Mengajar-Belajar Sadar

Akibat tawuran, enam remaja tewas karena terpaksa menceburkan diri ke dalam danau (Kompas, 15/9/2008). Peristiwa ini tentu menggetarkan siapa pun.

Getar dan getir hati kian menumpuk karena tawuran antarmahasiswa yang diikuti tindakan razia pihak kepolisian, orang boleh menduga pelaku dan penyelenggara pendidikan tidak mampu lagi mendidik karena tawuran telah menjadi kebiasaan (Kompas, 17/10/2008). Apa yang harus atau dapat dilakukan insan pendidikan atau sekolah?

Pendidikan karakter

Tawuran sudah menggejala secara umum. Tawuran telah melibatkan semua unsur masyarakat: antarpelajar, mahasiswa, pemain bola, suporter, warga kampung, polisis versus militer, pelayat versus mahasiswa, dan lainnya. Kebiasaan semacam ini lazim menelan kurban, bahkan acap kali tanpa sebab yang dapat dimengerti akal sehat.

Tampaknya tawuran dianggap sebagai jalan keluar atas masalah, tanpa menyadari bahwa hal itu akan menciptakan masalah baru atau membuat suasana kian rumit. Mengapa bangsa Indonesia yang suka menyebut diri kaya budaya dan adat ketimuran dan memiliki kelemahlembutan mudah menjadi beringas, marah, bertindak kasar terhadap sesama, sulit mengampuni, dan tidak terampil mengontrol diri; segalanya diselesaikan dengan kekerasan? Di mana letak masalahnya? Bangsa ini kurang pendidikan!

Yang dimaksudkan dengan pendidikan adalah proses mengajar-belajar di sekolah yang mengedepankan terbentuknya karakter yang mumpuni. Memang, hingga kini pendidikan karakter sudah biasa dibicarakan para cerdik pandai atau insan pendidikan. Pendidikan karakter bukan hal baru. Semua paham dan setuju tentang hal itu.

Namun pelaksanaannya boleh dikatakan ”nol besar” alias nihil. Proses pendidikan dihabiskan untuk memompa pencapaian angka ujian nasional lantaran mutu sekolah ditentukan oleh hasil UN semata sehingga kegiatan sekolah tidak ada yang lain kecuali usaha mati-matian untuk menyiapkan UN.

Proses ini akan terus berjalan jika tidak ada kesadaran dan keyakinan dasar bahwa UN yang dimutlakkan seperti sekarang akan meniadakan munculnya lulusan berkarakter sekaligus memerosotkan mutu pendidikan.

Latihan menjadi sadar

Ada sebuah proses pendidikan karakter yang amat mudah dan mungkin dilakukan di sekolah, yakni refleksi. Secara sederhana, refleksi dapat diartikan sebagai kegiatan yang diarahkan untuk menyadari dan mencecap makna, arti, atau nilai (value) atas aktivitas yang telah atau baru saja dilaksanakan.

Untuk terbiasa, menjadi kerasan dan kian mahir berefleksi, seseorang harus terus dilatih atau rutin. Saat paling tepat, pada hemat penulis, adalah sesudah berakhirnya jam pelajaran terakhir. Dalam kesempatan itu, peserta didik dapat diajak untuk berefleksi atas seluruh kegiatan atau pengalaman yang ”cukup lengkap” sejak mereka bangun tidur hingga selesainya jam sekolah.

Refleksi dapat dilatihkan secara sederhana dan perlahan. Pertama-tama, peserta didik diajak bersikap hening (tidak hanya tak berbicara), menyadarkan diri bahwa saat ini mereka sedang menghadap Yang Ilahi, misalnya duduk dengan posisi sopan, rileks, badan tegak, kedua kaki menapak di lantai, kedua tangan terbuka di atas paha sambil memejamkan mata mengatur pernapasan.

Langkah berikut adalah mengajak peserta didik memohon kepada Yang Ilahi agar menuntun untuk menemukan makna atau arti atas pengalaman pada hari itu. Lantas, pendamping atau guru membantu mereka dengan mengajukan berbagai pertanyaan terarah, contohnya apa yang dialami sejak bangun pagi hingga saat ini? Adakah pengalaman yang mengesankan (menyenangkan/tidak menyenangkan; dapat dikaitkan dengan diri sendiri atau orang lain)? Apakah itu? Mengapa mengesankan? Apa arti pengalaman itu bagimu?

Selanjutnya dipertajam dengan pertanyaan panduan, misalnya dalam peristiwa yang mengesankan itu Yang Ilahi menyampaikan pesan apa kepadamu sebagai tanda cinta-Nya? Dalam peristiwa itu, sikapmu cenderung mendekat ke cinta Tuhan atau menjauh dari/menentang-Nya?

Refleksi ditutup, misalnya, dengan panduan: jika sikapmu atas peristiwa atau pengalaman ternyata merupakan ungkapan/ujud yang menjauhi cinta Tuhan, silakan mohon ampun dan berjanji di hadapan-Nya untuk tidak mengulanginya. Jika merupakan ungkapan/ujud yang mendekat ke cinta Tuhan, silakan mengucap terima kasih atau bersyukur kepada-Nya. Dan akhirnya, supaya makna atau buah rohani yang mereka dapatkan tidak menguap ditelan waktu, peserta didik juga diminta mengendapkan serta menuliskannya dalam buku harian batin atau jurnal rohani sebagai kekayaan rohani.

Ketajaman nurani

Latihan-latihan sederhana seperti ini jika dilakukan setiap hari minimal selama tiga tahun niscaya akan mempertajan nurani peserta didik yang pada gilirannya akan menumbuhkan habitus untuk mengenali diri pribadi, mendengarkan sapaan Yang Ilahi dan cinta sesama. Hal ini akan melengkapi kecerdasan mereka.

Penulis berkeyakinan, kecerdasan akan membahayakan diri sendiri dan orang lain jika tidak diiringi ketajaman dan kelurusan nurani sebagai dampak dari refleksi, terlebih bagi mereka yang akan menjadi pemimpin.

Baskoro Poedjinoegroho E Direktur SMA Kolese Kanisius JakartaKOMPAS

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: