Merajalelanya Keserakahan

Keserakahan manusia akan menjatuhkan dunia – Paus Benediktus XVI

Dunia kembali dikejutkan oleh skandal penipuan keuangan terbesar dalam sejarah manusia. Bernard Madoff, mantan Ketua Nasdaq, melalui perusahaan bernama Madoff Investment Securities, melakukan penipuan senilai 50 miliar dollar AS di Wall Street.

Dalam jangka waktu 10 tahun, dunia berturut-turut telah mengalami empat kali skandal penipuan keuangan besar: skandal Long Term Capital Management, Enron (2001), Lehman Brothers (September 2008), dan Madoff (Kompas, 17/12).

Intensitas skandal yang terjadi ini semakin menunjukkan bahwa permasalahan utama bukan hanya masalah kecelakaan bisnis atau penipuan akuntansi yang sistemik, tetapi karena keserakahan manusia yang tidak terkendali. Para penanam modal menginginkan keuntungan berlipat ganda dalam waktu secepat-cepatnya. Pengelola investasi memanfaatkan keserakahan itu dengan merekayasa bisnis ”sim salabim” untuk meraup keuntungan sebanyak mungkin.

Anatomi keserakahan

Leo Tolstoy menulis sebuah cerita pendek tentang seorang petani kaya yang tak puas dengan tanah pertanian yang dimilikinya. Suatu hari ia menerima tawaran untuk memperoleh tanah seluas apa pun dengan syarat hanya satu: ia berjalan sejak pagi hari dan harus kembali sebelum matahari terbenam. Seluruh tanah yang bisa dijalaninya menjadi miliknya. Namun, jika ia tak kembali sebelum matahari terbenam, ia tak memperoleh apa pun.

Didorong hasrat untuk memiliki lebih, petani itu terus berjalan dan menggunakan tenaga terakhirnya untuk kembali ke titik awal sebelum matahari terbenam. Ia sadar bahwa ia begitu letih, tetapi ia terus menggunakan tenaga sampai akhirnya ia berhasil kembali. Namun, pada saat itu ia terjatuh, mulutnya mengeluarkan banyak darah, lalu ia mati. ”How Much Land Does a Man Need?” demikian judul cerpen Tolstoy yang dijawab pada akhir kisah ini: cukup untuk mengubur seorang manusia yang serakah, 1 x 2 meter persegi.

Kita hidup di tengah lingkungan yang penuh teladan keserakahan. Nilai seorang manusia diukur dari kuantitas harta ataupun status sosialnya, tanpa memedulikan cara mendapatkannya. Teladan keserakahan menyebarkan pola berpikir jangka pendek yang hanya sekadar meraup keuntungan sebanyak mungkin tanpa memperhitungkan kerugian yang dihasilkan.

Orang yang menderita penyakit keserakahan ini pada umumnya tidak merasakan gejala apa-apa, tetapi orang lain yang berinteraksi dengannya menjadi korban keserakahannya.

Keserakahan sebenarnya bukan sekadar kerakusan untuk mengambil lebih dengan memanfaatkan segala celah sistem akuntansi dan kelemahan pengawasan lembaga. Keserakahan mengandung persoalan lebih dalam karena menggeser pusat hidup manusia dari hidup-bagi-yang lain (sesama) menjadi hidup-bagi-aku dan bahkan sesama-bagi-aku.

Tata moral dunia baru

Pergeseran ini menyebabkan manusia mengeksploitasi sesamanya dan alam sekitarnya. Padahal, Mahatma Gandhi pernah berwejang, ”Earth is enough to satisfy every man’s need, but not every man’s greed.”

Di tengah merajalelanya keserakahan manusia, dunia membutuhkan bukan hanya pengaturan sistem pengawasan ekonomi (tata ekonomi) dunia baru, melainkan peletakan ulang tata moral dunia baru.

Tugas etika tidaklah cukup dengan hanya mengajarkan jalan yang harus ditempuh manusia bila ia mau menemukan eksistensi yang bermakna. Etika tidaklah memadai lagi kalau hanya menegaskan agar kita bertindak dengan baik, jujur, dan adil atau agar kita mendasarkan diri pada prinsip universalisasi Kant atau mengusahakan the greater happiness for the greatest numbers.

Ada tugas yang lebih besar dan progresif dari etika. Etika harus mampu membatasi keserakahan manusia atas sesama dan alam sekitarnya.

Levinas adalah filosof pertama yang memperlihatkan bahwa keharusan mutlak untuk bersikap baik merupakan evidensi intuitif tak terbantah yang selalu sudah disadari secara langsung, yaitu dalam setiap pertemuan dengan sesama (Magnis-Suseno, Pijar Filsafat). Sesama dan alam bukanlah obyek eksploitasi atau sumber keuntungan sesaat.

Daniel Adipranata Sekjen Perkantas, Dosen Agama Kristen, Aktivis Lingkar Muda Indonesia – KOMPAS

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: