Menyehatkan Pertanian Kita

Sebenarnya saya tidak suka berbicara agak keras, tetapi melihat kinerja sektor pertanian sejak penandatanganan LoI IMF membuat gemas dan marah. Pasar produk pertanian dalam negeri dibanjiri produk impor. Akibatnya, petani dan pengusaha pertanian kehilangan gairah karena tidak ada harapan untuk berpendapatan.

Sebagai gubernur, saya bisa bereksperimen melakukan pembangunan pertanian, dan ternyata berhasil menaikkan produksi dan menjadikan petani berpendapatan. Mengapa ini tidak dilakukan dalam skala lebih luas?

Prestasi pembangunan yang pernah kita capai pada era 1988–1993 telah membuat kita tidak kritis memaknainya. Terlampauinya kontribusi sektor pertanian oleh sektor industri dan manufaktur dalam pembentukan PDB ditafsirkan bahwa kita telah memasuki fase industrialisasi. Apalagi data statistik menunjukkan, kontribusi sektor industri dan manufaktur terus meningkat dalam pembentukan maupun pertumbuhan PDB.

Pada tahun 2007, kontribusi sektor pertanian hanya setengahnya (13,88 persen) jika dibandingkan dengan sektor industri yang mencapai 27,1 persen. Pengambil kebijakan yang berorientasi pragmatis dan jangka pendek cenderung menganggap peran sektor pertanian kurang penting, apalagi pandangannya mendapat dukungan data statistik. Sektor pertanian hanya menyumbangkan sekitar 0,5 persen bagi pertumbuhan ekonomi nasional, sementara sektor industri mencapai 1,30 persen.

Ironi republik petani

Tidak mengherankan jika sektor industri lebih diistimewakan oleh pemerintah ketimbang sektor pertanian. Infrastruktur, humanware, dan suprastruktur pertanian kurang mendapat perhatian yang memadai. Sungguh suatu ironi, Indonesia, sebuah republik petani, tetapi hampir 10 tahun sejak reformasi tidak membangun bendungan dan irigasi.

Kita tidak memiliki komitmen dan ideologi yang cukup kuat untuk menjadikan sektor pertanian sebagai landasan yang kuat bagi pengembangan industri nasional. Tidak ada upaya yang serius dan terus-menerus untuk menciptakan keterkaitan antara hulu dan hilir yang berbasis pada sektor pertanian.

Jika pada tahun 1990 kita telah memiliki 95 perusahaan alat-alat dan permesinan pertanian (alsintan) skala menengah dan besar, pada 2007 rontok tinggal 33 atau sepertiganya saja. Tingkat utilisasinya hanya 40–50 persen. Bisa dibayangkan seperti apa mereka bertahan dari serbuan produk impor yang hanya dikenakan bea masuk 0–10 persen.

Pupuk yang merupakan komponen penting dalam usaha tani industrinya kurang sehat. Tingkat utilisasi pabrik kurang optimal, untuk urea hanya 80 persen, bahkan TSP hanya 62,72 persen. Perkembangan industri pupuk (urea, ZA, TSP, dan NPK) di Indonesia sangat tergantung dari pasokan bahan baku gas dalam negeri. Ini sebuah paradoks ketika harga gas naik, produsen gas lebih suka menjualnya ke luar negeri. Akibatnya, beberapa pabrik pupuk, seperti PT PIM, PT Pupuk Kujang, dan PT Pupuk Kaltim tidak dapat beroperasi secara optimal.

Tak punya ”road map”

Kita mempunyai produk pertanian yang merajai pasar dunia, mulai dari lada, sawit, karet, beras, kopi, kakao, hingga teh, tetapi penentu pasarnya bukan kita. Kita tidak berdaya terhadap pialang-pialang pasar komoditas di Rotterdam, London, dan Singapura. Indonesia saat ini tercatat sebagai produsen minyak sawit mentah (CPO) terbesar dunia setelah pada tahun 2006 dapat mengungguli Malaysia. Pada tahun 2006, produksi CPO kita mencapai 16 juta ton, dan 12 juta ton di antaranya, atau 75 persen, diekspor dalam bentuk CPO dan CPO olahan. Karena kita bukan penentu pasar, maka ketika pertengahan Oktober lalu harga CPO turun nyaris 7 persen, kita kalang kabut.

Yang paling kasihan adalah petani sawit. Mereka sebelumnya menikmati penghasilan sekitar Rp 4 juta setiap bulan, sekarang terpangkas tinggal Rp 440.000. Harga tandan buah segar (TBS) sawit di tingkat petani tinggal Rp 300 dari sebelumnya Rp 400, bahkan beberapa pengumpul berancang-ancang membeli dengan harga Rp 250 per kg sawit TBS. Demikian juga harga karet yang sebelumnya sebesar Rp 9.000–Rp 9.500, kini tinggal Rp 5.500-Rp 6.000.

Produksi kakao kita adalah terbesar di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana. Produksi biji kakao tahun 2007 mencapai 517 ribu ton, dengan 16 pabrik pengolahan. Sayang tingkat utilisasinya masih di bawah 50 persen. Meskipun demikian, impor kakao olahan Indonesia mencapai 10 persen.

Bukti ketidakseriusan pemerintah terhadap sektor pertanian adalah tidak adanya kebijakan dan tindakan yang serius dalam melakukan transformasi struktur usaha tani nasional yang terfragmentasi menuju ke usaha tani nasional yang konvergen menuju sistem usaha agroindustri yang berdaya saing melalui pengembangan cluster dan regionalisasi pertanian. Sampai saat ini kita tidak mempunyai road map (peta jalan) untuk agroindustri.

Mengkhianati agrikultur

Kita memiliki rentang komoditas pertanian yang sangat luas, ada delapan komoditas pertanian kita yang menduduki papan atas dunia tanpa campur tangan pemerintah. Jika saja ada kebijakan yang mendorong peningkatan daya saing untuk komoditas pertanian kita, dapat dipastikan kita akan menjadi raksasa dalam bisnis produk pertanian.

Thailand, negara yang topografi dan kesuburannya kalah jauh dari Indonesia, mampu membangun branding sebagai produsen buah tropis berkelas dunia. Kita adalah negeri agraris yang menjadi pengimpor produk pertanian terbesar di dunia.

Impor kita per tahun meliputi kedelai (1,2 juta ton), gandum (5 juta ton), kacang tanah (800.000 ton), kacang hijau (300.000 ton), gaplek (900.000 ton), sapi (600.000 ekor), dan susu (964.000 ton atau 70 persen). Ini adalah suatu pertanda bahwa sistem pertanian kita tidak sehat.

Penyebabnya, meminjam istilah dari Sri Sultan Hamengku Buwono X, kita telah berkhianat pada agrikultur. Terjadi pembiaran terhadap eksistensi sektor pertanian, sementara faktor lingkungan makro telah mengancam eksistensi sektor pertanian dalam negeri.

Tahun 1998, atas desakan IMF kita meratifikasi penurunan tarif bea masuk 0–10 persen untuk 43 komoditas pertanian. Bahkan, tarif 0 persen adalah untuk produk pangan, seperti beras, jagung, sapi, telur, daging sapi dan ayam beku, buah-buahan dan sayuran. Produk pertanian kita dibiarkan bersaing di pasar dalam negeri dengan produk impor yang mendapat subsidi dan kredit murah. Hasilnya dapat ditebak: produk pertanian kita kalah saing.

Fadel Muhammad Gubernur Gorontalo

KOMPAS

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Unknown Feed

    • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: