Mengapa Teror Terus Terjadi?

Fenomena teror masih merambah dunia dengan resonansi melampaui batas geografis. Aksi bom menghancurkan ranah lokal sekaligus menyengat kemanusiaan universal. Mengapa teror terus terjadi?

Banyak pakar terorisme mengaitkan teror dengan ideologi dan politik. Menurut Brian Jenkins dan James Poland, terorisme adalah pembunuhan sistematis dan intimidasi guna meraih keuntungan taktis politis. Bruce Hoffman (1998) menyebut perubahan politik sebagai tujuan final teror. Namun, Walter Laqueur (1999) mengingatkan ada banyak jenis terorisme sehingga harus dihampiri secara multidisiplin agar penanganannya tidak hanya bertumpu pada satu aspek.

Tampaknya sulit memerangi tuntas terorisme. Jika perang konvensional musuh bisa dipetakan, tetapi dalam perang melawan terorisme musuh ”tidak tampak, tetapi nyata”. Aksi teror politik muncul 2000-an tahun lalu, saat kelompok Zealot Yahudi menculik dan membunuh pejabat imperialis Romawi. Terorisme lalu berkembang dengan aneka variasi, seperti pertarungan ideologi, ekonomi, fanatisme agama, pemberontakan politik. Metodenya pun kian canggih, termasuk nuclear-biological-chemical (NBC) terrorism.

Bercirikan organisasi yang solid, disiplin, militan, terdiri dari sel-sel yang hiperloyal, kebanyakan terorisme bermotif ideologis-politis dan melakukan tindak kriminal untuk mencapai tujuan. Sarana publik menjadi target operasi guna memancarkan efek psikososial melalui media sehingga wartawan bagai ”sahabat terbaik” teroris. Perang gerilya dapat hidup tanpa media, tetapi terorisme terutama urban terrorism amat haus publikasi.

Terorisme religius

Meluasnya terorisme disertai perkembangan asumsi yang menempatkan agama pada ”format negatif”, diklaim sebagai ideologi dan persemaian terorisme; sebagai sistem keyakinan dan kendaraan religius yang dibajak teroris untuk melegitimasi aksinya. Padahal, semua agama mengajarkan keluhuran dan menghargai kehidupan, sebaliknya terorisme membangun ”kultur kematian”.

Menurut Hoffman, teroris religius memberi makna spiritual dan eskatologis, yakni keselamatan akhirat bagi pelaku. Aksi penghancuran dan pembunuhan untuk ”tujuan suci” dinilai sakramental dan transendental. Namun, melabelkan ”terorisme religius” hanya pada kelompok tertentu, bukan saja salah dan tidak adil, tetapi juga bisa menimbulkan kesalahan penanganan.

Sebenarnya terorisme religius kehilangan legitimasi karena agama bermakna eksistensial, sebagai media perdamaian dan solidaritas universal. Semua agama menampilkan wajah damai dengan membuka ruang dialog sejati seraya mengusung nilai universal, seperti keadilan, cinta kasih, perdamaian, dan harmoni.

Etika perdamaian dan dialog antaragama untuk mencabut akar terorisme religius juga ditekankan ulama Islam, seperti Abduljalil Sajid dari Inggris. Pada konferensi tentang terorisme di Azerbaijan (2002), Sajid menegaskan, ”Kita harus berkaca diri dan menghayati kata-kata Profesor Hans Kueng: Tiada damai di antara bangsa-bangsa tanpa damai di antara agama-agama, dan tiada damai di antara agama-agama tanpa dialog antaragama.”

Metamorfosis liar

Fanatisme, radikalisme, dan fundamentalisme religius amat mungkin bermetamorfosis menjadi terorisme. Maka, dialog antaragama sebagai prinsip dasar etika global (etika perdamaian) mensyaratkan komitmen untuk beralih dari eksklusivisme ke inklusivisme. Deradikalisasi, dekonstruksi kesadaran eksklusif dan militan, dapat menjamin masa depan pluralisme. Diperlukan langkah taktis dan strategis karena ”titik api” terorisme berkecambah dalam aneka dimensi.

Terorisme subur karena ketidakadilan dalam konstelasi sosio-ekonomi dan politik global yang kian tidak imbang dalam rimba kapitalisme. Dunia dibelit ketamakan neolib dan diwarnai nafsu menguasai, manipulatif, dan opresif, menggusur banyak kelompok masyarakat ke wilayah pinggiran. Teror dipakai sebagai jawaban putus asa, ekspresi ketidakberdayaan sekaligus perlawanan terhadap dominasi superior negara-negara kuat.

Karena itu, virus terorisme hanya dapat ditangkal dan diatasi dengan formula pembangunan global berkeadilan, hubungan antarbangsa yang bernapas kesetaraan dan perdamaian universal. Di sinilah tersembunyi jawaban terhadap pertanyaan ”mengapa teror terus terjadi”.

VALENS DAKI-SOO Penulis Buku Agama dan Terorisme

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Unknown Feed

    • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: