Merenungkan Pikiran Erotis

”Kemenangan yang sejati adalah mengalahkan diri sendiri” (Miguel de Cervantes dalam Don Quixote). Manusia-manusia mulia atau mereka yang tercerahkan mengajarkan bahwa solusi untuk berbagai derita hidup tidak berada di luar, tetapi di dalam diri kita.

Keberhasilan menemukan jati diri ditopang oleh keinginan kuat untuk mengenal gejolak-gejolak batin, mengamati gerak-geriknya, menenangkannya, dan berkuasa atasnya.

Salah satu dari gejolak kejiwaan yang tersulit untuk dihadapi adalah pikiran. Banyak tradisi mistis menekankan perlunya menenangkan pikiran. Bila berhasil, pikiran yang teduh akan muncul dan membuka jalan menuju keintiman dengan Yang Ilahi. Proses inilah yang kerap digambarkan sebagai rute tubuh-pikiran-jiwa-roh (body-mind-soul-spirit).

Kesulitan menenangkan pikiran disebabkan oleh fluktuasinya yang liar, supercepat, dan sering kali berada di luar kontrol kesadaran. Siddharta Gautama mengungkapkannya lebih jelas ketika ia mengatakan bahwa dalam satu kedipan mata, ada 17 x 1.021 momen pikiran yang berfluktuasi. Amat sibuk!

Ketenangan pikiran dicapai dengan membawanya dari level terpencar (scattered mind) menuju level terkonsentrasi (concentrated mind). Pada level terpencar, pikiran sangat labil dan mudah terusik oleh rangsangan sehingga rentan menimbulkan kecemasan dan ketidakstabilan emosional. Orang yang sampai pada pikiran terkonsentrasi menerima rangsangan tanpa terganggu. Dalam Taoisme, ini digambarkan sebagai cermin atau permukaan telaga yang tenang.

Ada satu ilustrasi. Seorang wanita lari dari rumah setelah bertengkar dengan suaminya. Ia melewati seorang pertapa yang sedang merenungkan kerangka manusia. Tak lama suaminya menyusul dan bertanya kepada pertapa itu, ”Apakah Anda melihat seorang wanita?” Pertapa itu menjawab, ”Saya tidak tahu apakah pria atau wanita yang lewat. Baru saja lewat sekarung tulang belulang”.

Pikiran simbolis

Saat ini ada gejolak pikiran yang cukup ramai dibicarakan, yaitu pikiran erotis (erotic mind). Di satu sisi, ada keinginan baik untuk mengontrol dan mengawasi ”kenakalan” pikiran ini lewat Rancangan Undang-Undang Pornografi yang sudah ditetapkan sebagai undang-undang. Harapan mulianya adalah moralitas masyarakat menjadi lebih baik.

Di sisi lain, muncul argumen-argumen yang menolaknya dengan alasan: menyesatkan secara substansial, melukai pluralitas, mengalihkan permasalahan esensial, mengancam industri kreatif, mengeksplotasi wanita, memunculkan inkonsistensi internal dalam undang-undang.

Kita sibuk membicarakan manusia sebagai makhluk yang akrab dengan simbol. Simbol berarti sesuatu yang mengatakan tentang sesuatu yang lain. Ketika pengendara melihat nyala merah lampu lalu lintas, ia menghentikan kendaraannya. Nyala merah mengatakan perintah untuk berhenti.

Inilah kekhasan manusia. Ia membentuk sekaligus mengerti simbol. Ketika simbol dimaknai, pengalaman individual dan kultural ikut berbicara. Karena individu itu unik dan kultur beragam, multitafsir tak terelakkan. Sigmund Freud, teoretikus besar tentang dorongan seksual manusia, mengakui dominasi hasrat seksual dalam perilaku manusia.

Kerap kali, hasrat ini hadir dalam simbol yang sekilas tidak berkaitan dengan organ-organ seksual. Dalam mimpi, pohon atau pisau bisa berarti penis; goa atau kapal bisa berarti vagina.

Anehnya lagi, gambar-gambar seksual yang eksplisit kadang-kadang tidak berkaitan hasrat erotis. Di Candi Sukuh di Solo kita bisa melihat lingam (penis) dan yoni (vagina) sebagai artefak terpajang. Begitu erotiskah pikiran leluhur kita sehingga memuja penis dan vagina?

Psikolog yang akrab dengan kajian kultural akan menolak kesimpulan itu. Lingam dan yoni adalah simbol pengalaman religius tentang penyatuan manusia dan Yang Ilahi yang berujung pada pengalaman pencerahan atau transformasi diri. Ini mirip dengan apa yang dalam bahasa Jawa diistilahkan curiga manjing warangka, warangka manjing curiga (keris menyatu dengan sarungnya; sarung menyatu dengan keris).

Proses pemaknaan serupa perlu diterapkan bagi karya seni yang merupakan jalur menetaskan simbol-simbol ketidaksadaran. Salah satu sarat penting mencapai pribadi sehat adalah membuat sadar yang tidak disadari. Mungkin ini alasan Plato untuk mengatakan bahwa seni adalah sarana memurnikan diri.

Pria korban pornografi

Gejolak seksual (sexual arousal) melekat dengan kondisi riil kita sebagai makhluk bertubuh. Adalah wajar bila kita hidup dengan hasrat seksual, tetapi menjadi janggal ketika kita hidup demi hasrat seksual. Kehadiran pornografer atau pornoaktor adalah respons bagi mereka yang hidup demi hasrat seksual di mana wanita kerap dijadikan pajangan.

Mengapa harus wanita? Dalam teori interaksionisme simbolis, gambaran mental kita tentang pria dan wanita adalah produk dari wacana yang ramai diobrolkan masyarakat. Salah satu wacana besar tentang seksualitas menyatakan, laki-laki lebih sering memikirkan seks, melakukan masturbasi, atau menginginkan hubungan seksual.

Wacana seperti ini sebenarnya menampilkan sisi rapuh pria yang menarik bagi pornografer dan pornoaktor untuk dieksploitasi. Semakin kita menerima wacana itu, semakin subur pornografi. Jadi, bila dicermati, bukan wanita yang dieksplotasi, tetapi kerapuhan pada pria yang lebih dulu diwacanakan. Wanita dijadikan sarana menuju kerapuhan itu.

Jelas bahwa baik pria maupun wanita dirugikan lewat pornografi dan pornoaksi. Pornografi menjauhkan kita dari makna lebih dalam hubungan pria-wanita. Ketika suami jauh dari istri, apakah ia sibuk memikirkan kaki, tangan, mata, pinggul, atau rambut istrinya? Saya kira tidak. Pikiran yang lebih dominan adalah kecemasan berada jauh dari cinta dan perhatian sang istri.

Esensi kewanitaan bagi kita (pria dan wanita) perlu kembali dihidupkan. Setiap kita punya ibu yang adalah wanita, saudara kandung yang adalah wanita, atau sahabat karib yang juga adalah wanita. Mereka ini menghadirkan makna paling dasar dari hubungan pria-wanita yang kualitasnya digerus pornografi.

Sentuhan inheren

Kembali ke pikiran terkonsentrasi. Salah satu teknik yang diajarkan dalam tradisi Timur untuk sampai pada pikiran ini adalah apa yang dalam pemikiran Barat disebut mindfulness atau yang dalam pemikiran Jawa disebut awas. Awas adalah upaya pribadi mengenali gejolak-gejolak batin (self-awareness).

Menumbuhkan kesadaran sebaiknya tidak melulu berupa paksaan dari luar. Ketika seorang ibu melihat anaknya bermain pisau, ia bisa saja mengatakan, ”Jangan bermain pisau!”. Cara seperti ini sering kali manjur untuk memaksa anak berhenti. Sayangnya, si anak tidak menyadari alasannya. Ada cara lain. Ibu bisa mengambil sepotong daging mentah, menyayatnya dengan pisau, dan mengatakan, ”Ini lho bahayanya kalau kamu main pisau”. Cara ini mengajak anak berhenti sambil menyadari bahaya main pisau.

Nah, jika pornografer dan pornoaksi dihentikan lewat larangan-larangan, apakah dorongan seksual menjadi jinak dan bisa dikontrol? Saya kira belum cukup. Kita masih punya fantasi dan imajinasi seksual yang kadang-kadang jauh lebih liar daripada sekadar gambar, tulisan, atau gerakan erotis atau membangkitkan hasrat seksual.

Ada cerita menarik mengenai hal itu. Dua biarawan menyusuri jalan berlumpur di tengah hujan deras. Ketika sampai di persimpangan, mereka menemui gadis cantik yang tidak bisa menyeberang. Salah satu biarawan berkata, ”Ayo, saya bantu.” Ia pun menggendongnya menyeberangi jalan berlumpur.

Melihat itu, biarawan yang lain diam merengut dan tidak berbicara hingga mereka sampai di tujuan. Karena tidak kuat lagi menahan, ia berkata, ”Kita, para biarawan, tidak boleh dekat dengan wanita. Itu berbahaya. Kenapa kamu melakukannya?” Biarawan yang satu menjawab, ”Saya sudah meninggalkan gadis itu di sana. Apakah kamu masih membawanya (dalam pikiranmu)?” Dua biarawan itu menjadi cermin diri kemajuan pikiran kita: masih terpencarkah atau sudah terkonsentrasi?

YF LA KAHIJA Pengajar pada Fakultas Psikologi, Universitas Diponegoro, Semarang – KOMPAS

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Unknown Feed

    • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: