari level 5,25 persen menjadi 2,0 persen seperti sekarang. Kebijakan gradualism ini dimaksudkan agar tidak membuyarkan bangunan ”istana pasir” sektor finansial yang sudah telanjur menjulang.

Rupanya langkah itu belum cukup. Kebangkrutan Lehman Brothers ternyata tidak ditolong pemerintah Federal. Mungkin alasannya agar tidak menyebabkan terjadinya moral hazard, yang terjadi saat sebuah bank investasi bangkrut dan ditolong pemerintah, akan timbul kesan, bankir boleh berbuat semaunya karena saat bangkrut toh akan ditalangi pemerintah.

Selanjutnya, jika pemerintah menalangi semua bank yang bangkrut, bank-bank investasi itu akan menjadi milik pemerintah. Perekonomian yang serba pemerintah (etatisme) ini akan menimbulkan kesan, perekonomian AS sudah beralih ke sosialisme. Itu sebabnya, rencana talangan 700 miliar dollar AS sempat ditentang, sebelum kemudian akhirnya disetujui.

Namun, Pemerintah AS, dalam hal ini menteri keuangan Henry (Hank) Paulson, tampaknya melakukan blunder. Membiarkan Lehman Brothers bangkrut tanpa dana talangan (meski kemudian raksasa finansial Inggris Barclays mengambil alih bisnis dan asetnya) terbukti berakibat fatal. Sebagai bank investasi terbesar nomor empat di AS, kebangkrutan Lehman tergolong too big to fail (terlalu berisiko untuk dibangkrutkan). Akibatnya, kepercayaan investor runtuh, yang terefleksikan dengan indeks Dow Jones yang terperosok di bawah 10.000 (7/10/2008), amat jauh di bawah level psikologisnya.

Rupiah melemah

Kepanikan kini telanjur menyebar ke mana-mana. Indeks saham di Jakarta hancur-hancuran ke level amat rendah, sekitar 1.600-an. Rupiah juga terpukul hingga menyentuh Rp 9.700/dollar AS. Akibatnya, Bank Indonesia terpaksa menaikkan BI Rate menjadi 9,50 persen. Kebijakan ini memang berbeda arah dibandingkan negara-negara maju. Kawasan Euro, Inggris, dan Australia, misalnya, cenderung menurunkan suku bunga, sebagai benteng pertahanan menghadapi imbas krisis finansial AS.

Dasarnya, dengan suku bunga rendah, mata uang mereka yang sebelumnya terlalu kuat bisa terdepresiasi. Selanjutnya, hal ini akan menguntungkan negara-negara itu untuk memperbaiki neraca perdagangannya yang selama ini defisit. Suku bunga rendah juga memungkinkan masyarakat menambah belanjanya serta menggairahkan investasi. Semua ini akan menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi.

Hal yang sebaliknya terjadi di Indonesia. Dengan rupiah yang terus melemah, pilihan kebijakan Bank Indonesia cuma dua, yaitu melakukan intervensi pasar uang dengan menggunakan cadangan devisa, atau menaikkan suku bunga? Namun, intervensi pada saat pasar sedang panik, sepertinya sia-sia. Itu ibarat menuang air di sumur yang tidak ada dasarnya. Jadi, pilihannya tinggal menaikkan suku bunga. Hanya saja, tampaknya BI Rate 9,25 persen masih terasa konservatif dan agak diragukan bisa menaikkan kurs rupiah ke level di bawah Rp 9.400.

Namun, saya masih mencoba berpikiran positif bahwa pelemahan rupiah ini bersifat temporer. Ketika orang mulai menyadari bahwa dana talangan 700 miliar dollar AS dan pembentukan Troubled Asset Relief Programme (TARP)—semacam BPPN versi AS—baru merupakan awal dari proses panjang penyembuhan ekonomi, amat mungkin dollar AS akan kembali melemah. Sebaliknya, rupiah akan menguat. Semoga demikian, karena kita tidak sedang ingin melakukan perjalanan nostalgia ke krisis tahun 1998.

A Tony Prasetiantono Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM; Chief Economist BNI

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: