Mengimbangi Evolusi Terorisme

Tidak ada satu tempat pun di dunia ini yang luput dari incaran teroris. Tidak juga simbol kosmopolitan India dan tempat lahirnya Bollywood, Mumbai. Sejak serangan 11 September di AS, belum pernah terjadi serangan teroris yang terkoordinasi rapi seperti di Mumbai, pekan lalu.

Dalam waktu kurang dari satu jam, 10 pria muda menyerbu 10 lokasi. Pasukan elite India membutuhkan waktu sekitar 60 jam untuk menaklukkan teroris yang menguasai Hotel Taj Mahal, Trident/Oberoi, dan pusat budaya komunitas Yahudi. Dalam serangan terkoordinasi itu, 183 orang tewas dan 327 orang terluka. Salah satu anggota kelompok pelaku serangan (mengaku bernama kelompok Lashkar-e- Taiba) yang ditangkap mengaku mendapat pelatihan perang selama enam bulan.

Maria A Ressa dalam bukunya Seeds of Terror: An Eyewitness Account of Al-Qaeda’s Newest Center of Operations in Southeast Asia menilai taktik serta metode yang digunakan ”Kelompok Mumbai” menunjukkan mulai adanya evolusi kelompok-kelompok teroris. Serangan teroris kini tidak hanya beranggotakan ”orang asing”, tetapi mayoritas anggotanya—jika tidak seluruhnya—justru lahir dan besar di India. Menggunakan taktik asing, mereka menciptakan bentuk ancaman baru.

Majalah The Economist (edisi 29 November-5 Desember 2008) menyebutkan, tiap kali terjadi serangan teroris di India, selalu saja pihak luar yang menjadi kambing hitam. Biasanya Pakistan atau terkadang Banglades. Kali ini pun India kembali menuding Pakistan ada di balik serangan di Mumbai. Muncul kekhawatiran hubungan India- Pakistan kembali memburuk, bahkan ke ”titik nol”.

Padahal, baru saja hubungan di antara kedua negara tetangga pemilik senjata nuklir itu mulai bersahabat meski diakui terkadang masih ada sedikit curiga. Keduanya sepakat rekonsiliasi daripada konfrontasi. Pakistan pun sudah berjanji tidak akan menjadi pihak pertama yang menggunakan senjata nuklir jika terjadi konflik di antara mereka.

Pakar terorisme Institut Studi Perdamaian Pakistan, Amir Rana, dalam majalah Time mengingatkan India agar tidak gegabah menuding Pakistan karena serangan Mumbai adalah terorisme transnasional. ”Teroris tidak mengenal batas wilayah. Mereka bertemu di Dubai bahas logistik. Lalu, membuat rencana di Kathmandu. Pelatihan dilakukan di Pakistan atau Banglades. Senjata bisa dipasok Macan Tamil di Sri Lanka atau Maois atau bisa siapa saja,” ujarnya.

Bahkan, Brahma Chellaney dari Pusat Studi Strategis Penelitian Kebijakan dalam harian The Economic Times mengingatkan India untuk introspeksi diri. Di antara semua korban terorisme di dunia, India tidak memiliki doktrin antiteror. India juga belum memiliki kemauan politik untuk melawan terorisme. Tak ada satu pun kasus serangan teroris yang terungkap.

Berbagai pihak mengharapkan Pakistan juga introspeksi diri untuk menumpas berbagai kelompok teroris yang diduga sembunyi di perbatasan antara Afganistan dan Pakistan. Selama ini Pakistan dianggap kurang serius menumpas kelompok teroris. Akibatnya, daerah-daerah perbatasan menjadi tempat persembunyian paling nyaman karena terlindung bukit dan pegunungan.

Pengalih perhatian

Banyak pihak menilai serangan Mumbai merupakan usaha untuk mengalihkan perhatian dari upaya Pakistan-AS dalam menumpas kelompok teroris di wilayah perbatasan Afganistan dan Pakistan. Jika kondisi memburuk dan masing-masing pihak mengerahkan pasukan ke daerah perbatasan, seluruh proses perdamaian akan rusak. Seluruh fokus perlawanan di perbatasan pun hilang. Hasil inilah yang justru sangat diinginkan teroris.

AS juga khawatir dengan ketegangan kedua negara. Apalagi ada laporan dari Komite Antisipasi Proliferasi Senjata Pemusnah Massal dan Terorisme di Kongres yang memperkirakan teroris akan melancarkan serangan ke suatu tempat dengan senjata nuklir atau biologis lima tahun ke depan.

Majalah Newsweek menyebutkan, serangan teroris di Mumbai menjadi semacam peringatan betapa pentingnya kerja sama antiterorisme bukan hanya antara India dan Pakistan, tetapi juga komunitas internasional. Perang antara India dan Pakistan sama saja dengan bunuh diri. Tidak akan ada yang untung.

Fareed Zakaria di Newsweek mengemukakan, masalah di India, Pakistan, Afganistan, dan Banglades kini saling memengaruhi. Pendekatan nasional dalam memerangi terorisme tidak akan cukup. Solusi terbaik hanya dengan kerja sama kawasan regional.

”Satu hal yang harus diingat. Kita menghadapi musuh bersama, yakni teroris. Harus dilawan bersama,” tulisnya.

Luki Aulia – KOMPAS

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: