Memimpin Dunia “Pasca-Amerika”

Kemenangan Barack Hussein Obama sebagai Presiden AS membuka sejarah baru. Ia adalah presiden kulit hitam pertama dalam pentas politik AS.

Dunia politik internasional berharap Obama mampu memperbaiki kebijakan luar negeri pendahulunya, George W Bush, yang diwarnai banyak penyalahgunaan wewenang dan ekstremitas ideologi, yang menurunkan citra AS di mata dunia.

Pengamat melihat kemunduran ekonomi AS saat ini sebagai bagian pergeseran historis (historical shift), menandai berakhirnya ”abad Amerika”. Krisis global yang bersumber dari kekacauan finansial di AS dilihat sebagai indikasi menurunnya leverage ekonomi AS di level global.

Sebelum krisis ini, AS telah terjebak masalah serius defisit anggaran, yang umumnya ditutup dengan dana murah dari perbankan China dan Jepang. Congressional Budget Office memperkirakan defisit anggaran AS mencapai 407 miliar dollar AS tahun ini (Time, 3/11). Dengan dikeluarkannya dana talangan 700 miliar dollar AS untuk meredam krisis finansial, defisit anggaran pemerintah AS bisa mencapai satu triliun dollar AS tahun 2009.

”Pasca-Amerika”

Dalam Common Wealth: Economic for a Crowded Planet (2008), Jeffrey Sachs menyatakan, dominasi AS akan berakhir pada kuartal kedua abad ke-21 saat Asia menjadi pusat gravitasi ekonomi dunia. Indikasinya, antara lain, persentase pendapatan penduduk Asia terhadap pendapatan global meningkat menjadi 49 persen menjelang tahun 2025 dan 54 persen menjelang tahun 2050.

Senada dengan Sachs, Fareed Zakaria (Post-American World, 2008) menyatakan, kemunduran kekuatan AS bukan hanya disebabkan kemunduran ekonominya, tetapi juga lebih karena ”kebangkitan kekuatan lain” (the rise of others). Fareed melihat kebangkitan bukan hanya berpusat di Asia, tetapi juga di Amerika Latin dan Afrika. Mengutip Antoine van Agtmael, Fareed mengidentifikasi 25 perusahaan terbesar dunia pada masa datang, yang bukan dari AS atau Eropa, tetapi dari Brasil, Meksiko, Korsel, Taiwan, India, China, Argentina, Cile, Malaysia, dan Afrika Selatan. Pemilik pabrik manufaktur terbesar adalah China, gedung tertinggi di Taipei dan Dubai, serta pusat perfilman terbesar di India.

Situasi yang dihadapi AS sering digambarkan mirip dengan yang dialami Inggris pada awal abad ke-20, yang perlahan tetapi pasti surut dari posisinya sebagai kekuatan hegemoni global. Di bidang militer, AS tetap akan merupakan kekuatan terbesar, tetapi di bidang ekonomi dan politik peran AS akan kian menurun.

Dalam dunia ”Pasca-Amerika”, dunia tak terbelah dalam kubu saling berlawanan, tetapi interconnected dan saling tergantung. Negara, seperti Brasil, China, dan India, akan tetap memperhitungkan posisi AS, tetapi AS tak lagi dapat menempuh jalan unilateral seperti diperagakan serangan Bush ke Irak (2002). Kasus Irak menunjukkan bagaimana ekonomi AS terpukul akibat beban militer yang tak terkontrol.

Tantangan untuk Obama

Seperti ditulis Melvyn Leffler dan Jeffrey Legro (To Lead the World: American Strategy After the Bush Doctrine, 2008), ada konsensus, berbagai kesalahan Bush dalam politik luar negeri telah menurunkan citra dan power AS di dunia internasional. Meski demikian, bukan berarti kesalahan tidak dapat diperbaiki.

Obama yang dikenal lentur dan fleksibel diharapkan mampu menunjukkan sikap toleransi dan empati lebih baik dibandingkan Bush. Berulang-ulang Obama menekankan pentingnya AS mengutamakan spirit partnership dengan menempuh jalur konsultasi antarnegara dan mekanisme multilateral dalam pengambilan kebijakan di level internasional.

Sementara itu, pengamat di Indonesia mengkhawatirkan elemen-elemen dalam industri militer AS akan mendorong Obama terlibat militer di luar AS, misalnya di Iran, guna meningkatkan permintaan persenjataan saat ekonomi AS lesu.

Kekhawatiran seperti ini beralasan, tapi terasa agak berlebihan bila kita memerhatikan konsistensi Obama dalam menekankan pentingnya kemampuan AS sebagai mediator dalam resolusi konflik di wilayah Irak. Berbeda dengan Bush yang melihat dunia secara ”hitam putih”, either you are with us or with them, Obama menyatakan siap duduk berunding dengan Presiden Iran Ahmadinejad dan membuka kontak dengan Taliban di Afganistan.

Meminjam Noam Chomsky (What We Say Goes, 2007), Obama harus terus memupuk kemampuan melihat masalah bukan hanya dari sudut pandang AS, tetapi juga mencoba melihat dari sudut pandang lain agar dapat menemukan kebijakan alternatif yang dapat diterima banyak pihak. Keterlibatan pihak-pihak lain dan institusi internasional yang terkait bukan hanya penting di bidang ekonomi, seperti dalam mengatasi krisis finansial yang bersumber dari AS dan memicu resesi global, tetapi juga dalam memecahkan sengketa politik di berbagai wilayah di dunia.

Sebuah keniscayaan sejarah tampaknya, Obama sedang dan terus dihadapkan fakta surutnya power AS dalam sebuah abad ”Pasca-Amerika”. Dalam dunia semacam ini, bersikap strategis, taktis, dan kooperatif jauh lebih bermanfaat daripada bersikap konfrontatif dan ”ideologis”.

Syamsul Hadi Pengajar Tamu di Kyushu University, Jepang; Pengajar Departemen Hubungan Internasional FISIP UI

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Unknown Feed

    • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: